Breaking News

TEMAN KOSTKU ( SERIES 2 )

"Ras!! Bangun, Ras!!! Rasti!!"
Aku merasakan tubuhku terguncang-guncang. Perlahan kubuka mataku. Mencari bayangan yang tadi kulihat.

"Mana? Mana wanita tadi??" tanyaku.
"Kamu cari siapa?? Kamu ngapain tidur di depan pintu??" jawab Mia penuh keheranan. Dia belum tahu, apa yang tadi kulihat. Sosok wanita yang ... Ah, tak bisa kujelaskan. Aku sudah pingsan terlebih dahulu. Yang kuingat, rambutnya panjang menjuntai sampai ke tanah. Tapi, apa aku cuma mimpi ya?
"Tenang, Ras. Tenang ..." Mia berusaha menenangkanku. "Nih, minum dulu," ucapnya kemudian sambil menyodorkan sebotol air putih.



Kutenggak minuman itu sampai habis. Rasanya aku seperti sudah sebulan tak minum.
"Kamu kenapa?? Oh, ya. Tadi Payjan nungguin kamu di depan kost. Dia titip nasi bungkus ini buat kamu. Katanya, kamu jangan lupa makan."
Hah?? Tadi kan, Payjan minta putus dariku? Kok masih perhatian ya? Apa tadi aku benar-benar mimpi?

Tidak!
Aku rasa tadi benar-benar nyata.
"Mia, mana ponselku?" tanyaku pada Mia, sambil celingukan mencari ponselku.
"Ah, itu dia. Di kasur."
Dengan cepat kuambil. Mia semakin bingung dengan tingkahku. Kugeser layar gawaiku. Aku hanya ingin memastikan, yang kualami tadi nyata atau cuma mimpi.
Kuklik aplikasi galeri. Kucari rekaman tadi.

"Ah, ketemu!!"
Lalu aku klik tombol play.
*

Aku tersesat menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkanku lepas penatku
Tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti
Selamanya ....
Curhat, curhat, curhat.
*

Deg!

Tidak!!

Aku tidak mimpi. Yang tadi itu nyata. Perempuan berambut panjang menjuntai ke tanah yang kulihat tadi memang benar-benar ada ... Di kamar ini.

Aku melempar ponselku ke sembarang tempat. Tubuhku kembali gemetar. Mengingat-ingat bentuk makhluk yang menghiburku tadi. Dia menghibur, atau sedang menakutiku??
"Ras? Rasti? Kamu kenapa sih?" Mia mengguncang bahuku.

"Dia ada, Mia ... Aku tidak mimpi ... Dia tadi ada di sana ..." jawabku dengan bibir bergetar sambil menunjuk tempat dimana makhluk itu menampakkan wujudnya.
"Dia? Dia siapa? Payjan?"

Mia masih bertanya kebingungan.
"Bukan ...."
"Lalu siapa, Ras??"
Aku tak bisa menyebutnya. Karena aku tidak tahu, dia itu arwah, sundel bolong, kuntilanak, atau makhluk lainnya. Aku belum sempat bertanya ketika kesadaranku tiba-tiba hilang.
"Rastiiii ..."

Grrrr ....
Bulu kudukku berdiri lagi. Suara itu memanggilku lagi.
"Aku disini ...."

Suara itu seperti berasal dari jendela kamar. Aku takut, sekaligus penasaran. Dia benar-benar hantu, atau cuma orang iseng. Aku menoleh ke arah jendela.
Oh, Tuhan ....

Sumpah, demi apapun. Dia jauh lebih menyeramkan dari wujud tadi. Baru kali ini aku melihat makhluk seperti itu.

Wajahnya berlumuran darah, dengan setengah bibir membusuk menampakkan giginya. Kelopak matanya juga membusuk, membuat bola matanya seperti ingin meloncat keluar. Rambutnya panjang sampai ke tanah.

"Aaaaaaaaa ......."

Mia ternyata juga melihatnya, bahkan dia pingsan lebih dulu dariku.
Aku memejamkan mata. Kubaca ayat kursi, al-fatihah, surat-surat pendek yang kuhafal, dan semua doa yang kuingat, bahkan doa masuk toiletpun aku baca. Perlahan kubuka mata, berharap makhluk tadi sudah tidak ada.

Ternyata makhluk itu sudah menghilang. Aku bisa bernafas lega. Aku baru tahu, ternyata teman sekamarku bukan cuma Mia, tapi ada arwah penasaran yang perhatian.

***

BERSAMBUNG ..........