Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Pilihan Redaksi Gubraker

MENEROPONG PILGUB JABAR 2018

- No comments
Hanya berselang beberapa minggu setelah memutuskan pasangan Dedy Mizwar (Demiz) - Ahmad Syaikhu sebagai bacagub - bacawagub Jawa Barat, koalisi antara Gerindra dan PKS mengalami keretakan. Rayuan poros baru yang digagas Partai Demokrat ternyata cukup ampuh menggoyahkan pendirian DPD Gerindra Jawa Barat. Entah apa gerangan yang ditawarkan pada Gerindra, keinginan DPD Jabar tampaknya mulai di dengar oleh sang ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Manuver sepihak Gerindra ini sontak membuat PKS kebakaran jenggot. Ancaman untuk mengoreksi dukungan mereka atas pencapresan Prabowopun dilontarkan. Sayangnya, ancaman itu ditanggapi dingin kubu Gerindra Jawa Barat. Ketua DPD Gerindra Jabar, Mulyadi bersikukuh untuk tetap mencabut dukungan.
Sumber Pict : Netralnews.com

Kondisi serupa juga dialami bakal calon lainnya dari Partai Golkar, Dedi Mulyadi. Meski mendapatkan dukungan penuh dari DPD Golkar Jabar, jalan yang ditempuh bupati Purwakarta itu tak serta merta mulus. Internal Golkar, terutama DPP Golkar terlihat belum bulat memberikan dukungan. Bahkan belakangan muncul bocoran surat rekomendasi dari DPP Golkar tentang dukungan mereka pada calon lain. Meski akhirnya surat itu dibantah sendiri oleh sekjen Golkar, Idrus Marham, tapi tetap saja isu ini memicu spekulasi akan adanya friksi yang terjadi di internal partai. 

Lain halnya dengan nasib bakal calon lain, Ridwan Kamil. Meski baru mengoleksi 12 kursi (PKB 7, Nasdem 5), masa depan pencalonan walikota Bandung ini relatif lebih aman. Elektabilitasnya yang selalu berada di atas membuat Ridwan Kamil tak terlalu banyak mengalami kesulitan untuk memenuhi target minimal 20 kursi sebagai syarat maju. Bagaimanapun, Jawa Barat adalah wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Potensi ini tentu akan sangat dipertimbangkan oleh partai partai politik demi kepentingan mereka di 2019. Mengusung calon yang memiliki elektabilitas tinggi jelas menjadi tolok ukur utama. Itu kenapa PDI Perjuangan yang sebenarnya  mampu mengusung calon sendirian, cenderung berhati hati dalam bermanuver. Kekalahan jago jago mereka di dua provinsi di pulau Jawa (Banten dan DKI) menjadi pelajaran yang sangat berharga. Terbelahnya Golkar dalam menentukan siapa calon yang akan diusung, apakah Ridwan Kamil atau kadernya sendiri, kurang lebih juga karena pertimbangan menang - kalah.

Berangkat dari kondisi politik di atas, penulis menganalisa setidaknya akan ada tiga skenario yang bakal terjadi dalam perhelatan Pilgub Jawa Barat 2018 nanti.

Pertama, skenario 4 pasang calon

1. PKB - Nasdem - Golkar (29 kursi DPRD)
Calon yang diusung, Ridwan Kamil. Wakilnya kemungkinan besar dari Golkar. Antara Dedi Mulyadi atau Daniel Muttaqien. Secara matematis, koalisi ini cukup menjanjikan. Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tinggi, sementara pasangannya yang dari Golkar memiliki basis politik kuat di Jawa Barat. 

2. PDI Perjuangan (20 kursi DPRD)
Sebagai pemenang pemilu di Jawa Barat, PDI Perjuangan tentu berkepentingan untuk menempatkan kadernya di kursi Jabar 1. Nama ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, TB Hasanudin layak untuk diajukan. Atau bisa jadi mengajukan kembali Rieke Dyah Pitaloka. Yang dikombinasikan dengan figur luar partai. Akan tetapi, meski bisa mengusung calon sendiri, kans PDI Perjuangan cukup berat. Selain elektabilitas nama nama yang beredar relatif rendah, sulit bagi PDI Perjuangan untuk memperluas basis suara.

3. Demokrat - Gerindra - PAN (27 kursi DPRD)
Skenario ini bisa terjadi manakala poros baru yang dipimpin Demokrat berhasil membujuk Gerindra untuk bergabung. Setidaknya ada dua nama yang digadang gadang. Ketua DPD Partai Demokrat Jabar, Iwan Sulandjana dan mantan wagub Jawa Barat Dede Yusuf. Jika berkaca pada elektabilitas antara keduanya, Dede Yusuf agaknya lebih pas untuk diusung. Wakilnya bisa jadi dari Gerindra. Peluang menang dari koalisi ini cukup terbuka. Kemenangan partai ini di Pilkada Banten bisa menjadi pelecut untuk merebut juga Jawa Barat.

4. PKS - PPP (21 kursi DPRD)
Dengan berlabuhnya Gerindra ke kubu Demokrat, praktis pilihan koalisi PKS untuk mengusung Deddy Mizwar - Syaikhu sangat terbatas. Pilihan logisnya tinggal mengajak PPP. Ini seolah kembali mengulang kerjasama kedua partai di pilkada lalu dimana mereka keluar sebagai pemenang. Meski hanya bermodalkan 21 kursi DPRD, peluang pasangan yang diajukan koalisi ini cukup besar. Kemenangan Ahmad Heryawan dua kali berturut turut menunjukkan kinerja PKS dan mitra koalisinya cukup bisa diandalkan.

Jika skenario ini terjadi, maka pasangan yang diusung Nasdem - PKB dan Golkar paling berpeluang menang. Sementara kandidat dari poros Demokrat dan pasangan yang diusung PKS - PPP sama sama berpeluang menjadi kuda hitam. Partai Hanura mungkin saja bergabung di koalisi pengusung Ridwan Kamil atau bermitra dengan PDI Perjuangan. Namun demikian, pengaruhnya tidak terlalu signifikan.

Kedua, skenario 3 pasang calon

1. PKB - Nasdem - PPP (21 kursi DPRD)
Calon yang bakal diusung sudah pasti, Ridwan Kamil. Pasangannya bisa dari internal koalisi atau mengambil dari luar. Alotnya komunikasi antara RK dan PPP diduga karena partai berlambang Ka'bah itu menginginkan posisi calon wakil gubernur. Sementara RK sendiri masih berpikir untuk mendapatkan dukungan dari partai yang memiliki basis massa lebih besar guna memastikan kemenangan berpihak padanya. Jika RK gagal mendapatkan sokongan partai besar, besar kemungkinan ia akan mengajak PPP bergabung dalam koalisi.

2. Golkar - PDI Perjuangan - Hanura (40 kursi DPRD)
Koalisi ini kemungkinan akan mengusung Dedi Mulyadi yang akan dipasangkan dengan kader PDI Perjuangan. Meski memiliki jumlah kursi yang lumayan besar, belum tentu menjamin kemenangan. Selain harus meningkatkan elektabilitasnya, Dedi Mulyadi butuh pasangan yang elektabilitasnya memadai.

3. Gerindra - PKS (23 kursi DPRD)
Selain sudah terbukti sebagai mitra setia, dan itu dibuktikan pada Pilkada DKI, kedua pihak sangat bergantung satu sama lain. PKS berharap bisa meneruskan hegemoni kekuasaannya di Jabar, sementara Prabowo butuh dukungan PKS untuk menghadapi Pilpres mendatang. Kandidat yang diusung bisa kembali pada kesepakatan semula yakni, Dedy Mizwar - Ahmad Syaikhu. Tapi bisa jadi di format ulang. Peluang menang dari koalisi ini cukup besar. Basis massa Gerindra yang cukup besar di Jawa Barat dan soliditas kader kader PKS menjadi alasan penting. Selain sosok Deddy Mizwar sendiri yang memang sudah sangat dikenal warga Jawa Barat.

Dengan skenario ini, praktis menyisakan Partai Demokrat dan PAN yang meski berkoalisi, tapi tak sanggup memenuhi syarat minimal. Kemana arah dukungan kedua partai ini sangat mempengaruhi jalannya kompetisi. Secara matematis, skenario ini menjanjikan persaingan yang sangat ketat. Semua kandidat berpeluang untuk menang. Dukungan dana dan arah pilihan PAN maupun (apalagi) Demokrat bisa jadi penentu.

Ketiga, skenario 2 pasang calon

Skenario ini bakal mempertemukan dua kutub. Seluruh anggota koalisi pemerintah Jokowi - JK, minus PAN melawan kelompok oposisi. Nama Ridwan Kamil sudah pasti masuk bursa calon gubernur dari kubu pemerintah. Wakilnya mungkin saja bisa dari kader kader partai pendukung terutama kader PDI Perjuangan dan Golkar. 

Sementara di pihak oposisi kemungkinan bakal mengusung calon gubernur diantara dua nama. Dede Yusuf dan Deddy Mizwar. Wakilnya bisa siapa saja. Tapi peluang terbesar adalah kader kader partai pengusung. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan nama nama yang dipasang adalah figur diluar yang penulis sebutkan tadi.

Mengenai peluang, dengan formasi seperti diatas, kemungkinan koalisi pemerintah keluar sebagai pemenang lebih terbuka. Pun demikian, politik bukanlah matematika. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Oleh : M. Hafidz
Pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia

HANTU PKI

- No comments
Siapa bilang isu PKI sudah tak laku lagi di era keterbukaan ?.
Meski semua orang paham (termasuk mereka yang koar koar tentang bahaya laten komunis), bahwa itu hanya isapan jempol dan sangat kecil kemungkinannya PKI bangkit lagi, toh tetap saja setiap bulan September jajanan PKI laris manis. Tak jauh beda dengan ritual menjelang tanggal 25 Desember yang meski halal - haram 'Selamat Natal' sudah berkali kali dibahas, orang masih saja senang memperdebatkannya. Apalagi soal PKI, yang memiliki sejarah panjang, kontroversial, gelap dan menyangkut kepentingan politik banyak pihak. Sudah tentu, akan jadi bahan masakan yang bakal menghasilkan makanan nan lezat lagi menarik.
Sumber Pict : merdeka.com

Lalu, apa untungnya mendaur ulang terus menerus isu PKI ?.

Dalam politik, hampir tak ada sesuatupun yang susah diolah. Semua hal bisa di goreng, dibumbui lalu dikapitalisasikan untuk kepentingan politik. Apakah itu isu rutinan maupun isu 'dadakan' semisal kasus Rohingnya. Tentu setiap kasus akan berbeda cara memasak dan menyajikannya. Tapi tujuan dari itu semua tetap satu, yakni bagaimana mempertahankan dan memperluas pengaruh politik. Begitu pula dengan isu PKI.

Secara logika, hampir mustahil PKI akan bangkit kembali. Penyebabnya adalah tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan kembali Partai yang pernah memiliki pengaruh besar di republik tersebut. Tap MPR no 25 tahun 1966 adalah alasan utama kenapa hal itu tidak mungkin terjadi. Jangankan untuk bangkit atau membentuk wadah politik baru, bahkan ketetapan MPR itu juga mengenai pelarangan ajaran yang terkait dengan komunisme, marxisme dan ideologi sejenis. Ibarat makhluk hidup, bukan hanya raganya saja yang dilarang untuk reinkarnasi, tapi ruh dan akalnya juga dilarang untuk hidup lagi. Fakta lain yang tidak memungkinkan PKI bangkit lagi adalah kenyataan bahwa nyaris tidak terdengar ada wacana pembentukan PKI di bumi Nusantara. Apakah itu dari mereka yang merupakan eks kader atau keturunan anggota PKI. Tidak pula mereka yang mungkin saja terpapar ajaran ajaran komunis, meski tidak punya kaitan dengan PKI. Diskusi, simposium, dan pertemuan yang mengemuka tidak lebih hanyalah upaya meluruskan sejarah, meminta keadilan (bagi korban) dan rekonsiliasi. Tidak ada yang kemudian mengarah pada cita cita membentuk kekuatan politik berbasiskan komunis. Kalau sekedar tuduhan, tentu saja banyak. 

Sejauh pengamatan penulis, sasaran yang dituju dari provokasi tentang komunisme sejatinya bukan soal PKInya, akan tetapi bagaimana menarik simpati dari kalangan yang selama ini masih konsisten menganggap PKI sebuah ancaman. Apakah itu kelompok yang memang memiliki sejarah konfrontasi dengan PKI, maupun kelompok baru yang secara ideologi berseberangan dengan PKI. Mereka yang secara histori pernah berkonfrontasi dengan PKI sebut saja Masyumi (atau varian sejenis), militer (terutama AD), NU dan beberapa elemen lainnya. Dari (minimal) ketiga elemen tersebut, agaknya hanya NU yang relatif mampu bersikap lebih moderat dan proporsional. Selebihnya masih memelihara rasa sentimen terhadap segala hal mengenai komunisme.

Membuktikan analisa itu tidaklah susah. Lihat saja bagaimana petinggi militer memerintahkan jajarannya untuk nonton bareng film G30S/PKI. Lalu, Fraksi PKS (Partai yang secara ideologi mirip Masyumi) yang memerintahkan kader kadernya untuk menyimak film itu juga. Belum lagi agitasi, tuduhan dan serangan verbal terkait PKI yang pada intinya turut memperkuat opini tentang berbahayanya ideologi komunis. Bahkan sampai ada yang bilang komunis sudah masuk istana.

Ada ujaran yang mengatakan, 'lawan dari musuhku adalah kawanku'. Teori ini yang sepertinya hendak dipakai oleh mereka yang getol menggaungkan isu PKI. Yakni menarik simpati kelompok yang secara historis dan ideologis berseberangan dengan PKI. Secara matematis, jumlah kelompok ini sangatlah besar. Dan untuk menarik simpati dari kelompok ini salahsatunya dengan cara mengingatkan kembali akan sejarah kelam PKI. 

Lantas, seberapa efektifkah ?.

Bisa efektif, juga bisa menjadi bumerang. Tapi sejauh pengamatan penulis, momen saat ini masih cukup efektif. Polarisasi yang terjadi dalam masyarakat kita akhir akhir ini, terutama pasca pemilu 2014, adalah ladang yang cukup subur untuk mengkapitalisasikan sebuah isu. Dan hasilnya akan bisa kita saksikan di perhelatan 2019 nanti. Memang, isu ini bukan satu satunya penentu. Sebab, hal semacam ini biasanya bersifat temporal. Namun, penting bagi elite politik untuk terus mengelola sebuah isu agar tetap survive.

Terlepas dari intrik intrik yang menyelubungi itu semua, mengedepankan nurani dan menempatkan kepentingan yang lebih besar adalah hal mutlak untuk dipikirkan bersama. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah kita akan terus menerus seperti ini ?. Kapan, kita akan selesai menjadi sebuah bangsa yang satu jiwa, satu rasa dan satu tujuan ?.

Oleh : M. Hafidz
Penulis adalah pelayan di komunitas Gubrak Indonesia




JOKOWI (bisa) KALAH

- No comments

Pembaca tentu masih ingat kejadian di Pilpres 2014 silam, ketika salahsatu kontestan atau lebih tepatnya simpatisan kandidat tertentu mengklaim didukung oleh sejumlah ulama berpengaruh di lingkungan NU. Klaim itu kemudian dikapitalisasikan dalam bentuk alat peraga dengan gambar tokoh NU lengkap dengan kutipan ucapannya dan di sebarkan di berbagai media.

Terlepas dari apakah itu dilakukan oleh team sukses atau hanya sekedar simpatisan belaka, akan tetapi imbas dari tindakan tersebut justru menjadi blunder bagi sang calon. Hasil election akhirnya menempatkan pihak itu sebagai yang kalah pemilu.

Penulis tidak sedang mengatakan bahwa klaim itulah penyebab utama kekalahan. Tentu, ada banyak faktor penyebab kenapa bisa kalah. Apakah itu program, cara berkampanye maupun faktor lainnya. Yang ingin penulis katakan adalah, penggunaan politik primordial sesungguhnya bisa menjadi pisau bermata dua. Anda mungkin akan meraih keuntungan dari itu semua, namun anda ia juga berpotensi menghancurkan harapan anda.

Fenomena mobilisasi kelompok keagamaan akhir akhir inipun menjadi layak untuk dicermati. Dalam kasus Ahok misalnya, kita menyaksikan bagaimana elite politik berlomba lomba mengkapitalisasikan isu keagamaan demi kepentingan masing masing. Pemilu akhirnya tidak lagi menjadi ajang adu program, melainkan sudah terjebak pada pola permainan kasar dengan menggunakan isu primordial.
Pasca kasus Ahok, politisasi agama tampaknya masih akan terus berlanjut. Kelompok yang dulu begitu digdaya karena sukses menggelar demonstrasi sejuta umat dan dilakukan hingga berjilid jilid, bersikeras melanjutkan upayanya untuk memojokkan rezim melalui serangkaian aksi yang bertajuk 'menolak kriminalisasi ulama'. Hal ini akhirnya memaksa rezim untuk lebih intens lagi menghalau serangan lawan politiknya. Berbagai macam safari politik dilakukan Jokowi dan para pembantunya dengan mendatangi ulama dan tokoh masyarakat.

Undangan istana kepresidenan pada ulama ulama dalam tajuk dzikir kebangsaan menunjukkan betapa pemerintah merasa perlu mengimbangi kelompok oposisi yang menggunakan politik SARA untuk kepentingannya. Tentu saja hal demikian tidak serta merta bisa disalahkan. Tergantung bagaimana motivasi dari tindakan tersebut. Apakah itu murni demi kepentingan bangsa dan negara, ataukah hanya ingin mengkapitalisasikannya untuk keuntungan politik.

Pepatah mengatakan, anda boleh jadi tidak jatuh karena cacian, sebab barangkali itu merupakan obat paling manjur dalam menata langkah. Tapi, anda bisa saja jatuh justru karena pujian. Maka, gunakanlah kedua hal tersebut seperlunya.

Jokowi Bisa Kalah

Dalam banyak hal, pencapaian pemerintahan Jokowi - JK saat ini boleh dibilang fenomenal. Kinerjanya dalam membangun negeri mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Tak heran jika tingkat kepuasan publik atas kinerja pemerintah cukup tinggi dan relatif stabil.
Dengan modal pencapaian dan apresiasi masyarakat yang demikian tinggi, penggunaan politik keagamaan dalam arti sempit bukanlah sesuatu yang menguntungkan. Ia hanya berpengaruh pada segmen tertentu saja dan tidak menyasar secara keseluruhan masyarakat. Jokowi tentu saja berbeda dengan Ahok. Latar belakangnya yang muslim menjadikan Jokowi lebih kuat menghadapi serangan berbau SARA. 

Apalagi jika kemudian kita mencermati dukungan partai partai politik untuk Jokowi agar melanjutkan kepemimpinannya di periode mendatang, lalu dikomparasikan dengan UU Pemilu dan dinamika politik terkini, posisi Jokowi jelas di atas angin. Deklarasi dukungan dari PPP, Nasdem dan Golkar saja rasanya cukup menjadi garansi Jokowi untuk maju lagi dalam pemilihan mendatang. Posisi politik Jokowi bakal lebih kokoh lagi jika pada akhirnya PDI Perjuangan, PKB, Hanura atau malah PAN mendeklarasikan hal yang sama. Praktis, hanya menyisakan Gerindra, PKS dan Demokrat dalam kompetisi. Jauh lebih sulit mengkompromikan ketiga partai tersebut dalam menentukan calon. Seperti halnya Gerindra yang kukuh mencalonkan kembali Prabowo sebagai Presiden, Partai Demokratpun disinyalir memiliki ambisi yang sama. Dengan acuan PT 20%, langkah oposisi dalam mengimbangi incumben sangatlah berat.

Jika demikian, apa yang perlu dikhawatirkan lagi ?.

Dalam peperangan, penentu utama kemenangan adalah ketenangan. Sebesar apapun modal yang kita miliki, tanpa ketenangan rasanya kemenangan hanyalah sebatas angan. Ketenangan bukan saja dari panglima perang atau komandannya, akan tetapi juga pendukung di level terbawah.

Penulis melihat ada gejala yang tidak sinkron, terutama di level bawah. Lebih lebih para pendukung fanatik. Perang opini di linimasa masih terus berlangsung dan berjalan secara tidak sehat. Ironisnya lagi, cara cara kotor dengan memanfaatkan sumber yang tidak jelas masih saja digunakan.

Jika ini terus berlanjut, modal politik yang sedemikian besar bisa jadi tidak ada artinya. Sebab, ketidaktenangan berpotensi besar mengantarkan kita pada kekalahan.

Ingat pepatah Jawa, 'sak bejo bejone wong, luwih bejo sing eling lan waspada'.
Semujur mujurnya orang, masih lebih mujur mereka yang hati hati dan waspada. Maka, di 2019 nanti, siapa yang paling tenang, ia yang akan menang.

GAME OVER DI INDONESIA, LONCENG KEMATIAN HIZBUT TAHRIR SELURUH DUNIA

- No comments
Polemik yang terkait statemen Cak Nun yang menyinggung soal Perppu no 2 tahun 2017 dan tudingan PBNU menerima dana dari pemerintah terus bergulir. Di dunia maya, kegeraman netizen terutama dari warga NU atas statemen Cak Nun tak terbendung lagi. Foto foto Cak Nun yang beramah tamah dengan aktifis HTI menjadi amunisi baru untuk menyerang balik budayawan asal Jombang tersebut. Hingga hari ini, dari pihak Cak Nun belum ada tanda tanda untuk mengklarifikasi. Dan barangkali seperti yang penulis katakan tempo hari, mustahil Cak Nun akan meralat ucapannya. 
Beberapa Negara Yang Melarang Aktifitas HT

Beredarnya foto Cak Nun dengan beberapa petinggi HTI bagi saya pribadi bukan sesuatu yang mengejutkan. Kalau kita bersedia meluangkan waktu sejenak membuka buka file, hal semacam itu bukan yang pertama kalinya terjadi. Jauh hari sebelum HTI dibubarkan, Cak Nun sering mendapat kunjungan para aktifis dari kelompok ini. Saya sendiri kurang begitu paham, apakah interaksi yang sudah berlangsung lama itu hanya sekedar ramah tamah atau terjadi dialektika intensif mengenai gagasan masing masing. Yang jelas, sebagai seorang tokoh yang dituakan, adalah kewajaran bagi Cak Nun untuk menerima siapa saja yang ingin bertemu. 

Penulis memahami kekhawatiran sebagian orang yang selama ini merasa tidak nyaman dengan sepak terjang HTI. Interaksi, apalagi dukungan Cak Nun ditakutkan akan menjadi senjata bagi aktifis HT cabang Indonesia untuk bangkit dan melakukan perlawanan. Apakah itu perlawanan hukum maupun perlawanan dalam bentuk lainnya. Dan yang paling dikhawatirkan lagi adalah, jika manuver itu berujung pembatalan akan pembubaran HTI. Jika itu terjadi, salahsatu yang mungkin dipermalukan adalah NU. Sebab organisasi inilah yang paling getol mendukung pembubaran HTI.

Pun demikian, jika kita melihat fakta yang ada, kekhawatiran itu sebenarnya tidak diperlukan. Ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa demikian.

1. Meski Perppu tidak disetujui oleh DPR, akan tetapi tidak serta merta menghidupkan kembali HTI.
Mari kita menyimak statemen Prof. Yusril Ihza Mahendra di banyak media. Ahli hukum tata negara sekaligus pengacara HTI itu menyatakan bahwa paska pencabutan SK, maka posisi HTI di hadapan pemerintah sangat lemah. (https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170719150630-12-228895/yusril-akui-posisi-hti-lemah-usai-pencabutan-sk/). Dengan dicabutnya SK HTI oleh kementerian terkait, maka HTI tidak lagi punya hak untuk mengajukan uji materiil Perppu ke Mahkamah Konstitusi. Langkah yang paling mungkin ditempuh adalah mengajukan gugatan atas pencabutan SK itu ke PTUN. Repotnya, jika menggugat ke PTUN, maka pengadilan kemungkinan akan menggunakan payung hukum Perppu itu untuk menolak gugatan. Jadi, apapun yang terjadi, HTI tetap bubar karena sudah tidak memiliki badan hukum.

Satu satunya jalan (jika itu hendak ditempuh) adalah membuat organisasi baru, lalu mendaftarkan kembali. Itupun dengan catatan mesti merombak AD/ART sesuai dengan aturan main yang ada agar mendapat pengesahan.

2. Dalam tradisi pesantren, kita mengenal istilah 'mencegah marabahaya lebih baik diutamakan daripada meraih kebaikan (dara al-mafasid muqaddam 'ala jalb al-mashalih).
Langkah Cak Nun mengakomodir atau minimal membuka pintu dialog dengan HTI menurut penulis jauh lebih menghindarkan bahaya. Perlu kita ketahui, HTI ini memiliki jumlah pengikut yang tidak sedikit. Angkanya bisa mencapai jutaan di seluruh Indonesia. Dan konon, HTI merupakan yang terbesar dalam jumlah dibandingkan dengan anggota mereka di negara lain. Artinya, potensi organisasi ini untuk dimanfaatkan pihak pihak yang tidak bertanggung jawab sangat besar. Apalagi jika kita menyimak sepak terjang HTI selama ini. Bagaimana mereka merekrut massa, mendoktrin kader kadernya dan juga bagaimana mereka melakukan aksi di jalan. Konon, rentetan demo berjilid jilid menuntut Ahok dihukum sebagian besar diawaki aktifis HTI. Pendek kata, lebih beresiko jika eks pengikut HTI dimanfaatkan oleh para elite politik demi kepentingan jangka pendek atau justru malah di akomodir oleh kelompok radikal semisal ISIS atau Al Qaeda.

Langkah Cak Nun menurut penulis sangat tepat. Track record Cak Nun sebagai tokoh masyarakat yang relatif jauh dari kepentingan politik menjadi garansi bahwa proses pembubaran HTI akan berjalan kondusif. Penulis tidak yakin, jika Cak Nun bisa didikte. Akan menjadi bumerang bagi HTI jika dengan sengaja memanfaatkan ketokohan Cak Nun untuk melakukan perlawanan. 

3. Dukungan MUI atas pembubaran ormas anti Pancasila dan NKRI.
Meski seringkali MUI mengeluarkan keputusan kontroversial dan dianggap menjadi pemicu terjadinya tindak intoleran, akan tetapi dalam hal komitmen kebangsaan, sikap MUI layak diacungi jempol. Dukungan MUI ini penting mengingat organisasi ini menaungi banyak sekali kelompok keagamaan Islam di Indonesia. Dukungan MUI atas pembubaran HTI menjadikan organisasi ini terisolasi dan lemah.

Pembubaran HTI, Lonceng Kematian Hizbut Tahrir di Seluruh Dunia

Di dunia Islam, tidak banyak negara yang memberi ruang gerak yang luas pada Hizbut Tahrir (HT). Negara negara berpenduduk mayoritas Muslim malah menjadi pihak yang paling banyak melarang aktifitas organisasi ini. Bukan sekedar dilarang, di banyak negara Muslim, aktifis HT ditangkap dan diadili atas tuduhan makar. HT bisa hidup dan berkembang justru di negara negara mayoritas nonmuslim atau negara sekuler. Misalnya negara negara Eropa, Australia dan Amerika. 

Meski mengklaim memiliki banyak jaringan di berbagai negara, secara umum perkembangan HT tidaklah terlalu mengalami banyak kemajuan. Di negara negara barat, meski kebebasan berpendapat dijamin negara, tapi ide khilafah tidak mendapat respon positif. Masyarakat dengan karakteristik modern menganggap gagasan itu tidak masuk akal, ilusi dan mengada ada. Sementara di negara negara Muslim, dimana semangat sektarian masih kental, HT mengalami banyak kesulitan akibat tekanan penguasa. 

Indonesia mungkin saja menjadi satu satunya harapan tersisa untuk menjadi tempat bersemainya ide khilafah. Selain jumlah penduduk beragama Islamnya terbesar di dunia, posisi Indonesia di mata dunia Islam dan global sangat strategis. Tak heran jika dalam waktu singkat HTI mendapatkan pengikut yang cukup banyak. Bahkan pada tahun 2007, HTI sempat unjuk kekuatan di Gelora Bung Karno. Dalam even ini, puluhan ribu kader HT dari dalam dan luar negeri berkumpul dalam tajuk Konferensi Khilafah. Menariknya lagi, acara ini diliput langsung oleh media yang notabene milik pemerintah. Tentu saja ini menjadi catatan tersendiri bagi aktifis HT di seluruh dunia. Di saat hampir kebanyakan negara Muslim menindas HT, Indonesia sebagai negara muslim terbesar memberi angin segar.

Pembubaran HT cabang Indonesia secara organisasi menjadi pukulan telak bagi para pengusung khilafah di seluruh dunia. Ibarat peperangan, benteng terkuat mereka sudah jebol. Situasi ini sedikit banyak tentu akan memperlemah semangat mereka. Apalagi jika pada akhirnya pemerintah Indonesia sukses meredam riak riak akibat pembubaran itu. Bisa dipastikan, negara negara yang gerah terhadap aktifitas HT namun kesulitan mencari cara untuk memerangi kelompok ini akan mengambil contoh dari Indonesia.

Lalu, apakah semudah itu mengatasi HT ?.

Tentu saja tidak. Tapi, penulis percaya, negeri ini cukup punya sumber daya untuk mengatasi keadaan. Pendekatan kebudayaan barangkali menjadi salahsatu jurus efektif . Dan langkah Cak Nun menurut saya perlu dicontoh. Bagaimanapun, eks pengikut HTI adalah sesama warga negara juga. Sepantasnya diperlakukan secara bijak. Pemerintah juga perlu mengambil langkah secara hati hati. Tidak perlu ada tindakan yang berlebihan. Misalnya dengan mengambil paksa hak warga (pengikut HTI) di segala bidang. Apakah itu hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak berpendapat, hak berpolitik dan lain sebagainya. Selama eks pengikut HTI tidak melakukan hal yang melanggar konstitusi, pemerintah harus melindungi mereka.

Sekian

Oleh : Komandan Gubrak

CAK NUN, KYAI NYENTRIK MELAWAN PEMERINTAH

- No comments
Terus terang, saya bukan orang yang secara fisik kenal atau dikenal oleh cak Nun. Meski sewaktu masih duduk di bangku SMA hingga kuliah saya sering menghadiri acara pengajian cak Nun, terutama acara Padang Bulan di RSI Kartasura. Meski saya sempat menjadi pemburu tulisan tulisan cak Nun. Dan bahkan hingga kinipun nyaris selalu meluangkan waktu menonton acara maiyah via YouTube. Tapi, sekali lagi saya bukan apa apanya cak Nun. Santri, bukan. Loyalis, bukan. Penggemar juga bukan.
Kyai mBeling

Cak Nun di mata saya adalah sosok tokoh yang unik. Salahsatu kebiasaan cak Nun yang saya tahu adalah tingkah nylenehnya. Meminjam bahasa santri, khariq al-adah (semoga nggak salah ucap). Cak Nun bukan tipe orang yang latah. Bukan orang yang mudah didikte. Dia orang yang tak terlalu silau ketika semua orang berjalan di jalanan mulus. Terkadang yang terjadi, ia justru memilih jalanan sempit, berbatu dan sulit di jangkau. Dia tahu, langkah itu tidak akan membuatnya sampai pada tujuan. Tapi, cak Nun tetap mengambil langkah itu. Bagi cak Nun (dalam tafsir saya pribadi), bukan tujuan yang menjadikan ia bahagia. Tapi prosesnya yang menarik. 

Statemen soal dana 1,5 T yang mengalir ke PBNU bukanlah satu satunya ucapan 'nylekit' cak Nun. Saya masih ingat betul dulu saat orde baru masih berkuasa. Ketika Cak Nur (Nurcholis Madjid) mengkampanyekan ide 'Islam Yes, Partai Islam No'. Sebuah ide yang secara tidak langsung melegitimasi rezim dalam upaya deparpolisasi dan deislamisasi. Cak Nun secara tiba tiba mengkampanyekan 'Islam Yes, Partai Islam Yes'. Ia seperti tak peduli dengan situasi politik saat itu, dimana gagasan pemisahan agama dan politik berlangsung sedemikian gencar dan di motori tokoh tokoh penting di lingkungan ormas Islam. Termasuk diantaranya Gus Dur.

Jadi, ketika cak Nun (entah sengaja atau tidak) 'ngajak dolanan' NU dengan menuduh ormas ini menerima dana 1,5 T dan lalu dibarengi tudingan bahwa pemerintah telah melakukan politik belah bambu, saya pribadi tidak terlalu kaget. Kalau kita rajin menyimak video atau malah datang langsung ke acara maiyah, lalu menyimak secara detail ceramah cak Nun, kita akan menemui begitu banyak ungkapan 'nyleneh, nylekit dan (maaf) nggatheli'. 

Bagi orang yang belum terlalu jauh meneliti sepak terjangnya cak Nun, tentu saja akan memakan mentah mentah ucapan cak Nun. Bahkan tak jarang jadi bahan amunisi untuk kepentingan jangka pendek. 

Sepanjang penelitian saya, satu hal yang tidak berubah dari cak Nun. Yakni kekonsistenan cak Nun untuk tidak konsisten. Apa yang ia nyatakan biasanya tergantung situasi. Seperti tulisan di atas, saat orang memilih jalan mulus, maka cak Nun bakal memilih jalan sulit. Saat orang mengelu elukan Ahok, cak Nun bicara dengan nada sinis tentang Ahok. Di lain waktu, saat orang dengan gegap gempita menyerang Ahok, Cak Nun dengan begitu mudahnya mengatakan sebaliknya.

Apakah ini bentuk sikap 'plin plan' cak Nun ?
Tidak.

Kalau anda berfikir seperti itu, anda salah kaprah menilai cak Nun.

Kekonsistenan cak Nun untuk tidak konsisten sebenarnya lebih dititikberatkan pada upayanya untuk menetralisir keadaan. Bahwa persoalan itu tak serumit yang kita pikirkan. Cak Nun ingin mengajari kita untuk tetap menginjak bumi. Mengajari untuk tidak kagetan. Mengajari kita untuk menyikapi segala sesuatu dengan wajar. Dalam pepatah Jawa, 'ngunu yo ngunu, ning ojo ngunu'.

Soal statemen politik belah bambu. Satu ormas dibubarin, satunya lagi di guyur duit. Menurut saya, ungkapan itu tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak sepenuhnya benar. Tergantung dari sudut mana kita menilai.

Bagi anda yang tidak begitu memahami politik, dan hanya memandang bahwa kerjasama itu sebagai bentuk kepedulian pemerintah dan PBNU atas permasalahan ekonomi rakyat kecil, maka ucapan cak Nun salah. Bukan saja salah, tapi sudah kaprah dan ngawur. Apalagi jika dikaitkan dengan imbal budi atas dukungan PBNU pada Perppu. Dengan atau tanpa imbalan finansialpun NU tetap akan mendukung jika ada upaya pembubaran HT cabang Indonesia.

Tapi, jika kita menilai statemen cak Nun dari kacamata politik, maka boleh dikatakan ada benarnya juga. Meski bantuan itu bersifat pinjaman, dan posisi NU hanya sekedar mediator (andai ini betul betul dikucurkan loh), tapi tindakan itu jelas menguntungkan NU. Ini tidak adil. Mengingat ada banyak kelompok dengan kondisi sama dan butuh uluran tangan. Termasuk kelompok yang oleh NU dan pemerintah dianggap melenceng.

Bukankah salahsatu penyebab seseorang menjadi radikal adalah faktor ekonomi ?

Maka, kalaupun ada bantuan, mereka yang terinfeksi virus radikalismelah yang sesungguhnya lebih membutuhkan.

Terakhir,
Kalau cak Nun saja konsisten untuk tidak konsisten, maka menyikapinya juga harus menggunakan frame yang sama.

Punakawan itu kalau sudah mengeluarkan kesaktian, bahkan dewapun tak sanggup menghentikan. Yang paling bisa menghentikan ya sesama punakawan.
Jadi, kalau mau di ramaikan, ya yang serius ngeramaiinnya.
Kalau mau dianggap angin lalu, ya abaikan saja.
Yang jelas, cak Nun tidak akan terpengaruh dengan reaksi kita. Dia juga mustahil mengklarifikasi statemennya.

Sebab,
Jika itu dilakukan, cak Nun sudah nggak bisa di anggap 'nyentrik' lagi....

Oleh : Komandan Gubrak
Penulis adalah pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia

MENELUSURI MASA KECIL AHOK (Bagian 2)

- No comments
Saat gue diskusi dengan pak Mus, muncullah istri beliau ibu erni yang ternyata Teman SMP #AHOK wah artinya pas sekalian
 Menurut bu erni, pak mus gak pintar saat SD makanya saat SMP tidak bisa sekelas lagi dengan #AHOK .. pak mus pindah ke SMP swasta
Ini poto2 yang gue peroleh di rumah pak mus saat acara perpisahan SD.. lihat foto #AHOK plg kanan ..kakinya panjangg pic.twitter.com/uLQFuvAnFk 

ahok dapat juara 1 ditengah2nya guru beliau dan sebelah kanannya teman #AHOK juara 2 yg akan menginspirasinya kelak pic.twitter.com/SHH1ltTVug
Perhatikan teman2 #AHOK berbaur dan beragam, sebagai anak seorang tauke dia bersahaja tdk nampak spt anak tajir saat itu
 Kemudian wawancara pun berlanjut ke istri pak mus.. ibu erni.. dia bilang #AHOK menonjol waktu SMP menjabat sebagai ketua OSIS
Ahok tidak pilih2 teman saat SMP bahkan dikisahkan bu erni kalo #AHOK juga suka main karet dan gemar main Volley bersama teman2 wanita
Laki2 sukanya main bola kaki 😀😀.. diajakin main volley pada malas.. hanya ketua OSIS #AHOK yang mau ikutan.. #loveable emang ni anak 😀 
Gue curiga #AHOK waktu smp demen main volley karena dia jangkung.. kalo nyemesh abis dahh 😀😀 emang penuh perhitungan
Karena bu erni perempuan agak susah mengorek lebih dalam soal kebiasaan ahok .. harusnya ke temen laki2nya .. nanti gue cari ..
Lalu pak mus bicara lagi krn sempat mengingat sesuatu soal kebiasaan #AHOK yaitu saat sekolah dia sering cerita orang2 yg ketemu bapaknya
#AHOK sangat benci dengan orang2 terutama aparat2 hukum yang datang kerumah nya utk malak bokapnya..dia bilang Pol*** itu minta uang
Makanya teman2 #AHOK pun biasanya tahu siapa2 orang yang malakin bapaknya ahok, walau gak paham masalahnya apa.. 😀 inilah keterbukaan ahok
Disaat gue mau akhiri pembicaraan dengan pak mus n bu erni gue lihat poto ternyata mereka berdua pernah ke jakarta diundang TV swasta
Dengan poto yang sdh buram2 ini bu erni n pak mus berphoto di meja #AHOK sebelum melanjutkan shooting di TV swasta pic.twitter.com/Tktdaj10PY 
Karena hanya satu hari cita2 pak mus dan bu erni untuk melihat Monas gak kesampaian karena esok paginya mereka balik ke belitung
Menutup pembicaraan soal #AHOK akhirnya gue pamit.. dan seperti biasa poto dulu dengan mereka didpn toko batako mrk pic.twitter.com/PSPVzCfedJ 
Disaat pulang mampir ke gedung SD #AHOK yg sdh dipindahkan lokasinya, sdg ada pengerjaan taman hasil sumbangan ahok pic.twitter.com/VlRNjKnk21 
Selanjutnya gue harus menemui teman SMP nya ahok yang bisa lebih tahu detail tentang #AHOK yup betul si Ranking 2 foto perpisahan SD itu
Nama teman ahok yang selalu membayangi prestasi sekolah #AHOK yaitu pak Sayono.. skr dia menjabat sbg Camat Gantong pic.twitter.com/vp7LMvmfYT 
Pak sayono sejak SD hingga SMP membayangi prestasi #AHOK ..anehnya ahok malah sering memberikan semangat kepada sayono utk lebih giat
Kehidupan ekonomi pak sayono tdk seberuntung #AHOK selepas pulang sekolah dia harus jaga adik2nya dan mencari nafkah jualan kue
#AHOK sering sampaikan simpatinya kepada sayono.. karena jika #AHOK diposisi yg sama belum tentu dia bisa unggul dari sayono
Ada satu kejadian saat ulangan Matematika, #AHOK pernah mencoba "contek" ke sayono..disinilah #AHOK dinasehati sayono yag buat dirinya sadar
"#AHOK kau kan anak Tauke, pasti kalo besar nanti kamu pun jadi pengusaha, sementara pengusaha itu harus jago hitung2an agar gak ketipu"
Nasehat ini lah yang buat #AHOK berpikir.. benar juga saya harus pintar agar tidak ketipu... makanya #AHOK sangat respek dengan Sayono
Kisah2 soal Sayono inilah yang mengilhami bapaknya #AHOK selalu menasihati Ahok kalo dia hanyalah anak yang beruntung karena ortu tajir
"Hok lo bisa pintar karena gizi, istirahat n waktu mu cukup...sebenarnya kalo temen2 mu sama kaya kamu hidupnya.. lo pasti kalah" kata bokap
Ucapan berulang2 yg disebutkan bokap #AHOK inilah yang membekas di hati ahok.. orang bisa cerdas jika gizi tercukupi..
Di belitung dan kampung2 lainnya di indonesia banyak anak2 SD, SMP cerdas2 namun ketika masuk SMA prestasinya turun krn tdk ada harapan
Karena anak2 ini yakin setelah SMA paling nganggur, makananpun asal kenyang.. sdh harus mikirin kerja.. jadi tidak fokus lagi #AHOK 
Pikiran2 inilah yang mendasari #AHOK membuat program Sekolah Gratis dan program makan daging buat pelajar2 yang masih sekolah
Maka jangan heran saat #AHOK menjabat bupati belitung dia luncurkan kesehatan dan sekolah gratis utk pertama kalinya di Indonesia
Begitu juga di Jakarta, #AHOK lebih concern memberikan beasiswa kepada mahasiswa jakarta dgn menganggarkan APBD hingga 2.7 T.. luar biasa
Belum selesai nanti gue lanjutin lagi yah #sinetwit #AHOK nya.. mudah2an hari ini juga selesai edisi pak sayono..nya 😀 maap
###

Lanjut soal pak Sayono.. dia mengatakan hal yang menarik berteman dengan #AHOK adalah dia tidak membedakan mana kaya n miskin
Ow iya SMP nya #AHOK dan sayono adalah SMPN Jayabakti ..cukup elit saat itu di sekitar Gantung.. ahok suka ajak temen2nya main kerumahnya
 Teman2 #AHOK ini paling suka main kerumah ahok karena disana ada air es, kulkas saat itu barang yang mewah jadi minum air es adalah anugerah
Disaat #AHOK mengajak temannya minum es inilah, bokapnya ahok selalu berkata kalo Ahok hanya beruntung jika dibandingkan teman2nya
Kalo psikolog anak pasti sdh marah dengan cara Kim Nam membanding2kan anak 😀 itulah kelebihan #AHOK dia terima pernyataan bokapnya dgn baik
Gue juga bertanya ke pak sayono, apakah dulu waktu SMP ahok mendapatkan perlakuan diskriminatif di sekolah seperti yang ada di internet?
Cerita soal #AHOK ditolak sebagai pembawa bendera merah putih saat upacara adalah hoax.. sekolah tidak pernah ada diskriminasi katanya
Hingga akhir lulusan SMP, pak sayono lepas kontak dengan #AHOK yang melanjutkan SMA nya di Jakarta .. mereka ketemu lg saat ahok jd bupati
Pak Sayono menceritakan waktu #AHOK menjadi bupati belitung timur, dia butuh team work yang bisa bantu percepat aplikasikan pemikirannya
Pak sayono saat itu sdh menjadi PNS golongan rendah (krn lulusan SMA), lalu #AHOK memanggil dia apa bisa membantu percepat program
Pak Sayono menyanggupi namun dia bilang golongannya gak cukup utk bisa bantu secara maksimal 😀.. lalu #AHOK pun mengganti pejabat2 yg ada
Karena jabatan Kosong dan tdk ada orang lagi maka pak sayono diangkat menjadi Plt kabid bansos, dan disinilah #AHOK sangat terbantu
#AHOK yakin dengan kepandaian dan kejujuran pak sayono karena saat SMP dia mengenal orang ini dgn baik..posisi kabid bansos rawan korupsi
Maka jangan heran hanya dengan waktu 16 bulan #AHOK menjabat sbg bupati belitung timur, manfaatnya sangat dirasakan warga sana..
Menurut pak Sayono, #AHOK itu sangat gesit dan cepat makanya harus ditendem dengan orang yg cepat juga.. jd jgn heran 16 bulan beltim sukses
Gue langsung teringat di Jakarta deh 😀, #AHOK baru 2 tahun aja kemajuan jakarta sudah segini pesat apalagi 5 tahun lagi.. gini toh
Pak Sayono inilah yang membantu penyaluran bantuan bupati belitung timur utk perbaikan sekolah, mesjid hingga warga yg kesusahan saat itu
Selepas #AHOK meninggalkan bupati belitung timur, pak sayono melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka dan berhasil mendapatkan gelar S1
Dan dia berhasil menduduki posisi jabatan camat Gantung selama 5 tahun terakhir ini .. belum dipindah2 😀.. dgn rumah yg sangat sederhana
 Berwiraswasta membuka salon kecil2an dan satu buah mobil dinas avanza, menurut pak sayono yg penting hidup tenang 👍 pic.twitter.com/IX0abqBE6Q
 Kisah pak sayono mengingatkan gue juga dengan staf2 #AHOK di DKI skr ini...ternyata kejujuran dan kebaikan itu bisa menular yah, salut
Staf dan Ajudan #AHOK sudah terbiasa dengan pola hidup Ahok sbg pemimpin yg bersih jujur transparan, tanpa disadari merekapun mengikutinya
Sepulang dari rumah pak sayono mampir ke SMPnya #AHOK sdh berganti nama jd SMPN 1, Ada Jejak prestasi Ahok di sini pic.twitter.com/neWWcCHrL4 
Setelah dari SMPN 1 gantung gue sdh kelaparan dan meluncur ke rumah makan om nya ahok yg pernah satu sekolah itu 😀 pic.twitter.com/cvtdfy5Qth 
Posisinya hanya kurang 1 km dari rumah (kampung ahok) yang enak dan terkenal adalah Gado2nya .. menu lainnya juga banyak.. wajib dikunjungi
Lanjut lagi gak neh? episode esoknya bertemu dengan guru2 #AHOK 😀😀.. apa mau tonton demo dulu?
Ok masih ada waktu sedikit lagi.. gue kunjungi beberapa orang guru #AHOK utk minta testimoni mereka saat mengajar ahok disekolah
Pak Bachtiar, guru SMP #AHOK dia mengajarkan mata pelajaran agama dan olahraga saat itu pic.twitter.com/clSxnaPNUO 
Pak Bachtiar mengatakan hal yang sama bahwa #AHOK tidak pernah mau keluar saat pelajaran agama islam di kelasnya.. dia ikut menyimak
Jadi pernyataan teman2 sekolah #AHOK kalo ahok mengikuti pelajaran agama Islam terkonfirmasi oleh pak bachtiar ini.. ntar gue dibully lagi
Hehehe kmrn gue ngomong soal tafsir sama haters yg nyimak sinetwit gue ini lgs disamber.. tafsir disini maksudnya arti tertulis dari ayat 😋 
Pak bachtiar ini cukup mengenal bokapnya #AHOK jadi dia bilang ahok dipesankan membuat Rumah Sakit buat orang tdk mampu kelak
 Menurut pak bachtiar Ada satu moment terharu saat #AHOK menjadi anggota DPRD beltim sedangkan pak bactiar pindah kerja di sekretariat DPRD
Saat itu ada acara sidang anggota DPRD, pak bachtiar bertugas menurunkan bangku2 utk tamu2 undangan.. saat itu #AHOK melintas lewat
#AHOK berhenti dan melihat pak bachtiar itu bekas gurunya maka dia katakan sudah pak biar saya yang kerjakan ini .. pak bachtiar menolak
#AHOK terus memaksa agar dia yang kerjakan tugas pak bachtiar, beliaupun terharu dgn sikap bekas muridnya ini, disinilah titik baliknya
Padahal menurut pak bachtiar, bekas muridnya banyak yg jadi pejabat juga..namun hanya #AHOK yg memiliki rasa hormat sedemikian tinggi
Setelah kejadian itu pak bachtiar pun dengan sukarela menjadi bagian penting timses #AHOK saat jadi bupati beltim..dia yakin ini org baik
Hormat kepada orang yg lebih tua dan guru2 nya adalah kunci keselamatan #AHOK selama ini katanya.. dia banyak didoakan orang yg ditolong 😭 
Menurut pak bachtiar kita gak usah heran berpuluh2 serangan keji kepada #AHOK sejak lama selalu bisa dilewati dgn baik..karna doa org tulus
Kombinasi kebaikan Kim Nam dan #AHOK sendiri dalam membantu orang2 susah terbayar dgn baik dalam bentuk keajaiban2 Tuhan kpd Ahok
cukup dengan pak bachtiar gue lanjut pindah ke guru #AHOK lainnya, dijalan ketemu mesjid yg dibangun n ahok nyumbang pic.twitter.com/c1ckvPvFLl 
Walau sdh gak menjabat apa2 di beltim nama ahok selalu melekat dengan Pembangunan Mesjid.. panitianya selalu minta donasi ke ahok 😀 
Cukup aneh dan unik saat warga muslim lebih percaya kepada ahok yang akan membantunya bangun mesjid dibandingkan bupatinya skr yang muslim
Segini dulu yah hari ini #Sinetwit #AHOK nya selanjutnya masih banyak yang lebih seru dan mengharukan .. dijamin 😀✌ 

Bersambung

MENELUSURI MASA KECIL AHOK (bagian 1)

- No comments
Sumber : Rudi Valinka #HOKI @kurawa

Sebelum gue mulai #Sinetwit kisah hidup Ahok.. gue pastikan dulu literasi atau bahan2 yang ada baik buku maupun tulisan online
 Ada yang benar ada yang hoax baik kisah positif maupun negatif soal ahok.. gue kumpulin semua sebelum gue berangkat menuju belitung timur
Ada yang bilang wah pasti #Sinetwit gue ini sdh pernah ada ditulis orang.. kalo sudah ditulis orang yah ngapain gue harus susah2 ke sana
Ada beberapa yang sdh ditulis orang cerita soal ahok.. tapi banyak juga cerita2 yang belum pernah ada.. gue mencari narsumnya kepelosok2
Gue kunjungi satu persatu orang2 yang pernah dekat dengan ahok dan keluarganya, gue temui juga musuh maupun bekas musuhnya..ini yg seru
Dari kasus SARA (al maidah), isu korupsi, pertempuran pemilihan kepala daerah, hingga kehidupan sehari2 seorang ahok akan gue kupas tuntas
Gue berani jamin #Sinetwit ahok kali ini cukup obyektif... makanya gue persilahkan haters ahok pun juga ikut membacanya ..it's a fact
Data, fakta maupun narsum yang gue sampaikan nanti bisa dikonfirmasi ulang kalo masih ada yang ragu #Sinetwit ahok ini
Tujuan gue personal sinetwit ini hanya memastikan apakah seorang ahok itu cuma pencitraan selama di DKI. 🤔🤔.. makanya hrs lihat kebelakang
Jadi apa sudah bisa kita mulai..#Sinetwit #AHOK nungguin teriakannya dulu 😀😀 
Bismillah... 😀 (biar mirip kak @fahiraidris ) ... #Sinetwit Ahok di belitung gue mulai
#AHOK terlahir dari pasangan bapak Tjung Kim Nam dan ibu Buniarti Ningsih dengan jumlah saudara kandung 4 orang ( basuri, fifi, hari)
4 orang tapi cuma 3 nama? 🤔 yup ternyata #AHOK punya 1 adik bungsu lagi yg sdh meninggal dunia kecelakaan motor diusia 12 tahun
Nahh kan gak tau kalo ternyata #AHOK punya 1 adik lagi 😆 walau sudah wafat tapi ini yang gak ada di media2
Selain punya uma' (sebutan mama di bahasa belitung) ternyata #AHOK masih punya kakek nenek (kungkung popoh) yg masih hidup lohh 😀😀 
Usia kungkung dan popoh #AHOK skr sdh mencapai umur 92 tahun lebih mereka menjaga kesehatan dengan baik hingga mencapai usia ini
Pada saat gue menginjakkan tanah belitung timur jika bertanya soal #AHOK maka orang belitung selalu menyebut kebaikan n kiprah bapak nya
 Nama Kim Nam ini begitu populer dikalangan orang tua di belitung.. dan gue yakin salah satu faktor kepopuleran #AHOK pst ada faktor babenya
Gue pun mau gak mau harus menelusuri jejak babenya #AHOK ini karena gue mau tahu ahok bisa spt skr apa krn ada influence dari sang bokap?
Kim Nam ini beprofesi sebagai pengusaha sukses di belitung, bisnis utamanya sbg vendor/ kontraktor PT. TIMAH yg disaat jaya2nya tajir bgt
Pembangunan jalan, bangunan sampai pengadaan barang PT. TIMAH dikerjakan oleh Kim Nam..jadi jgn heran dia dipanggil orang dgn sebutan Tauke
Biasanya orang berpikir jika pengusaha spt kim nam ini punya koneksi ke PT Timah maka dia akan berikan upeti dgn cara nurunkan spek proyek
Untuk membuktikannya gue cari contoh 1 hasil proyek tauke ini yg masih ada.. inilah gedung SDN 06 di usia 25 thn 😀 pic.twitter.com/efX75FCUL5 
Kalo gedung SD kaya gitu yg dibangun sama developer tipikal mark up sih gue jamin 10 tahun aja sdh mau ambruk ..
Soal kehidupan sosial kemasyaratan Kim Nam .. dia memiliki kisah2 heroik menolong orang2 susah di belitung yang cukup banyak #AHOK 
Kim Nam tipikal orang yang tidak tegaan dengan siapapun yang datang minta pertolongan..mulai dari sekolah, berobat, hingga minta makan
Kim Nam ini rela membantu orang walau dia gak punya duit sama sekali dengan cara meminjam lagi ke orang lain.. ini luar biasa
Dia rela menggadaikan cek yg dia punya dengan bunga besar agar bisa bantu orang lain yang datang minta pertolongan... 🤒
Bahkan menurut pengakuan supir pribadi kim nam pernah dia disuruh juragannya pura2 minjem duit ke kakek neneknya #AHOK agar bisa bantu orang
Mengapa lewat supir? Karena kakek neneknya ahok sudah stress dengan kebaikan Kim Nam yg sering bantu orang tanpa peduli kantong sendiri 😀 
Jadi jika kim nam sendiri yang bilang minjam duit ke bapak ibunya pasti ditolak 😀.. makanya dia gunakan supirnya utk pura2 lg susah
Bahkan cerita dibuku #AHOK yg katakan bahwa kim nam pernah mengambil jatah susu buat anak mereka utk diberikan kepada orang lain itu benar
Ibu buniarsih alias uma #AHOK cuma bisa nangis melihat kelakuan kim nam ini ...apa yang dikatakan kim nam? Rejeki sdh Tuhan atur 😖😖 
Jiwa sosial seorang Kim Nam begitu populer di belitung seperti kisah Pitung di jakarta.. bedanya Kim Nam pake uang sendiri
Disaat jaman pak harto berkuasa, nama kim nam begitu populer di pengurus Golkar pusat.. jika ada pengurus DPP golkar datang kerumah kim nam
 Walau kim nam begitu terkenal di Golkar tapi dia tidak mau masuk ke kepengurusan krn dijaman itu etnis Tionghoa memang di"atur" oleh suharto
Kim Nam hanya diangkat seperti sesepuh golkar belitung setiap ada event apapun pasti dia diundang.. krn golkar yakin dia public darling
Jadi didalam darah kim nam sudah mengalir darah kebaikan dan darah politik walau tidak langsung.. yang akan mengalir menitis ke anak2nya
Ini poto penampakkan sang Tauke kim nam beserta adik paling bungsu #AHOK yang sdh wafat.. pic.twitter.com/U6kjoTEOGU 

Bagaimana cara mengajar kehidupan kim nam kepada anak2nya agar mereka suatu saat juga bisa mengikuti kebaikan ayah mereka?
 Kim nam selalu membolehkan anak2nya mendengarkan pembicaraan saat tamu datang ke rumah mereka caranya dengan sembunyi di balik ruangan tamu
Jadi #AHOK dan saudara2nya mengetahui pasti maksud dan kunjungan tamu2 yg diterima babe nya itu dengan segala keperluan dan misinya
 Dari yang minjam duit, minta bantuan sampai urusan dipalak oleh aparat hukum sdh makanan hari2 mereka.. ini yg jadi latar belakang #AHOK
Pd saat itu belitung masih dibawah prov Sumsel hampir tiap hari ada aparat2 hukum yg minta duit mulai dari ongkos tiket pulang ke palembang
Kelakuan aparat2 yang korup dan menindas ini membekas di hati dan otak ahok.. nanti gue akan ceritakan scene ini dgn teman sekolah #AHOK 
Gue sebut penindasan karena memang saat mereka ini minta duit selalu ancamannya dibuat2 dgn alasan akan ditutup dsbnya
Konsep harus ada "saksi" dari kim nam inilah yang hingga kini digunakan oleh #AHOK dengan cara kantornya terbuka dan rapatnya di rekam 😀 
Benih2 pelajaran yg diberikan kim nam kepada #AHOK saat ini semua berawal dari hal2 yg sederhana. Ini bisa kita adaptasi buat keluarga kita
Tekanan2 yang terus diterima oleh Kim Nam dari aparatur pemerintah mengakibatkan bisnisnya menjadi hancur.. #AHOK 
Saat Kim Nam wafat sekitar tahun 1996 dia mewariskan hutang kepada anak2nya hampir Rp. 3 Miliar (dari bisnis n bantuin orang lain) 😥 
Bagaimana kisah #AHOK kecil 😀😀.. nanti kita lanjutin #Sinetwit nya dicicil lah seperti biasa .. pasti makin seru
Minta doanya semoga semua jasa baik bapak tjung Kim Nam diterima Tuhan Yang Maha Kuasa..semoga makin banyak orang Indonesia spt beliau? Amin
 ###

 Mulai yah lanjutan #Sinetwit #AHOK nya..yang masih urus anak ajak anaknya ikut nyimak 😀, yg masih nyetrika n nyuci tinggalkan dulu
Setelah sedikit membahas bokapnya #AHOK (Tjung Kim Nam) yg begitu famous di belitung kita pindah ke masa ahok kecil..
Keluarga besar #AHOK ini cukup unik 😀 ahok sbg anak sulung ternyata mempunyai paman yang hanya lebih tua 2 tahun dari dia
Jadi disaat nenek (popoh) ahok melahirkan anak yg ke 11 tidak lama kemudian ahok pun lahir.. seumuran dan jd teman bermain
#AHOK selalu bangga jika menyebut dirinya orang yang beruntung mendapatkan 2 air susu ibu disaat kecil: dari Ibu nya sendiri dan Neneknya
Kalo dia lagi becanda menyanyikan lagu: "Pok Ame Ame belalang Kupu2, Siang Tetek Ibu kalo Malam Tetek Nenek" 😂😂 gimana gak sehat?
Paman terkecil #AHOK yang bernama Aliong ini yang juga menjadi teman sekolah ahok.. jadi ahok dan pamannya sekelas...😀..
Walau selisih umur 2 tahun, #AHOK lah yg memaksa utk sekolah lebih awal.. dia nangis waktu pamannya sekolah .. mau ikut juga katanya
Dari kecil memang #AHOK sdh nampak mental petarungnya, jika dia Ingin maka Harus bisa.. sekolah pun dijabani walau masih lom cukup umur
Kebersamaan #AHOK dan pamannya ini mungkin yg sebabkan ahok juga mau disusui oleh neneknya pokoknya harus bareng 😀😀 
Cerita sedikit soal kakek neneknya #AHOK yang skr berumur 92 tahun, mereka masih serasi loh. Kemana2 harus berdua dan msh suka cemburuan 😀 
Dari info #AHOK sendiri disebutkan resep hidup harmonis kakek neneknya yaitu semarah/berantem apapun mereka berdua harus Tetap Seranjang 👍 
Masalah paling besar yg skr tengah dihadapi oleh kakek nenek #AHOK adalah Kakeknya gak suka dingin AC sdgkan Neneknya suka AC .. #kelahi 😀 
Selalu sehat dan rukun2 yah kungkung dan popoh .. 😘😘.. bahagianya masih bisa melihat cucunya disenangi dan berguna bagi banyak orang
Balik ke kisah kecil #AHOK saat dia sekolah di belitung ... maka gue pun mencari narsum orang2 yg pernah dekat dengan ahok
Walau ahok adalah anak orang kaya dan terpandang di desanya dia lebih memilih sekolah negeri dibanding sekolah elit utk karyawan PT Timah
Jika waktu itu bokapnya #AHOK mau masukin ke sekolah PT Timah sangat bisa..tetapi dia lbh sekolah negeri agar berbaur dengan masyarakat
Gue mencari narsum orang terdekat #AHOK di SD .. bagaimana ahok kecil bersikap secara akademis maupun pertemanan
Inilah pak Mus teman sebangku ahok sejak dari TK hingga SD, beliau skr berwiraswasta memproduksi batako pic.twitter.com/5nyqe8YMhN 
Di usaha batako yang sederhana ini beliau menceritakan pengalaman2 masa kecil bersahabat dengan #AHOK pic.twitter.com/njZtEJLjnr 
Pak mus skr menjabat sbg ketua RT dilingkungannya dia juga bergerak menentang masivenya kebun sawit yg tdk bisa dinikmati warga belitung
Kebersahajaan pak mus, walau dikenal sebagai teman sebangkunya #AHOK dia memiliki sensitivitas gak mau temui ahok takut mengganggu katanya
Dia bilang kalo bukan ahok yg manggil dia langsung (bahkan sampe 3x pernah) utk ketemu maka dia segan utk ketemu ahok saat dia sdh pejabat
Rasa Minder ini cukup wajar..#AHOK pun mengetahui sifat teman sebangkunya makanya saat balik ke belitung dia temui pic.twitter.com/HE44PbzN7F 
Dari sini gue meyakini kalo #AHOK itu memiliki sifat selalu menghargai kawan2 nya.. dia tidak pernah lupa walau dalam kondisi lagi "diatas"
Pak mus termasuk salah satu prioritas orang yg wajib dikunjungi #AHOK saat balik ke belitung sekedar nanya apa kabar n berikan input bisnis
 Lalu gue pun mulai bertanya2 ke pak mus bagaimana masa kecil ahok di sekolah, menurut dia #AHOK itu dulunya sosok pendiam dan "biasa2" aja
Lalu gue mulai bertanya2 ke pak mus bagaimana masa kecil ahok di sekolah, menurut dia #AHOK itu dulunya sosok pendiam dan "biasa2" aja
Walau diam menurut pak mus, #AHOK itu tidak pernah memilih2 teman, tidak pernah dia kelahi dgn teman, jika dibully ahok tdk membalas
Padahal hampir semua orang belitung bagaimana populernya bokapnya #AHOK saat itu.. kalo bisa ahok jadi catatan si boy juga saat itu 😀 
Saat ahok senyum saat dia dibully justru itu lah point yang membuat banyak orang jadi segan kepada #AHOK hingga saat ini.. cool 👍 
Menurut pak mus.. ahok sangat disiplin disekolah dia tidak pernah bolos absensinya penuh terus.. sejak kecil ke sekolah jalan sendiri loh
Anehnya menurut pak mus banyak anak2 (yg katanya orang kampung) justru sekolah diantar ibu nya ..sementara ahok jalan kaki sendiri 😀 
Padahal bokapnya ahok punya mobil.. dan gak pake dianter2in pula kaya programnya cagub sebelah sana waktu jd mendikbub 😀😀 
Katanya #AHOK sdh punya jalan tikus sendiri dari rumahnya ke sekolah... sejak kecil sdh ditanamkan rasa mandiri oleh ortunya
Saat pelajaran agama (disekolah itu hanya ada pelajaran agama islam), siswa/i yang non muslim boleh keluar ruangan utk tidak mengikuti
Menurut pak mus, hanya #AHOK yang bersikeras tidak mau meninggalkan kursinya .. dia ikut kelas pelajaran agama islam.. dia menyimak sekali
Jadi kalo #AHOK paham dengan pelajaran agama islam yah sangat wajar 9 tahun dia simak, surat2 pendek spt al Fatihah, Al-Ikhlas dia hapal 😀 
Masalah surat Al-Maidah, #AHOK juga sudah paham sejak dia sekolah.. wong diajari kok berikut tafsir2nya oleh guru agama
Banyak hal yang dipelajari oleh ahok selama belajar agama islam.. beberapa dia aplikasikan loh seperti ikut bayar zakat yg menurut dia keren
Makanya #AHOK sering bilang : GUE CUMA BELUM DIBERIKAN HIDAYAH AJA sama TUHAN" kalo gue mualaf gue bisa jadi pendakwah No. 1
Dan #AHOK bilang kalo gue belum Terpilih mendapatkan Hidayah Allah SWT.. masa lo pada marah sama gue, justru bantu doain dong 😇😇 amin
Gue pikir iya juga yah 😀😀.. kalo ada orang yang benci #AHOK karena dia bukan muslim aja harusnya simple kan rame2 doain kasih Hidayah
Jadi menurut pak mus: dia sudah bosan dgn orang2 yang suka jual agama saat musim pemilu.. agama dijadikan alat saja
Ehh itu tadi bukan statement gue yah.. ini kan lagi omongin pak mus .. wahh kalo urusan ngaji dan sholatnya doi top dah 😀😀 
Jadi kalo ada yg bilang #AHOK menistakan al maidah yah jauh banget lah bro/sis, ahok sdh pahami al Maidah dari sekolah SD 😀 bukan baru tau
Lalu gue bertanya apa kesan mendalam saat bersahabat dengan ahok waktu sekolah? Dia jawab ada 2.. apa aja? 😀 lanjut gak neh ..
Ok masih ada waktu sedikit lagi yah.. yang pertama saat ahok ikut teman2 sekolahnya "nyolong" naik pagar utk berenang dikolam milik PT Timah
Sebenarnya #AHOK gak perlu ikut nyolong2 utk berenang dikolam renang eksklusif itu karena dgn pengaruh bokapnya dia bisa renang kapanpun
Cuma teman2nya itu (sebutan anak kampung) gak boleh pake kolam renang tsb .. nah dengan cara #AHOK ikut temani maka dia pikir akan aman
#AHOK berpikir jika suatu waktu teman2nya ketangkap satpam penjaga maka jika melihat ini anaknya Kim Nam maka akan dilepaskan teman2nya
😀
Menurut pak mus ...walau ahok tau ini melanggar tapi ahok pula yang mengingatkan teman2nya utk Cukup tidak kelamaan atau keseringan
Alhamdulillah belum pernah ketangkap .. kata pak mus 😀 ini berkat kejelian #AHOK utk menghitung waktu .. dari kecil sdh nampak leadership
 Yang kedua menurut pak mus #AHOK itu suka sekali dengan kue cakwe.. dibeli di sebuah warung milik orang betawi yaitu ibu bikoni
Walau suka sekali dgn cakwe ... setiap lihat teman.. ahok selalu mau berbagi dengan teman2nya yg gak punya duit utk bisa beli cakwe tsb
Wahh jadi keinget film IP man.. maka #AHOK saat SD kayanya perlu dipanggil jadi Cakwe Man 😀.. begitu baiknya seorang ahok kecil
Nanti masih lanjut soal kisah pak mus yah... berikut foto2nya lagi.. 😀😀 masih banyak kisah2 inspirasi #AHOK yg akan gue ungkap