Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Sebungkus Nasi

Meski harus mandi keringat, bermain dengan debu, itu semua tak menyurutkan semangat Nino untuk menjajakkan dagangannya. Semua itu ia lakukan untuk makan keluarga, meski hasilnya tidak sebanding dengan usahanya tapi ia tak pernah mengeluh.
“Pak.. Air dingin. Air dingin… Tisu..” ia berteriak untuk menawarkannya. Sesekali ia menghapus keringat yang membasahi dahinya. Lampu merah menyala, ini kesempatannya untuk menjajakkan dagangannya, ia berlari dengan semangat. “Pak, Bu.. Air dingin, Tisu, Kacang, Permen…” teriaknya, ia berjalan dari satu mobil ke mobil yang lain.
Cerpen Yulia Indah
Baca Juga Kisah Penjual Warteg yang penuh Inspirasi
Matahari mulai sedikit condong ke barat, ia selesai bekerja. Setiap hari ia harus bekerja setelah pulang dari sekolah, tapi kalian jangan menganggap ia bersekolah di tempat sekolah biasanya, ia bersekolah di tempat khusus anak jalanan. Sekolah itu dibangun karena suka relawan para anggota komunitas. Ia bersiap menerima upah untuk kerja keras dari pak Yusri bosnya.
“Nino ini untukmu hari ini, kerja bagus. Semangat ya!” kata pak Yusri pada Nino.
“Terima kasih Pak, kalau begitu saya pulang dulu Pak. Assalamu’alaikum,” kata Nino berpamitan tak lupa mencium tangan bosnya itu.
“Walaikumsalam.” jawab pak Yusri.
Nino memasukkan uangnya setelah ia menghitungnya, ia berniat untuk membeli nasi untuk keluarganya di rumah.
“Hari ini lumayan dapatnya, jadi bisa beli nasi 2 bungkus. Alhamdullilah.” kata Nino senang sambil berjalan masuk ke warung nasi tempat biasanya ia membeli.
“Assalamu’alaikum Bu Mirna,” kata Nino sopan, terlihat bu Mirna pemilik warung itu tersenyum senang.
“Walaikumsalam Nak Nino, mau berapa bungkus Nak?” tanya bu Mirna ramah, ia sudah akrab dengan Nino.
“Hari ini dua bungkus Bu, seperti biasa,” kata Nino.
“Wah, laku ya nak dagangannya?” tanya bu Mirna sambil membuat pesanannya Nino.
“Alhamdulillah Bu.” jawab Nino.
“Tumben Bu sepi?” tanya Nino yang melihat keadaan warungnya bu Mirna yang sepi.
“Iya Nak, tapi tidak apa-apa,” jawab bu Mirna.
“Di syukuri saja Bu, Allah punya rencana sendiri,” ucap Nino, bu Mirna tersenyum inilah yang membuatnya suka dengan Nino, kata-katanya yang sopan, perilaku yang santun.
“Ini Nak nasinya,” kata bu Mirna menyerahkan bungkusan nasi pada Nino.
“Loh Bu kok 3 bungkus, saya kan memesan 2 Bu?” Nino kebingungan karena ia mendapat 3 bungkus nasi padahal ia memesan 2 bungkus.
“Itu bonusnya Nak Nino, karena hari ini Nak Nino sudah kerja keras,” kata bu Mirna.
“Tapi Bu..”
“Sudahlah tidak apa-apa,” sahut bu Mirna. Nino berterima kasih dan menyerahkan uangnya.
“Assalamu’alaikum.” ucap Nino sebelum meninggalkan warungnya bu Mirna.
Nino berjalan pulang dengan perasaan senang, keluarganya hari ini akan makan dengan kenyang. Tanpa Nino sadari, dari belakang melaju sepeda motor dengan kecepatan tinggi dan hampir menabrak Nino, meski tak menabrak Nino tapi Nino terserempet dan membuatnya terjatuh.
“Astagfirullah, ya Allah,” ucap Nino, ia melihat orang menyerempetnya pergi. Nino tak marah sedikit pun, ia berusaha bangkit dengan keadaan kakinya berdarah. “Ya Allah nasinya!” pekik Nino mengambil nasinya yang masih bisa diambil hanya satu bungkus, kedua bungkusnya tumpah.
“Ya Allah, Ibu, Ayah maafkan Nino hari ini tidak bisa membawa makanan yang banyak,” ucap Nino, ia mengikhlaskan nasinya dan membawa nasi yang masih utuh. Ia kembali berjalan untuk pulang dengan langkah terseok-seok.
“Ya Allah, kuatkan hambamu.” Nino berjalan dengan menahan sakit di kakinya.
Di pertengahan jalan, ia mencoba untuk berhenti. Kakinya masih terasa sakit, ia mencoba untuk beristirahat. Tapi ketika ia beristirahat, ia didatangi 2 anak kecil dengan keadaan menyedihkan sama dengannya tapi ia lebih baik.
“Kak bolehkah kami minta nasinya? Kami lapar Kak,” kata salah satu bocah itu yang lebih besar dari yang satunya.
“Kami lapar Kak,” kata mereka berdua. Nino memandang kedua anak itu iba, hati kecilnya menyuruh untuk memberikan bungkus nasinya tapi ia juga menyadari keadaannya.
“Mm.. Bagaimana ya? Mm.. Ya sudah ini untuk kalian. Tapi Kakak cuma punya satu bungkus,” kata Nino akhirnya memberikan satu bungkus nasinya.
Kedua anak itu terlihat senang. “Tidak apa-apa Kak, terima kasih,” kata salah satu anak itu, dan berlalu pergi.
Nino memandang kedua anak itu miris, kehidupan memang seperti ini. “Ya Allah lindungilah mereka.” Nino bangkit dan bersiap melanjutkan langkah perjalanan pulang. Ia pulang dengan tangan kosong, ia sedih hari ini keluarganya tak bisa makan, tapi di dalam hatinya senang bisa bersedekah.
Nino sudah sampai di rumah, tepat adzan asar.
“Assalamu’alaikum,” salam Nino ketika masuk ke rumah.
“Walaikum salam, ya Allah Nak. Kaki kamu kenapa?” tanya ibu khawatir melihat kakinya Nino berdarah.
“Tadi keserempet sedikit Bu, tapi tidak apa-apa,” kata Nino berusaha menenangkan ibunya.
“Kalau begitu kamu masuk mandi, salat baru diobati,” kata ibu.
“Bu.. Maafkan Nino Bu, hari ini Nino tidak membawa nasi untuk kita makan,” kata Nino merasa bersalah.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Ibu lupa. Hari ini kita bisa makan, tadi kita dapat rejeki, Bu Siti ada hajatan, terus tadi katanya nasinya ada yang lebih jadi diberikan ke kita, lumayan banyak,” kata ibu.
“Alhamdulillah Bu, itu rejeki dari Allah.” kata Nino.
Ibunya mengangguk dan tersenyum bahagia. Di hati Nino ia sangat bersyukur dari semua kejadian siang ini, di balik semuanya itu ada kenikmatan yang luar biasa. Padahal ia hanya memberi sebungkus nasi tapi mendapat yang lebih. Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah, kita ambil hikmahnya saja dari cerita ini. Mampu dan tidak mampu bukan sebagai hambatan untuk kita bersedekah. Kita hanya memberi secuil roti tapi mendapat sepotong roti. Allah Maha Segalanya.

Penulis : Yulia Indah