Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Sang Penjaga NKRI

Saya tertarik dengan ungkapan salah satu pembicara di televisi yang mengatakan bahwa 'NEGARAWAN' adalah ia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Ia yang fikiran, gerak langkah dan tindakannya hanya terfokus pada negara dan tumpah darahnya. Dia tidak lagi gundah dengan tinggi rendahnya jabatan, karena semua strata jabatan adalah alat penting untuk mengawal kelangsungan negara. Ia tidak lagi di recoki dengan berapa yang bisa di dapat dari kekayaan negaranya, sebab semua rezeki yang ia terima bernilai anugrah. Ia juga tidak lagi terganggu dengan kesenangan pribadi dengan mengoleksi banyak benda berharga, mengoleksi istri dan simpanan, yang muaranya hanya untuk bersenang senang.

Setiap negarawan adalah nasionalis, tapi tidak semua nasionalis itu negarawan. Negarawan itu mengawal, tapi tidak berharap lencana. Negarawan itu melindungi, dan tidak sekedar membela. Negarawan itu wali hakiki dari sebuah bangsa. Ia khalifah yang memimpin bumi dengan atau tanpa mengenakan baju kekuasaan. Negarawan itu 'danyang', sang perawat tanah air. Negarawan itu kiblat sekaligus pusaka, yang ketika ia hilang maka hilanglah karakter sebuah negara.

Dalam dunia pewayangan, negarawan itu Bisma. Pria agung yang dedikasinya untuk negara jauh melintasi batas ke'aku'an. Dia pewaris utama tahta Hastina, tapi jabatan itu seumur hidup tidak pernah di sentuhnya. Sebab, baginya kelangsungan hidup sebuah bangsa jauh lebih penting dari sekedar kedudukan. Dia memiliki kesaktian yang tiada tandingan, bahkan konon jika para dewa dan asura (raksasa) bergabung dalam satu barisan dengan Indra sebagai pemimpinnya, tiada mampu mengalahkan Bisma. Tapi tidak menggunakan keunggulan yang ada pada dirinya demi memuaskan nafsu angkara.

"Aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung" (wikipedia)

Demikian sikap kenegarawan sang Bisma. Bisma adalah pribadi yang meletakkan kemanusiaan di atas segala galanya. Walaupun karena sikapnya itu, ia harus menjadi martir bagi bangsanya.

Negarawan juga bisa berarti Semar. Pria berdarah dewa yang menjelma menjadi manusia biasa. Yang seluruh hidupnya di persembahkan untuk mendidik, mengawasi dan melayani para ksatria. Sama seperti Bisma, Semar juga bukan orang yang mabuk jabatan. Menjadi rakyat kecil dengan kehidupan sederhana bagi seorang Semar adalah kebahagiaan tiada kira.

 Resi Bisma

INDONESIA BUTUH NEGARAWAN

Ini agaknya yang menjadi keprihatinan kita semua. Kita kekeringan figur negarawan. Sosok yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Yang ada sekarang adalah pemimpin eksekutif yang kemaruk, pemimpin legislatif yang gemar menjual nama rakyat, pemimpin yudikatif yang tidak adil. Bahkan kita juga banyak kehilangan para pemimpin informal yang tulus melayani umat.

Saya terketuk dengan ucapan pemimpin agung abad ke tujuh. Dia katakan,

"Kita baru kembali dari peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar". Sahabatnya lalu bertanya, "peperangan apakah itu ya rasulullah ?". Manusia agung itu mengatakan, "peperangan melawan hawa nafsu" (HR Baihaqy)

Ini kalimat yang menurut saya adalah tamparan bagi kita semua. Betapa kita terlena dengan pertarungan pertarungan kecil dan melupakan pertarungan yang sebenarnya. Yaitu pertarungan melawan diri sendiri. Melawan keinginan keinginan yang timbul dari hawa nafsu duniawi.

Kasus kasus yang menimpa para pemimpin bangsa akhir akhir ini sungguh tidak menggambarkan hadirnya sosok negarawan sejati. Mereka masih terlalu asyik dengan dirinya sendiri. Masih silau dengan harta, masih larut dalam kesenangan, masih tergoda dengan kerlingan wanita. Mereka belum bisa keluar dari dirinya sendiri.

Orang bijak mengatakan, pemimpin adalah mereka yang maju paling depan ketika bahaya mengancam dan duduk paling belakang ketika kemenangan diraih.

Yang terjadi pada bangsa ini adalah sebaliknya. Ketika rakyat kelaparan, pemimpinnya makan berlebihan. Ketika rakyat menjerit karena harga meroket, pemimpinnya sibuk menumpuk harta. Ketika para pemuda kebingungan mencari pasangan hidup, pemimpinnya berlomba lomba memperbanyak wanita wanita simpanan. Ketika rakyat mengalami kegelapan karena tidak ada listrik masuk ke daerahnya, para pemimpin jingkrak jingkrak di bawah gemerlapnya cahaya.

Di tangan kita, nasib bangsa ini kita tentukan. Apakah akan kita serahkan kepada mereka yang masih sibuk dengan dirinya sendiri, ataukah kita serahkan kepada mereka yang benar benar telah selesai dengan kebutuhan dirinya sendiri ?

Penulis : Komandan Gubrak