Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 14)

“Anakku…” tutur Prabu Kurandageni kepada Herawati tatkala putri Salya itu tiba di istana Tirtakandasan dengan di iringi kekasih tercintanya Kartawiyaga.

“Aku menerimamu di sini bukan berarti aku berniat menghina orang tuamu. Jika bukan karena kalian sudah saling mencinta, manalah berani orang tua sepertiku mengganggu ketenangan ayahmu Prabu Salya” lanjut Kurandageni merendahkan suara untuk mengambil hati sang calon menantu.

“Saya mengerti, paman” kata Herawati, “saya justru berterima kasih atas sambutan paman yang luar biasa ini. Jika bukan kepada paman, kemana lagi saya harus berlindung?”.

Kurandageni mengangguk.

“Pamanmu ini tidak habis pikir anakku. Bukankah menjadi permaisuri Hastinapura adalah impian semua wanita ?. Tapi kenapa justru kamu memilih Kartawiyaga yang statusnya hanya bangsa rendahan dan tak punya apa apa ?” pancingnya.

“Paman, setiap wanita di karuniai dua pilihan yang sama sama baik. Pertama menikah di saat yang tepat atau menikah dengan pria yang tepat. Dan saya memilih yang kedua” tegas Herawati yang di sambut dengan senyum mengembang sang Kurandageni.

“Dan kamu tahu resikonya ?”.

“Tentu, paman. Tapi saya berjanji tidak ingin merepotkan keluarga Tirtakandasan”.

“Oh, bukan begitu maksud paman” berhenti sejenak,” paman hanya ingin segala sesuatunya berjalan sesuai norma yang ada. Kalau bisa di upayakan dengan cara yang baik, kenapa dengan cara yang kurang baik?”.

Kali ini Herawati tertunduk. Ungkapan Kurandageni itu bagi Herawati terdengar seperti penolakan yang di perhalus.

“Ayahanda orangnya sangat keras hati. Sekali ia bilang tidak, susah sekali mengubahnya” keluh Herawati pasrah.

“Kalau ayah tidak bersedia menerima kami, biarkan Kartawiyaga membawa lari dinda Herawati kemana saja asal tidak mengganggu kenyamanan Tirtakandasan!” sela Kartawiyaga sedikit kecewa dengan sikap ayahnya.

“Ha ha ha…!” tertawa lepas.

“Karta…Karta…!. Apa ayahmu ini sudah kamu anggap benda mati sehingga kamu seenaknya saja berkata begitu ?. He…?”.

“Dengar!” ucap Kurandageni dengan nada tinggi.

“Yang ayah inginkan, kamu mengatakan secara jantan pada pamanmu Salya bahwa kamu menginginkan putrinya. Itu saja!”.

“Ah, mana mungkin ?” bantah Kartawiyaga.

“Kamu sudah mencobanya ?”.

“Paman Salya sudah pasti akan membunuhku”.

“Menurutmu begitu…”.

Kartawiyaga menatap penuh tanda tanya pada sang ayah.

“Selama Herawati di sini, tidak akan berani pamanmu Salya menyakitimu”.

Deg. Benar juga apa yang ayahnya katakan. Prabu Salya tak mungkin akan menyakiti dirinya kalau ia tahu bahwa putrinya berada di Tirtakandasan.

“Tapi bagaimana kalau paman Salya tetap tidak mau merestui kami, ayah ?” masih ragu ragu.

“Itu urusan nanti. Yang penting kamu harus menunjukkan dulu niat baikmu”.

Kartawiyaga berpaling ke arah Herawati yang duduk bersimpuh di sampingnya. Putri sulung Salya ini terlihat menggelengkan kepala seolah tidak percaya bahwa ayahnya akan begitu saja merelakan dirinya bersanding dengan Kartawiyaga.

“Ayah…?” protes Kartawiyaga, namun tatapan nanar sang ayah serta merta membuatnya terpaksa harus diam mendengarkan petuah lebih lanjut.

“Kamu anakku satu satunya. Jika memang apa yang sudah menjadi ketetapan hati kalian, ayahmu ini sama sekali tidak merasa keberatan untuk menghadapi resikonya. Mungkin ayah bukan tandingan pamanmu Salya, akan tetapi demi kau anakku. Demi kebahagiaan kalian, kematian bukan hal yang perlu di takuti!”.

Terlecut hati sang Kartawiyaga mendengar ucapan ayahnya yang begitu tulus tanpa pamrih. Makin tergugah hati Kartawiyaga untuk memenuhi keinginan ayahnya.

“Baiklah. Jika memang ayah menghendaki begitu, hari ini juga Kartawiyaga akan segera kembali ke Mandaraka. Titip dinda Herawati, ayah”.

Setelah berpamitan kepada ayahnya dan Herawati, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi putra mahkota Tirtakandasan itu segera bersiap berangkat kembali ke Mandaraka.


Hampir setengah hari Basukarna terlihat mondar mandir di sekitar gubuk di mana ia meletakkan tawanan istimewanya, Surtikanthi. Sesekali ia melongok ke dalam gubuk guna memastikan anak Salya yang ia anggap sebagai Banowati itu masih ada di tempat. Otaknya berpikir keras, mau di apakan wanita cantik yang sekarang berada di tangannya itu ?. Tidak mungkin ia membiarkan terus menerus tawanannya itu dalam keadaan tidak sadar akibat kena totoknya. Jika menjelang sore ia tidak segera melepaskan Surtikanthi dari pengaruh ilmu totoknya, bisa jadi justru akan membahayakan keselamatan yang bersangkutan. Dia tetap harus melepaskan Surtikanthi. Tapi bagaimana menghadapi putri Salya itu ketika telah tersadar, itu yang masih membuat Basukarna ragu ragu. Tentu Surtikanthi akan segera mengenalnya. Dan apa jadinya jika di awal ia sudah terlanjur mengaku sebagai Permadi, nyatanya justru bukan ?. Padahal niat awalnya ia ingin membuat nama Permadi tercemar.

Basukarna melangkah ke dalam gubuk dimana Surtikanthi masih tergolek lemas di atas pembaringan. Di pandanginya tubuh berbalut pakaian berwarna kuning keemasan itu dengan nafas tertahan. Untuk kesekian kalinya jantung Basukarna berdetak kencang manakala matanya menumbuk pada wajah ayu Surtikanthi. Ada rasa aneh yang terus menerus menggugah hatinya. Entah mengapa sejak melihat wajah Surtikanthi, timbul rasa suka dalam diri Basukarna ?. Berkali kali ia berusaha menepis, tapi berkali kali pula ia gagal meredam gemuruh perasaannya.

Tanpa sadar Basukarna beringsut mendekat pada Surtikanthi. Di sentuhnya perlahan tubuh montok di hadapannya. Debar jantungnya tak henti hentinya berpacu manakala jari jemari Basukarna menyentuh setiap lekuk tubuh Surtikanthi. Dan ketika pandangannya tertuju pada wajah cantik Surtikanthi, semakin tak terbendung keinginan adipati Awangga itu untuk menyentuh wajah nan ayu Surtikanthi.

“Bangun Banowati…” ucap Basukarna lirih.

Dan entah sadar atau tidak, tangan Basukarna tiba tiba bergerak mengetuk beberapa saraf Surtikanthi yang pada akhirnya membuka kesadarannya.

Perlahan tubuh yang tadinya lemah mulai menunjukkan tanda tanda kesadaran. Di awali dengan gerakan jari jarinya, merembet ke tangan, lalu sekujur tubuhnya dan kemudian matanya yang tertutup rapat perlahan terbuka. Tak ada reaksi dari sang Basukarna. Justru sepertinya pemuda Awangga ini malah menunggu tawanannya tersadar.

“Di mana aku ?” ucap Surtikanthi begitu tersadar. Beberapa kali ia mengucek ucek matanya, lalu menatap liar ke sekeliling. Dan begitu mendapati sosok asing di dekatnya, sontak ia bangkit dan beringsut menjauh.

“Siapa kamu ?” tanya Surtikanthi gelagapan. Tangannya refleks meraba raba pinggang. Berharap ada senjata yang terselip di sana. Tapi nihil.

“Tenang nona…tenang!” Basukarna bangkit dan berusaha mendekat.

“Jangan mendekat….jangan mendekat!” ancam Surtikanthi dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Aku tidak bermaksud jahat, nona…”.

“Jangan bohong!” Surtikanthi tak percaya.

“Kamu yang menculikku dari keputren Mandaraka, bukan ?”.

“Oohh…” Basukarna tampak sedikit kebingungan.

“Bukan…bukan…!”.

“Bohong!” bantah Surtikanthi, “kembalikan aku ke Mandaraka…kembalikan!” lengkingnya marah. Di raihnya sebatang bambu sepanjang setengah meter yang berada di pojok ruangan. Serta merta ia menyerbu ke arah Basukarna, dan…

Brakk!!!

Batang bambu itu di hantamkannya ke dada Basukarna. Tak ada perlawanan sedikitpun bahkan tak terdengar teriakan kesakitan dari mulut Basukarna. Dan sepertinya Basukarna sengaja memberikan tubuhnya untuk jadi bahan pelampiasan kemarahan Surtikanthi. Makin jengkel Surtikanthi melihat keangkuhan pria di hadapannya, makin keras ia hantamkan bambu itu ke tubuh Basukarna. Namun bukan luka yang ia lihat, tapi batang bambu di tangannya justru hancur berkeping keping setelah berkali kali menghantam tubuh pria di depannya.

“Tenang nona, aku bukan penculik yang kamu maksud” ucap Basukarna berbohong.

“Aku…aku….Karna!”.

Surtikanthi melongo mendengar jawaban itu. Dia ingat betul bahwa penculiknya mengaku bernama Permadi, yang ia tahu nama itu adalah nama dari salah satu anggota Pandawa. Tapi pria di hadapannya ini mengaku bernama Karna.

“Bohong!. Penculiknya berbaju hitam seperti yang kamu pakai. Ayo ngaku !” todong Surtikanthi mulai berani.

Mati aku!. Gerutu Basukarna dalam hati. Kenapa ia lupa mengganti pakaiannya ?.

“Oh…ini kebetulan saja” jawab Basukarna sekenanya.

“Nggak percaya!. Kamu Permadi bukan ?”.

“Bukan…bukan..!. Aku Basukarna. Adipati Awangga. Orang kepercayaan Prabu Suyudana”.

Mendengar nama Suyudana di sebut, Surtikanthi mendadak berubah. Walaupun belum pernah berbicara langsung, tapi Surtikanthi telah mengenal raja Hastina itu ketika ia dan keluarganya menerima rombongan Hastinapura di istana Mandaraka dalam rangka melamar kakaknya Herawati.

“Kalau nona tidak percaya, aku bisa bawa kamu ke Hastina untuk menghadap gusti Suyudana” Basukarna meyakinkan.

Surtikanthi menatap dalam dalam ke wajah Basukarna. Sepertinya pria ini jujur. Pikir Surtikanthi.

“Tapi yang menculikku..”.

“Iya..iya…!. Ketika aku sedang menuju Mandaraka menyusul paman patih Sengkuni, aku mendapati Permadi sedang berlari membawamu. Aku lalu menghadangnya. Kami bertarung dan akhirnya aku bisa kalahkan dia” Basukarna mengarang cerita.

“Jadi….” Surtikanthi mulai percaya,” jadi tuan yang menyelamatkan Surtikanthi…?”.

Surtikanthi ?.

“Jadi namamu Surtikanthi ?. Bukan Banowati ?” Basukarna penasaran.

“Iya. Aku Surtikanthi. Banowati itu adikku. Kamu kenal dia ?”.

Ya Tuhan. Jadi selama ini aku salah orang. Dia bukan Banowati yang kata Aswatama sempat hendak di culik Permadi.

“Tidak. Aku tidak kenal Banowati. Hanya saja…”.

“Kenapa ?”.

“Hanya saja aku sempat mendengar cerita bahwa Permadi pernah hendak membawa lari adikmu Banowati. Untunglah tuan Aswatama berhasil menggagalkannya”.

“Apa ?. Kapan ?” Surtikanthi penasaran dengan cerita Basukarna.

“Loh…bukannya nona sudah tahu ?”.

Surtikanthi menggeleng. Pikiranya kini kembali mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ketika dua kali ia tidak menemukan Banowati di kediamannya. Entah peristiwa itu terjadi yang pertama atau yang kedua, yang jelas keterangan lelaki di depannya ini sungguh membuatnya mulai mengerti masalah yang sebenarnya.

“Oh..pantas saja Banowati sering tidak ada di tempat…”.

“Bisa jadi “potong Basukarna makin percaya diri.

“Bisa jadi itu ulah panengah Pandawa itu. Buktinya, nona juga hendak di bawanya lari ?”.

Surtikanthi menganggukkan kepala.

“Kita harus segera laporkan ini kepada ayahanda…” kata Surtikanthi seraya mengajak Basukarna keluar dari gubuk itu.

“Tunggu dulu nona!” Basukarna menahan.

“Kenapa ?”.

“Biar aku yang menghadap ayahandamu” saran Karna.

Bagaimanapun untuk sementara waktu ia harus menahan Surtikanthi agar tidak kembali ke Mandaraka sebelum usaha patih Sengkuni dan Aswatama membujuk Prabu Salya guna menghukum Permadi berhasil.

“Sangat berbahaya jika nona kembali ke Mandaraka”.

Surtikanthi tertegun tak mengerti maksud Basukarna.

“Permadi begitu berhasrat menculik nona, aku takut ia akan kembali menyakiti nona kalau tahu nona ada di Mandaraka”.

“Hemm…” dehem Surtikanthi. “Masuk akal. Tapi kalau tuan ke sana, bagaimana denganku ?”.

“Itu gampang. Nona bisa istirahat di Awangga. Biar orang orangku nanti yang menjaga nona. Aku jamin Permadi tidak akan berani menginjakkan kaki di Awangga”.

“Benarkah ?”.

Basukarna mengangguk.

Akhirnya dengan mengendarai kuda sakti kyai Gagak Rimang pemberian Dewa Surya, Basukarna membawa Surtikanthi pergi ke Awangga. Sesampai di Awangga, Surtikanthi di tempatkan di kediaman Basukarna dengan mendapatkan pelayanan istimewa. Basukarna yang mulai tertarik dengan Surtikanthi sepertinya tak mau kehilangan kesempatan untuk menjerat hati Surtikanthi. Segala fasilitas mewah di berikan pada tamu istimewanya ini. Makanan yang melimpah, pelayan yang ramah dan beraneka hiburan yang membuat Surtikanthi makin merasa betah di Awangga.

Bersambung...

oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak