Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 13)

“Ohh….ehmmm…”.

Gugup, marah, bingung bercampur malu sang Dananjaya. Apalagi di dekatnya ada Banowati, gadis cantik yang begitu ia kagumi. Sejak pertama kali bertemu dengan Banowati di pantai Mandaraka, sedikitpun ia tak pernah menyinggung statusnya yang sudah memiliki istri. Bukan bermaksud ingin menyembunyikan jati diri, akan tetapi ia membutuhkan saat yang tepat untuk mengatakan itu semua. Pun juga ia harus memastikan bahwa rasa cintanya pada putri prabu Salya itu tidak bertepuk sebelah tangan.

Apa yang di ucapkan Wasi Jaladara barusan benar benar membuat Permadi seolah mati gaya di depan Banowati. Mau berkata bohong, ada kakak sepupunya yang sudah pasti tahu banyak kartunya. Tapi mengatakan apa adanya, ia mesti bersiap menghadapi kemarahan Banowati yan mungkin saja merasa kecewa dengan ketidakjujurannya.

Sejenak mata Permadi melirik ke arah Banowati yang hanya beberapa sentimeter dari tempatnya duduk. Dara Mandaraka itu hanya membalas tatapan Permadi sekilas lalu menundukkan wajah tanpa memberikan isyarat apapun kepada Permadi.

“Sebentar…” ucap Permadi tiba tiba.

Ksatria Madukara ini lantas bangkit dari duduknya, menggamit tangan Banowati lalu membawanya keluar dari gubuk kecil itu. Burisrawa yang tidak mau terjadi apa apa dengan kakaknya, berusaha menguntit dari belakang. Tapi sebuah isyarat dari Banowati memaksanya untuk duduk kembali dan membiarkan Permadi membawa keluar sang kakak.

“Aku bisa jelaskan..!!” kata Permadi begitu telah berada agak jauh dari gubuk.

“Aku bisa ceritakan semuanya….” ulangnya sembari mencengkeram kedua pundak Banowati. Sementara kedua bola matanya tak pernah lepas memandangi wajah Banowati.

“Apaan sih…” sahut Banowati sembari menepis kedua tangan Permadi.

“Dengar aku, Bano…, dengar….!. Aku memang menikahi Larasati, tapi….”.

“Aaah…sudah sudah…!” seperti tak menggubris rengekkan Permadi, Banowati malah membalikkan badan dan berlalu begitu saja menjauhi Permadi.

“Eeeh….dengar dulu Bano…” kejar Permadi.

“Aku menikahinya karena terpaksa…”.

“Apa urusanku?” Banowati cuek.

“Aku memenangkan sayembara…”.

“Hebat dong…”.

“Tapi niatku cuma ingin mengalahkan Udawa. Nggak ada yang lain…”.

“Semua lelaki akan bilang begitu kali…” Banowati mempercepat langkah.

“Aku jujur, Bano…”

“Bodo!!!” sahut Banowati memonyongkan bibirnya.

“Tapi aku tak mencintainya…”.

Kali ini Banowati menghentikan langkah. Menoleh ke arah Permadi, tapi sedetik kemudian ia kembali melangkah cepat menuju gubuk.


Tirtakandasan. Begitu pulau terpencil di tengah lautan itu di sebut. Orang orang Mandaraka seringkali menyebut Tirtakandasan sebagai pulau buangan. Tempat di mana para penjahat kriminal  menjalani masa hukuman atas perbuatan yang pernah mereka lakukan. Ada sekitar 500an orang yang menghuni pulau kecil yang terletak sekitar 750 km dari pantai Mandaraka ini. Kebanyakan adalah orang orang yang menjalani hukuman. Mulai dari pelaku kejahatan kecil hingga kejahatan besar seperti pembunuhan, perampokan dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, Tirtakandasan juga menjadi tempat bagi mereka yang pernah di cap pemberontak oleh kerajaan Mandaraka. Ada belasan penjahat politik yang juga menghuni kawasan ini. Dan salah satunya adalah kerabat Prabu Salya bernama Kurandageni. Kurandageni di buang ke Tirtakandasan beserta keluarganya  atas tuduhan hendak melakukan kudeta pada raja sebelumnya, Prabu Mandrapati.

Sebelum di buang ke Tirtakandasan, Kurandageni adalah seorang senapati perang Mandaraka berpangkat Laksamana. Memimpin angkatan laut Mandaraka dan bertugas menjaga keamanan kerajaan dari gangguan kerajaan kerajaan kecil di perairan timur. Prestasinya tidak terlalu mengecewakan. Di bawah kendali Kurandageni, perairan timur yang dahulu kala di kenal tempat paling menakutkan bagi para nelayan dan pelaut, berubah menjadi wilayah aman yang bebas di lalui oleh siapa saja. Kurandageni tidak hanya sukses menjamin keamanan perairan timur, tapi ia juga berhasil menakhlukkan kerajaan kerajaan kecil yang banyak bertebaran di tengah lautan timur.

Namun sayang, sebuah intrik licik yang di lancarkan oleh para pejabat yang tidak menyukainya, memaksa sang laksamana harus menghabiskan masa hidupnya di pengasingan. Petaka bagi Kurandageni yang juga merupakan murid sekaligus menantu begawan Bargawa (adik Bagaspati/mertua Salya) muncul ketika Mandaraka mengalami krisis politik di mana Prabu Mandrapati menderita sakit yang cukup parah. Keadaan ini bertambah runyam manakala putra mahkota Mandraka yaitu Salyapati yang di gadang gadang bisa menggantikan posisi raja dalam mengelola pemerintahan justru pergi mengembara entah kemana. Karena merasa ikut bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan Mandaraka akhirnya Kurandageni mengambil inisiatif untuk mengangkat diri sebagai raja sementara Mandaraka sampai di ketemukannya sang putra mahkota. Usaha ini sebenarnya mendapat dukungan penuh dari negara negara bawahan Mandaraka, terutama negara negara kecil yang pernah di tundukkan Kurandageni. Namun tidak bagi para pejabat istana Mandaraka yang sudah sejak lama merasa iri dengan sepak terjangnya. Para penentang Kurandageni  kemudian menyusun rencana menyingkirkan raja baru ini melalui pemalsuan perintah Prabu Mandrapati. Dalam surat perintah palsu ini, Kurandageni tidak hanya di copot dari jabatannya sebagai penguasa sementara Mandaraka, tapi juga di tuduh telah melakukan kudeta yang akhirnya di hukum buang ke Tirtakandasan beserta keluarganya.

Di tempat pengasingannya, Kurandageni yang merasa sakit hati atas perlakuan musuh musuh politiknya di lingkaran pemerintahan Mandaraka kemudian menyusun kekuatan guna melakukan pembalasan. Di kumpulkannya semua pengikutnya yang rata rata adalah para narapidana untuk di latih dalam seni keprajuritan. Tidak itu saja, Kurandageni juga menghubungi raja raja kecil di perairan timur yang dulu pernah ia takhlukkan untuk bekerja sama. Dan upaya ini di sambut dengan tangan terbuka oleh raja raja kecil di kepulauan timur. Mereka sepakat berikrar  bahwa sejak itu tidak lagi berada di bawah kendali Mandaraka. Dan sebagai gantinya mereka mengangkat Kurandageni sebagai pemimpin dan di daulat sebagai raja diraja dengan Tirtakandasan sebagai pusat pemerintahan.

Salyapati yang pulang dari pengembaraan dan mengetahui kekisruhan yang melanda Mandaraka akibat upaya kudeta Kurandageni marah bukan main. Apalagi setelah ia tahu bahwa Kurandageni justru menyusun kekuatan dari tempat pengasingan dan berencana menyerbu Mandaraka.Putra mahkota Mandaraka ini lalu berangkat ke Tirtakandasan seorang diri dengan maksud mengajak perang tanding Kurandageni. Tantangan ini di sambut gembira oleh Kurandageni. Pertaruhannya tidak main main, jika Kurandageni kalah, maka ia harus tunduk pada Mandaraka. Namun jika Salya yang kalah, maka ia merelakan posisi sebagai putra mahkota untuk di serahkan kepada Kurandageni.

Pertarungan antara murid dua begawan bersaudara, Bargawa dan Bagaspati ini berlangsung tiga hari tiga malam. Dan akhirnya perang tanding ini di menangkan oleh Salyapati. Sesuai perjanjian, akhirnya Kurandageni harus tunduk di bawah kekuasaan Mandaraka.

Namun demikian, kekalahan pahit yang di terima Kurandageni ini tidak sepenuhnya membuat dia lupa akan perlakuan Mandaraka. Kurandageni masih tetap menyimpan asa untuk melakukan pembalasan dan kalau perlu merebut kekuasaan Mandaraka. Akan tetapi niat itu tidak ia wujudkan dalam bentuk pemberontakan, karena ia tahu bahwa Salya sulit di kalahkan jika menggunakan kekuatan fisik.

Adalah Kartawiyaga, putra satu satunya Kurandageni hasil perkawinannya dengan putri Resi Bargawa yang kemudian di gadang gadang menjadi alat untuk mewujudkan ambisinya. Seperti halnya Kurandageni yang termasyhur sakti mandraguna, Kartawiyaga juga di kenal sebagai jawara pilih tanding. Di negara negara laut timur, Kartawiyaga sangat di segani. Dia juga terkenal sebagai pimpinan bajak laut yang seringkali beroperasi di perairan timur. Kemampuan Kartawiyaga menguasai dunia kelautan ini tak pelak adalah  bakat warisan yang di turunkan oleh ayahandanya yang dahulu kala adalah seorang laksamana tangguh.

Seperti yang pernah kita singgung di awal cerita, bahwa pelaku penculikan Dewi Herawati tak lain dan tak bukan adalah raden Kartawiyaga. Putra Prabu Kurandageni yang berasal dari klan yaksa atau raksasa. Bagi Kurandageni, bersatunya dua manusia yang saling mencintai antara putranya dan Herawati adalah kemenangan psikologis yang bisa jadi melapangkan jalannya untuk menguasai Mandaraka atau setidaknya ia punya kesempatan untuk kembali ke Mandaraka. Sesuatu yang telah ia tunggu selama bertahun tahun. Walaupun ia sudah menjadi raja di perairan timur, akan tetapi kedudukan itu belumlah memuaskan Kurandageni. Ia butuh sesuatu yang lebih dari sekedar raja perairan timur, kawasan yang oleh kebanyakan orang di anggap sebagai sarang para penjahat dan tempat bangsa yaksa yang terkutuk. Maka, kembalinya Kurandageni beserta keturunannya ke Mandaraka secara otomatis juga berarti pulihnya nama baik Kurandageni.

Bersambung...!