Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 9)

“Banowati berjanji…” akhirnya Banowati menjawab.

“Ayah!” Surtikanthi yang merasa tidak terima dengan keputusan ayahnya protes.

“Kenapa Bano nggak di hukum ayah. Itu tidak adil namanya..”

“Ssssttt….! Diam!!!” potong Prabu Salya tak ingin banyak berdebat. Raja Mandaraka yang terkenal akan kesaktiannya itu kemudian berdiri. Matanya menyapu hangat ke arah anak anaknya.

“Sekarang, semuanya bubar!. Banowati tetap di sini” perintah Salya tegas.

Satu persatu anak anak Salya meninggalkan ruangan. Tak terkecuali Ratu Pujawati. Sementara Banowati yang tadinya merasa lega dengan keputusan ayahnya, terlihat kebingungan. Ada apa gerangan ?. Kenapa ayahandanya menahan dia ?. Mungkinkah ada sesuatu yang akan di sampaikan ayahnya secara pribadi ?. Pertanyaan itu bertubi tubi menggelayut dalam pikiran Banowati.

Setelah semuanya keluar, Prabu Salya mendekat kepada anak ketiganya itu. Di rangkulnya pundak Banowati dengan hangat. Ada perasaan lain yang Banowati rasakan menyaksikan tingkah ayahnya yang sepertinya agak ganjil. Tidak biasanya, ayah Banowati bersikap demikian lembut. Walaupun Banowati tidak melihat langsung raut muka ayahnya, tapi ia merasakan bahwa sentuhan Prabu Salya sungguh berbeda.

“Anak ketiga Pandu itu memang pintar merebut hati wanita” ucap Salya lirih, tapi cukup membuat Banowati terkejut bukan main.

“Dia mirip sekali dengan bapaknya. Lihai dalam ilmu kedigdayaan dan pandai menakhlukkan hati wanita. Sayang umurnya terlalu pendek”.

Banowati mulai panik. Apa yang di ucapkan oleh ayahnya, Salya, tak ubahnya sembilu yang menyayat sekujur tubuhnya. Tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan dari ayahnya.

“Ampun ayah!” seketika tubuh Banowati ambruk bersimpuh di bawah kaki Salya.

“Banowati mengaku salah” akunya sembari sesenggukan memohon, “hukum Banowati ayah. Tapi tolong lepaskan Raden Permadi. Dia nggak salah. Banowati yang salah”.

“Ha ha ha….” tawa Prabu Salya meledak. Entah apa yang ada di benak Raja Mandaraka itu. Perlahan kedua tangannya mengangkat pundak Banowati.

“Berdirilah anakku” ucap Salya dengan nada pelan.

“Ayah…” Banowati menatap sejenak wajah ayahnya. Seakan ingin tahu lebih banyak apa yang ada di pikiran orangtuanya itu.

“Ayah tahu semua. Semuanya “ tutur Prabu Salyapati serius.

“Tapi tak perlu Bano bertanya bagaimana ayah bisa tahu “menarik nafas dalam dalam lalu berjalan menuju kursi besar tempatnya duduk.

“Ayah memahami perasaanmu anakku”.

Banowati mendongak.

“Sudah jamak seorang gadis menyukai lawan jenisnya. Apalagi pria yang ia sukai adalah pemuda hebat dan terkenal kedudukannya”.

Kali ini Banowati mulai bisa bernafas lega. Tapi ia masih harus menunggu apa yang akan ayahnya sampaikan lebih lanjut.

“Permadi itu bukan pria sembarangan. Dia putra kesayangan dewa Indra. Dia prajurit pilih tanding yang namanya begitu di sanjung dan di gadang gadang oleh para dewa. Siapapun yang bisa menakhlukkan hati Permadi, akan di limpahi anugrah yang luar biasa dari para dewa. Akan tetapi…” Prabu Salya berhenti sejenak.

“Mandaraka baru saja di rundung masalah besar. Ayah tak tahu lagi bagaimana harus berbuat. Ayah merasa bersalah dengan keluarga Hastina atas kegagalan perkawinan kakangmbokmu Herawati dengan Prabu Anom Suyudana”.

“Banowati mengerti, ayah” sahut Banowati lebih percaya diri.

Prabu Salya mengangguk.

“Sampaikan pada Permadimu tentang masalah ini. Jika ia berhasil menemukan kangmbokmu, maka ayah akan mempertimbangkan hubungan kalian”.

Tak terkira betapa senang dan bahagianya hati Banowati. Bukan saja kesempatan untuk terus berhubungan dengan pria idamannya terbuka lebar. Tapi apa yang di minta ayahnya juga membuka peluang bagi Permadi untuk menunjukkan niat yang baik pada keluarga Mandaraka.

Ini kesempatan yang harus di manfaatkan secara maksimal. Pikir Banowati segera memutar otak untuk menyampaikan perihal ini pada pujaannya, Permadi.

“Baiklah, ayahanda…” sambut Banowati sembari bersujud di kaki Prabu Salya untuk kemudian berpamitan meninggalkan ayahandanya.

 Sebenarnya berat bagi Bambang Aswatama untuk kembali lagi ke Mandaraka. Penghinaan yang di terimanya dari Banowati sungguh membuat Aswatama merasa di lecehkan bukan main. Ada rasa marah, dendam dan keinginan untuk membalas penghinaan itu. Tapi dengan cara apa ?. Walaupun ia adalah putra guru besar bangsa Kuru dan di kenal akan kesaktiannya, tapi untuk urusan perempuan, Aswatama merasa minder juga. Wajahnya yang tidak terlalu menarik dan bentuk fisiknya yang tidak selayaknya manusia biasa, yaitu kelainan pada kaki Aswatama yang berbentuk kaki kuda, praktis membuat Aswatama selalu merasa rendah diri jika berhadapan dengan perempuan. Maka tak heran jika di usianya yang sudah lebih dari 20 tahun, Aswatama belum mau berpikir untuk mencari pendamping yang layak buatnya. Kehidupan Aswatama lebih banyak di isi dengan rutinitas di Sokalima. Berlatih olah kanuragan, melayani orang tuanya dan juga mengajar ilmu bela diri para pemuda di sekitar Sokalima. Hanya terkadang ia harus pergi ke istana Hastina untuk menjalankan tugas tugas penting dari Raja Hastina.

Di satu sisi, keadaan itu justru membentuk Aswatama menjadi sosok pendekar pilih tanding, berdedikasi tinggi dan tidak mudah tergoda oleh manisnya kenikmatan duniawi. Akan tetapi di sisi lain, Aswatama merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Yaitu kenikmatan sebagai mausia normal, sebagai lelaki sejati yang butuh belaian kasih sayang seorang pendamping yang bisa mengerti akan keadaannya.

Sebenarnya, saat pertama kali Aswatama mendapat tugas untuk mengamankan istana Mandaraka, terutama melindungi putra putri Prabu Salya dari hal hal yang tidak di inginkan, ada niat tersendiri dari diri Aswatama. Bagaimanapun sebagai seorang lelaki yang sudah lama mendambakan bisa berdekatan dengan seorang wanita, kesempatan lebih banyak berinteraksi dengan para putri Salya yang tersohor akan kecantikannya tidak boleh di lewatkan. Dari lukisan wajah ketiga putri Salya yang ia bawa dari Hastina, setidaknya ada satu yang membuat hati Aswatama diam diam jatuh hati. Banowati. Ya, putri ketiga Salya inilah yang pertama kali menggoncang perasaan Aswatama. Dan tugas yang di berikan Prabu Suyudana, bagi Aswatama adalah kesempatan yang sangat baik untuk menarik perhatian putri Salya. Setidaknya jika ia sukses menjalankan tugas, akan lebih mudah baginya untuk mendekati keluarga Prabu Salya. Makanya ketika ia mendapat laporan dari Rukmarata bahwa Banowati keluar dari keputren, Aswatama merasa itu adalah saat yang tepat untuk memamerkan kemampuannya dengan harapan bisa menarik perhatian Banowati. Oleh karena itu, ketika ia berhadapan langsung dengan orang yang ia curigai sebagai penculik Banowati, sang Aswatama tak segan segan menggunakan panah Brahmastra untuk menghabisi lawannya. Sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin sembarangan ia lakukan. Tapi demi Banowati, segala pantangan itu tanpa takut di langgarnya. Menakhlukkan hati Banowati rupanya jauh lebih penting daripada menyandang senjata mematikan karunia Brahma itu.

Akan tetapi sial bagi Aswatama ketika tahu bahwa yang ia hadapi justru pendekar pilih tanding yang juga memiliki kemampuan serupa bahkan lebih. Di tambah lagi sikap Banowati yang sungguh di luar dugaan, membuat sang putra Durna ini berbalik 180 derajat. Banowati yang tadinya begitu menyihir hatinya kini berubah menjadi sosok yang begitu di bencinya. Dia bahkan bersumpah di depan putri Salya itu untuk tidak membiarkannya hidup tenang. Aswatama tak akan rela Banowati menemukan kebahagiaan sebagai seorang perempuan. Tidak. Sampai kapanpun. Tak peduli jika nantinya Permadi berhasil menjerat hati Banowati. Aswatama akan membuat perhitungan dengan keduanya dengan cara apapun.

“Tuan Aswatama sedang memikirkan apa ?” entah kapan datangnya, tiba tiba ksatria Awangga, Adipati Karna telah berada di  sampingnya. Menunggangi seekor kuda putih andalan sang Basukarna.

“Ah, tidak memikirkan apa apa gusti” jawabnya sedikit grogi. Perlahan ia tarik tali kudanya untuk memperlambat perjalanan.

Basukarna tersenyum.

“Terus terang aku sangat buta dengan situasi istana Mandaraka. Tapi tugas dari gusti Suyudana dan paman patih tak pantas aku tolak” terang Karna.

“Sebagai orang yang pernah bertugas di sana, tentu tuan Aswatama tahu lebih banyak kondisi istana Mandaraka. Terutama keputren Mandaraka. Mohon bantuannya, tuan” pinta Basukarna.

Aswatama terdiam. Dia baru ingat bahwa kawan seperjalanannya ini mendapat satu tugas penting dari Prabu Suyudana. Menculik salah satu putri Salya yang kini tinggal tersisa 2 orang. Surtikanthi dan Banowati. Tugas yang tak mudah. Tapi bagi Basukarna, tak ada yang tak bisa di selesaikan. Dan Aswatama tahu itu. Akan tetapi persoalannya sekarang bukan berhasil atau tidak Basukarna menjalankan tugasnya, akan tetapi siapa di antara dua putri Salya yang akan dia culik. Banowati atau kakaknya ?. Kalau bukan karena ia mendapatkan tugas lain, Aswatama sesungguhnya akan merasa sangat senang jika tugas itu di limpahkan kepadanya. Dan siapa lagi yang akan ia eksekusi selain Banowati. Kapan lagi punya kesempatan membuat wanita yang kini begitu ia benci menderita. Tapi berhubung Basukarna yang mendapat tugas, maka ia harus mengalah. Yang terpenting sekarang bagaimana mendorong Basukarna untuk membidik sasaran yang tepat. Banowati.

“Senang bisa membantu gusti Karna” Aswatama mengeluarkan selembar kertas berisi gambar peta istana Mandaraka.

“Peta itu berisi letak letak bangunan di mana keluarga Raja berdiam. Bangunan paling besar itu kediaman Prabu Salya beserta ratu. Di jaga 250 pasukan khusus dengan sistem penjagaan berlapis” terang Aswatama.

“Di dekat kediaman Prabu Salya terdapat barak prajurit. Berisi sekitar 500an prajurit terlatih yang di pimpin oleh Rukmarata. Ini pasukan inti Mandaraka yang bisa di gerakkan kapan saja jika terdapat ancaman”.

Basukarna memelototi dengan serius peta pemberian Aswatama.

“Kemudian sebelah baratnya lagi adalah kediaman putri pertama dan kedua Prabu Salya. Yang satu adalah Dewi Herawati, yang di kabarkan menghilang dari istana. Trus yang kedua, Dewi Surtikanthi. Kawasan ini sangat dekat dengan barak prajurit. Saran saya, sebaiknya jangan membidik kawasan ini” bujuk Aswatama.

“Trus ?” Basukarna menyimak dengan seksama.

“Gusti pilih saja bangunan sebelah timur tempat tinggal Prabu Salya. Di sana terdapat 2 putra putri Prabu Salya. Yang sebelah timurnya pas adalah kediaman Dewi Banowati, putri ketiganya. Dan sebelahnya lagi kediaman Burisrawa, putra keempat Prabu Salya”.

“Saya menyarankan gusti Karna memilih Banowati. Selain di situ sangat minim penjagaan, juga sangat tepat untuk membuat Permadi dalam posisi sulit. Kesaksian saya di hadapan Prabu Salya akan lebih di percaya dengan hilangnya Banowati” tutur Aswatama tak sabar melihat putri ketiga Salya itu menderita.

Adipati Karna mengangguk.

“Terima kasih tuan Aswatama” Basukarna dengan cepat mampu menterjemahkan keterangan Aswatama.

“Baiklah, saya harus mendahului tuan Aswatama dan paman Sengkuni” ksatria Awangga ini lantas melipat kertas pemberian Aswatama dan menepuk pantat kuda putihnya.

“Hati hati gusti…!” pesan Aswatama mengiringi.

Dengan sekali hentak, kuda putih milik adipati Karna itu meluncur bak panah yang lepas dari busurnya. Dalam keadaan normal butuh waktu 3 hari untuk sampai di Mandaraka. Tapi bagi Basukarna kemungkinan besar dalam tempo 1 hari ia bisa sampai di Mandaraka. Maklum, selain di kenal sebagai penunggang kuda terbaik, hewan tunggangan Karna juga bukan kendaraan biasa. Kuda itu pemberian Dewa Surya. Di kenal kuat dalam berlari dan tahan lapar. Walaupun Aswatama sendiri juga jago berlari, tapi kemampuan larinya masih kalah dengan tunggangan Basukarna.


Bersambung