Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati selingkuh (Part 8)

Rona cerah kini tergurat jelas di wajah sang Dananjaya.  Apapun resikonya ia harus tetap maju demi mendapatkan apa yang selama ini ia idam idamkan. Tentu bukan hal mudah untuk menggapai itu semua.  Pertama ia harus mendapatkan dukungan dari istri pertamanya, Larasati. Baru setelah itu ia meminta restu dan ijin Prabu Salya.

Larasati. Tak terasa sudah 5 bulan Permadi meninggalkan istrinya, Larasati. Putri Kyai Antagopa itu tentu sangat merindukannya. Permadi tahu persis bahwa putri salah satu pembantu dekat penguasa Mandura itu begitu mencintainya. Begitu berharap untuk terus bisa bersanding dengan dirinya. Di sisi lain, Larasari sendiri juga tahu bahwa sesungguhnya suami yang ia cintai tidak banyak memberikan banyak harapan untuk Larasati. Pernikahannya dengan Permadi memang lebih di dasarkan atas kewajiban memenuhi janji setelah ia berhasil mengalahkan kakak Larasati, Udawa. Bukan pernikahan yang di bangun dari rasa cinta yang tulus dari kedua belah pihak.

Tapi Larasati  tetaplah Larasati. Wanita cantik yang sempat di perebutkan banyak pria ini memiliki keteguhan luar biasa yang belum tentu di miliki oleh perempuan lain di muka bumi. Baginya, sikap sang suami yang tak jua kunjung menerima pengabdian cintanya bukan suatu persoalan yang pantas di ratapi. Dia tetap mencintai Permadi apa adanya. Dia tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik walau kadang perlakuan suaminya begitu memberatkan pikirannya.

Sikap seperti itulah yang membuat Permadi kadang merasa serba salah sekaligus kasihan.

“Kalau adik merasa lelah dengan kekerasan hatiku, tak mengapa adik mencari pelabuhan lain yang sekiranya bisa menjamin adik berbahagia” bujuk Permadi saat itu menjelang kepergiannya meninggalkan Widarakandang.

“Aku akan membantumu untuk menyampaikannya pada bapak. Kita bisa cari alasan yang tepat agar bapak memaklumi keputusan ini” rajuknya lagi.

Larasati tak segera menjawab, di tatapnya dalam dalam kedua mata suaminya. Sedetik kemudian putri kyai Antagopa ini tertunduk. Apa yang di ucapkan oleh Permadi justru makin membuatnya merasa sedih dan tidak berguna. Dia tak habis pikir, dengan apalagi ia harus meyakinkan suami tercintanya, bahwa ia sama sekali tak merasa keberatan sikap Permadi selama ini. Bahkan andaikan Permadi berbuat lebih jauhpun, rasa cintanya tiada akan tergoyahkan.

“Adik…” sapa Permadi sembari mengusap rambut Larasati.

“Kalau adik tak sanggup mencari pria terbaik yang bisa menjagamu lahir batin, aku akan carikan. Bahkan jika perlu aku akan pergi ke swargaloka. Meminang salahsatu dewa untuk aku persembahkan untukmu”.

Makin terpukul hati Larasati mendengar ucapan Permadi. Makin hancur batinnya. Tak terasa bulir bulir bening merembes dari kelopak matanya.  Bibirnya bergetar menahan desakan kesedihan yang tiada kira. Ingin ia menangis sejadi jadinya, tapi hatinya bersikeras untuk tetap bertahan.

“Sudahlah, kakang” Larasati berusaha mengumpulkan segenap kekuatannya.

“Tak perlu berpikiran yang tidak tidak. Kalau memang mau pergi, pergi saja. Adik tak merasa keberatan, kok…” ungkapnya.

“Tapi belum tentu aku akan kembali, dik ?” ancam Permadi terus berusaha meyakinkan istrinya agar bersedia menerima idenya untuk bercerai dan mencari pria lain yang lebih baik.

“Memangnya kenapa ?” balik Larasati kukuh.

“Tapi adik akan sendirian ?” desak Permadi.

Larasati menyunggingkan senyum. Sebuah senyum yang sebenarnya sangat berat.

“Khan masih ada bapak ?. Ada ibu juga. Dan kakang Udawa masih di sini”.

Permadi mengeluh dalam hati. Dia tak habis pikir apa gerangan yang ada di benak Larasati. Istri pertamanya ini benar benar sulit di nasehati.

“Sudah!” sergah Larasati seolah mengerti apa yang ada di pikiran suaminya.

“Sekarang aku mau menyiapkan semua perbekalan yang kakang perlukan. Sekarang kakang istirahat saja. Biar besok bisa melakukan perjalanan dengan kondisi yang segar bugar” setelah mengatakan itu, Larasati segera beranjak menuju dapur. Mengambil sekarung kecil  gandum di gudang penyimpanan, lalu membuat adonan untuk di jadikan roti kering sebagai bekal perjalanan suaminya. Tak lupa ia menanak nasi , membuat lauk pauk secukupnya untuk di makan sebelum sang suami berangkat. Sesekali sambil menunggu masakannya matang, Larasati melipat beberapa pakaian Permadi lalu di masukkan ke dalam kantong pakaian. Semua itu di lakukan dengan penuh ketulusan. Sesuatu yang bagi Permadi justru menyiksa batin.

“Kakang Gareng, Petruk , Bagong” panggil Permadi seraya menghampiri ketiga abdinya yang masih tertidur pulas di atas balai balai bambu tak jauh dari pinggiran pantai Mandaraka.

“Huaaahheem…” lenguh Gareng antara sadar dan tidak. Pria kurus itu mengucek kucek matanya, menyeka air liur yang meluncur deras dari sudut bibirnya. Sejak semalam ketiganya memang sengaja tidak tidur demi menunggui majikannya yang sedang bersemedi.

“Ehhh…ndoro!” sapa Nala Gareng segera menyadari kehadiran Permadi.

“Siapkan segala sesuatunya, pagi ini juga kita berangkat ke Widarakandang”.

“Siap, ndoro!” sahut Gareng kemudian membangunkan kedua saudaranya.
Dengan perasaan yang di penuhi rasa was was, Banowati  dengan di temani adiknya Burisrawa melangkah memasuki kediaman ayahandanya. Ini adalah yang pertama kalinya Banowati akan menghadapi sidang keluarga. Dulu kakak sulungnya Herawati juga pernah di sidang oleh ayahandanya dengan kasus yang kurang lebih sama dengan dirinya saat ini. Bertemu dengan pria asing yang tak di kehendaki oleh keluarga. Masih terngiang dalam ingatan, betapa  marahnya sang ayah begitu mengetahui anak perempuannya berkenalan dengan lelaki di luar istana. Untuk kesalahan yang sebenarnya tak terlalu berat itu, Herawati harus merasakan hidup dalam pengawasan ketat para pengawal istana. Tidak itu saja, ayahnya kemudian memerintahkan para prajurit istana untuk memburu lelaki asing yang telah berani menggoda anaknya. Beberapa yang di curigai langsung di jebloskan ke penjara atau di buang ke hutan.

Dan kini, Banowati harus bersiap siap menghadapi situasi serupa seperti yang pernah di alami kakak sulungnya yang kini kabur entah kemana.

“Anak buah saya melihat dengan jelas kangmbok Banowati menyelinap keluar dari keputren. Mereka sudah berusaha mengejar, tetapi di halangi oleh 3 orang asing yang tidak di kenal.  Kemudian anak buah saya terlibat pertempuran sengit dengan tiga penjahat itu. Untung saya cepat cepat datang dan berhasil membuat ketiga orang itu lari terbirit birit” cerita Rukmarata di depan ayah dan ibunya.

Prabu Salya mengangguk anggukkan kepala.

“Kamu tahu kemana kangmbokmu pergi ?”.

“Kami sudah berusaha mencari. Bahkan saya sudah minta tuan Aswatama untuk membantu mencari keberadaan kangmbok Banowati. Tapi gagal. Malahan tuan Aswatama entah kenapa hingga sekarang tak kembali lagi ke Mandaraka” tutur Rukmarata membela diri.

Terkejut hati Banowati, tapi juga sekaligus gembira. Setidaknya Rukmarata tidak mengetahui langsung pertemuan dirinya dengan Raden Permadi. Sekarang tinggal bagaimana ia dan Burisrawa meyakinkan keluarganya.

“Hemm….” dehem sang Salya. Pandangan raja Mandaraka ini kemudian beralih pada Banowati yang terlihat duduk bersimpuh dengan wajah sedikit pucat.

“Benar apa yang di ceritakan adikmu itu, Banowati ?” tanya Prabu salya menginterogasi.

“Benar ayah” jawab Banowati tertunduk.

“Apa yang kamu cari sehingga harus keluar dari keputren tanpa ijin dan tanpa pengawalan abdi dalem keputren ?” .

Kali ini nada suara Prabu Salya terasa lebih tinggi dan menohok.

“Maafkan Banowati ayah”  rengeknya, “ sebenarnya bukan tanpa pengawalan. Ada adik Burisrawa yang keluar menemani saya” lanjutnya sembari melirik ke arah Burisrawa.

“Jangan bohong kamu, Bano!” potong Surtikanthi sewot.

“Sejak kapan Burisrawa punya acara mengajakmu keluar dan berkumpul dengan kawan kawannya sesama penjudi?” .

Tersinggung hati Banowati mendengar ucapan bernada fitnah dari kakak perempuannya itu. Tapi kali ini dia berusaha untuk menahan diri dan tidak terpancing.

“Banowati bosan di rumah, ayah “ ucap Banowati pasang tampang memelas. “Banowati butuh suasana berbeda. Makanya Banowati mengajak Burisrawa untuk mencari suasana baru di pantai. Apalagi waktu itu bulan pas terang terangnya”.

“Tapi nggak harus mengirim tiga pengawal untuk menghadang anak buah Rukmarata kali, dik ….” Surtikanthi nyinyir.

“Salah siapa membuntuti kami…” balas Banowati jengkel  juga.

“Hei….!!!!” bentak Surtikanthi emosi, “ sudah salah masih membantah juga. Pakai otakmu, Bano!!.

“Kamu ini perempuan. Tak selayaknya keluyuran malam malam. Itu norak tau..!. Nggak enak di liat masyarakat” cerocos Surtikanthi kalap.

“Dan kamu Burisrawa” tudingnya pada Burisrawa, “sejak kapan kamu menularkan kebiasaan burukmu pada kangmbokmu itu ?”.

Burisrawa terlihat meradang, kalau tangan Banowati tidak buru buru menahan, sudah ingin Burisrawa menampar kakaknya Surtikanthi.

“Apa ?” Surtikanthi malah menantang. “Mau berbuat tidak sopan pada orang tua ?”.

“Ee…eee…!. Kok ini malah bertengkar sendiri” Ratu Pujawati yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan tak urung ikut ambil bagian.

“Tahan ucapanmu, Surti “ ibu kandung dari kelima anak Salya ini meredam.

“Keluar tanpa ijin itu salah. Apalagi di lakukan di saat malam hari. Tapi tak perlu juga menuduh yang tidak tidak. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana hal seperti ini tidak terulang lagi. Ingat, apa yang menimpa kangmbok kalian” Dewi Pujawati memperingatkan.

“Kalian semua, terutama kamu Surtikanthi dan Banowati, sudah bertambah dewasa. Ibarat bunga, sedang mekar mekarnya. Tentu banyak kumbang yang berusaha mengincar. Makanya jaga diri masing masing. Jangan sampai akibat tidak mematuhi perintah ayahmu, kalian dalam bahaya. Mengerti ?”.

“Mengerti, ibu” jawab Banowati.

Mata kelimanya kini tertuju pada Prabu Salya yang tampak duduk dengan raut muka masam. Bagaimanapun apa yang di lakukan Banowati tidak bisa di tolerir. Belum sembuh kekecewaan Prabu Salya akibat kegagalannya menikahkan putrinya Herawati dengan Raja agung Hastinapura, kini ia di hadapkan pada kenakalan anak anaknya yang lain.

“Banowati!!!” panggil Salya pada Banowati.

“Iya ayah”.

“Seharusnya ayahmu ini menghukummu. Tapi  mengingat ayah tidak ingin menambah masalah yang menimpa keluarga kita, ayah ingin kamu berjanji untuk ayah”.

“Berjanji untuk apa ayah ?” Banowati penasaran.

“Berjanji bahwa kamu tak akan mengulangi perbuatanmu lagi. Dan berjanji untuk selalu menuruti apa yang ayah perintahkan” menatap dalam dalam pada putri ketiganya.

“Sanggup ?” todong Salya dengan mimik mengintimidasi.

“Mmmm….” Banowati sedikit ragu. Ada rasa berat hati untuk mengucapkan iya. Bagaimana jika suatu saat nanti ayahnya memerintahkan dia untuk menjauhi  Raden Permadi ?. Oh, ini tentu akan menjadi siksaan tersendiri buat dia. Permadi kini telah menjadi sesuatu yang istimewa dalam hidupnya. Sulit sekali Banowati melupakan pria yang satu itu. Sungguh tak terbayangkan jika ayahnya kemudian menghalangi  hubungannya dengan ksatria Pandawa itu.

Tapi, mungkinkah ayahnya akan menolak kehadiran ksatria bangsa Kuru yang terkenal berbudi mulia dan terhormat seperti  Permadi ?. Ahh, sepertinya tidak mungkin ayahnya berani menolak Permadi. Setidaknya kasta Pandawa masih lebih baik dari kasta keluarga Mandaraka.

“Bagaimana ?” desak Prabu Salya mulai curiga.



Bersambung

Oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak