Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati selingkuh (part 7)

“Menghabisi Pandawa tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisik. Harus pakai ini” kata Patih Sengkuni sambil mengarahkan telunjuknya ke kening.

“Paman lihat kekuatan Amarta akhir akhir ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. Itu kenapa mereka sangat percaya diri mengirim Permadi ke Mandaraka untuk menggagalkan perkawinan Hastina dan Mandaraka. Dan sudah pasti itu sudah melalui perencanaan yang matang. Makanya mereka mengirim Permadi. Karena hanya panengah Pandawa ini yang di kenal mahir menggoda perempuan”

“Kurang ajar !!!” Suyudana gusar.

“Mereka menggunakan cara cara kotor, maka tidak boleh kita berdiam diri. Kita gunakan cara yang lebih cerdas lagi”.

“Apa itu ?”.

“Gunakan Prabu Salya untuk menghabisi Pandawa” jawab Patih Sengkuni mengejutkan.

Semua hadirin terdiam. Seolah menunggu instruksi lebih lanjut dari patih Hastina itu. Hanya Resi Krepa yang terlihat tidak menyetujui ide Sengkuni. Mata penasehat dalam Hastinapura ini terlihat tak mau lepas memelototi Harya Sengkuni. Ingin rasanya ia melabrak adik ibu suri Gendari ini, akan tetapi rasa segannya pada momongannya Suyudana ia mencoba untuk tetap bersabar.

“Jelasnya seperti apa, paman ?” Suyudana bertanya. Di gesernya letak duduknya lebih dekat pada Patih Sengkuni.

“Begini” terang Sengkuni,” pertama kita harus meyakinkan pada Prabu Salya bahwa Permadilah dalang di balik hilangnya Herawati. Urusan ini biar paman yang tangani” mata Sengkuni berpindah ke Aswatama.

“Aswatama jangan pulang dulu ke Sokalima. Kamu ikut paman ke Mandaraka sebagai saksi” perintahnya pada Aswatama.

“Paman yakin itu berhasil ?” Suyudana ragu.

“Pamanmu ini kapan pernah gagal ?” sahut Sengkuni sembari merentangkan kedua tangannya.

“Asal tidak ada penghianat dari dalam Hastinapura, kita tidak akan gagal”.

“Aahh….saya belum yakin, paman “ bantah Suyudana serius.

Patih Sengkuni menyunggingkan senyum, sudut matanya melirik ke arah Adipati Karna.

“Perintahkan Basukarna untuk menyusup ke keputren Mandaraka dengan menyamar sebagai Permadi, lalu culik salah satu dari dua putri Salya” berhenti sejenak,” tentu usaha ini tidak mudah. Sudah pasti prajurit Mandaraka akan menghadang Basukarna. Oleh sebab itu untuk lebih meyakinkan bahwa Permadilah yang menculik anak Prabu Salya, Karna harus menggunakan jurus jurus yang biasa di pakai Permadi”.

Secara fisik maupun keahlian, Adipati Karna memang sangat mirip dengan Permadi. Keduanya pernah saling berbagi ilmu dan berlatih bersama, terutama dalam hal seni memanah. Bahkan boleh jadi kemampuan Karna malah melebihi Permadi. Itu pernah di buktikan Karna ketika dulu Guru Durna menggelar lomba adu panah di alun alun Hastinapura. Adipati Awangga ini tidak saja mampu mengimbangi Permadi dalam hal ketepatan dalam memanah, akan tetapi tembakan Karna setingkat lebih kuat dan mematikan di banding Permadi. Belum lagi dalam lomba memanah dengan mengendarai kuda, Karna masih lebih baik daripada Permadi.

“Jejak jejak yang di tinggalkan Basukarna ini nanti yang akan kita pakai untuk meyakinkan Prabu Salya. Selain juga kesaksian Aswatama”.

“Luar biasa….” sambut suyudana dengan air muka sumringah.

“Tunggu….tunggu…!” dari belakang Dursasana tiba tiba menyela.

Semua mata menoleh ke arah Dursasana.

“Kalau Prabu Salya yang di adu dengan Pandawa, Dursasana nggak bisa bertemu Bima, paman?” protesnya.

Patih Sengkuni menggelengkan kepala,”tenangkan dirimu Dursasana”.

“Prabu Salya tidak mungkin mampu mengalahkan Pandawa sendirian. Menjadi tugasmu dan seluruh awak Kurawa mempersiapkan seluruh kekuatan untuk berjaga jaga jika nanti Prabu Salya gagal”.

Prabu Suyudana mengangguk tanda setuju dengan ide Patih Sengkuni.

“Adi Karna!”.

“Saya kanda Kurupati!”.

“Lakukan apa yang di perintahkan paman Sengkuni!”.

“Siap!!” sahut Adipati Karna sigap.

“Dursasana, siapkan semua adik adikmu dan seluruh prajurit Hastina” Suyudana bertitah.

“Eyang Krepa bertugas menjaga istana Hastinapura dari gangguan pihak musuh”.

Perintah sudah di turunkan. Segenap punggawa Hastina bergegas mempersiapkan diri.
Harapan untuk mengakhiri hidup Pandawa kembali menyeruak ke permukaan setelah sekian cara yang pernah di tempuh Kurawa beberapa tahun silam belum mampu menghabisi anak anak Prabu Pandudewanata. Jika kali ini berhasil, maka bukan saja Kurawa terbebas dari ancaman Pandawa yang tak pernah berhenti menginginkan tahta Hastina, akan tetapi akan menjadi jalan lapang bagi Kurawa untuk menguasai mayapada.

 Entah apa yang berkecamuk di pikiran Permadi. Sejak pertemuannya dengan Banowati, ksatria Madukara ini semakin terlihat murung dan lebih suka melamun sendirian.  Gairah hidupnya seperti luruh berkeping keping .  Ada perang batin yang sepertinya tak kunjung usai menjangkiti setiap jengkal pikirannya.  Antara realitas kekinian dan masa lalu. Antara tekad dan keraguan. Dan antara kesedihan dan luapan kegembiraan. Semua bercampur aduk, bertarung satu dengan yang lain tanpa ada hasil akhir yang  melegakan pikiran.

 Suatu peristiwa pilu yang nyaris saja membuat Permadi kehilangan gairah hidup, kehilangan cinta dan kehilangan cahaya kebahagiaan.
Adalah Banowati, putri ketiga Prabu Salya yang menyeretnya dalam kubangan kegundahan yang tiada terperi. Menenggelamkan hati dan pikirannya pada kenangan masa lalu yang tak pernah surut menghantui.

Dewi Anggraeni. Wanita bersahaja  yang merupakan istri dari Raja Paranggelung itu kini seolah hidup kembali. Bukan sebagai sosok wanita teguh yang tak goyah oleh bujuk rayunya. Bukan sebagai perempuan tulus yang hanya menambatkan kesetiaan pada suami tercintanya. Tapi sebagai gadis muda yang ramah, menyenangkan dan penuh pesona.

Oh Banowati…

Siapa sesungguhnya dirimu ?.  Adakah sukma Anggraeni menyatu dalam dirimu ?. Jika iya, kenapa engkau justru tampakkan kepadaku sikap yang bertolak belakang ?. Seharusnya jika engkau memang pujaanku Anggraeni, tak perlu engkau bermulut manis kepadaku. Pria biadab yang telah merenggut kehidupan dan kebahagiaanmu. Pria angkuh yang egois, sombong dan tak punya perasaan.

Permadi  tertunduk lesu. Matanya terpejam. Perasaan bersalah dan menyesal bertumpuk tumpuk membebani pikirannya. Membuatnya semakin lama semakin tak berdaya dan nyaris kehilangan kekuatan. Putra ketiga Dewi  Kunti yang lahir dari anugrah dewa Indra ini seperti tak ingin mempercayai bahwa Banowati dan Anggraeni adalah pribadi yang berbeda. Di mata Permadi, keduanya adalah sosok yang sama atau paling tidak memiliki kaitan antara satu dengan yang lain. Mata yang sipit dan memancarkan cahaya misterius, bibir yang tipis berkilau kemerahan, tahi lalat mungil di sisi kanan alisnya, rambut hitam lurus terjurai, bentuk tubuh langsing dengan balutan kulit kuning langsat serta bau harum melati yang khas dan kecantikan alami layaknya bidadari swargaloka. Semuanya ciri ciri itu sama sama di miliki oleh Banowati dan Anggraeni.

Duh gusti…

Ini  takdir atau kutukan ?. Ini sanjungan atau ujian ?. Adakah kesengajaan yang sudah Engkau rencanakan ?.

Pemanah terbaik Pandawa ini tak henti hentinya mengeluh dalam hati. Apalagi jika ia mengingat bagaimana sikap Banowati terhadap Aswatama. Tatapannya yang di penuhi kebencian, ucapannya yang pedas dan menusuk perasaan, tak ubahnya seperti perilaku Anggraeni terhadap dirinya.

“Dengar wahai ksatria. Kamu boleh berbangga diri dengan paras tampanmu yang setiap perempuan akan takhluk melihatmu. Kamu boleh jumawa karena kedudukanmu sebagai keturunan terbaik bangsa Kuru. Kamu boleh menyombongkan diri telah menyirnakan Raja kecil di tanah Paranggelung. Akan tetapi aku, Anggraeni takkan surut dan menyerahkan kehormatanku padamu”

“Dengarkan kutukanku wahai ksatria tak terkalahkan” ancam Anggraeni ketika itu.

“Kamu akan dapatkan semua hal yang kamu inginkan. Tapi satu yang tak akan bisa kamu dapatkan. Pelabuhan cintamu!!”.

Ucapan terakhir Dewi Anggraeni sebelum ia melakukan aksi bunuh diri di depan Permadi ini tak pernah berhenti terngiang dalam sanubarinya. Sebuah ungkapan yang lahir dari ketertindasan, ketidak mampuan dan keputusasaan.  Sebuah kutukan yang entah di dengar atau tidak oleh sang Maha Mendengar.

“Ndoro…”.

Sayup sayup terdengar panggilan lirih di telinga Permadi. Suaranya tak sing lagi. Ksatria Madukara ini perlahan membuka mata, mengangkat kepala dan menatap liar kepada tiga pelayan setianya.

“Sudah seharian ndoro berdiam diri tanpa mengunyah sesuap makananpun” Nala Gareng memberanikan diri untuk berbicara.

“Kami khawatir ndoro jatuh sakit” Petruk menambahi.

Permadi hanya diam tak menjawab sepatah katapun. Seolah tak terlalu peduli dengan perhatian yang di tunjukkan ketiga pelayannya itu.

“Kami bawakan makanan kesukaan ndoro. Ayam bakar dengan lalapan sambal tomat. Mohon di cicipi “ pinta Gareng sembari menyorong nampan berisi makanan yang masih hangat.

Tapi lagi lagi tak ada suara yang keluar dari bibir majikannya. Hanya raut wajah duka yang tergambar . Ketiganya terlihat saling pandang. Lalu melempar isyarat.

“Kami permisi dulu, ndoro..” ucap Nala Gareng pamit.

Ketiganya lalu beringsut menjauh.

“Tunggu…!”

Panggil Permadi menghentikan langkah ketiga pelayannya. Dan dengan tergopoh gopoh ketiga pria paruh baya itu berbalik memenuhi panggilan majikannya.

“Iya, ndoro…” sahut ketiganya serempak.

“Bawa makanan kalian”.

“Ndoro….?” Petruk.

“Sudahlah!” potong Permadi setengah menghardik, “aku belum lapar”.

Kali ini ketiganya tak berani membantah. Dengan hati hati Petruk meraih nampan yang sejatinya di persembahkan untuk tuannya. Kemudian berlalu tanpa sepatah katapun.

Sang Permadi kembali  tenggelam dalam kegalauan hatinya. Tangannya kini bersedekap, kakinya di tekuk dalam posisi bersila. Perlahan ia mengatur nafas. Matanya tertutup seraya mengheningkan cipta. Meminta petunjuk pada Tuhan yang Maha Kuasa. Lama sekali lelaki perkasa dengan segudang ilmu kesaktian ini tenggelam dalam semedinya. Hingga tanpa terasa kesadarannya lenyap terbawa oleh rasa kantuk yang luar biasa.

“Anakku…!. Apa gerangan yang membuatmu bersedih hati “

Permadi terperanjat. Antara sadar dan tidak. Sesosok bayangan perempuan tua berpakaian serba putih tiba tiba telah berdiri di sampingnya. Dialah Dewi Kunti , ibu para Pandawa.

“Ibu….?” pekik Permadi  berat.

“Ksatria pemberani sepertimu tak pantas bermuram durja. Katakan apa yang menjadi sebab kegundahan hatimu?” suara itu terdengar sangat lembut menerobos gendang telinga Permadi.

“Aku takut….!. Aku takut, ibu….” jawab Permadi terbata. “Aku takut menghadapi semua ini…”.

Semilir angin berhembus lirih menerpa tubuh Permadi. Menghadirkan hawa dingin menusuk tulang. Pria itu masih terlihat memejamkan matanya. Badannya mulai menggigil. Tapi dia berusaha untuk terus berkonsentrasi.

“Tenangkan dirimu, anakku. Apa yang menimpamu sejatinya ujian dari atas. Jika kamu berhasil melewatinya, maka kamu akan mendapatkan kemuliaan”.

“Aku menginginkannya ibu, tapi aku takut ini akan menjadi bencana buatku…” Permadi mengadu.

“Ibu mengerti, anakku”.

“Mohon petunjuk, ibu…” pinta Permadi penuh harap.

Perempuan berpakaian serba putih itu mengelus kepala Permadi dengan penuh kasih sayang. Lalu mencium kening Permadi sebanyak tiga kali.

“Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Dan sebaliknya, tidak semua yang kita benci bisa kita musnahkan. Hanya rasa syukur yang menjadikan kebaikan dan keburukan itu menjadi hikmah”.

“Jangan pernah ragu. Sebab keraguan tidak akan membuat kita lebih baik. Keraguan hanya akan menjadikan hati dan pikiran kita mati. Jangan pernah takut. Sebab ketakutan hanya akan membuatmu semakin bodoh dan tak berguna. Lakukan apa yang menurut hatimu pantas di lakukan. Perjuangkan apa yang menurut hatimu pantas di perjuangkan. Sebab semua ada balasannya masing masing”.

Suasana kembali hening. Perlahan Permadi membuka matanya. Secercah cahaya tiba tiba membuncah menerangi sanubarinya. Benar apa yang di katakan ibunya. Tidak perlu ragu, tidak perlu takut untuk berbuat. Jika memang ia menginginkan Banowati, kenapa ia harus takut di hantui masa lalu. Perjuangkan, perjuangkan….!. Permadi bertekad.



Bersambung

Penulis : Ki Dainx Dalang Gubrak