Theme images by Storman. Powered by Blogger.

BANOWATI SELINGKUH (PART 6)

Pagi itu, ketika matahari belumlah sepenggalah, sang Resi muda Jaladara menjejakkan langkahnya di pedukuhan Ploso Binangun. Sebuah perkampungan yang berada di sisi timur Gunung Argayosa dan berbatasan langsung dengan wilayah Mandaraka. Sebuah pedukuhan yang damai, di kelilingi ladang sawah dengan hasil bumi yang melimpah. Di aliri sungai Tirta Wening di sisi timur yang juga merupakan tapal batas antara Argayosa dan Mandaraka. Sebuah kehadiran yang sudah di nanti nanti oleh segenap warga Ploso Binangun sejak berhari hari yang lalu selepas selesainya masa panen raya.

Seperti tradisi yang sudah lama di bangun para leluhur Ploso Binangun, selepas masa panen tiba, penduduk pedukuhan kemudian mengadakan upacara bersih desa sebagai tanda terima kasih atas karunia dan rejeki yang telah di turunkan oleh Tuhan kepada mereka. Upacara ini di awali dengan acara bersih bersih lingkungan pedukuhan, tempat tempat yang di sakralkan semacam pemakaman, sungai dan sebagainya. Tak lupa mereka juga memperindah rumah masing masing dengan cat berwarna putih terbuat dari kapur, memasang lampu di setiap sudut rumah, dan memandikan binatang peliharaan jika mereka memiliki. Para ibu sibuk di dapur mempersiapkan berbagai macam panganan yang terbuat dari tanaman tanaman hasil bumi seperti gandum, beras, kelapa dan sebagainya. Tak lupa anak anak di hadiahi baju baju baru oleh orang tuanya sebagai tanda bahwa hari itu adalah hari yang menggembirakan.

Ketika semua persiapan telah selesai, kaum ibu berjalan beriringan dengan membawa nampan berisi panganan yang sudah di persiapkan sejak awal menuju pemakaman umum di pinggiran pedukuhan. Di belakangnya berbaris para lelaki pembawa gamelan yang di tabuh bertalu talu di sepanjang jalan menuju pemakaman. Kemudian di susul anak anak dan warga masyarakat lainnya. Seluruh penduduk tumpah ruah memenuhi setiap sudut pemakaman dengan perasaan gembira dan bahagia. Panganan dalam nampan itu lalu di letakkan di atas altar berukuran besar terbuat dari batu bata. Sang Wasi Jaladara duduk di atas batu pualam berwarna hitam yang berada di tengah tengah altar. Puja puji dan doa doa kemudian di lantunkan dan di ikuti oleh segenap warga dengan khusyu’. Setelah semuanya selesai, sang Resi turun dari atas batu dan berjalan ke tengah tengah warga untuk memberikan wejangan wejangan.

“Makanan yang kita bawa ini bukanlah untuk di persembahkan pada Sang Hyang Basuki, dewa kemakmuran “ tutur Wasi Jaladara.

“Akan tetapi simbol atas rasa syukur kita pada Tuhan yang maha kuasa atas limpahan rejekiNya. Sedekah hasil bumi ini juga merupakan pengejawatantahan rasa terima kasih kita pada bumi yang telah menumbuhkan tanaman tanaman melimpah yang menghidupi kita semua”.

“Adanya upacara bersih desa, yaitu membersihkan tempat tinggal kita dan lingkungan kita adalah perwujudan sikap kita dalam memuliakan lingkungan, menghormati alam sekitar. Bumi adalah sumber energi, sumber kehidupan yang harus kita rawat dan lestarikan. Setiap pohon yang kita tebang adalah hutang kita kepada ibu pertiwi yang harus kita kembalikan seperti sedia kala. Manusia yang berbudi adalah manusia yang bisa memuliakan lingkungan sekitar, berbuat baik pada tetangga dan menjauhkan diri dari sikap tamak dan serakah”.

“Lalu ada yang menanyakan, kenapa upacara ini di gelar di pemakaman leluhur ?. Bukankah pengejawantahan rasa terima kasih pada Yang Maha Kuasa bisa di lakukan di tempat tempat ibadah, di rumah masing masing atau di mana saja ?”.

“Betul…!. Segala amal budi baik bisa di lakukan di mana saja dan kapan saja” lanjut Wasi Jaladara sembari menyeka keringat yang menetes di dahinya.

“Pemakaman ini adalah bukti yang tersisa bahwa para leluhur kita pernah hidup dan menjalankan tugasnya sebagai manusia yang ikut merawat bumi. Para leluhur ini adalah mata rantai kehidupan yang mengantarkan kita pada kehidupan saat ini. Maka keberadaan kita di sini juga merupakan perwujudan rasa terima kasih kita pada para leluhur yang telah dengan susah payah merawat kita, menjaga kita serta mengantarkan kita pada keadaan seperti layaknya kita sekarang”.

Begitulah wejangan wejangan yang di berikan sang Resi muda pertapa Argayosa. Upacara kemudian di tutup dengan acara makan bersama. Pertama tama Wasi Jaladara mempersilahkan para orang tua yang sudah renta untuk maju mengambil makanan secukupnya, kemudian di susul anak anak yatim piatu dan anak anak dari keluarga tidak mampu dan terakhir masyarakat pada umumnya. Tak lupa sang Resi membagikan beberapa keping uang bagi warga yang membutuhkan. Setelah semuanya selesai, sang Resi berkeliling kampung, mencari cari warga yang tidak bisa hadir dalam upacara karena mungkin menderita sakit dan membantu mengobati sakitnya.

Menjelang sore, Wasi Jaladara pamit kepada seluruh warga untuk melanjutkan perjalanannya. Menaiki sebuah perahu kecil, menyeberangi Sungai Tirta Wening menuju ke arah timur. Kerajaaan Mandaraka.

Geram hati Prabu Suyudana mendengar laporan Bambang Aswatama. Apa yang selama ini ia khawatirkan bahwa ada pihak lain yang sengaja ingin mengacaukan rencananya mengawini putri Salya seakan menemui titik terang.

Keberadaan Permadi di Mandaraka dan usahanya untuk membawa lari Banowati seperti yang di ceritakan Aswatama makin menegaskan kecurigaan Suyudana.  Bisa jadi bukan hanya Banowati, tapi hilangnya Herawati dari istana Mandaraka kemungkinan juga karena ulah panengah Pandawa itu.

“Ini tak bisa di diamkan!” dengus Suyudana di depan para pejabat negara di Sitihinggil Hastinapura.

“Sudah jelas” lanjutnya,”Pandawa berusaha menghalangi kita membangun kerjasama dengan Mandaraka”.

Beberapa pejabat tinggi Hastina tampak saling pandang satu sama lain. Kendati semua orang tahu bahwa Pandawa selama ini menaruh rasa dendam pada Kurawa terutama setelah insiden adu judi yang mengakibatkan mereka harus mendapatkan hukuman pembuangan dan juga kasus Balai Sagala Gala, tapi keberanian Permadi mencampuri urusan Hastinapura dan Mandaraka adalah satu berita yang cukup mengejutkan. Tindakan ini seolah mengkonfirmasikan pada segenap keluarga Kurawa bahwa kubu Pandawa telah berada dalam kondisi siap untuk kembali menggugat dominasi putra putra Destaratra.

“Paman juga berpikiran demikian nanda prabu” seorang pria berbadan sedang, bermuka bopeng dan duduk  persis di samping kiri Prabu Suyudana membuka suara.

Dialah Harya Sengkuni, di sebut juga Harya Suman. Perdana Menteri Hastinapura bergelar Patih. Sosok yang memiliki pengaruh sangat besar di kerajaan Hastina, salah satu penasehat terkemuka Prabu Suyudana sekaligus paman dari para Kurawa. Politisi senior yang di kenal cerdik dan piawai dalam strategi. Kemampuan olah kanuragannya juga tak bisa di anggap enteng. Dia ahli bermain aneka senjata, dan di percaya kebal terhadap senjata apapun.

“Siapa lagi yang punya kemampuan dan nyali besar menerobos istana Mandaraka yang penjagaannya sangat ketat selain orang orang Amarta” tukas Patih Sengkuni meyakinkan.

“Pantas saja kita tak menemukan sedikitpun jejak Herawati, rupanya Permadi yang cari masalah!” Suyudana mengepalkan tangan kanannya.

“Lalu apa yang akan kita lakukan ?” tanya Suyudana seraya menyapu pandangan ke seluruh pejabat yang hadir di situ. Ada Resi Krepa, guru pemerintahan sekaligus penasehat keluarga Kurawa. Kemudian penguasa Awangga yang tersohor, Adipati Karna. Beberapa anggota Kurawa seperti Raden Dursasana, Kartamarma, Durmagati dan lain sebagainya dan juga Aswatama tentunya.

“Eyang Krepa, apa pendapat eyang ?” Suyudana menoleh ke sosok tua bertubuh kurus dan memakai baju kebesaran seorang resi berwarna kuning yang berada di samping kanannya.

Lelaki tua yang sudah sejak jaman Prabu Sentanu (leluhur Pandawa dan Kurawa) telah mengabdi di Hastina ini menarik nafas panjang. Dan dengan suara tenang berkata,

“Sangat mudah bagi ksatria semacam Permadi melakukan apa yang anak prabu tuduhkan”

“Akan tetapi” imbuhnya, “di jagat ini bukan hanya Permadi yang memiliki kemampuan lebih dan bisa menerobos Mandaraka. Tentu, di sana memang ada Prabu Salya yang di kenal sakti mandraguna. Tapi seperti yang kita tahu, dia bukan orang yang cukup telaten mendidik para pengawalnya. Maka kalau tak ada yang menonjol di Mandaraka, itu wajar. Dan kalaulah ada yang lolos dari pengamatan dan berhasil membawa lari keluarga Salya, itu bukan berita yang mengejutkan”.

“Artinya ?” desak Suyudana.

“Artinya, Permadi bukan satu satunya orang yang layak di tuduh melarikan anak Salya. Bisa jadi orang lain” terang Resi Krepa.

“Bahkan kalaupun Basukarna mau, dia juga dengan mudah masuk ke istana Mandaraka”.

Suyudana mengangguk, tapi apa yang di sampaikan oleh penasehatnya, Resi Krepa belum cukup untuk menghilangkan kecurigaannya pada Permadi.

“Sebaiknya anak prabu selidiki dulu. Jangan sampai kita mendapat malu di hari kemudian” saran Krepa.

“Eyang Krepa ini tahu apa ?” tiba tiba Patih Sengkuni menyela. Sudut bibirnya terlihat melempar senyum sinis ke arah Resi Krepa.

“Orang yang hanya berkutat di seputar istana, mana paham urusan dengan pihak luar” sindir Patih Sengkuni tanpa basa basi.

Resi Krepa yang merasa di remehkan  sontak merah padam dan berdiri dengan telunjuk menuding ke arah Patih Sengkuni,

“Jaga kesopananmu, Suman !’ gertaknya marah.

“Paman patih, eyang Krepa !” potong Suyudana berdiri  menengahi, “mohon untuk menahan diri”.

Keduanya terdiam.

“Aswatama!” panggil Suyudana.

“Saya, gusti” pemuda berumur 20an tahun yang beberapa hari lalu sempat bentrok dengan Permadi ini menyahut.

Suyudana menatap sejenak pada putra Guru Durna, “ menurutmu, mungkinkan ada orang lain selain Permadi yang pantas di curigai ?”.

“Tidak ada, gusti!” jawab Aswatama tegas.

“Saya sudah melakukan penyelidikan di seluruh istana Mandaraka, tapi tak menenmukan jejak lain selain Permadi yang berduaan dengan Banowati di pantai Mandaraka”

“Hemm…” Suyudana mendehem. Makin yakin hatinya bahwa Permadilah biang keladi semuanya. Tidak salah lagi.

“Bagaimana, paman ?” kali ini Suyudana meminta pendapat Patih Sengkuni.

Patih Harya Sengkuni mengangkat bahu, sudut matanya sejenak melirik ke arah Resi Krepa yang masih bermuka masam akibat ucapan pedas Sengkuni.

“Sudah saatnya kita bersikap tegas !” kata Sengkuni seperti tak mempedulikan tatapan dongkol Resi Krepa, “cepat atau lambat kita tetap akan berhadapan dengan anak anak Pandu”

“Jangan memperkeruh keadaan, Suman !” Resi Krepa yang sepertinya tahu kemana jalan pikiran Sengkuni memperingatkan.

“Sebentar eyang” Suyudana mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Resi Krepa memberi kesempatan pada Patih Sengkuni mengutarakan pendapatnya.

“Paman berencana menghukum Pandawa ?” tanya Suyudana serius. Bola matanya tak lepas menatap ke arah adik dari ibunya itu.

“Jika perlu” Sengkuni enteng.

Seketika semua yang hadir terkejut. Ada rona khawatir, penasaran bercampur antusias di benak beberapa punggawa Hastina, kecuali Resi Krepa yang terlihat semakin jengkel melihat ulah Sengkuni. Semua orang Hastina paham betul dengan kecerdikan Patih Sengkuni. Pria asal Plasajenar yang menjadi petinggi Hastina setelah mengkudeta patih sebelumnya, Gandamana, ini seperti tak pernah kekurangan ide.

“Ha ha ha ha”

Tiba tiba dari arah belakang terdengar suara tawa parau yang sangat akrab di telinga para hadirin. Dialah Raden Dursasana, orang kedua Kurawa. Bertubuh gempal, bermuka lebar, berambut gimbal dan bermata bulat kemerahan. Putra Destaratra yang berdiam di ksatrian Banjarjungut ini di kenal sombong, berbicara kasar dan suka menggoda wanita. Dalam kasus adu judi dengan Pandawa dulu, dialah orang yang sempat mempermalukan Drupadi dengan cara menelanjangi istri sulung Pandawa, Puntadewa di depan umum.

“Dursasana mendukung semua rencana paman Sengkuni “ teriak Dursasana dengan lantang.

“Yang penting, Bima jangan di serahkan ke siapa siapa. Biar orang Banjarjungut yang menghabisi srigala Amarta itu” lanjutnya dengan nada sombong.

 Patih Sengkuni hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya itu. Selama ini Dursasana memang menyimpan rasa iri terhadap kekuatan yang di miliki Bima. Dulu ketika masih bersama Pandawa di bawah asuhan Guru Durna, Dursasana seringkali bersengketa dengan Bima hanya untuk menentukan siapa yang paling kuat. Keduanya sama sama berbadan besar, bertenaga kuat, ahli gulat dan hoby berkelahi. Ketika keduanya bertemu dalam arena pertandingan, sudah pasti menyajikan tontonan yang sangat menarik. Keduanya boleh di bilang seimbang dan tak ada satupun yang sanggup mengalahkan yang lain. Hal inilah yang seringkali membuat Dursasana penasaran hingga sekarang. Ambisinya untuk mengalahkan Bima dan menjadi pegulat terbaik begitu besar. Maka tak heran, begitu Sengkuni mengutarakan idenya memberi pelajaran pada Pandawa, Dursasana langsung antusias menyambut. Saat saat yang selalu ia tunggu sepanjang karir keprajuritannya. Menakhlukkan Bima.

“Jika demikian, berarti kita akan mengerahkan seluruh kekuatan Hastina untuk menggempur Amarta, paman ?” tanya Suyudana serius.

Patih Sengkuni lagi lagi menyunggingkan senyum khasnya.

“Tidak perlu” menggelengkan kepala.

“Lantas ?” makin penasaran Suyudana. Perhatiannya kini hanya tertuju pada Patih Sengkuni.

Sengkuni tidak segera menjawab, seolah ingin mempermainkan rasa penasaran Prabu Suyudana. Di betulkannya letak ikat kepala bertahtakan emas di kepalanya, menghela nafas beberapa kali lalu berkata,

“Kalau untuk menghabisi Pandawa, atau setidaknya Permadi bisa memakai tangan orang lain, kenapa harus tangan kita yang berlumuran”.

“Maksud, paman ?”



Bersambung

Oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak