Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 12)

Sayang sekali lengan Permadi hanya mengenai ruang kosong. Resi muda itu entah bagaimana caranya sudah tidak ada di tempat.

“Ho ho ho…”

Suara itu terdengar dari arah belakang. Persis di belakang Permadi. Lirih tapi seperti sengaja mengejek kemampuan ksatria Madukara itu. Putra Pandu itu segera membalikkan badan sembari memutar kakinya, dan..

Wusss!!!

Lagi lagi hanya suara desiran angin yang di hasilkan dari gerakan kaki Permadi tanpa sedikitpun mengenai sasarannya.

“Hanya begini kemampuan jawara kebanggaan Pandawa ?” lagi lagi terdengar kata kata ejekan pada Permadi. Makin marah sang Dananjaya, makin beringas terjangan panengah Pandawa itu.

“Jumawa !” teriak Permadi kemudian di iringi pukulan, tendangan, sikut dan bahkan tandukan bertubi tubi ke arah pendeta misterius itu. Suasana berubah menjadi gaduh. Serangan serangan Permadi yang tak mengenai sasaran, beberapa di antaranya malah menghantam benda apa saja di ruangan itu. Hingga nyaris tak tersisa satu bendapun yang utuh, Permadi masih saja belum mampu melumpuhkan musuhnya. Jangankan melumpuhkan, bahkan menyentuhnyapun tidak. Resi muda itu tetap bergerak lincah dan terus mengucapkan kata kata bernada mengejek.

“Ilmu silat seperti ini mau mengalahkan Kurawa ?” ledeknya, “memalukan…!”.

Mendidih darah Permadi, belum pernah ia mendapat ejekan menyakitkan seperti ini. Belum pernah ia begitu di permainkan dalam adu kedigdayaan kecuali kali ini.

“Jangan salahkan Permadi kalau berbuat kasar” gertak Permadi seraya beringsut mundur. Tangan kirinya bergerak meraih busur panah di pinggang, sementara tangan kanan terangkat ke atas. Sebuah anak panah sepajang setengah meter kini berada di genggamannya dan siap untuk di muntahkan. Inilah salah satu panah andalan Permadi. Kyai Pasopati. Panah ajaib yang jika di satukan dengan busur saktinya kyai Gendewa, akan menghasilkan serentetan tembakan mata panah yang tiada habis habisnya. Kemampuan panah ini sudah teruji di berbagai medan. Bahkan hanya dengan senjata ini, Permadi sanggup melumpuhkan seribu musuh dalam tempo sekali tarikan nafas.

“Ha ha ha….”.

“Lucu sekali tingkahmu, Permadi. Untuk menghadapi musuh yang tak bersenjatapun, harus mengeluarkan senjata andalan…”.

“Tutup mulutmu!” teriak Permadi segera menarik busur panahnya.

Suiiiittttt……!!!!

Suara desiran panah segera menyalak. Belasan anak panah berhamburan dari busur kyai Gendewa laksana lebah yang keluar dari sarangnya. Suara ledakan terjadi di sana sini manakala mata panah itu menghantam dinding gubuk, atap, pintu, jendela dan sebagainya. Dan seperti yang sudah sudah, resi muda itu hanya melompat kesana kemari. Hanya bedanya, kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan gesit. Hingga yang tampak hanyalah banyangan putih yang melayang ke sana kemari menghindari amukan sang Pasopati.

“Bedebah!” Permadi mengeluh dalam hati. Entah sudah berapa banyak anak panah yang ia muntahkan dari busur kyai Gendewa. Tak satupun yang mengenai sasaran. Bahkan yang terjadi malah kerusakan yang sangat parah di setiap sudut bangunan tempat ia berdiri. Dan jika ini terus berlanjut, gubuk itu bakal roboh berkeping keping.

“Bagaimana kamu bisa menang jika kamu bertarung dengan emosi, dan bukan menggunakan rasa …?”.

Permadi terkejut, apa yang di ucapkan resi muda itu seolah hendak mengajarinya bagaimana bertarung dengan baik.

“Fokuskan pikiranmu jika kamu ingin menang, adikku..”.

Belum sempat Permadi menarik kembali busur panahnya, resi muda itu tiba tiba sudah berada di sampingnya dengan senyum tersungging dari bibirnya.

“Simpan senjatamu dan perhatikan siapa aku…” ucap sang resi seraya menepuk pundak Permadi.

Dan seperti terhipnotis, Permadi perlahan menurunkan busur dan menyimpan kembali di pinggangnya. Matanya kini tertuju pada sosok berpakaian putih di sampingnya. Begitu dalam ia menelusuri setiap lekuk wajah dan tubuh sang resi, dan berusaha keras untuk mengingat ingat sesuatu.

“Kakang….Kakrasana…?” Permadi setengah tidak percaya siapa yang ada di dekatnya.

Sang resi mengangguk.

“Panggil aku Wasi Jaladara” ucap resi muda itu.

“Oh….” Permadi kini yakin bahwa lelaki di depannya adalah putra mahkota Kerajaan Mandura.

“Maafkan kecerobohan saya, kakang…” Permadi segera bersimpuh di kaki Wasi Jaladara.

“Sudahlah” Wasi Jaladara mengangkat pundak Permadi.

“Jadi yang menyelamatkan saya…”.

“Sudah…sudah…!” potong Wasi Jaladara sambil mempersilahkan Permadi duduk di atas anyaman daun kelapa yang tampak kusut akibat pertempuran tadi.

Antara keluarga Pandawa dan keluarga Mandura memang sudah lama saling kenal. Bahkan mereka masih terhitung kerabat. Ibu Pandawa, Dewi Kunti adalah adik dari Prabu Basudewa, ayah Kakrasana. Dulu sewaktu kecil, Permadi dan saudara saudaranya sering di ajak oleh ibu mereka bertandang ke Mandura. Tak jarang keluarga Mandura yang mengunjungi mereka ketika dulu masih tinggal di Hastina bersama keluarga Kurawa. Dengan adik Kakrasana, yaitu Narayana, Permadi malah lebih akrab. Bahkan ketika dulu ia mengalahkan raja Paranggelung, juga berkat bantuan Narayana.

“Bagaimana kabar uwa Basudewa, kakang ?” Permadi memulai pembicaraan.

Wasi Jaladara tampak menghela nafas. Seperti ada beban di pikirannya.

“Kenapa kakang memilih menjadi resi seperti ini, bukankah kakang adalah pewaris uwa Basudewa ?”.

Wasi Jaladara menatap Permadi dalam dalam.

“Maafkan kelancangan saya, kakang…” Permadi salah tingkah.

“Ha ha ha ha…” tawa renyah keluar dari bibir Jaladara.

“Kekuasaan tak perlu di cari, buat apa ?. Hah ?. Buat apa mengejar sesuatu yang belum tentu menjadi takdir kita”.

Kali ini Permadi jadi malu sendiri.

“Saya…saya…” ragu.

“Kenapa ?” sela Jaladara mendekatkan mukanya pada Permadi.

“Urusan perempuan lagi ?” tebaknya yang di sambut muka merah Permadi.

“Anak anak Prabu Salya telah memikat hatimu ?. Dan kamu mau pulang ke Widarakandang untuk memberitahu Larasati ?”.

Permadi benar benar tak bisa berkutik. Batinnya menggerutu, darimana kakak sepupunya itu tahu kalau ia sudah punya istri ?.

“Kamu kira, aku tidak tahu kelakuanmu, Permadi ?” tohok Jaladara.

Pasti ketiga pembantunya yang memberitahu. Pikir Permadi kesal. Tapi, bukankah ia belum memberitahukan niatnya ke Widarakandang pada ketiga pelayannya. Aneh. Atau jangan jangan memang saudara sepupunya ini pintar membaca pikiran orang ?.

“Kalian yang di luar, masuklah!!!” tiba tiba Wasi Jaladara seperti memanggil seseorang yang berada di luar gubuk.

Pasti ketiga pelayannya.

Perlahan pintu terbuka, satu persatu sosok manusia memasuki pintu kecil yang sudah rusak akibat terjangan anak panahnya tadi.

“Banowati !” Permadi terkejut bukan main melihat siapa yang hadir di hadapannya.

Banowati dengan di iring tiga pelayannya dan satu orang pria bertubuh besar dan berwajah buruk yang belum pernah ia kenal.

“Salam sembah saya, Resi…” Banowati memberi hormat pada Wasi Jaladara kemudian di ikuti pria bertubuh besar yang ternyata adalah adiknya, Burisrawa.

“Duduk…duduk” perintah Jaladara yang segera di kelilingi oleh tamu tamu istimewanya itu.

Pantas saja kakak sepupunya tahu banyak masalah pribadinya. Banowati ada di sini ternyata.

“Waktu kita tidak banyak. Segera utarakan, kenapa kalian bisa sampai di sini ?” ucap Jaladara tak ingin bertele tele.

Mereka saling pandang. Seperti kebingungan tentang apa yang mau di omongkan.

“Ya sudah, mungkin kalian ingin berbicara berdua saja”.

Sadar antara Banowati dan Permadi sama sama tak ingin melibatkan dirinya, Jaladara berdiri dan hendak meninggalkan tempat.

“Mohon tidak meninggalkan kami, Resi…” pinta Banowati menahan langkah Jaladara.

Sejak tadi, walaupun tidak melihat langsung jalannya pertarungan, Banowati bisa menebak bahwa pria berjubah putih ini bukan orang yang lemah. Apalagi dari kejauhan dia melihat dengan jelas panah panah Permadi melesat keluar gubuk dengan jumlah tak terhingga, tapi sama sekali tak membuat sang Jaladara terluka. Jadi apa salahnya ia juga menceritakan persoalan yang menimpa dirinya dan keluarganya pada resi sakti ini.

“Bener, kalian tidak masalah kalau aku mengganggu ?” Jaladara meminta kejelasan.

Banowati melirik ke arah Permadi. Dan anggukkan lirih pria pujaannya ini makin memantabkan Banowati untuk memulai cerita.

“Mohon ijin, Resi..”

“Silahkan…”.

“Sebenarnya kami malu menceritakan masalah keluarga kami pada orang lain. Tapi kami juga merasa kebingungan bagaimana memecahkan masalah ini”.

“Lanjutkan…” Jaladara mempersilahkan.

“Kakak kami, Herawati beberapa waktu lalu hilang di culik dari istana. Kami sudah berusaha mencari. Bahkan ayahanda juga meminta bantuan pada gusti Suyudana untuk membantu mencari keberadaan kangmbok Herawati. Tapi hingga saat ini tak ada hasil yang menggembirakan”.

“Dan kamu mau meminta Permadi untuk membantu mencarikan kangmbokmu ?” terka Jaladara.

Takjub juga Banowati menyaksikan kehebatan sang Wasi Jaladara dalam membaca pikirannya.

Ah…kenapa tidak sekalian minta bantuan resi ini.

“Harapan saya, resi juga bersedia membantu kami” rayu Banowati tak melewatkan kesempatan.

“Ha ha ha ha….” tawa khas Jaladara kembali meledak.

 “Maafkan saya, resi…” Banowati.

Wasi Jaladara mengibaskan tangan kanannya, pertanda ia sudah tanggap dengan apa yang di inginkan putri Salya itu.

“Permadi!”.

“Saya kakang..”.

“Apa kamu nggak malu dengan musibah yang menimpa keluarga Mandaraka?” sekali lagi Jaladara menyindir habis habisan adik sepupunya itu.

“Mandaraka baru saja mendapat musibah, tapi kamu malah memikirkan kepentinganmu sendiri”.

“Maafkan kekhilafan saya, kakang..” sahut Permadi berat.

“Hem…” Wasi Jaladara menghela nafas. Seperti tidak puas dengan jawaban basa basi sepupunya itu.

“Saya siap kembali ke Mandaraka!” imbuh Permadi membulatkan tekad.

Jaladara menganggukkan kepala.

“Trus, Larasati ?”.



Bersambung

oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak