Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 11)

Siapakah sosok hitam yang berani menyusup ke keputren Mandaraka dan membawa lari putri Salya ?. Dia tak lain dan tak bukan adalah penguasa Awangga, adipati Karna. Anak angkat seorang kusir di Hastinapura bernama Adirata. Sejak kecil Adiratalah yang mengasuh dan membesarkan Basukarna. Walaupun ia hanya anak angkat seorang kusir, akan tetapi bakat yang di miliki Basukarna sungguh luar biasa. Pada umur 10 tahun, Basukarna sudah menjadi penunggang kuda handal. Kemampuannya menunggang kuda inilah yang kemudian menarik perhatian Permadi kecil yang ketika itu masih dalam rangka berguru di Sokalima. Permadi yang kagum melihat bagaimana Karna mengendarai kuda kemudian meminta untuk di ajari cara menunggang kuda oleh anak Adirata itu. Dengan senang hati Basukarna mengajari Permadi. Di sisi lain, Karna sendiri walaupun anak angkat seorang pegawai rendahan, akan tetapi minatnya untuk belajar ilmu kanuragan sangat besar. Tak jarang ia sengaja menonton bagaimana Permadi berlatih ilmu kedigdayaan. Dari hasil ia menyaksikan Permadi berlatih itu, Karna kemudian menirunya. Mempraktekkannya ketika sedang senggang. Tidak itu saja, Basukarna juga giat berlatih memanah dengan cara menirukan gaya panahan Permadi. Dan itu ia lakukan secara diam diam tanpa di ketahui oleh siapapun. Walaupun berlatih dengan cara meniru Permadi, bukan berarti kemampuan Basukarna bisa di katakan jauh di bawah Permadi. Justru bakat luar biasa yang di miliki Basukarna di padu dengan kesungguhan dan tekadnya untuk menjadi seorang pendekar pilih tanding, membuat anak angkat Adirata ini tanpa sadar telah mencapai titik di mana ia mencapai level pendekar sejati. Kemampuan memanahnya setara dengan Permadi, bahkan lebih tinggi. Yang membedakan barangkali hanya soal koleksi senjata. Sebagai seorang ksatria agung bangsa Kuru, Permadi banyak di anugerahi oleh guru dan juga para dewa, senjata senjata ampuh dan sakti. Sementara Basukarna hanyalah seorang anak angkat kusir keraton berpangkat rendah dan tidak pernah di didik secara ksatria oleh guru manapun.

Tapi ibarat pepatah, di manapun mutiara itu di sembunyikan, suatu saat pasti akan terlihat. Adalah Suyudana yang pertama kali mengetahui bakat Basukarna. Raja muda Hastinapura ini kemudian berkenan mengangkat Basukarna sebagai pegawai di lingkaran dalam istana. Tugasnya adalah menyiapkan segala perlengkapan, jika Suyudana keluar berburu atau dalam rangka tugas negara. Meliputi menyiapkan pakaian keprajuritan, membawa peralatan seperti panah, tombak, pedang dan sebagainya. Tugas ini di berikan Suyudana, semata mata raja Hastina ini ingin tahu lebih banyak tentang keistimewaan yang di miliki Basukarna. Seringkali dalam berburu Suyudana meminta Basukarna untuk menggunakan kemampuannya untuk membidik buruannya. Dan hasilnya luar biasa, tidak ada satupun binatang yang sanggup lolos dari Basukarna. Semua bisa di takhlukkan oleh anak angkat Adirata ini.

Setelah yakin akan kemampuan Basukarna, Suyudana mempromosikannya sebagai kepala regu prajurit pengawal raja dengn membawahi sekitar 50an pasukan. Selanjutnya karir Basukarna melejit bak meteor. Dari kepala regu menjadi kepala pasukan pengamanan raja, lalu puncaknya ketika kerajaan Hastina mengadakan perlombaan adu ilmu kanuragan di alun alun istana. Di situ segenap ksatria baik dari klan Pandawa maupun Kurawa berkumpul untuk unjuk kebolehan. Di ajang inilah Bima bertarung dengan Dursasana, Kartamarma adu kesaktian dengan Permadi, sementara Nakula dan Sadewa unjuk kekuatan melawan Citraksa dan Citraksi. Siapa yang kalah harus mundur dari arena untuk digantikan dengan yang lain. Perlombaanpun di bagi dalam beberapa kategori, seperti gulat, bermain pedang, memanah dan lain sebagainya. Untuk kategori gulat, Bima dan Dursasana keluar sebagai juara bersama. Ini di sebabkan keduanya tidak ada yang bisa mengalahkan yang lain. Dalam adu pedang, Nakula dan Sadewa unggul atas semua wakil kurawa. Begitu juga dengan adu panah, Permadi tak terkalahkan oleh semua jagoan kurawa.

Suyudana yang tidak ingin di permalukan akibat kekalahan kurawa di hampir semua bidang yang di perlombakan segera mencari akal. Ingat akan keistimewaan yang di miliki Basukarna, Suyudana mengusulkannya untuk maju mewakili Kurawa dalam perlombaan. Ide ini kemudian di tentang oleh Resi Krepa dengan alasan bahwa perlombaan hanya boleh di ikuti oleh kasta ksatria, bukan oleh orang biasa. Maka secara otomatis, keikutsertaan Basukarna tidak sah secara hukum. Mendapat tentangan dari penasehatnya, Suyudana tak kurang akal. Demi memenuhi persyaratan agar Basukarna bisa ikut perlombaan, maka raja Hastina itu memutuskan untuk mengangkat Basukarna sebagai adipati di Awangga.

Keputusan ini di setujui oleh semua keluarga Kurawa, termasuk oleh Krepa sendiri walaupun dengan berat hati. Akan tetapi keputusan ini oleh Pandawa di anggap berlebihan. Maka sepanjang pertandingan, kubu Pandawa terutama Bima, tak henti hentinya mengejek Basukarna ketika sedang bertanding dengan Permadi. Namun itu semua tak membuat Basukarna ciut nyali. Ia tetap bertanding dengan sepenuh hati melawan Permadi. Justru ejekan itu malah menjadi energi tambahan bagi Basukarna. Tekadnya untuk mengalahkan Permadi makin menggumpal. Dia sama sekali tak peduli kalau lawan tanding di depannya secara tidak langsung adalah gurunya , dia juga tak peduli dengan nama besar Permadi yang oleh banyak orang di sanjung sanjung sebagai pemanah terbaik di dunia.

Situasi yang berbeda justru di alami oleh Permadi. Walaupun itu untuk membela dirinya, tapi ejekan ejekan yang di lontarkan saudara saudaranya pada Basukarna, justru membuat panengah Pandawa ini merasa risih. Tanpa bantuan sorak sorai saudara saudaranya, Permadi sebetulnya sangat yakin bisa mengalahkan Basukarna yang ia ketahui hanya ahli dalam menunggang kuda. Rasa risih, kurangnya konsentrasi dan keyakinan yang berlebihan bisa mengalahkan Basukarna inilah yang akhirnya justru membuat Permadi menelan rasa malu. Di kalahkan untuk pertama kalinya oleh anak seorang kusir.

Sejak peristiwa itu, nama Basukarna sang adipati Awangga begitu dikenal seantero jagat raya. Semua orang memuji kemampuan Karna, semua keluarga Hastina menghormati Basukarna. Bahkan oleh Suyudana, Karna di anggap sebagai adiknya sendiri. Segala permintaan Basukarna di turuti, segala kemewahan duniawi tak segan segan di berikan oleh Suyudana pada pengikutnya ini. Kemuliaan, kemewahan dan pembelaan Suyudana, di balas oleh Basukarna dengan kesetiaan, dedikasi dan kerja sempurna. Apapun yang di perintahkan Suyudana, dia akan lakukan. Bahkan jika Suyudana memerintahkan dia terjun ke lautpun, ia akan lakukan.

Ksatria Awangga yang di percaya sebagai titisan Dewa Surya itu terus melaju bersama kyai Gagak Rimang menembus pekatnya malam. Hatinya lega, karena telah melakukan tugas yang di berikan Prabu Suyudana dengan sukses. Akan tetapi dalam benaknya masih ada pertanyaan yang sulit ia jawab. Mau di apakan tawanannya ini ?. Di buang di tengah jalan, di bawa serta kemana ia pergi, di tahan di Kadipaten Awangga atau di serahkan pada Prabu Suyudana ?. Atau apa ?.

Mata tajam Basukarna menatap pada tubuh molek yang terbujur lemas di punggung kudanya. Perasaan aneh merasuk ke dalam pikiran adipati Awangga itu. Tubuh sintal dengan balutan busana putri raja berwarna kuning terbuat dari tenunan sutra itu tampak jelas di mata Basukarna. rambutnya yang terjurai hitam berkibar menerpa wajah anak angkat Adirata itu. Begitu harum dan menggoda kelelakian sang Basukarna. Pria lajang kepercayaan raja Hastina ini melambatkan kudanya, mengarahkan tali kekangnya pada gubug kecil yang tampak kosong tak berpenghuni di pinggiran jalan. Dengan hati hati ia menurunkan tubuh Surtikanthi dan memanggulnya menuju gubuk kosong itu.

Ada rasa berdebar debar ketika dia tangannya memeluk pinggang Surtikanthi. Sejenak matanya menatap ke wajah Surtikanthi seolah ingin menelusuri setiap lekuk wajah putri Salya itu. Walaupun suasana begitu gelap, tapi bagi Basukarna yang telah di karuniai ilmu penglihatan tingkat tinggi, ia tetap bisa melihat dengan jelas wajah cantik di depannya.

“Pantas saja banyak pria yang berlomba lomba merebut hati anak anak prabu Salya” guman Basukarna sembari meletakkan tubuh Surtikanthi ke atas anyaman bambu yang ada di dalam gubuk itu.

Sejenak ia menarik nafas. Berusaha menekan perasaan aneh yang mulai menjalar di hatinya.

Inikah Banowati ?. Yang membuat Permadi tergila gila ?.

“Di mana aku ?” Permadi menyapu pandangan ke sekeliling. Sebuah ruangan sempit dengan atap terbuat dari anyaman dedaunan kelapa dan di topang oleh empat batang kayu kusam di setiap sudutnya. Dindingnya hanya terbuat dari papan papan kayu bekas yang di tempelkan secara tidak teratur. Bangunan yang sangat sederhana, atau mungkin bisa di bilang darurat. Dan sepertinya memang baru di dirikan, kalau di lihat dari tali tali pengikatnya yang masih tampak baru.

“Oh iya, Kawah Geni” serunya mulai ingat kejadian terakhir sebelum ia jatuh pingsan.

Tapi kemana ketiga pelayan setianya ?. Permadi menoleh ke kiri dan kanan. Tapi tak ia temukan sosok yang di carinya. Hingga matanya tertumbuk pada sebuah meja kecil yang terletak di sudut ruangan. Di atas meja kecil itu terdapat mangkuk berukuran sedang berisi satu porsi bubur sumsum dengan lauk paha ayam bakar di atasnya.

“Masih hangat” pikir Permadi memegangi mangkuk itu.

Aroma makanan yang menggugah selera. Dan tanpa mencari tahu siapa pemilik makanan itu, Permadi melahap habis bubur yang masih dalam keadaan panas tersebut. Dalam tempo singkat, mangkuk itu telah kosong.

“Aneh” Permadi memegangi perutnya, “kenapa aku masih merasa lapar ?”.

Bingung hati Permadi. Padahal yang ia makan porsinya lebih banyak dari biasanya. Tapi entah kenapa perutnya masih belum merasa kenyang?.

Kali ini mata Permadi tertuju pada kantung air berukuran besar yang tergantung di dinding ruangan. Segera ia raih benda itu, lalu menuangkan isinya ke mulut hingga habis tanpa menyisakan setetespun. Namun lagi lagi Permadi merasa aneh. Air sebanyak itu sama sekali tak membuatnya merasa kenyang. Ia tetap merasa haus dan kering kerongkongannya.

Mata Permadi kini memandang liar, mencari cari kalau kalau masih ada makanan maupun minuman yang bisa menanggulangi rasa laparnya. Dengan agak tergesa gesa, ia bongkar semua benda yang ada di ruangan itu. Keranjang, kotak barang, karung dan perkakas lainnya. Tapi tak ia temukan makanan yang tersisa. Hingga yang ke terakhir, dengan rasa jengkel ia banting sebuah kuali yang terbuat dari tanah liat di tangannya.

Brakk!!!!

Permadi duduk menyandarkan tubuhnya ke tiang bangunan. Dia masih tidak mengerti kenapa ada keanehan dalam dirinya. Ini jelas tidak biasanya. Pikir Permadi heran. Dia terbiasa lapar, bahkan berhari hari, tapi tidak seperti yang ia rasakan kali ini. Apa gerangan yang terjadi ?.

“Begitulah kalau manusia tidak pandai bersyukur. Tak pernah merasa puas dengan apa yang telah di karuniakan Tuhan kepadanya”.

Tiba tiba sesosok manusia yang mengenakan pakaian serba putih muncul dari pintu.

“Siapa kamu ?” tanya Permadi agak terkejut.

Pria berpakaian putih dengan tongkat rotan itu tidak segera menjawab. Dia berjalan menuju sebuah tikar anyaman tempat di mana tadi Permadi tertidur. Pria berbusana resi yang masih terlihat sangat muda itu lantas duduk bersila di atas tikar daun kelapa di tengah ruangan.

“Memiliki pasangan yang sangat setia rupanya belum cukup untuk membuat seorang pendekar terkenal Madukara terpuaskan”.

Kali ini Permadi mengernyitkan dahi. Di tatapnya dalam dalam lelaki berpakaian resi yang duduk di atas tikar tempat tidurnya.

“Siapa dirimu, wahai resi ?” tanya Permadi penasaran. Pendeta muda ini sepertinya tahu banyak tentang dirinya.

“Kasihan sekali dirimu” kata sang Resi seolah tak peduli dengan pertanyaan Permadi, “bagaimana  bisa, mencari kebahagiaan dengan mengorbankan kebahagiaan yang lain ?. Bagaimana mungkin menggapai kebahagiaan dengan cara tidak membahagiakan ?”.

Ucapan itu terdengar datar. Tapi terasa begitu tajam menusuk perasaan Permadi.

“Mohon jangan mempermainkan, Resi !” mulai hilang kesabaran Permadi.

“Wanita….oohh…wanita…” setengah berpuisi, “ lembut tapi melumpuhkan, diam tapi menghanyutkan, gemulai tapi menipu….”.

“Cukup!!!” bentak Permadi keras.

Seperti tak terpengaruh dengan gertakan Permadi, Resi muda itu tetap menyunggingkan senyum dan mengeluarkan kata kata sindirannya.

“Berapa banyak ksatria yang jatuh hanya karena perempuan ?” sang Resi seolah bertanya.

“Banyak” di jawabnya sendiri pertanyaan itu.

“Rahwana, Raja agung Alengka. Maharaja kuat dan tak terkalahkan. Tapi birahinya pada perempuan telah menjerumuskannya pada kekalahan. Siapa lagi ?. Ohhh…, leluhur bangsa Kuru. Ya…!. Hanya karena seorang perempuan, Prabu Sentanu menelan ludahnya sendiri dengan membatalkan posisi Dewa Brata sebagai calon pewaris tahtanya. Dan sekarang anak turun Sentanu harus menanggung karma permusuhan yang berlarut larut”.

Sindiran sang Resi kali ini tak pelak membuat Permadi tak bisa lagi menahan diri. Pendeta muda itu sudah keterlaluan dengan membuka luka lama trah Kuru.

“Tutup mulutmu, resi tengik!!”.

Bersamaan dengan makian itu, Permadi bergerak cepat dengan mengirimkan pukulan telak ke dada sang resi.

Wussss!!!

Bersambung