Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh

Oh Banowati…

Kenapa hatiku mendadak berdebar debar

Padahal bayanganmu pun belum jua menghampiriku

Benarkah engkau adalah penawar dahaga

Penawar duka cinta yang sekian lama berharap hadirnya tabib asmara

 Duka menyelimuti Mandaraka. Harapan Prabu Salya untuk menjodohkan puterinya Dewi Herawati dengan penguasa tersohor Hastina Pura, Prabu Suyudana pupus sudah. Hanya sehari menjelang kedatangan rombongan Hastina demi melamar Herawati, keputren Mandaraka di hebohkan dengan hilangnya calon mempelai perempuan dari istana. Kontan saja peristiwa ini membuat murka sang pemangku Mandaraka. Seluruh punggawa kerajaan segera di kumpulkan guna membahas insiden ini. Bagaimanapun ini adalah peristiwa pertama sekaligus tamparan paling menyakitkan bagi kredibilitas penguasa Mandaraka. Bertahun tahun Mandaraka dalam keadaan tenang tanpa ada gangguan berarti. Siapa yang tak kenal Prabu Salya, Raja agung yang terkenal sakti mandraguna, di takuti segenap raja raja di muka bumi dan pemilik ilmu tanpa tanding Candrabirawa. Sebuah ilmu langka warisan mertuanya Pendeta Bagaspati dari pertapaan Arga Bedah yang jika di terapkan, pemiliknya akan berubah menjadi sosok raksasa ganas, menakutkan, kejam dan sulit di takhlukkan. Jika ia di lukai, justru tubuhnya akan berubah menjadi semakin besar dan semakin sakti. Konon karena keistimewaan yang di miliki oleh Salya inilah pihak Kurawa berusaha sekuat tenaga meloby Mandaraka untuk berpihak kepada Hastina, termasuk dengan cara mengambil Herawati putri Salya sebagai calon istri Suyudana yang nantinya di janjikan akan di jadikan permaisuri Hastinapura. Langkah ini di nilai cukup strategis secara politis mengingat dari sejarahnya, Mandaraka memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Pandawa. Adik Prabu Salya, Dewi Madrim adalah istri dari Pandu Dewanata yang juga ibu dari Nakula dan Sadewa, anggota terakhir Pandawa. Jika kelak terjadi Perang Baratayuda dan  karena kedekatannya dengan Pandawa, Prabu Salya bersekutu dengan Pandawa, maka posisi Kurawa akan menjadi sangat sulit. Penguasa Mandaraka itu bisa jadi akan menjadi sebab kekalahan Hastina, sebab sejauh ini belum ada satupun ksatria Hastina yang sanggup mengalahkan kesaktian Salya. Maka memboyong putri Prabu Salya ke istana Hastina adalah cara cerdas yang bisa di lakukan untuk mencegah sang Salya bersekutu dengan Pandawa.


Di sisi lain, Prabu Salya yang di kenal pemimpin yang tegas namun ambisius tentu memiliki pertimbangan matang jika ia menerima tawaran Hastina. Setidaknya posisi Salya sebagai mertua dari pemimpin kerajaan besar seperti Hastinapura akan membuatnya semakin di perhitungkan di kancah internasional. Tentu saja tidak sekedar prestise, tapi secara ekonomi hubungan ini juga menguntungkan pihak Mandaraka, mengingat kerajaaan Hastina adalah imperium besar yang kaya dan di segani seluruh negara di mayapada. Keputusan ini juga memiliki makna positif bagi Salya, setidaknya ia bisa memainkan dua kaki di atas rivalitas sengit kubu Hastina dan Amarta.


Maka, ketika Salya mengetahui putri pertamanya Herawati hilang dari keputren, ia segera bergerak cepat dengan mengumpulkan seluruh pejabat, lalu mengumumkan berita kehilangan ini ke seluruh pelosok negeri. Kepada rombongan Hastina yang baru tiba keesokan harinya, Salya untuk menutupi rasa bersalahnya menawarkan putri keduanya, Surtikanthi untuk di peristri Suyudana. Namun tawaran ini tidak serta merta di terima Kurawa, malahan untuk menunjukkan niat baiknya, Prabu Suyudana berjanji kepada Prabu Salya untuk mencari dan kalau perlu dengan mengerahkan seluruh kekuatan Hastina. Mendengar sikap elegan yang di pertunjukkan Suyudana, legalah hati Raja Mandaraka. Makin mantab keinginannya untuk membangun hubungan lebih erat dengan Hastinapura.


Operasi pencarian Dewi Herawati segera di gelar. Tidak tanggung tanggung, Prabu Suyudana sendiri yang memimpin upaya pencarian putri Mandaraka. Tak kurang dari 5000 pasukan Hastina dari berbagai kesatuan dikerahkan untuk mendukung operasi ini. Beberapa anggota keluarga Kurawapun  seperti Dursasana, Citraksa, Citraksi, Kartamarma dan Durmagati yang merupakan ksatria andalan Hastina turut serta. Seluruh negeri Mandaraka di obok obok, bahkan untuk menggambarkan keseriusan Kurawa mencari Herawati, nyaris tak ada sejengkal tempatpun yang lolos dari pengamatan para Kurawa. Namun tak juga di temukan apa yang mereka cari. Pencarian kemudian berlanjut ke negara sekitar, mulai dari Alengka, Cempalareja, Mandura, Dwarawati, hingga masuk ke wilayah Amarta. Lagi lagi usaha Kurawa menemui kegagalan. Jangankan menemukan Herawati, bahkan kabar burungpun tak sampai di telinga mereka. Yang terjadi selanjutnya justru kegaduhan yang di lakukan para Kurawa malah menarik perhatian para ksatria dari berbagai daerah. Banyak ksatria yang awalnya tidak tahu menahu persoalan yang mendera Kerajaan Mandaraka, jadi tahu tentang kasus hilangnya putri Salya. Maka, berdatanganlah mereka ke Mandaraka guna menawarkan bantuan kepada sang Raja.


Di antara para ksatria yang datang ke Mandaraka, terdapat salah seorang anggota Pandawa. Yaitu, Raden Permadi alias Arjuna alias Partha alias Dananjaya alias Palguna dan masih banyak lagi gelar yang di sematkan untuknya. Dialah panengah Pandawa. Ksatria agung Madukara (salah satu bagian dari Negara Amarta) yang terkenal akan ketampanan dan kesaktiannya. Penembak jitu yang keahlian memanahnya sulit di cari tandingan. Pria flamboyan yang gemar berpetualang dari desa ke desa, dari pertapaan satu ke pertapaan yang lain, dari negri satu ke negri yang lain. Di kenal sebagai pribadi yang lemah lembut, bertutur sopan, berpakaian rapi dan selalu menarik perhatian.


Bagi Permadi, kedatangannya ke Mandaraka sebenarnya bukan untuk ikut campur masalah hilangnya Herawati. Seperti biasanya, jawara Madukara ini sekedar hendak melihat lihat suasana Mandaraka. Konon menurut kabar yang ia dengar, Mandaraka adalah negri pesisir timur yang kaya akan wisata alam. Pantainya sangat indah, yang jika kita bersabar menanti terbitnya matahari, akan tersaji pemandangan luar biasa. Di samping itu, panorama Kotaraja yang berlokasi tak jauh dari bibir pantai dengan bangunan bangunan yang tertata rapi, di lengkapi dengan menara menara tinggi menghadap ke laut, adalah tempat yang paling pas untuk menghilangkan dahaga akan hiburan. Dan yang lebih membuat hati Permadi tergerak untuk mengunjungi Mandaraka adalah kabar bahwa negeri itu memiliki pesona dahsyat yang tak dimiliki negri lain. Perempuan Mandraka. Ya…!. Para wanita Mandraka dikenal akan kecantikannya. Berbudi bahasa halus, berpakaian menarik dan pandai menakhlukkan hati setiap pria.

Permadi banyak mendengar bahwa ternyata Prabu Salya tidak hanya di karuniai seorang putri nan cantik jelita. Tapi ada 3 putri Salya yang semuanya elok parasnya. Dan ketiganya adalah yang paling cantik di antara sekian banyak wanita cantik di Mandaraka. Penasaran hati Permadi, seperti apakah wajah ketiga putri Prabu Salya ?. Akankah kegundahan hati Permadi yang selama ini terus menerus menghantuinya bisa terobati jika bertemu dengan para putri Salya yang konon cantik menawan ?.

Dalam dunia pewayangan, kisah percintaan Permadi memang penuh onak berduri. Di kenal sebagai pribadi yang playboy, mudah jatuh cinta dan terkadang tak peduli walau untuk mendapatkan wanita pujaannya ia rela menabrak tabu. Dalam kisah Palguna-Palgunadi misalnya, Permadi yang nama kecilnya Palguna dan masih dalam masa belajar di Sokalima dengan tanpa malu melakukan segala cara untuk mendapatkan wanita pujaan hatinya. Adalah Dewi Anggraini istri dari Palgunadi alias Prabu Ekalaya penguasa Kerajaan Paranggelung yang terkenal cantik jelita menjadi wanita pertama yang membuat Permadi sangat tergila gila.

Di ceritakan ketika Dewi Anggraeni beserta rombongan yang membawa sesembahan dari suaminya Prabu Ekalaya untuk Begawan Durna memasuki sebuah hutan angker, mereka di cegat para raksasa penghuni hutan itu. Maka terjadilah pertempuran hebat antara para raksasa dan pengawal Dewi Anggraeni. Pasukan pengawal Anggraeni terdesak, kewalahan  dan akhirnya berhasil di tumpas habis oleh para Raksasa penguasa hutan. Dewi Anggraeni melarikan diri, namun usahanya segera di ketahui oleh kawanan penguasa hutan itu dan di kejar hingga masuk lebih jauh ke dalam hutan. Di tengah hutan itulah Anggraeni bertemu Permadi yang sedang menjalani tapa brata. Melihat ada wanita cantik jelita yang kepayahan di kejar kejar gerombolan raksasa, Permadi keluar dari pertapaan dan bermaksud menolong Dewi Anggraeni. Usaha Permadi berhasil. Para raksasa di tumpas Permadi tanpa sisa. Merasa berjasa menyelamatkan Dewi Anggraeni, Permadi yang terpesona akan kecantikan istri Prabu Ekalaya ini, Permadi dengan tanpa malu menyatakan cintanya pada Dewi Anggraeni. Namun oleh Anggraeni, cinta Permadi di tolak secara halus dengan alasan bahwa ia telah menjadi istri dari penguasa Paranggelung Prabu Ekalaya. Sakit hati Permadi. Walaupun suami Anggraeni adalah seorang Raja, tapi secara kasta ia hanyalah raja kecil yang kedudukannya tidak sebanding dengan Permadi. Permadi yang nasabnya lebih tinggi dari Ekalaya merasa di permalukan oleh penolakan Anggraeni. Maka timbullah niat jahat Permadi untuk memperkosa Dewi Anggraeni. Melihat gelagat yang tidak baik dari pria yang sempat menolongnya itu, Dewi Anggraeni lalu melarikan diri, namun terus di kejar Permadi hingga sampailah mereka di tepi jurang nan dalam. Anggraeni yang merasa terjepit dan tak punya pilihan untuk menghindar dari Permadi memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang. Baginya, lebih baik mati demi membela kesetiaan pada suaminya daripada jatuh ke pelukan Permadi.

Pupus hati Permadi menyaksikan wanita yang begitu mempesona hatinya terjun bebas ke dalam jurang. Namun tanpa sepengetahuan Permadi, Dewi Anggraeni yang hampir di pastikan tewas membentur bebatuan di dasar jurang secara ajaib di selamatkan oleh ibundanya yang merupakan salah satu bidadari surga, Dewi Warsiki. Dewi Warsiki kemudian membawa Anggraeni pulang ke Paranggelung dan melaporkan tindakan tidak senonoh Permadi pada istrinya. Mendengar berita bahwa Permadi telah melakukan pelecehan terhadap istri tercintanya, marahlah Prabu Ekalaya. Berangkatlah Ekalaya beserta pasukannya ke Madukara dengan niat menghukum Permadi. Permadi yang baru saja pulang dari bertapa, kaget bukan kepalang mendapati ksatrian Madukara di kepung dari segala penjuru oleh pasukan Prabu Ekalaya. Bentrokan tak bisa di hindarkan. Prabu Ekalaya yang merasa di rendahkan oleh tindakan Permadi pada istrinya menantang perang tanding satu lawan satu. Sebagai seorang ksatria, Permadi menerima tantangan Prabu Ekalaya dengan harapan jika ia bisa membunuh Ekalaya, Dewi Anggraeni akan menjadi miliknya. Perang tanding pecah. Namun di luar perkiraan, Prabu Ekalaya yang memiliki sebuah jimat sakti berbentuk cincin di jempol tangan bernama Mustika Ampal memberikan perlawanan yang luar biasa dan susah di taklukkan. Segala senjata yang di pakai Permadi dengan mudahnya di patahkan Prabu Ekalaya berkat keampuhan jimat Mustika Ampal. Hingga malam menjelang pertarungan dua pria hebat ini berakhir tanpa ada pemenang. Karena menurut tradisi, perang tanding tidak boleh di lakukan di malam hari, keduanya sepakat untuk melanjutkan perkelahian keesokan hari.

Mujur bagi Permadi, di saat istirahat di wisma ksatrian datanglah Narayana (Kresna). Kepada Narayana ia menceritakan bahwa seharian ia perang tanding dengan Ekalaya dan ia tak bisa mengalahkan Raja Paranggelung itu karena dia memiliki Jimat Mustika Ampal. Berkat jimat itu Prabu Ekalaya tak bisa di bunuh dengan senjata apapun. Mengetahui keresahan Permadi, Narayana yang di kenal cerdik kemudian menyusun siasat. Malam itu juga Narayana menyamar menjadi Resi Durna dan menyusup ke perkemahan Prabu Ekalaya. Mendapati yang datang adalah guru Durna dari Sokalima yang sangat ia hormati, Prabu Ekalaya menyambutnya dengan penuh hangat. Keinginan Ekalaya untuk berguru pada Durna kembali timbul setelah dahulu kala sempat di tolak oleh spiritualis asal Sokalima ini dengan alasan Resi Durna tidak menerima murid dari kalangan bukan ksatria. Dan rupanya, inilah yang kemudian di manfaatkan oleh Narayana yang sedang menyamar sebagai Durna untuk mengakhiri kedigdayaan Prabu Ekalaya. Dia mengatakan kepada Prabu Ekalaya, bahwa ia bersedia menerima Ekalaya sebagai murid dengan syarat Prabu Ekalaya bersedia menyerahkan jimat Mustika Ampal kepadanya. Awalnya Prabu Ekalaya menolak, akan tetapi Durna palsu ini dengan cerdik mengatakan pada Ekalaya bahwa ia tidak mau menurunkan ilmu ilmu saktinya sedang muridnya masih memakai jimat jimat peninggalan masa lalu. Karena rasa cinta pada guru dan hasratnya yang luar biasa untuk mewarisi kesaktian Durna, akhirnya luluh juga hati Prabu Ekalaya. Cincin Mustika Ampal di serahkan pada Durna bajakan ini.

Setelah sukses mendapatkan apa yang ia cari, Narayana kemudian kembali ke ksatrian Madukara dan memberitahukan pada Permadi bahwa Prabu Ekalaya sudah tidak sakti lagi. Kabar ini tak ayal membuat hati Permadi berbunga bunga, bayangan jelita Anggraeni yang sebentar lagi akan ia dapatkan meliuk liuk di pelupuk mata Permadi. Maka malam itu juga berangkatlah Permadi ke perkemahan Prabu Ekalaya. Dan ketika mendapati Prabu Ekalaya tertidur pulas dengan sebilah keris di sampingnya. Di ambilnya keris itu lalu di tusukkan pada pemiliknya. Seketika matilah Prabu Ekalaya. Permadi kemudian mengumumkan kepada para prajurit Paranggelung bahwa ia telah membunuh raja mereka. Sontak berita ini menggegerkan kubu Paranggelung, tak terkecuali Dewi Anggraeni yang berkemah tak jauh dari tenda milik suaminya. Sedih hati sang Anggraeni mendengar kabar kematian suami tercintanya. Dan demi bela pati atas gugurnya Prabu Ekalaya, di depan Permadi ia melakukan aksi bunuh diri yang tak bisa di cegah oleh siapapun.

Hancur hati Permadi melihat kejadian itu. Wanita yang ia cintai setengah mati dan ia harapkan bisa bersanding di sisinya tewas bersimbah darah. Tragedi ini begitu memukul hati Permadi. Berhari hari Permadi nyaris tak bisa tidur akibat menyesali perbuatannya. Badannya yang gemuk berotot perlahan kurus kering karena nafsu makannya telah sirna bersama sirnanya sang dewi pujaan hati. Permadi lalu memutuskan untuk meninggalkan Madukara, meratapi kisah hidupnya dan mengembara dari desa ke desa, dari gunung ke gunung dan dari hutan satu ke hutan lainnya. Hingga suatu hari tibalah ia di desa Widarakandang. Sebuah desa yang berada di bawah kekuasaan Mandura. Di situ hidup satu keluarga, Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi. Keluarga ini memiliki dua orang anak, Udawa dan Larasati.

Udawa adalah pemuda yang sangat kuat, ahli kanuragan dan memiliki tinju yang mematikan. Sementara Larasati adalah gadis muda yang cantik, anggun dan menarik hati. Syahdan, keluarga Antagopa yang menyaksikan putrinya yang makin dewasa dan tumbuh sebagai kembang desa nan molek berkeinginan untuk mencarikan jodoh bagi Larasati. Maka mendengar keinginan Kyai Antagopa untuk mencari pendamping  bagi anaknya, berdatanganlah para jawara melamar Larasati. Karena saking banyaknya pelamar dan keluarga Antagopa tak ingin membuat kecewa semuanya, maka keluarga Antagopa berkeputusan bahwa barang siapa yang mampu mengalahkan Udawa, ia berhak menjadi suami Larasati.

Perang tanding di mulai. Satu demi satu jawara jawara berkelahi melawan Udawa. Akan tetapi hingga habis semua jagoan, tak satupun yang mampu mengalahkan Udawa yang kuat dan bertinju mematikan. Permadi yang awalnya hanya menonton dan tak terlalu tertarik pada hadiah yang di tawarkan keluarga Antagopa penasaran juga menyaksikan kedigdayaan Udawa. Maka majulah Permadi menjadi penantang terakhir Udawa. Dan akhirnya Udawa berhasil dia kalahkan. Sesuai perjanjian bahwa siapapun pemenangnya akan di kawinkan dengan Larasati, maka mau tak mau Permadi harus menerima Larasati sebagai istrinya. Maka menikahlah Permadi dan Larasati.

Sebuah perkawinan yang tidak begitu mulus. Karena ternyata Permadi masih sulit melupakan Dewi Anggraeni. Kendati Larasati memiliki wajah yang cantik menawan, tapi bagi Permadi, keberadaan Larasati sama sekali tidak bisa menggantikan apa yang selama ini ia lihat dari Dewi Anggraeni. Keteguhan Anggraeni, kesetiaannya dan aksi bela pati Anggraeni atas kematian suaminya seolah terus menghipnotis Permadi. Ini yang akhirnya menjadikan Permadi tidak betah tinggal di Widorokandang dan memutuskan untuk kabur dan mengembara entah kemana dengan di kawal tiga pengikutnya, Gareng, Petruk dan Bagong.


“Sumpah ndoro…!” celoteh Nala Gareng, pengikut setia Permadi. “Putri putri Prabu Salya memang cantik luar biasa. Hamba melihat sendiri sewaktu menyusup di Kotaraja bersama Petruk dan Bagong”.

Permadi hanya terdiam. Bayang bayang Dewi Anggraeni kembali mengusik hatinya. Entah mengapa panengah Pandawa ini seolah tak bisa lari dari Anggraeni.


“Tanya Petruk kalau nggak percaya, ndoro..” Gareng meyakinkan.

“Betul kata Gareng, ndoro….!”  sahut Petruk berapi api.

Permadi menatap tajam satu persatu pengikutnya. Seolah ingin memastikan bahwa apa yang di katakana mereka bukan omong kosong.

“Siapa nama nama Putri paman Salya, kakang Gareng ?” tanya Permadi acuh.

“Kalau yang katanya di culik dari istana namanya Herawati. Yang kedua Surtikanthi. Keduanya terkenal cantik menawan hati. Pokoknya nggak mengecewakan” terang Gareng.

“Trus ?” tanya Permadi masih datar.

“Nah, yang ketiga ini yang mau kita omongin ke ndoro…” Gareng menghela nafas dan menata kalimat. Memandang sejenak ke arah sang majikan seolah tak ingin membuat Permadi kecewa.

“Bicaralah terus terang”.

Kali ini Permadi mengubah cara duduknya dan berusaha serius mendengarkan keterangan Gareng.

“Mohon maaf kalau ucapan saya salah atau menyakiti atau membangkitkan kembali kenangan lama ndoro” berhenti sejenak menunggu reaksi Permadi.

Permadi mengangguk tanda mempersilahkan Gareng berbicara lebih lanjut.

“Dia mirip sekali dengan Dewi Anggraeni…” Gareng menunduk.

“Apa ?” Permadi terhenyak.

“Apa yang di katakana kakang Gareng benar, ndoro. Kami bertiga menyaksikan sendiri kemarin di kraton Mandaraka” timpal Petruk.

Permadi terdiam.

Banowati ?. Anggraeni ?. Benarkah dia mirip dengan Anggraeni ?. Permadi bertanya tanya dalam hati.

“Terus, bagaimana caranya aku bisa berkenalan dengan Banowati ?” kali ini Permadi tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Tenang, ndoro. Semua sudah kami atur….” Gareng melirik ke arah Bagong.

“Begini ndoro Permadi, kita bertiga sudah membuat rencana ini. Bahkan kami sudah juga meyakinkan ndoro Banowati untuk menyetujui rencana kami“ Bagong yang sejak tadi hanya diam menjadi pendengar, menambahkan.

“Apa tidak takut ketahuan paman Salya ?” Permadi khawatir.

“Kami bertiga yang tanggung jawab kalau terjadi apa apa” Gareng.

“Betul” tambah Petruk.

“Apalagi suasana istana lagi kisruh. Perhatian Gusti Salya pasti tertuju pada ndoro Herawati. Sudah pokoknya ndoro Arjuna ikut rencana kita saja. Nyawa kami yang menjadi taruhan”.

 
Permadi menghela nafas. Sorot matanya berbinar. Entah apa yang berkecamuk dalam batinnya. Nama Banowati dan Anggraeni seolah menari berganti gantian di pelupuk matanya. Begitu menggoda, begitu eksotis dan tidak seperti yang biasa ia alami ketika jatuh cinta dulu.


Oh Banowati…

Kenapa hatiku mendadak berdebar debar

Padahal bayanganmu pun belum jua menghampiriku

Benarkah engkau adalah penawar dahaga

Penawar duka cinta yang sekian lama berharap hadirnya tabib asmara



Bersambung....

Oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak