Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 5)


Tidak sulit menemukan Burisrawa di wisma kediamannya di siang hari. Hampir setiap hari adiknya selalu menghabiskan waktu untuk tidur. Hanya untuk keperluan perut dan buang hajat saja Burisrawa terjaga di siang hari. Dan kalau sudah selesai, dia akan kembali pulas dalam mimpi hingga matahari tenggelam. Persis seperti kelelawar atau burung wallet yang banyak bersarang di gua gua di sekitar pantai Mandaraka. Ketika malam tiba, Burisrawa terbangun, dan melakukan aktifitasnya. Bukan tugas tugas yang biasa di berikan oleh ayahnya untuk para nayaka praja. Tapi malamnya Burisrawa lebih banyak di habiskan untuk sekedar hura hura. Berjudi bersama beberapa koleganya yang kebanyakan para pengusaha adalah kegiatan yang jamak di lakukan Burisrawa. Kalau tidak, dia biasanya ngeluyur mencari hiburan malam bersama beberapa pengawalnya. Menenggak minuman keras, berjoget hingga pagi dengan para penari malam dan menghamburkan harta bendanya.

Burisrawa di kenal sangat boros dalam pengeluaran. Jatah dari orangtuanya yang untuk sebulan bisa jadi di tangan Burisrawa hanya bertahan satu minggu. Selanjutnya dia biasanya jual jual property. Berapa banyak harta Burisrawa ludes. Kuda, perhiasan bahkan beberapa pusaka penting pemberian ayahnya sempat di jual Burisrawa. Tak ada yang bisa menghentikan kebiasaan buruk Burisrawa. Di tahan, di siksa sekalipun tak mempan untuk Burisrawa. Begitu dia keluar, dia akan kembali lagi terjerembab ke lembah hitam.

Maka tak heran jika nyaris semua anggota keluarganya tak terlalu menyukai Burisrawa. Apalagi Rukmarata. Kakak beradik ini tak jarang terlibat keributan hanya untuk masalah masalah yang sepele. Begitu juga dengan kakaknya Surtikanti, dia juga sangat membenci Burisrawa. Walaupun tak sedalam Rukmarata. Ayahnya, Prabu Salya cenderung hati hati. Tapi sebenarnya dia juga tak menginginkan kehadiran Burisrawa. Hanya kutukan kakeknya Bagaspati saja yang membuat ayahandanya masih menghargai Burisrawa. Sementara ibu dan kakak sulungnya cenderung netral. Tapi dari semua saudara Burisrawa, hanya Banowatilah yang paling dekat dengan Burisrawa.

Sejak kecil, Banowatilah yang paling banyak membantu ibunya merawat, menjaga dan menemani Burisrawa. Kepada Banowati pula segala persoalan Burisrawa di tumpahkan. Ketika semua orang memandang remeh Burisrawa dan di anggap sebagai ksatria Mandaraka yang gagal dan tak punya masa depan, Banowati biasanya yang meyakinkan Burisrawa untuk tetap optimis menatap hari esok. Ketika semua orang merasa jijik melihat wujud Burisrawa yang setengah raksasa lagi berwajah menyeramkan, Banowati malah menunjukkan diri sebagai teman yang baik bagi Burisrawa. Maka ketika mendengar persoalan yang menimpa kakaknya, Burisrawalah orang yang paling marah.

“Bangsat Rukmarata!!! Anjing tengik!!” maki Burisrawa dengan suara menggelegar dan muka nanar.

“Aku akan sobek sobek mulut busuk jahanam kecil itu!” sumpahnya di hadapan sang kakak.

“Kangmbok tunggu saja di sini” ucap Burisrawa yang kemudian terburu buru memasuki kamarnya dan mengambil sebilah keris pusakanya.

“Apa apaan kamu, Buris…!” teriak Banowati histeris. Seketika ia menghadang langkah Burisrawa yang sepertinya hendak melabrak Rukmarata.

“Minggir kangmbok” pinta Burisrawa sembari mendorong Banowati yang mencoba menghalanginya.

“Heh…dengarkan aku dulu Buris!!” tangan mungil Banowati sontak menarik baju Burisrawa hingga nyaris sobek.

“Jangan halangi Buris kangmbok!” kakak Rukmarata ini tetap gigih.

“Buriiiiisss!!!!” kali ini teriakan Banowati lebih keras dan seperti memaksa.

Akhirnya Burisrawa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah kakaknya dengan penuh tanda tanya.

“Kamu kira dengan menantang Rukmarta semua maslah bakalan selesai ?” cocor Banowati emosi.

“Tapi bangsat itu…”.

“Diam!!!” potong Banowati sembari bola matanya menatap tajam ke mata Burisrawa. Dan seperti seorang anak kecil yang di marahi ibunya, Burisrawa menundukkan wajah.

“Duduk!” perintah Banowati seraya merendahkan intonasi.

Keduanya kemudian kembali lagi ke kursi tamu. Saling berhadapan satu dengan yang lain dan sama sama terdiam untuk beberapa saat lamanya.

“Nanti sore ayahanda kemungkinan akan memanggilku” Banowati membuka suara.

“Kamu harus ikut” pintanya.

“Mbakyu Surtikanti dan Rukmarata pasti ada juga” menarik nafas sejenak, menatap lekat ke arah Burisrawa untuk memastikan bahwa adiknya bisa di ajak kerjasama.

“Kangmbok mau kamu pasang badan”.

Burisrawa mendongak sebentar, tapi kembali menunduk.

“Kamu bilang ke ayah kalau lelaki yang bersamaku malam itu adalah kamu. Bikin aja alasan kita sedang menghibur diri di pantai. Jangan di tambah. Jangan di kurangi. Paham ?”

Burisrawa mengangguk.

“Paham nggak ?’ ulang Banowati.

“Iya iya…” jawab Burisrawa lantang.

Banowati merogoh kantong sebelah kanan, mengambil beberapa keping uang emas lalu menyorongkannya ke depan Burisrawa.

“Ini buat kamu” Banowati menaruh uang itu di atas meja.

“Jangan terlalu boros. Kangmbok sudah nggak punya uang lagi”.

Begitu selesai berkata  itu, banowati kemudian beranjak keluar meninggalkan Burisrawa yang masih tampak seperti orang linglung.

 Usianya masih cukup muda. Sekitar 25 tahunan. Berbadan tegap, berkulit putih kemerahan, berhidung mancung dan berjenggot kemerahan sepanjang satu jengkal. Mengenakan pakaian serba putih, memakai tongkat yang terbuat dari rotan dan berkalungkan tasbih kayu cendana di lehernya. Dialah Wasi Jaladara atau Resi Jaladara. Pertapa sakti yang bersemayam di puncak Argayosa. Sebuah gunung yang terletak di sebelah timur Negara Mandura. Jika di lihat dari Mandaraka, gunung Argayosa berada di sebelah barat Mandaraka. Di kenal sebagai piramida alami yang sangat angker dan di keramatkan. Setinggi 5000 meter di atas permukaan laut dengan puncak yang lancip dan selalu di bayangi kabut tebal.

Tidak banyak yang mengetahui siapa sebenarnya Wasi Jaladara sesungguhnya. Penduduk di sekitar kaki gunung Argayosa mengenalnya sebagai brahmana muda yang baik hati, suka menolong, pandai bercocok tanam, ahli pengobatan dan pintar meramal. Kendati usianya masih sangat muda, Wasi Jaladara tokoh yang di tuakan di kalangan penduduk sekitar kaki Gunung Argayosa. Tidak seperti kebanyakan pertapa lain yang gemar menyendiri dan berusaha menjauhi keramaian, Wasi Jaladara justru berlaku sebaliknya. Dia rajin berkeliling dari kampung ke kampung demi melayani masyarakat. Hanya sesekali ia kembali ke pertapaan. Biasanya setiap malam Jum’at ia  berdiam diri di puncak Argayosa. Sementara hari hari yang lain ia habiskan bersama masyarakat.

Di bawah bimbingan Wasi Jaladara, kehidupan masyarakat kaki gunung Argayosa yang awalnya miskin, terbelakang dan jauh dari perhatian pemerintah, kini menggeliat dan berkembang menjadi kawasan yang cukup makmur. Dulu masyarakat kaki gunung Argayosa hanya bisa menikmati hasil panen dua kali selama setahun. Itupun kadang sering gagal jika air  dari langit turun tak menentu. Berkat kehebatan Wasi Jaladara dalam membangun system irigasi dan cara mengolah tanah yang lebih modernlah sejak itu penduduk kaki gunung bisa menikmati panen tiga kali setahun. Maka tak heran jika para penduduk menjulukinya Sanghyang Basuki. Dewa kemakmuran. Dan memang begitulah adanya. Wasi Jaladara adalah titisan dari Dewa Basuki.

Nama asli dari Wasi Jaladara adalah Kakrasana. Dia adalah putra sulung Prabu Basudewa dari pernikahannya dengan Dewi Mahindra. Konon Prabu Basudewa memiliki 3 orang istri, yaitu Dewi Mahindra, Dewi Badrahini dan Dewi Mahira. Dari Mahindra terlahir Kakrasana dan Narayana, dari Badrahini melahirkan Rara Ireng, kemudian dari Mahira lahirlah Kangsa. Tapi jika di runut dari sejarah, Kangsa sebenarnya bukanlah anak dari Basudewa. Adalah ulah Prabu Gorawangsa dari Kerajaan Goagra yang membuat Mahira melahirkan Kangsa. Di ceritakan ketika itu Prabu Basudewa sedang berburu di hutan bersama pengikutnya dengan meninggalkan istri istrinya di istana. Prabu Gorawangsa yang mengetahui Basudewa sedang berburu di hutan dan telah lama memendam rasa cinta terhadap Mahira kemudian menyusup ke istana Mandura dengan menyamar sebagai Basudewa. Gorawangsa yang menyamar sebagai Basudewa ini kemudian meniduri Mahira hingga hamil dan nantinya melahirkan Kangsa. Sepulang dari berburu dan mengetahui bahwa istrinya telah hamil, marahlah Basudewa. Mahira kemudian di hukum dengan cara di buang ke hutan. Di hutan, Dewi Mahira bertemu dengan Suratimantra yang menjaganya hingga ia melahirkan anak berwujud raksasa dan di beri nama Kangsa. Kangsa kemudian di asuh oleh Suratimantra hingga dewasa. Setelah dewasa, Suratimantra mengajak Kangsa ke Mandura demi menemui Basudewa. Prabu Basudewa yang merasa bersalah telah membuang Mahira kemudian berkenan menganugerahi Kangsa sebuah tanah perdikan bernama Sengkapura. Sejak itu Kangsa di angkat sebagai Prabu Anom di Sengkapura.

Dari sinilah kemudian timbul masalah. Kangsa yang merasa paling hebat di antara putra putri Basudewa berhasrat untuk merebut tahta Mandura yang sebenarnya menjadi hak Kakrasana. Tidak hanya itu, Kangsa yang mendapat bujukan dari Suratimantra mengancam akan membunuh semua anak Basudewa jika ia tidak di angkat sebagai putra mahkota Mandura. Mendapat ancaman dari Kangsa dan merasa khawatir akan keselamatan putra putrinya, Basudewa kemudian meminta kepada abdi dalemnya Kyai Antagopa dan Nyai Sagopi untuk menyembunyikan anak anaknya dari incaran Kangsa. Ketiga anak Basudewa kemudian di bawa ke Widarakandang dan di didik oleh Kyai Antagopa bersama dengan kedua anak Kyai Antagopa sendiri yaitu Udawa dan Larasati (istri pertama Permadi). Tapi sesuai tabiatnya yang suka berkelana mencari pengalaman, baik Narayana maupun Kakrasana lebih banyak mengembara entah kemana daripada berdiam diri di Widarakandang. Selain itu tindakan ini juga untuk menghindari ancaman Kangsa yang terus menerus menginginkan kematian mereka.


Bersambung

oleh: Ki Dainx Dalang Gubrak