Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 4)

“Rukmarata memberitahukan semuanya pada ayahanda. Siap siap aja nanti di panggil ayah!!” begitu selesai mengucapkan itu, Surtikanthi ngeloyor keluar kamar meninggalkan adiknya yang dongkol bukan main.

“Darimana ?” tanya Surtikanti yang entah kapan datangnya sudah duduk dengan muka masam di atas ranjang kamar Banowati.

Surtikanti adalah anak kedua dari 5 bersaudara putra putri Salya. Seperti yang kita tahu, Prabu Salya memiliki 5 anak dari perkawinannya dengan Pujawati. 3 perempuan, yakni, Dewi Herawati, Dewi Surtikanti dan Dewi Banowati. Serta 2 putra yaitu Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata. Hampir sama dengan Banowati, Surtikanti juga memiliki wajah yang cantik dengan kulit kuning langsat. Yang membedakan hanyalah aksesoris yang melekat di tubuh Surtikanti. Putri kedua Prabu Salya ini lebih pesolek dengan bedak menor dan gincu mengkilap kemerahan di bibirnya. Perangainya keras, otoriter , mudah tersinggung dan pemarah.

“Dari pantai” jawab Banowati sambil mendudukkan bokongnya di kursi kecil depan meja hias.

“Tumben…” kali ini nada suara Surtikanti terdengar ketus.

“Sama siapa ?”.

“Sendiri” tangannya yang mungil meraih sisir perak di atas meja.

“Jangan bohong!!!” setengah membentak.

“Siapa yang bohong…” kelit Banowati sibuk menyisir rambutnya.

“Seisi istana sudah tahu kok “.

Banowati diam sejenak. Menaruh sisirnya pelan pelan lalu memutar tubuhnya.

“Tahu apa ?” tanya Banowati pura pura tidak tahu.

Kakak kandung Banowati yang umurnya hanya terpaut dua tahun dari adiknya ini berdiri mendekat.

“Rukmarata memberitahukan semuanya pada ayahanda. Siap siap aja nanti di panggil ayah!!” begitu selesai mengucapkan itu, Surtikanthi ngeloyor keluar kamar meninggalkan adiknya yang dongkol bukan main.

Brengsek !!!.

Banowati menghentakkan kakinya ke tanah. Kesal, marah dan khawatir. Banowati tahu persis bagaimana watak ayahandanya. Keras, arogan dan sangat protektif terhadap anak anaknya terutama anak anak perempuan. Banyak aturan yang harus dia dan kakak kakaknya taati dari ayahandanya. Misalnya, keluar keputren harus di kawal, tidak boleh sembarangan bergaul dengan lelaki, tidak boleh keluar malam dan lain sebagainya. Maka tak heran hingga menginjak dewasa, ketiga putri Salya susah sekali mendapatkan pasangan kendati mereka semua terkenal akan kecantikannya. Berapa banyak pria yang berusaha mendekati mereka, tapi harus menelan kekecewaan karena ayahandanya tidak memberikan persetujuan. Bahkan ayahandanya tak segan segan menghukum siapa saja pria yang berani terlalu jauh bergaul dengan putri putrinya. Perlakuan seperti ini yang kadangkala membuat Banowati dan kakak kakaknya merasa bosan di istana. Mereka tak ubahnya burung nuri di sangkar emas. Menikmati segala fasilitas yang belum tentu di dapat dari wanita kebanyakan, akan tetapi tidak punya kebebasan. Dalam hal jodoh, ketiganya sama sekali tidak di perkenankan memilih selain hanya menerima saja apa yang menjadi pilihan orang tuanya. Apa yang menimpa Herawati sejatinya juga di sebabkan oleh sikap Prabu Salya yang menjodohkan putrinya tanpa meminta pendapat terlebih dahulu dengan yang bersangkutan.

Sebelum di jodohkan dengan Prabu Suyudana, diam diam tanpa sepengetahuan orang lain Herawati sebenarnya telah menjalin hubungan percintaan dengan pria pilihan hatinya. Adalah seorang pria asal Kerajaan Tirtakandasan, sebuah wilayah pulau yang terletak di tengan lautan nun jauh di timur Laut Mandaraka bernama Raden Kartawiyaga, putra Raja Tirtakandasan yang  membuat Herawati jatuh hati. Perkenalan mereka di awali ketika Mandaraka mengadakan pesta larung sesaji di lautan Mandaraka di mana Kartawiyaga berlaku sebagai tamu Mandaraka. Dari perkenalan itu tumbuhlah benih benih cinta mereka berdua. Setiap ada acara yang melibatkan tamu tamu mancanegara, Kartawiyaga selalu hadir mewakili Kerajaan Tirtakandasan. Dan kesempatan itu di manfaatkan betul oleh Kartawiyaga dan Herawati untuk memadu kasih. Tentu saja itu di lakukan dengan diam diam. Tidak sulit bagi Kartawiyaga untuk menyusup ke keputren Mandaraka kendati di jaga ketat sekalipun karena ia memiliki ajian Panglimunan yang jika di terapkan, mata biasa tak mampu melihatnya. Sempat suatu kali Herawati melalui ibunya berusaha merayu Prabu Salya untuk menjodohkan dia dengan Kartawiyaga. Namun di tolak oleh Prabu Salya dengan alasan bahwa Kartawiyaga berasal dari bangsa raksasa.

Sebuah bangsa yang di anggap oleh kebanyakan orang sebagai bangsa yang terbelakang, kampungan dan tak berpendidikan.

Penolakan ini tak ayal membuat Herawati dan Kartawiyaga merasa tidak di hargai. Apalagi di tambah ketika akhirnya mereka tahu bahwa ternyata Prabu Salya telah memilihkan jodoh yang lain buat Herawati, makin pupuslah harapan mereka membina hidup bersama. Dan di dalam kegalauan hati yang tiada kira, sehari menjelang kedatangan Prabu Suyudana yang merupakan pria pilihan orang tuanya, Herawati dengan di bantu Kartawiyaga akhirnya kabur dari istana Mandaraka.

“Limbuuuukkkk….!” teriaknya.

Seorang wanita berbadan gemuk dengan muka bulat, hidung pesek tergopoh gopoh masuk ke kamar Banowati.

“Ada apa ndoro putri ?”.

“Kenapa Rukmarata sampai tahu ?!!” bentak Banowati kesal.

“Saya nggak tahu, ndoro” Limbuk ketakutan.

“Ahhh…khan hanya kita yang tahu soal ini ?”.

“Bener ndoro putri. Limbuk nggak tahu…” pucat pasi Limbuk di omeli Banowati.

Banowati memejamkan mata. Bayang bayang ayahnya yang marah besar sembari memerintahkan para punggawa keraton menangkap Permadi menari nari di pelupuk matanya. Apa yang harus ia katakan pada orang tuanya. Haruskah ia jujur kepada mereka bahwa yang ia temui di pantai adalah raden Permadi yang masih terhitung keponakan ayahnya ?. Oh tidak mungkin. Ini tentu akan mencoreng reputasi Permadi di hadapan ayahandanya.

Boleh jadi ayahnya akan berubah sikap begitu mengetahui bahwa pria yang menemuinya di pantai Mandaraka adalah salah satu ksatria Pandawa. Tapi melihat situasi yang terjadi akhir akhir ini dimana ayahnya sedang membangun aliansi politik dengan Hastinapura, belum tentu juga ayahandanya akan bersikap lunak terhadap Permadi. Bagaimanapun semua anak anak Salya tahu persis seperti apa karakter ayah mereka. Prabu Salya adalah sosok ambisius yang demi meraih cita citanya tak segan melakukan tindakan yang bisa jadi harus mengorbankan orang sekitar, kerabat atau bahkan keluarganya. Apa yang diceritakan ibunya, Pujawati tentang kematian sang kakek Begawan Bagaspati cukup memberi gambaran bagaimana ambisiusnya seorang Salya. Maka, mengatakan terus terang bahwa pria asing yang ia temui adalah Raden Permadi bukanlah solusi tepat.

Tapi untuk mengatakan bahwa yang ia temui bukan Permadi juga serba sulit. Bagaimana jika Rukmarata ternyata mengenal Raden Permadi ?. Mungkin saja Rukmarata telah mengintai sejak awal dan melihat pertarungan Permadi dan Aswatama. Mungkin juga Rukmarata di beritahu Aswatama atau malahan keduanya terlibat kerjasama memergoki mereka ?.

Ya Tuhan…! Apa yang harus aku lakukan ? keluh Banowati dalam hati.

Beberapa saat lamanya putri ke tiga Prabu Salya ini seperti kehilangan otaknya. Buntu, menembus tembok dan gelap gulita. Dia mungkin tak akan menyesali pertemuannya dengan lelaki yang telah membuatnya terpesona. Dia barangkali juga merasa tersanjung telah mengenal lelaki tampan yang banyak di rebutkan para wanita. Kesedihannya bukan karena ia mengenal Permadi, bukan karena telah menemui pria Madukara itu. Tapi kesedihannnya justru kekhawatiran akan nasib yang bakalan menimpa Raden Permadi.

Burisrawa….!

Tiba tiba bibir Banowati menyerukan sebuah nama. Air mukanya mendadak berseri seolah menemukan ide cemerlang demi menyelamatkan Permadi.

Ya. Burisrawa.

Aku harus menemuinya. Siapa lagi yang paling bisa di ajak kerjasama selain adiknya itu ?.

Tanpa menunggu lama, Banowati segera bergegas menuju kediaman Arya Burisrawa yang jaraknya hanya di batasi tembok pemisah setinggi 2 meter antara ksatrian dan keputren.




Bersambung .......

Oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak