Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 3)

Menggelegak darah Aswatama mendengar ucapan ucapan bernada mengejek Banowati. Lumer sudah rasa simpati dan kekagumannya pada anak Prabu Salya ini. Berganti dengan perasaan benci tiada tara.

“Iya...!. Aswatama hanyalah anak padepokan Sokalima yang berkasta rendahan, berwajah jelek dan tidak layak menjadi pengawal istana Mandaraka”.

Habis sudah kesabaran Aswatama.

“Aku tidak akan melaporkan kasus ini pada Prabu Salya. Tapi ingat baik baik. Aswatama tidak akan pernah membiarkanmu mendapatkan apapun yang kamu inginkan!!” ancam Aswatama lalu melompat mendekati Banowati.

Sekedar menakut nakuti atau ada hal lain yang membuat Aswatama harus mengeluarkan senjata pamungkasnya. Brahmastra. Senjata nan mematikan anugerah Dewa Brahma. Yang jika melesat dari busurnya, segala sesuatu yang di lewatinya akan terbakar. Jika  melintasi samudera, menjadi mendidihlah air samudera. Bahkan pengaruh suara desingan peluru Brahmastra yang bergemuruh memekakkan telinga sanggup menggugurkan setiap janin yang terkandung dalam rahim ibu hamil. Permadi sendiri sejatinya juga di karuniai senjata jenis peluru kendali ini oleh Dewa Brahma. Dan bisa saja ia mencabutnya untuk melawan Brahmastra milik Aswatama. Akan tetapi, sepertinya adu kuat dua Brahmastra bukanlah penyelesaian yang bijak. Bukan saja akibat yang akan di timbulkan jika kedua senjata sejenis ini beradu, tetapi menurut petuah Brahma, senjata ini hanya bisa di keluarkan sekali saja. Sungguh tidak sebanding dengan kesalahpahaman yang sangat sepele ini. Brahmastra seharusnya tidak di gunakan sembarangan. Hanya karena keterpaksaan saja senjata ini layak di gunakan. Alasan lain, tentu saja karena Aswatama adalah anak kesayangan dari guru Durna yang sangat ia hormati. Jika Guru Durna tahu, ia membunuh Aswatama, tentu akibat yang akan di timbulkan tidaklah kecil. Durna akan mengutuk Permadi, menganggapnya sebagai murid yang murtad. Dan yang paling mengkhawatirkan, kematian Aswatama bisa mempercepat terjadinya perang baratayuda antara Pandawa dan Kurawa. Ini yang paling tidak di inginkan. Bagaimanapun, posisi Amarta sebagai negara baru masih teramat lemah. Belum saatnya membuat perhitungan dengan Hastina.

Maka, jalan satu satunya menyelesaikan sengketa ini adalah memberitahu Aswatama sebelum ia melepaskan senjatanya. Bahwa musuh yang dia hadapi adalah saudara seperguruannya. Ya…!. Itu cara terbaik…

Perlahan Permadi menarik nafas, membuka penutup mukanya lalu berjalan perlahan mendekati Aswatama.

“Tahan amarahmu, Aswatama !!” teriak Permadi pada Aswatama.

“Aku Permadi putra Pandu !”.

“Permadi ?” Aswatama terkejut. Tapi masih belum mau percaya begitu saja.

“Raden Permadi bukan orang yang begitu pengecut menculik putri pamannya !” sanggah Aswatama.

Hem…! Jadi inikah yang melatar belakangi kenapa Aswatama begitu bernafsu membunuhnya ?. pikir Permadi. Pantas saja dia nekat mengeluarkan senjata pamungkasnya.

“Turunkan senjatamu, Aswatama. Dan lihat baik baik siapa aku !” ucap Permadi seraya menghentikan langkah tepat dua meter di hadapan sang Aswatama. Cahaya Brahmstra yang kemerahan menerpa tubuh Permadi, dan menjadi nampak jelaslah bagi Aswatama siapa yang ia hadapi.

“Oh….Permadi…?” kata Aswatama sedikit gugup.

“Kenapa tidak ngomong dari tadi ?” putra Begawan Durna itu perlahan mengendurkan tali busurnya dan dengan sedikit mantra, Brahmastra di tangannya mendadak lenyap.

“Maafkan saya, kakang Aswatama” Permadi merendahkan suaranya.

Aswatama mengangguk anggukkan kepalanya.

“Tapi kenapa mesti membawa Dewi Banowati keluar dari keputren Mandaraka ?” tanya Aswatama merasa di atas angin.

“Bukan membawa. Tapi ?”

“Ahhh….kamu ini ksatria terhormat Permadi” potong Aswatama. “Apa tidak ada cara lain selain bertemu perempuan di tempat sepi seperti ini ?”.

“Gunakan otakmu Permadi…!” setengah meledek.

“Kalau Prabu Salya tahu, apakah kamu bisa lolos dari hukuman beliau ?”

Permadi menggerutu dalam hati. Berani benar Aswatama menakut nakutinya. Di depan Banowati pula.

“Ooh…. kamu yang namanya Aswatama ?”

Tiba tiba dari arah belakang Permadi, datang sosok wanita beraroma melati yang langsung saja menghardik Aswatama.

“Saya Aswatama” jawab Aswatama sembari menatap ke arah sosok perempuan di depannya. Sejenak Aswatama terperangah menyaksikan sosok cantik yang walau terlihat samar di bawah terang rembulan di pagi itu.

Cantik….!. hampir saja Aswatama tak bisa menahan ucapannya. Ini pertama kalinya Aswatama melihat langsung Banowati, karena selama ini ia hanya bisa menyaksikan kecantikan putri Mandaraka ini dari lukisan. Itupun karena sebuah tugas yang di berikan Prabu Suyudana beberapa hari lalu untuk membantu mengamankan istana Mandaraka. Terutama mengamankan putra putri Prabu Salya dari gangguan penculik. Jika tidak, belum tentu Aswatama berkesempatan mengenal lebih dekat perempuan paling cantik di Mandaraka ini.

“Kamu bukan orang Mandaraka. Kenapa ikut campur urusan kami ?” tuding Banowati sinis.

“Saya….saya… di tugaskan oleh Prabu Duryudana”  sang Aswatama membela diri.

“Oh…begitu ?” ejek Banowati ketus bukan main.

“Raden Arjuna ini tamuku” sembari menatap nanar pada Aswatama sementara telunjuknya mengarah pada Arjuna. “Aku mau menemuinya di mana saja terserah aku…”.

Pucat sudah mimik Aswatama. Pemuda Sokalima ini sama sekali tak menduga perempuan molek ini bisa begitu galak terhadapnya. Seolah dirinya bukan lagi pria terhormat putra kesayangan Guru para keturunan Kuru.

“Apa ?” Banowati makin beringas menantang, “mau melaporkan ke ayahanda ?. Mau cari muka ?. Memangnya kamu siapa ?. Ksatria, bukan ?”.

“Lihat wajahmu. Apa pantas kamu mengawal keputren Mandaraka ?. Katakan pada majikanmu, Banowati tidak sudi menerima budi baik pertolongannya!”.

Menggelegak darah Aswatama mendengar ucapan ucapan bernada mengejek Banowati. Lumer sudah rasa simpati dan kekagumannya pada anak Prabu Salya ini. Berganti dengan perasaan benci tiada tara.

“Iya...!. Aswatama hanyalah anak padepokan Sokalima yang berkasta rendahan, berwajah jelek dan tidak layak menjadi pengawal istana Mandaraka”.

Habis sudah kesabaran Aswatama.

“Aku tidak akan melaporkan kasus ini pada Prabu Salya. Tapi ingat baik baik. Aswatama tidak akan pernah membiarkanmu mendapatkan apapun yang kamu inginkan!!” ancam Aswatama lalu melompat mendekati Banowati.

“Carilah pendamping yang bisa menjamin keselamatanmu, agar mulutmu yang beracun itu tidak aku bungkam selama lamanya” bisik Aswatama serius.

“Anak anak!!!. Kita pulang ke Sokalima !!!” komando sang Aswatama kepada para pengikutnya.

Dengan langkah tertatih tatih, belasan pengikut Aswatama berlalu dari hadapan Arjuna dan Banowati. Sejenak kemudian mereka telah menghilang di balik kabut tipis pagi itu.

Kokok ayam bertalu talu, pertanda sang surya terbangun dan menjalankan tugasnya menghangatkan mayapada. Permadi mendekati Banowati yang masih berdiri mematung. Ada rasa tak percaya dalam diri Arjuna. Pembelaan Banowati di depan Aswatama sungguh membuatnya bertanya tanya. Apa gerangan yang membuat putri Prabu Salya itu sedemikian beraninya menghardik dan menghina Aswatama. Apa pentingnya membela pria yang baru di kenalnya beberapa saat yang lalu ?.

“Maafkan aku dinda” Permadi lirih.

Banowati terdiam. Ancaman Aswatama terngiang ngiang di telinganya. Jengkel, marah dan rasa benci menyusup di hatinya. Pemuda Sokalima itu sepertinya tidak main main.

“Dia mau membunuhku” rengek Banowati.

Permadi terhenyak. Tapi cepat cepat ia berusaha untuk tidak ikutan panik.

“Dia mengatakan itu ?”.

Banowati mengangguk.

Permadi menarik nafas dalam dalam, tangannya yang kekar meraih pundak Banowati. Memeluknya erat. Seakan tak ingin tubuh harum nan gemulai itu pergi darinya. Sementara Banowati hanya bisa terdiam tak berdaya. Entah mengapa pria yang baru tadi di kenalnya ini begitu mempesona hatinya. Sikapnya, caranya berbicara dan aksinya menghalau para pengikut Aswatama sungguh membuat Banowati terjerembab ke dalam perasaan yang ia sendiri tak bisa menerka apakah gerangan artinya.

“Aku takut…” ucap Banowati.

“Tenang dinda “hibur Permadi.

“Aswatama tidak akan berani mengganggumu. Dia memang biasa mengancam. Aku mengenal betul siapa Aswatama”.

“Tapi sepertinya dia serius, raden” ragu.

Permadi meraih pundak Banowati. Mengelus rambutnya, seakan ingin meyakinkan pada Banowati bahwa tidak akan terjadi apa apa padanya. Matanya yang tajam menatap hangat bola mata Banowati.

“Selama aku masih hidup, aku bersumpah akan melindungimu selamanya” janji Permadi.

Lega hati Banowati mendengar apa yang di ucapkan pria di hadapannya.

Rona merah menyeruak di ufuk timur. Pertanda sang surya sebentar lagi akan menampakkan kehangatannya. Angin semilir menerpa pepohonan nyiur. Membuat dedaunannya menari nari indah menyambut datangnya pagi.

“Raden..” ucap Banowati melepaskan diri dari pelukan Permadi.

“Ya….”.

“Lupa ya ?” tanya Banowati.

“Apa ?” Permadi tak mengerti.

“Iiiiihhhh….raden gitu deh..!” rajuk Banowati manja.

“Iya….apa …?”.

“Tuh khan…..”.

Permadikebingungan.

“Katakan dulu lupa apanya ?”.

“Huuuuuuhhhhh”

  

Sebuah cubitan kecil mendarat di tangan Permadi. Ksatria Madukara itu menyeringai kesakitan.

“Kemarin bilang sama mas Gareng apa ?”.

“Ehmmmm…..bilang apa ya ?” menggaruk garuk kepala.

“Katanya mau ngajak dinda melihat matahari terbit ?” Banowati mengingatkan.

“Ohhhh iya……”

Permadi tersadar. Di raihnya tangan Banowati. Kemudian keduanya berlarian menuju ke tempat di mana pertama kali tadi mereka bertemu. Sebuah batu besar yang di bawahnya ombak laut menderu deru menghantam dan memercikkan butiran butiran bening ke atas.

Bagaimana kisah Banowati dan Permadi selanjutnya ?
Ikuti terus Wayang Gaul Gubrak di seri selanjutnya.
Aja klalen ya....


oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak