Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 2)

“Lepaskan Banowati, sebelum Brahmastra mencabut nyawamu, bedebah !!!!”

Kali ini si penyerang melompat mundur, mencabut busur panahnya sembari komat kamit merapalkan ajian.

Aswatama !!! pekik Arjuna segera mengenali musuhnya.

Malam belum beranjak. Semilir angin laut di iringi deburan ombak menyapu pantai Mandaraka. Membawa hawa dingin nan menyengat menusuk setiap pori pori. Samar samar di bawah payung cahaya rembulan sesosok manusia duduk bersila dengan gagah di atas batu karang di tepian pantai. Gemericik ombak yang menghantam karang dan menimbulkan luapan butiran butiran air sesekali melenting dan mengguyur badannya. Tak ada reaksi. Bahkan tak ada usaha untuk menghindari cipratan butir bening yang kian lama membasahi pakaiannya. Posisi duduknya tetap sempurna, seolah menantang cuaca dingin nan menyengat. Dialah Panengah Pandawa, pewaris kekuatan Dewa Indra. Juga perwujudan dari awatara Dewa Wisnu yang menjelma di dunia. Raden Permadi.



Bagi putra Kunti ini, duduk bersemedi semalam suntuk tanpa merasa kantuk bukan sesuatu yang sulit. Sejak kecil ia gemar sekali bertapa dan menyendiri di tempat tempat sepi demi mengasah kemampuan batinnya. Konon dalam sebuah semedinya di gunung Indrakila, para bidadari yang di pimpin ratu kecantikan surga Dewi Supraba sempat di buat jengkel oleh keteguhan Permadi dalam bertapa. Segala cara telah ia lakukan, termasuk melepas semua pakaiannya agar Arjuna membatalkan tapa bratanya. Tapi usaha Supraba tampak sia sia, sehingga dia harus kembali menghadap Dewa Indra untuk melaporkan kegagalannya menggoda Permadi. Dewa Indra kemudian turun ke Indrakila dan menganugerahi senjata senjata sakti yang membuat Permadi tak terkalahkan. Permadi juga di warisi sifat sifat Indra, sang Dewa Perang. Kelak di perang Baratayuda, Permadi menjadi salah satu ujung tombak Amarta dan menjadi ksatria unggul yang tak pernah kalah karena selalu di naungi anugrah Indra.

                

“Raden…”


Sebuah panggilan lirih menyeruak masuk di telinga sang Dananjaya. Terdengar sangat merdu dengan intonasi lembut dan menggoda.


Inikah Banowati ?. Pikir Arjuna menerka.


Oh….

Kenapa hatiku mendadak terguncang ?

Kenapa persendianku seolah luruh tak berdaya ?

Di mana ?

Di mana kekuatanku…


Hati Permadi seolah kecut. Batinnya meradang. Ingin ia bertahan dalam kesenyapannya dan bertingkah seolah tak peduli dengan suara itu. Tapi suara itu terus saja merayap menyusuri setiap inci tubuhnya. Membelai hangat kulitnya dan mendobrak sanubarinya. Membuat Permadi nyaris pingsan oleh kekuatan maha dahsyat dari sang pemilik suara.

 
Banowati …! sahut Permadi tercekat.


“Sudah lama menunggu ?”

Sesosok perempuan bertubuh mungil dengan bau harum melati semerbak duduk bertumpu lutut di sebelah Permadi. Rambutnya yang terurai sepanjang pinggang berkibar kibar di terpa angin nan sepoi sepoi.

“ Ehmmm….oohhh…!” entah mengapa seolah tenggorokan Arjuna serasa kering kerontang.


“Engg….nggak…!” lanjutnya terbata bata.


Ya Tuhan…
Kenapa aku jadi begini ?                    
Permadi berusaha keras mengatasi kegugupannya. Matanya yang sanggup menembus kegelapan melirik pelan ke arah perempuan di sampingnya. Benar benar perwujudan ciptaan Tuhan yang istimewa. Berkulit kuning langsat, berhidung mancung dengan tahi lalat lentik di pipi kanannya. Matanya agak sipit tapi memiliki tatapan misterius dan menggoda. Bibirnya tipis kemerahan kendati tak bergincu sekalipun. Penampilannya cukup sederhana, tanpa banyak mengenakan aksesoris yang bermacam macam. Hanya seuntai kalung terbuat dari mutiara di tambah gelang gelang terbuat dari emas berwarna kekuningan. Apa yang di katakan oleh ketiga pelayannya sungguh bukan omong kosong. Gadis cantik di sampingnya ini memang mirip sekali dengan Dewi Anggraeni


“Saya Banowati…”.


Ucapnya lirih tanpa memalingkan wajah ke arah pemuda di sisinya. Kedua bola matanya menatap lurus ke depan, memandangi lautan luas yang di siram cahaya bulan. Sama sekali tidak ada rasa takut atau khawatir kendati ia sama sekali belum mengenal pria di sampingnya.


“Mandaraka tak se indah Amarta ya ?” banowati membuka pembicaraan. Terdengar halus dan sedikit manja.


“Oh bukan bukan…” sahut Permadi masih terlihat gugup.


“Kata ayah, Amarta apalagi Madukara jauh lebih indah dari Pantai Mandaraka yang hanya menyajikan pemandangan pasir dan deburan ombak”.


“Ehmmm….” Permadi mendehem. Di balik penampilannya yang terkesan kalem, ternyata gadis ini pandai bicara juga. Pikirnya.


“Taman Madukara lebih terawat. Aneka macam jenis bunga dan buah buahan ada di sana. Kalau mau makan tinggal memetik tanpa harus memanjat. Setiap pagi, para seniman ksatrian selalu membunyikan gamelan gamelan dan bernyanyi menyambut mentari. Membuat seluruh penduduk terbangun dan bersemangat” cerocos banowati mengalir begitu saja tanpa mempedulikan raut wajah Permadi yang makin salah tingkah.


“Tidak seperti Mandaraka, air lautnya keruh. Di Madukara, air sungainya bening laksana kaca. Para emban tak perlu repot mencari mata air untuk memenuhi kebutuhan dapur. Cukup mengambilnya dari sungai. Wow…”.


“Ah…!. Ayahmu terlalu berlebihan “ sahut Permadi merendah.


“Aku suka suasana di sini..”.


“Ah bohong…” Banowati setengah manja.


“ Biasa aja. Apanya yang menarik ?” ketus.


“Pantainya…ehmmm…pasirnya lembut…ehmm… apa ya ?” berpikir sejenak. Benar benar wanita yang memiliki kepercayaan diri luar biasa. Tingkahnya yang seolah sudah kenal lama benar benar membuat hati Permadi makin penasaran.


“Oh iya…wangi….!” lanjut Permadi sekenanya.


“Wangi ?” Banowati heran.


“Mmmmm maksudku…ya….wangi”


“Apanya ?” sewot.


Aduh gusti. Kenapa aku jadi salah tingkah begini. Serapah Permadi menyalahkan diri sendiri.


"Huuuh..." Banowati memonyongkan mulutnya. Kedua tangannya di sedekapkan di depan dada.


“Sebentar…” tiba tiba Arjuna meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Seperti ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar mereka. Perlahan ia mengambil busur panahnya. Matanya yang tajam melirik ke belakang, mengamati setiap benda yang ada di sekelilingnya.


“Kenapa ?” tanya Banowati sembari menurunkan kedua tangannya. Bola matanya ikut ikutan memandang ke sekitar. Tapi kemudian menggelengkan kepala.


"Nggak ada apa apa khan ?"


Permadi mengangkat tubuhnya, berbalik arah dengan sorot makin waspada.


“Tadi sendiri atau sama siapa ?”


Banowati mengernyitkan dahinya.


“Sendiri…”.


“Bener ?” desak Permadi semakin waspada.


“He em..”.


Tiba tiba Permadi mencabut sebuah kain berwarna kuning dari pinggangnya dan di pakai untuk menutupi sebagian muka dan hanya menampakkan dua bola matanya. Banowati yang tak mengerti dengan tingkah laku Permadi beringsut mundur menjauhi satria tampan di sampingnya.

 
Suasana mendadak mencekam. Angin seolah berhenti bertiup. Sementara Banowati tampak menahan nafas dan mulai khawatir akan terjadi apa apa. Lengan kiri Permadi kukuh memegang busur panah yang siap untuk di isi peluru. Belasan bayangan hitam tiba tiba muncul dari pepohonan nyiur yang berbaris rapi di sepanjang pantai. Tamu tamu asing itu kemudian bergerak cepat mengepung lokasi di mana Arjuna dan Banowati berada. Gerakannya cukup rapi. Menandakan bahwa para pengepung ini cukup terlatih.


“Pegang ini...!” teriak Permadi seraya melemparkan sebuah selendang  ke arah Banowati yang mulai tersadar akan adanya ancaman dari para penyerbu.


Dan dengan gerakan secepat kilat tubuh Banowati telah terikat erat di punggung pendekar Madukara itu. Sedetik kemudian sebuah teriakan keras terdengar dari arah para penyerang yang kemudian di ikuti meluncurnya sebuah tombak sepanjang satu meter deras mengarah ke dada Permadi.


Trang!!!


Dengan sigap Permadi menghalau tombak itu dengan busur panahnya. Seketika tombak bermata baja itu patah berkeping keping begitu mengenai busur pusaka Permadi.


Sejenak belasan penyerang itu terkesima melihat kemampuan Permadi mematahkan tombak mereka. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa busur panah di tangan Permadi adalah pusaka sakti pemberian Indra bernama Gendewa. Konon pusaka ini memiliki keistimewaan luar biasa. Jika ia di pakai untuk melepaskan anak panah, maka berapapun panah yang di lepas tidak akan habis habis. Terbuat dari kayu, akan tetapi kekerasannya lebih keras dari besi baja sekalipun.


"Serbuuuu....!" teriak salah satunya yang kemudian di ikuti kawan kawannya yang serentak menyergap dengan menyabetkan parang, keris dan pedangnya.

 
Kilatan percik api akibat beradunya dua senjata mengoyak suasana fajar. Kendati sedang menggendong Banowati, tampak sekali putra Pandu ini tak mengalami kesulitan menghadapi musuh yang memang bukan kelasnya. Berkali kali para penyerang melengking kesakitan menahan nyeri ketika senjatanya berbenturan dengan busur Permadi. Namun hingga lima jurus berlalu, sama sekali tak ada tanda tanda mereka bakal menyerah. Justru mereka makin marah dan merasa di ejek oleh Permadi yang sepertinya tidak serius bertarung.


"Gunakan formasi Srigala Memburu mangsa !!!" teriak salah satu dari mereka.


"Formasi Sokalima ?" Permadi langsung tanggap. Ini jurus keroyokan yang biasa di gunakan untuk menghadapi musuh yang lebih kuat. Tehniknya adalah berkeliling mengitari sasaran, sesekali menyerang, lalu mundur menghindar. Kadangkala berteriak menggertak untuk melemahkan mental musuh dan sesekali maju bersamaan. Menghadapi formasi ini membutuhkan kesabaran, karena seperti halnya srigala memburu mangsanya, mereka di tuntut untuk mencari celah kelengahan dari musuhnya.


Permadi memutar otaknya. Sudah jelas para penyerangnya adalah orang orang dari Sokalima. Dan tak ada waktu untuk main main lagi.


Aaarrrrghhhh.....!!!!

Tiba tiba Permadi berteriak keras laksana macan yang mengaum. Ciut juga nyali penyerangnya. Dengan sigap mereka berlompatan mundur untuk menghindari kemungkinan yang tidak di inginkan. Kesempatan ini di manfaatkan oleh Permadi untuk meraih belasan anak panah dari kantongnya, menarik busur, lalu dengan gerakan secepat kilat, mata panah itu melesat menghajar musuh. Dan dalam hitungan detik satu persatu para pengepungnya bertumbangan dan meraung raung memegangi kakinya yang tertembus anak panah.


Permadi menarik nafas lega, lalu menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum ke arah Banowati yang ketakutan setengah mati.


"Sudah beres..." kata Permadi sembari menurunkan Banowati dari gendongannya. Banowati hanya bisa melongo keheranan melihat apa yang terjadi. Dia sama sekali tak menyangka kalau pemuda yang di temuinya pagi ini begitu gampang menakhlukkan musuh yang padahal jumlahnya banyak.


"Terima kasih, raden..." ucap Banowati tak bisa menyembunyikan kekagumannya.


"Sudahlah..." Permadi menyimpan kembali busur panahnya di pinggang.


“Jangan senang dulu wahai bangsat !!!”


Tiba tiba entah darimana asalnya suara itu, sekelebat bayangan menerjang  Permadi. Gerakannya sangat cepat dan lebih bertenaga daripada penyerang sebelumnya. Beberapa kali Permadi nyaris terjengkang dan tak bisa menguasai diri akibat di serang secara bertubi tubi dari semua sisi. Sebagai seorang pendekar yang kenyang akan pengalaman, ksatria Madukara ini segera tahu bahwa penyerangnya kali ini bukan sembarang orang. Terbukti beberapa kali ia adu pukul, ia seolah menghadapi gada besi yang keras nan mematikan. Mungkin jika bukan Permadi yang menjadi lawannya, sudah barangkali remuk oleh pukulan lawannya ini.



“Lepaskan Banowati, sebelum Brahmastra mencabut nyawamu, bedebah !!!!”


Kali ini si penyerang melompat mundur, mencabut busur panahnya sembari komat kamit merapalkan ajian.

 
Aswatama !!! pekik Permadi segera mengenali.

 
Ya, siapa lagi pemilik Panah Brahmastra selain putra Begawan Durna. Senjata ini terkenal mematikan. Setahu Permadi, jarang sekali Aswatama berkenan mengeluarkan senjata pamungkasnya itu. Hanya dalam kondisi tertentu saja ia memamerkan kemampuan Brahmastra. Panah itu anugrah Brahma, jika ia mengenai musuh, akan mengakibatkan luka bakar parah dan susah di sembuhkan. Seluruh tubuh akan melepuh, sementara bagian tubuh yang terkena Brahmastra akan menghitam dan terbakar hangus.

 
Di samping memiliki senjata andalan Brahmastra, Aswatama di kenal sebagai jago panah yang jarang gagal menembak sasaran. Dia tahu persis kemampuan Aswatama mengingat dulu ia dan Aswatama pernah satu perguruan di Sokalima. Di antara sekian banyak murid Guru Durna, hanya dia dan Aswatama yang paling ahli memanah. Walaupun belum pernah bertanding serius, tapi menurut Permadi, sangat tidak mudah untuk mengalahkan Aswatama terutama dalam hal panahan. Apalagi posisinya sebagai anak tunggal Begawan Durna, tentu putra tercintanya ini juga di turunkan ilmu ilmu hebat yang belum tentu di wariskan ke murid lain.


“Aku tahu engkau bukan jagoan biasa, tapi aku peringatkan sekali lagi !” ancam Aswatama sembari menarik busur panahnya.

 
“Panah ini punya mata tapi tak punya hati. Maka sekali lagi aku peringatkan. Lepaskan Banowati !”.


Kali ini suara Aswatama terdengar menggelegar bak petir. Air mukanya memerah darah. Kedua kakinya yang sekokoh kaki kuda menghentak hentak bumi. Dalam hitungan detik pemuda akan mengirimkan panah Brahmastra. Akankah Permadi mengeluarkan juga senjata pamungkasnya untuk menghalau serangan Aswatama ?.



Nantikan seri selanjutnya ya….





Bersambung



Oleh : Ki Dainx Dalang Gubrak