Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kembalinya Garuda Buntung PART 3

Tekad bulat telah menggumpal di dada. Berat memang. Butuh pengorbanan yang tidak sedikit, seperti yang pernah ustadz Alay sampaikan. Bahwa skenarionya mungkin tidak sesimple yang kita pikirkan. Bisa saja uang itu tidak hanya berputar  ke satu dua tangan, tapi bisa belasan, puluhan dan ratusan kali transaksi. Kemungkinan juga, uang itu tak sekedar beredar di seputaran Jakarta, tapi boleh jadi telah keluar kota, mendaki gunung, melintasi samudra, merambah hutan dan tersesat di pulau pulau terpencil. Bisa jadi…

Paijo membuka dompetnya. Sebuah cincin perak bermahkotakan batu mulia berwarna hijau menyembul di antara puluhan uang pecahan seribu rupiah.


Belum Baca Kembalinya Garuda Buntung yang PART 1 dan 2 silahkan baca di SINI
atau Kembalinya Garuda Buntung Part 2   
“Ane kaga punya ape ape, Jo” ucap ustadz Alay sembari meloloskan sebuah cincin dari jari kelingkingnya, “ ini warisan dari guru ane waktu di pesantren, ente pegang aje Jo”.
“Jimat, tadz ?”

Ustadz Alay mengangguk anggukkan kepala, entah mengiyakan atau tidak.

“Khan ini bid’ah, tadz ?” Paijo ragu ragu.

“Udeh, kaga usah banyak protes, ntar juga ketemu jawabannya” timpal ustadz Alay tak mau berpolemik.

Paijo kembali melipat dompetnya, meletakkannya di saku celana sebelah kanan. Sementara cincin batu itu kini melekat erat di jari kirinya.

Bodoh amat dengan bid’ah. Pikir Paijo. Yang jelas keberadaan cincin itu bagi Paijo selain menambah rasa kepercayaan diri Paijo, juga menjadi wakil dari ustadz Alay di sepanjang perjalanannya nanti. Apalagi kata ustadz Alay, cincin itu warisan dari gurunya. Tentu bukanlah sembarang cincin. Bisa jadi ada jinnya…!!!!

Ha ha ha ha…..

Seringai Paijo menepuk jok sepeda bututnya. Sejurus kemudian mesin angin itu perlahan melesat menjauhi gubuk Paijo.

Era baru dimulai. Era yang barangkali penuh onak berduri. Era di mana Paijo harus menunjukkan kepada dunia bahwa ia masih punya harga diri. Masih punya cita cita mulia untuk ia perjuangkan. Selembar uang pecahan seribu dengan cacat buntung di bagian sayap garudanya kini di mata Paijo tidak lagi setara dengan nilai dua gorengan atau dua gelas air mineral. Ia telah menjelma tak ubahnya intan berlian peninggalan Raja Raja dahulu yang tak bisa di nilai dengan materi. Ia telah menjadi bagian dari sejarah yang tertulis dalam tinta emas dan harus di jaga dengan keringat dan kalau perlu darah. Tak peduli berapa jarak yang mesti ia tempuh. Tak peduli berapa banyak manusia yang harus ia cari dan ia mintai keterangan perihal aliran uang itu, tak peduli ia harus menerima cibiran orang orang yang tak mengerti masalah, Paijo telah membuat ketetapan. Ia harus mencari jawabannya. Ya…jawaban…!

Paijo menggeber sepeda bututnya tergesa gesa. Menuju pinggiran kota dimana dulu uang itu ia serahkan kepada seorang penjaga parkir berseragam ormas. Hanya butuh kurang dari satu jam Paijo telah mencapai lokasi. Sebuah kebun kosong dengan tanaman ilalang tersaji di depan mata. Paijo nyaris tak percaya, apakah ini lokasi yang kemarin pernah ia temui ?. Jangan jangan ia salah alamat ?.

Oh tidak!. Pohon besar dimana ia pernah memarkir sepedanya masih berdiri kokoh di kebun itu. Jalanan setapak yang walau sudah di tumbuhi rumput rumput liar masih jelas terlihat bekasnya. Pintu masuk Pasar Malam yang terbuat dari bambu juga masih teronggok di situ, walau beberapa bagiannya telah lapuk. Tidak salah. Inilah tempatnya…

Tapi, dimana pria berseragam ormas yang sempat menghardiknya itu ?

Paijo terbengong bengong. Matanya menyapu ke semua area sembari berharap ada orang yang bisa ia mintai keterangan. Sejenak Paijo memutar otak. Tak mungkin ia terus terusan diam di tempat yang sekarang berubah menjadi sepi sesunyi kuburan itu. Iya kalau ada yang bisa ia temui, kalau tidak ?. Tidak mungkin ia menggelar tenda dan menunggu ada orang yang dating kesitu hingga esok hari.

Oh….!!! Tak jauh dari tempat ini ada sebuah kampung padat penduduk yang mungkin bisa membantu menemukan buronannya. Dan tanpa pikir panjang Paijo segera bergerak menuju perkampungan yang terpaut beberapa ratus meter dari tempatnya berdiri. Sepuluh menit kemudian ia telah sampai di tempat yang di tuju. Sebuah gapura kecil bertuliskan nama kampung  tertera di bagian atas berwarna kuning kusam. Perkampungan yang cukup padat, walaupun rata rata terdiri dari bangunan bangunan sederhana, kecil dan terkesan kumuh. Tapi Paijo sangat yakin bahwa penduduk di situ pasti banyak yang tahu kalau dua bulan lalu ada even pasar malam di kebun kosong di luar kampungnya.

“Dik….!” panggil Paijo pada 3 anak kecil berusia 9 tahunan yang sedang asyik main gundu di pinggir jalan.

Seorang darinya kemudian menoleh dan mendatangi Paijo.

“Rumahnya pak RT dimana ya ?” tanya Paijo.

Bocah itu tak segera menjawab. Matanya menatap heran ke arah Paijo penuh selidik. Tapi sebentar kemudian ia menjawab, “tuh, rumah warna orange di ujung jalan” telunjuknya mengarahkan Paijo.

“Makasih ya dik” Paijo menaiki sepedanya, dan bergegas.

“Hati hati bang, pak RT abis ribut semalam”

“Ribut ?” Paijo menurunkan kakinya.

“Ribut gimana dik ?” tanya Paijo penasaran.

“Biasa bang….!. Bininya di bawa kabur bang Jeki…”

“Bang Jeki siapa ?”

“Preman kampung ini bang…”

“Yang mana ?” Paijo makin penasaran.

“Yang pegang kawasan Pasar Malam di sono tuh…!” telunjuk bocah itu menunjuk ke arah luar desa. Searah dengan lokasi di mana tadi Paijo berhenti.

“Kebun kosong itu ?”

“Ya!!”

Paijo mengerutkan dahinya. Jangan jangan…

“Bang Jeki tuh yang rambutnya cepak, badannya besar, trus  tahi lalatnya di deket alis itu ya ?” Paijo berusaha mengingat tampang pria yang pernah memerasnya tempo silam.

“Kok abang kenal ?”

“Adik tahu rumahnya gak ?” cecar Paijo tanpa mempedulikan pertanyaan bocah SD itu.

“Tahu, tapi orangnya udah kabur bang….”.

“Apa ?????” Paijo terkesiap. Rona kecewa menggelayuti air mukanya. Berita buruk bagi misinya jika ia gagal menemukan Jeki preman pasar malam.

“Kabur kemana ?” desak Paijo.

Bocah itu menggaruk garuk kepala.

“Kemana ?” setengah membentak.

“Nggak tahu, bang. Tanya pak RT aja…”. Sejurus kemudian bocah itu dengan acuh meninggalkan Paijo.

Ingin rasanya Paijo menginvestigasi bocah itu lebih jauh, tapi ia urungkan. Anak kecil mana paham urusan orang dewasa. Dengan langkah gontai, Paijo mengayuh sepeda anginnya menuju rumah berwarna orange di ujung jalan. Selembar bendera warna merah putih yang terpasang di sebatang bilahan bambu di belakang jok sepedanya berkibar kibar mengiringi perjalanan Paijo.

“Si Jeki bangsat itu telah menghancurkan kehidupan bapak”

Pria tua dengan rambut yang semuanya hampir memutih itu tampak muram. Bibirnya yang kering tak henti hentinya menghembuskan asap rokok berbau kemenyan. Paijo hanya bisa diam menyimak segala keluh kesah yang keluar dari mulut ketua RT kampung itu. Jika bukan karena ia hendak mencari pria bernama Jeki itu, tentu Paijo malas mendengarkan curhat sang Ketua RT.

“Dulu, bapak yang menolong dia. Mempekerjakan dia sebagai keamanan di kampung ini “tutur pak RT bergetar menahan pilu.

“Semua orang menganggapnya sampah pengangguran yang tak punya masa depan. Bapak yang ngangkat harkatnya. Bapak yang mengeluarkan dia dari comberan…!”

“Tapi apa yang bapak dapat ? apa ?” pria itu setengah melengking.

“Bajingan!!!!”

Brakk!!!

Serapahnya sembari menggebrak meja.

“Maaf, pak “ Paijo menyela,” menurut Paijo, barangkali ada masalah lain yang membuat istri bapak berhianat ?”

Pak RT tertegun. Matanya yang sipit melotot seolah hendak menelanjangi Paijo.

“Maaf…” Paijo jadi serba salah. Ada rasa sesal karena ia telah terlalu jauh menanggapi curhat sang RT.

Sejenak keduanya terdiam dalam pikirannya masing masing. Ada sesuatu yang hendak Paijo katakan, tapi ia takut justru akan memperparah penderitaan tuan rumah. Dalam pandangan Paijo, secara ekonomi pria di depannya ini cukup mapan. Apalagi kalau di banding dengan Jeki preman pasar malam itu. Kalau nggak lebih mapan, mana mungkin dia mau bekerja di rumah pak RT. Sebagai keamanan rumah dan juga keamanan kampung. Bagaimanapun, faktor ekonomi adalah salah satu yang utama dalam membina rumah tangga. Apalagi perempuan jaman sekarang, cinta nomer sekian….! Nomer satu sudah barang tentu materi. Itu pula yang membuat Paijo hingga saat ini belum mendapatkan tambatan hati pujaan jiwa. Kemiskinan.

Dari segi penampilan, biar sudah uzur tapi orang tua di depan Paijo itu sepertinya tidak kalah tampan dengan Jeki. Cara berpakaiannya lebih rapi dan setidaknya reputasinya di masyarakat lebih terhormat. Namun jika itu masih saja tidak mampu membuat istrinya bertahan untuk setia, sudah pasti ada faktor X yang fundamental dalam mempengaruhi kehidupan rumah tangga.

Mungkinkah ???.

Paijo seolah menemukan jawaban. Otaknya melayang mengingat sesuatu. Ya…!. Sebuah penelitian kesehatan. Ya….!.Setidaknya menurut survey, 6 dari 10 pria mengalami masalah disfungsi ereksi.

Waduhhhh….! Paijo tercengang.

“Ya…!” pak RT tiba tiba memecah keheningan. Lelaki tua ini seolah tahu apa yang ada di pikiran Paijo.

“Bapak memang tidak mampu menjalankan fungsi sebagai seorang pria sejati”

“Bukan itu maksud….” Paijo terbata bata berusaha mengelak.

“Tenang, Jo” pak RT berusaha menghapus rasa was was Paijo.

“Trus, apa yang mau bapak lakukan ?.

Apa yang bisa Paijo Bantu ?.

Mencari istri bapak ?” tanya Paijo masih sedikit grogi.

Pria tua dengan rambut hampir seluruhnya memutih itu menghela nafas. Memandang lekat lekat ke arah Paijo. Tatapannya terasa sejuk tapi sama sekali tak bisa menutupi kegalauan hatinya.

“Paijo bisa Bantu bapak ?”.

“Ehmmmm….tapi…”

“Soal akomodasi gampang “ janji pak RT meyakinkan Paijo.

“Bantu apa pak ?. Mencari bang Jeki ?” Paijo sumringah. Jangankan di janjikan akomodasi, nggak ada akomodasipun Paijo akan dengan sukarela mencari preman pembawa kabur bini orang itu. Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali mencari bang Jeki, satu dua masalah terselesaikan.

“Siap !!!!” tegas Paijo berapi api.

“Ha ha ha ha ha…” Pak RT tertawa lebar. Air mukanya mendadak berseri seri. Lelaki itu kemudian berdiri menghampiri Paijo. Menepuk pundak Paijo berkali kali dengan terus menghamburkan tawa penuh kegirangan. Sementara Paijo yang merasa akan mendapatkan tambahan energi dalam upaya penyelidikan Garuda Buntung tak henti henti mengumbar senyum.

“Paijo siap. Paijo akan Bantu bapak. Tenang pak…! Semua akan segera selesai. Istri bapak akan segera kembali…!” sumbar Paijo berlagak pahlawan.

“Bukan….bukan itu maksud bapak” tiba tiba pak RT memotong.

“Lalu ?” Paijo tak mengerti.

Perlahan pak RT mendekat ke telinga Paijo.

“Bantu bapak cariin obat biar meriam bapak pulih lagi “bisik pak RT ke Paijo.

“Whatttt ????”


Bersambung