Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kembalinya Garuda Buntung PART 2

“Bentar coy…! ancam Paijo masih pada sang Garuda buntung di depannya.

“Awas…! Jangan kemana mana, urusan kita belum kelar…”.

Paijo beringsut mengarahkan pandangannya pada layar tivi hitam putih pemberian Koh Ponky setahun yang lalu. Sesekali ia matanya masih melirik sinis ke arah kertas buntung di belakangnya, tak ubahnya seorang sipir penjara yang bengis lagi diktator. Pemuda berkulit kelam ini rupanya tak mau kehilangan momentum untuk melampiaskan kekesalannya akan peristiwa konyol yang menerpanya, sehingga kendati sebuah berita menarik yang tersaji di layar tivi terus menggoda pikiran Paijo.

‘Sebuah forum keagamaan mendesak pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah’

kembalinya garuda buntung part 2

" Belum Baca Kembalinya Garuda Buntung yang PART 1 silahkan baca di SINI "
Begitu kira kira isi beritanya, yang kemudian diselingi gambar berupa aksi ratusan laskar merusak sebuah bangunan ibadah milik Ahmadiyah. Gema takbir mengiringi aksi barbar itu. Massa tampak begitu beringas dan tak terkendali. Beberapa polisi yang tampaknya berjumlah lebih sedikit hanya diam melongo menyaksikan kemarahan laskar anti Ahmadiyah itu meluluh lantakkan bangunan masjid berukuran 100m persegi itu. Tidak cukup dengan tindakan brutal, di segmen lain seorang pria berpakaian serba putih tampak berpidato di depan jamaahnya dengan nada berapi api.

Ahmadiyah telah menistakan agama kita. Mereka mengakui nabi setelah nabi kita Muhammad. Ini tantangan pada keyakinan kita. Jangan berpangku tangan. Kejar terus musuh mush Allah, hancurkan…!. Buru mereka hingga ke liang lahat !!!!

“Byuuuhhh….segitunya…” Paijo heran.

Sebagai muslim, walaupun  bukan tipe muslim yang taat ibadah, Paijo merasa ada yang aneh dengan tindakan ratusan orang yang barusan ia lihat di tivi. Paijo mungkin tidak begitu memahami apa itu Ahmadiyah, apa itu sesat dan kenapa sepertinya harus di hancurkan ?. Paijo merasa aneh saja, bagaimana bisa para pelaku kekerasan itu mendapat legitimasi, bahkan oleh orang orang yang mengaku sebagai pemimpin agama ?. Bagaimana mungkin mereka bisa dengan begitu yakin bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah bagian dari pembelaan terhadap Tuhan ?.

Sejenak Paijo teringat nasehat ustadz Al Amin Yasmin (biasa Paijo menyebutnya Ustadz Alay), takmir sebuah mushola kecil di kampungnya.

“Islam itu agama damai ?” begitu kata Ustadz Alay. Maka mendakwahkannya harus dengan cara yang damai. Tidak boleh berdakwah dengan cara kekerasan. La ikraaha fi addin. Tidak ada paksaan dalam beragama”

“Lantas kenapa harus ada kekerasan atas nama agama ?” tanya Paijo berusaha kritis.

“Melakukan konfrontasi fisik itu boleh, Jo. Jihad itu namanya. Tapi mesti melalui mekanisme yang di bolehkan menurut agama”

“Maksudnya?”

“Misalnya, jika kamu di usir dari kampung halamanmu, atau hartamu di rampok oleh mereka yang tak punya hak atasnya. Maka kamu boleh berjihad. Boleh melakukan pembelaan diri”

Paijo menggaruk garuk kepala. Apa yang pernah di katakan ustadz Alay sungguh berbeda 180’ dari yang ia saksikan di tivi. Mereka yang melakukan perusakan sama sekali tak memenuhi syarat kebolehan berjihad. Tidak ada yang di usir oleh Ahmadiyah. Tidak ada harta benda yang di ambil oleh Ahmadiyah. Yang terjadi justru malah sebaliknya. Warga Ahmadiyahlah yang terusir dari kampung halamannya, warga Ahmadiyahlah yang dirusak harta bendanya. Jadi….???

Kenapa melakukan kekerasan ?

Kenapa berdalih itu adalah bentuk pembelaan terhadap agama ?

Bahkan tak sedikit yang meyakini bahwa tindakan itu akan membuat mereka masuk surga ?

Surga ?

Gubrak!!!!

Paijo tiba tiba terhenyak dengan kata itu.

Surga. Ganjaran bagi mereka yang berbuat baik. Pahala bagi mereka yang taat kepada Tuhannya. Tempat yang indah, yang semua penduduknya terjamin jiwa dan raga. Tidak ada kesedihan, kekurangan, dan kehinaan. Semuanya serba ada, susu, arak, bahkan bidadari bidadari yang senantiasa perawan.

Surga ?

Benarkah adanya ?

Lantas dimana ?

Dengan cara apa menggapainya ?

Sederetan pertanyaan ini sontak di ajukan Paijo di depan ustadz Alay selepas sembahyang Isya’.

“Surga itu janji Tuhan, Jo. Itu kepastian yang akan di berikan kepada hamba Allah yang taat, yang senantiasa berbuat kebajikan dengan  niat yang tulus dan penuh keyakinan”.

“Trus, dimana Surga itu ?. Apakah ustadz pernah kesana ?” serbu Paijo setengah membantah.

Ustadz Alay tersenyum tipis. Merasa seperti di pojokkan oleh jamaahnya yang satu ini.

“Ustadz pernah kesana ?” Paijo mengulanginya lagi.

Ha haa haa haa ha….

Derail tawa penuh teka teki meledak dari bibir ustadz Alay.

“Aku boleh tanya ke kamu ? ustadz Alay balik menodong.

“Tanya apa ?” bengong. “Boleh…boleh…”..

“Kamu ingat nggak, dulu ibumu pernah bilang bahwa orang yang rajin itu pangkal kaya ?” tanya ustadz Alay.

“Ya!. Kalau Paijo rajin bekerja, nanti bakalan kaya. Bakalan tercapai apa yang Paijo cita citakan?” jawab Paijo.

“Yakin bakal kaya ?”

“Yakin lah, tadz”

“Walaupun sampai sekarang kamu belum kaya ?”

“Ya!!!. Harus yakin !!!” tegas Paijo berapi api.

“Nah itu dia surga….”

“Maksudnya ?” Paijo bingung.

“Orang yang taat kepada Tuhannya, yang berbuat kebajikan dan yang bersungguh sungguh, adalah mereka yang meyakini adanya kenikmatan, adanya kebahagiaaan dan adanya surga setelahnya”

“Dan kenikmatan, kebahagiaan maupun surga itu tidak bisa di kalkulasikan dengan matematika, tidak bisa di logikakan dengan nalar. Modalnya Cuma satu. Yakin. Seperti yang kamu ucapkan tadi”.

Paijo mengangguk. Tapi sepertinya masih bingung jika di kaitkan dengan berita penyerbuan Masjid Ahmadiyah di tivi.

“Bagaimana dengan  mereka yang melakukan kekerasan terhadap aliran lain ?. Apakah mereka benar benar akan masuk surga ?”

Kali ini ustadz Alay geleng geleng kepala. Bukan hendak berkata tidak, tapi sedikit gondok aja melihat Paijo terus menerus menghakiminya. Dan dengan nada sedikit senewen, ustadz Alay berseloroh.

“Mereka sama sepertimu. Yakin!!!”

Gubrak!!!!

Yakin ?. Guman Paijo berusaha untuk mencerna apa yang sudah di sampaikan ustadz Alay.

Keyakinan. Ya..., tidak ada yang lebih aneh dari keyakinan. Hanya karena yakin, setiap orang rela berbuat di luar nalar kewajaran. Hanya karena yakin, setiap manusia berusaha sekuat tenaga untuk menggapai apa apa yang telah di janjikan oleh keyakinannya. Seorang pria yang begitu mencintai pujaan hatinya rela menempuh ratusan kilometer, menyeberangi lautan, mendaki gunung, menjual harta bendanya dan mungkin menjual harga dirinya. Dengan keyakinan, ia rela berjalan kaki mengais sisa sisa sampah dengan  harapan bisa menjadi orang kaya kelak. Dan karena keyakinan pula, ia rela melakukan semua cara agar si garuda buntung terusir dari saku celananya.

Ha ha ha ha….

Keyakinan telah membutakan semua orang. Yang keras di anggap mulia, yang lembek di cap sampah. Yang kecil bisa jadi masalah besar, yang besar bisa di kecilkan oleh, hanya sebuah keyakinan..

Keyakinan…

Ya….!!!!. Paijo menarik nafas dalam dalam. Mengheningkan cipta, memupuk tekad, menyemai keyakinan.

Jika hanya karena iming iming surga, orang rela menyakiti dirinya bahkan menyakiti orang lain, maka apa salahnya ia memiliki keyakinan untuk segera menyelesaikan riwayat si garuda buntung dengan caranya sendiri.

Bagi Paijo, kasus kembalinya uang pecahan seribu rupiah cacat adalah persoalan yang selama ini begitu mengganggu pikirannya. Dan ini tidak bisa di terima dengan begitu saja. Ia harus berbuat, bukan saja mengusir kembali sang garuda buntung dari hadapannya, tapi yang menyebabkan uang itu kembali ke tangannya harus di selidiki total. Harus…!.

Kemana uang itu di belanjakan oleh anggota ormas di pasar malam 2 bulan lalu ?

Darimana Haji Makmur  mendapatkan uang itu dan memberikan kepadanya ?

Siapa saja yang menjadi tuan dari uang itu selama 2 bulan terkahir ?

Semua harus di selidiki. Harus !!!.

Kalau orang lain yang merusak tempat ibadah saja begitu percaya diri bahwa perbuatan itu akan membahagiaakannya, kenapa Paijo harus malu di anggaap gila demi garuda buntung ?

Ini jihad, bro…!!!!

Teriak Paijo menepuk dada.

(bersambung)

Langsung Aja Lihat Lanjutan Kembalinya Garuda Buntung PART III yuuuk simak DI  SINI ....