Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kembalinya Garuda Buntung PART 1

Fok yuuuu!!!!

Serapah Paijo dengan logat bahasa asing yang tak sesuai aslinya. Matanya  yang belok sebesar biji salak seolah hendak meloncat keluar dari kelopaknya. Selembar uang pecahan seribu rupiah dengan ujung robek 1,5 cm hingga menghilangkan separuh sayap sang Garuda tergeletak di atas lantai. Benda itu tampak kumal, kusut dan kotor. Berkali kali Paijo memaki maki ke arah lembaran bergambar Pahlawan Patimura itu, membanting, menginjak injak bahkan nyaris Paijo meludahinya.

Kembali Garuda Buntung

 Ini Jakarta. Paijo membela diri. Bukan di pedalaman hutan yang untuk bertemu seorang manusiapun harus menempuh jarak berkilo kilo meter. Ini juga bukan jaman batu yang orang jarang sekali bertransaksi menggunakan mata uang. Ini ibukota dengan penduduk 9 juta jiwa. Sebuah kota padat yang perputaran uangnya paling besar dibumi nusantara. Bahkan konon 50% uang RI beredar di Jakarta.

Tapi, apa yang Paijo alami sungguh tak bisa di cerna akal sehat bahkan orang pintarpun belum tentu sanggup menjelaskan. Persoalan sepele mungkin. Namun bagi Paijo, ini adalah pertaruhan kredibilitas, harga diri dan tantangan serius bagi Paijo. 2 bulan lalu melalui serangkaian peristiwa dramatis, Paijo sukses membelanjakan uang rusak itu. Bukan pada penjual rokok ketengan di warung dekat perempatan kampung, bukan pula pada  tukang siomay keliling yang biasa lewat di depan gubuk deritanya. Tapi uang itu ia belanjakan nun jauh dari rumahnya. Di pinggiran kota Jakarta yang jaraknya 15 km lebih dari rumahnya. Di keramaian yang bahkan tak satupun orang di situ mengenalnya.

Jadi kalau hari ini Paijo kembali mendapati uang pecahan selembar yang sobek di bagian sayap garudanya itu, sungguh sesuatu yang masuk akal. Tentu, bisa saja itu uang yang berbeda. Toh begitu banyak kasus uang sobek semacam itu. Ya…! Bisa saja. Tapi satu hal yang sudah pasti sulit terbantahkan bahwa uang itu adalah uang Paijo. Sebuah tanda tangan Paijo di bawah gambar Kapiten Patimura.

Paijo menghela nafas dalam dalam. Sorot mata penuh tanda tanya tak jua mau beranjak dari benaknya. Paijo layak penasaran. Layak marah, layak sedih dan layak protes terhadap kejadian ini. Uang itu bagi Paijo seolah mimpi buruk yang datang lagi menghantui pikirannya. Hanya seribu rupiah, tapi membawa sejarah yang Paijo sendiri tak sudi mengenangnya.

Dua bulan lalu sepulang menjual hasil ia memulung ke Haji Makmur, ia mengantongi 25 lembar uang pecahan seribu rupiah yang semuanya masih mulus. Masih baru dan tanpa cela sedikitpun.20 lembar ia belanjakan untuk membeli nasi bungkus dan beberapa keperluan lainnya, sisanya rencana mau ia simpan di bawah kasurnya bersama tabungan uangnya yang lain. Namun karena ada acara menarik di layar tv yang merupakan favorit Paijo, ia menunda menaruh sisa uangnya di bawah kasur. Sengaja ia letakkan di atas tv dengan harapan ketika ia mematikan tivi ia tidak lupa menyimpannya. Hingga suara sms dari Komunitas Gubrak yang tiap pagi biasa masuk ke hape Paijo membangunkan tidur lelap nya.

TIDAK PENTING PUNYA PEKERJAAN TETAP
YANG PENTING TETAP BEKERJA

Begitu tulisan yang tertera di layar HP Paijo.

Uangku…!!!

Guman Paijo teringat pada 5 lembar harta karunnya yang  tadi sore ia letakkan di atas tv yang masih menyala di depannya. Sontak ia melompat ke arah mesin elektronik bergambar hidup itu tanpa mematikannya terlebih dahulu.

Mana uangku ?

Paijo terkejut bukan main ketika ia tak mendapati uangnya di tempat di mana ia menaruh. Matanya menyapu ke sisi kanan kiri dan lantai di mana ia berpijak sembari berharap uangnya terjatuh tak jauh dari situ. Tapi sial, ia tak mendapati selembarpun benda itu.

Ah, mungkin aku sudah menyimpannya di bawah kasur…

Bergegas ia berlari terburu ke arah ranjang butut yang hanya berjarak 5 meter. Dan tanpa berpikir panjang ia bongkar kasurnya, mencomot segepok uang yang rata rata merupakan pecahan seribuan lalu menghitungnya berkali kali untuk memastikan.

Jumlahnya masih tetap…

Guman Paijo kecewa. Berarti ia memang belum menyimpan uang sisa kemarin. Sejenak Paijo terdiam. Otaknya bekerja cepat mencari penyebab hilangnya uang itu.

Jangan jangan ada maling…?

Tebak Paijo yang lantas menghambur ke arah pintu rumah, ke jendela bahkan ke semua sisi rumah untuk memastikan bahwa uangnya memang benar benar di curi orang. Tapi hasilnya nihil. Semua pintu masuk telah ia kunci rapat rapat. Kondisi sekitar rumah juga masih seperti sedia kala. Jadi mustahil ada maling yang mengambil uangnya.

Ooohhhh…

Tiba tiba Paijo teringat sesuatu. Pria kurus berkulit hitam itu berlari kea rah lemari yang letaknya tak jauh dari ranjang tidurnya. Di gesernya benda berbahan kayu itu beberapa senti dari tempat asalnya. Bau tak sedap langsung menerpa hidung Paijo. 3 ekor tikur berukuran sedang berhamburan mencari tempat aman begitu sarangnya di obrak abrik Paijo. Dengan hati hati Paijo mengais sampah remahan bercampur kotoran tikus di bawah lemari dengan harapan bisa menemukan lagi uangnya yang hilang. Dan usahanya tak lama kemudian menemui hasil. Selembar uang pecahan seribu rupiah teronggok di antara sampah sampah lain. Kondisinya masih lumayan utuh. Hanya tercabik bagian ujungnya. Masih lumayan kendati tak bisa di selamatkan semua. Dan yang pasti Paijo tak perlu lagi pusing pusing mencari siapa pencuri yang mengambil uangnya.

Tapi mau di apakan uang ini ?

Pikir Paijo memutar otak.

Siapa yang mau menerima uang rusak ini….?. Apalagi nilainya hanya seribu rupiah.

Mau di belanjakan kemana ?.

Paijo menghela nafas perlahan sambil mencari akal bagaimana tidak menyia nyiakan rejeki ini. Tak mungkin bagi Paijo membuang percuma uang itu. Itu hasil kerja yang untuk mendapatkanya butuh pengorbanan yang luar biasa berat. Harus berjalan berkilo kilo meter demi mendapatkannya. Harus membuang rasa malu jauh jauh demi menggapainya. Jadi kalau ia harus membuang uang itu, Paijo merasa seperti manusia yang tak pandai bersyukur.

Di belanjakan…!!

Tapi dimana ?

Dimana saja asal tidak di buang percuma.

Ya….

Sore hari sepulang memulung, Paijo mematangkan rencana. Hitung hitung buang sial. Ibarat orang kalah, Paijo tidak harus menderita kekalahan yang telak. Ia sudah berkorban 4000 rupiah, kalau masih ada peluang menyelamatkan sisanya, kenapa harus di buang ?.

Dan ini adalah sebuah misi suci yang bagi Paijo sangat penting. Seperti pesan emaknya almarhum, jangan menyia nyiakan rejeki. Dan uang itu walau seribu, ia adalah anugrah dari yang maha kuasa. Maka membelanjakannya dengan sukses adalah pekerjaan yang mulia.

Paijo kemudian mengambil sebuah ballpoint berwarna hitam, meletakkan uangnya ke atas meja, memberikan tanda tangan di bawah gambar Kapitan Patimura lalu melipatnya dengan bagian yang rusak berada di sisi terdalam sembari komat kamit : “Tuhan, selamatkan uang yang sudah aku tanda tangani ini, dan jangan pernah lagi Engkau beri aku uang seperti ini lagi. Amien…”.

Selepas maghrib, Paijo mengayuh sepeda ontelnya menyusuri jalanan kota Jakarta. Dengan harapan bisa menyelamatkan uangnya melalui sebuah transaksi elegan tanpa membuat ia merasa kalah. Di sepanjang jalan, mata Paijo tak pernah berhenti mengamati tempat tempat transaksi. Warung makan, toko mainan, konter pulsa dan sebagainya sembari terus berdoa bisa menemukan produk yang bisa ia beli dengan uang seribu rupiah, plus tanpa ketahuan bahwa ia membelinya dengan uang yang sudah rusak.

Hampir satu jam Paijo mengayuh. Hampir 15 km Paijo menggenjot sepeda anginnya. Tapi hingga sejauh itu tak satupun Paijo temukan produk seharga seribu. Sampai suatu ketika di pinggiran kota Jakarta, Paijo menemukan sebuah area Pasar Malam yang ramai pedagang dan pengunjung.

Paijo tersenyum lega. Jalan lapang seolah terpampang di depan mata. Di tempat itu pilihan transaksi jauh lebih banyak. Dari sekian banyak produk yang di jual, kemungkinan besar ada yang bisa ia beli dengan uang seribu. Dan kalaupun tak ada, ia masih bisa berharap menemukan lapak judi koprok yang kadang suka di gelar di Pasar malam. Ha ha ha…

Dengan rasa penuh percaya diri Paijo menuntun sepedanya memasuki area keramaian malam. Sebait lagu berjudul ‘Iwak Peyek’ tiba tiba meluncur perlahan dari bibir Paijo. Matanya yang bulat menyapu satu persatu dagangan yang banyak di gelar di kanan kiri jalan. Tapi lagi lagi keberuntungan sepertinya tak mau mendatangi Paijo. Sudah ¾ area telah Paijo susuri. Namun tak satupun ia menemukan produk seribuan.

Bangsat !!!

Paijo memaki dalam hati. Bagaimana bisa, bahkan di pasar saja tak satupun pedagang yang menjual barang senilai seribu ???. Apakah sudah sedemikian rendahnya nilai dari seribu rupiah hingga tak ada yang sudi menerimanya sebagai pembeli ?.

Kemana tukang gorengan ?

Kemana tukang air mineral ?

Kemana penjuan permen ?

Dan kemana pula bandar judi koprok yang bisa menyelamatkanku ?

Hati Paijo menjerit tak karuan. Dadanya di sesaki rasa marah, kalut dan sedih.

Haruskah aku kembali menelan sebuah kekalahan tragis setelah aku di klahkan oleh tikus tikus jahanam itu ?

Keluh Paijo tragis.

Dengan langkah gontai Paijo memutar haluan. Tidak ada gunanya ia berlama lama berada di tempat yang  tak ramah ini. Boro boro dapat barang senilai seribu rupiah, bahkan di sedekahkanpun belum tentu di tempat ini ada yang mau. Ya…!!!. Mending keluar saja dari tempat ini. Pikir Paijo geram.

Sesampainya di pintu keluar, Paijo melambatkan sepedanya. Situasi sedikit macet karena banyak kendaraan yang juga mau keluar area. Sesampainya di pintu masuk, dua orang dengan pakaian ormas kepemudaan menghadangnya.

“Keamanan, mas !!” ucap salah satunya sambil menghentikan sepeda Paijo.

“Keamanan ?” tanya Paijo tak mengerti.

“Iya!!”

Paijo yang sudah kadung pening kepala sontak emosi.

“Ehhh…bang” Paijo naik darah.

“Masa’ abang tega sama orang kayak saya. Kalau pakai motor sih wajar dimintai uang. Tapi masak pengendara ontel di embat juga ?” lanjut Paijo sedikit menggurui.

Seolah tak mau di rendahkan oleh pemuda lusuh seperti Paijo, pria berkaos ormas itu mendekat ke arah Paijo. Tangan kanannya yang kekar meraih kerah baju Paijo, sementara matanya melotot mengintimidasi Paijo.

“Loe mau cari masalah ??” gertak si penjaga dengan mimik serius.

Kontan saja ciut nyali Paijo. Dengan sedikit gemetar Paijo berkata : “Maaf  bang, saya nggak berani..”

“Ya udah, bayar !!! bentak pemuda itu lagi.

“Berapa ?”

“Kalau motor dua ribu. Berhubung kamu pakai ontel, seribu aja…” jawab pemuda itu sambil melepaskan cengkeramannya di baju Paijo.

Oohhhh…! Cuma seribu…

Paijo mendadak sumringah.

“Nehhh…!!!” Paijo secepat kilat mencabut uang seribu rupiah yang sudah ia persiapkan sejak lama, menyerahkannya pada pemuda itu dan bergegas meluncur bersama sepeda bututnya.

Di kejauhan Paijo berteriak mengejek,

Makan tuh GARUDA BUNTUNG !!!!!

(Bersambung)

Silahkan Baca sambungannya di  Kembalinya Garuda Buntung Part II