Breaking News

PENANTANG YANG TAK LAGI LANTANG

Ibarat klub sepakbola, kubu petahana tak ubahnya seperti klub legendaris dengan sejarah mentereng, memiliki stok kas melimpah dan baru saja mengangkangi puncak klasemen di akhir musim. Sementara kubu penantang digambarkan sebagai klub semenjana yang pada musim kompetisi ini terjerembab di papan bawah, ditambah dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan pula. 
Pict : liputan6.com

Sebagaimana klub papan atas, petahana tentu saja mempesona banyak pihak. Siapa pemain yang tak tertarik bergabung dengan klub yang lebih menjanjikan piala ?. Pelatih mana yang tak punya mimpi memimpin tim dengan taburan bintang di dalamnya ?. Manajer mana yang tak terpesona pada klub dengan kondisi keuangan sangat sehat ? 

Maka, tak heran jika kubu petahana begitu leluasa melakukan manuver guna membangun sebuah tim impian. Keleluasaan itu terlihat nyata di fase pertama, dimana untuk mencalonkan diri harus menghimpun minimal dua parpol (dengan jumlah kursi parlemen 20%). Tidak tanggung-tanggung, sang incumben malah sanggup mengumpulkan dukungan tiga kali lipat dari persyaratan minimal. Itupun dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan pula. PDI Perjuangan yang notabene jawara pileg dan memiliki basis kuat di Jawa. Golkar sebagai pemenang kedua dan punya akar di luar Jawa. PKB dan PPP yang mewakili kekuatan Islam. Ditambah lagi Nasdem dan Hanura yang tentu memiliki spesialisasi yang tak bisa dianggap remeh. 

Kondisi berbeda dialami penantang. Ketika juara bertahan sudah leading soal syarat elektoral, penantang harus menghadapi tantangan tentang bagaimana mengkonsolidasikan kekuatan tersisa. Bagaimana mengemasnya menjadi sebuah komposisi yang pas dan siap bertarung bukan sesuatu yang mudah. Karena hampir semua kelompok memiliki tujuan masing masing dan cenderung ingin memaksakan kepentingannya. Tak heran, dinamikanya tak sekedar soal komposisi koalisi, tapi juga soal siapa yang layak diajukan sebagai calon. Meski akhirnya empat kekuatan tersisa itu bergabung, tapi efektivitas kubu ini dalam menjalani pertarungan masih mengkhawatirkan. 

Walau situasinya serba minimal, kubu penantang tampaknya tidak ingin memberikan kemenangan mudah bagi juara bertahan. Pengalaman di Pilkada DKI silam menjadi salahsatu modal guna menatap kompetisi mendatang. Ahok yang awalnya diunggulkan banyak kalangan, nyatanya bisa dikalahkan. Meski dengan cara dramatis, memanfaatkan isu SARA dan melalui gelombang unjuk rasa bertubi tubi. Jika Ahok yang didukung banyak partai saja bisa kalah, tidak menutup kemungkinan kalau Jokowi juga bisa dijungkalkan. Strategi yang digalang untuk menjatuhkan Ahok boleh jadi bisa diulang. Apalagi jika mengingat kompetisi di 2014 lalu dimana isu SARA hampir saja membuat Jokowi - JK kalah, kemungkinan untuk mengubah keadaan sangat terbuka. Tidak mengherankan jika setelah Ahok jatuh, isu agama dan framing bahwa rezim ini merupakan bagian dari pendukung penista agama terus digaungkan. Tekanan ini ditambah lagi dengan aksi sporadis yang diinisiasi PKS melalui tagar #2019GantiPresiden

Menghadapi manuver ini, tentu saja kubu Jokowi tak tinggal diam. Dengan modal keleluasaan yang dimiliki, tak sulit bagi mereka untuk melakukan transfer pemain dengan spesifikasi pilihan. Maka, nama Ma'ruf Amin adalah pilihan terbaik diantara semua pilihan terbaik. Ia seperti Andrea Pirlo. Gelandang bertahan yang solid, dirijen lini tengah yang handal, pengumpan terbaik bagi para striker dan sesekali mampu melesakkan tendangan ke gawang dari sudut tak terduga. Keberadaan Ma'ruf Amin di kubu Jokowi jelas untuk menambal sulam lini tengah yang sering kedodoran menghadapi amukan isu SARA dan serangan sporadis lawan. Selain itu, ia adalah jaminan bahwa permainan akan berjalan lebih kondusif dan berirama. Dan yang tak kalah pentingnya, Ma'ruf Amin memberikan garansi pada tim untuk tampil lebih baik di area dimana pilpres kemarin kedodoran. Yakni, Jawa Barat dan Banten. 

Dipasangnya Ma'ruf Amin di kubu petahana jelas merupakan pukulan telak bagi Prabowo. Ini seperti menepuk air didulang kena muka sendiri. Bukan saja strategi yang dimainkan di Pilkada DKI bakal mentok, tapi lebih dari itu, kubu lawan bisa saja menghajar balik sang penantang dengan isu SARA jika mau. Sadar bakal babak belur jika main SARA, koalisi Prabowo akhirnya memutuskan untuk mengusung Sandiaga Uno sebagai tandem. Jika Prabowo diibaratkan striker gaek yang mulai lamban dan tak lagi tajam, maka Sandiaga merupakan pemain depan yang lincah, muda, eksplosif dan kreatif. Dan yang lebih penting lagi, Sandiaga adalah sosok pemain yang pernah membawa timnya juara meski levelnya di bawah Pilpres. Lini tengah maupun belakang kubu Prabowo mungkin saja lemah dan berpotensi dihujani banyak gol. Tapi kehadiran Sandiaga juga bakal menjanjikan permainan yang ofensif dan banyak mencetak gol. Filosofi sepakbola mengatakan, pertahanan terbaik adalah menyerang. Terlepas berapapun bola yang masuk ke gawang kita, asal kita memasukkan lebih banyak dari itu, kitalah pemenangnya. 

Sayangnya, pola ini dengan cepat ditanggapi kubu juara bertahan. Guna menjinakkan lini depan sang penantang, kubu Jokowi kemudian mendatangkan seorang pelatih sekaligus manajer yang memiliki spesifikasi nyaris sama dengan Sandiaga Uno. Sama-sama muda, sama-sama konglomerat, dan sama-sama mempesona kaum milenial. Yakni Erick Thohir. Maka, jika Sandiaga paham bagaimana bermain dan mencetak gol, Erick Thohir juga paham bagaimana mengunci pergerakan Sandiaga Uno.
Dengan komposisi line up yang hampir lengkap di kedua kubu, akankah pertandingan nanti akan lebih kompetitif ?. 

Seperti yang penulis singgung, di atas kertas line up kubu Jokowi - Ma'ruf jelas unggul di semua lini. Semua hal yang diperlukan untuk menang telah mereka miliki. Pemain bintang, official yang profesional dan reputasi mereka sebagai pemenang. Tapi, Sebagaimana sepakbola, dunia politik juga bukanlah matematika. Tim yang diunggulkan belum tentu mampu meraih kemenangan. Kesalahan sedikit bisa berakibat buruk. Pun demikian, penulis memprediksikan bahwa Jokowi - Ma'ruf bakal keluar sebagai jawara dengan prosentase kemenangan 60 - 40.

Oleh : Mochammad Hafidz Atsani
Pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia