Breaking News

Operasi Senyap Prof. DR. Ma'ruf Amin

Penulis tidak begitu saja mempercayai bahwa dipilihnya Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi akibat tekanan politik cak Imin apalagi seorang Romahurmuziy. Bahkan manuver PBNU beberapa saat sebelum penetapanpun penulis pikir bukanlah alasan utama kenapa Jokowi lebih memilih ketua umum MUI tersebut. Penulis sepakat dengan statemen Mahfud MD, bahwa Jokowi bukan tipe yang mudah ditekan oleh pihak manapun. Pertimbangan taktis dan kepentingan jangka panjang penulis pikir menjadi alasan utama keputusan Jokowi dalam menentukan siapa kandidat yang layak menjadi pendampingnya. 
Sumber Pict : Facebook

Lagi lagi, penulis menggambarkan kontestasi ini layaknya sebuah tim kesebelasan sepak bola. Secara statistik, Jokowi memiliki keunggulan di lini depan. Setidaknya jika Jokowi harus head to head dengan Prabowo, ia masih punya stok selisih gol yang cukup banyak. Angka jajak pendapat yang menyatakan bahwa tingkat keterpilihan Jokowi mencapai hampir dua kali lipat dari rivalnya menjadi modal awal bagaimana mengemas sebuah strategi. Maka, yang diperlukan Jokowi adalah bagaimana menambal sulam kelemahannya di lini lain. Selain itu, bagaimana menyiapkan formulasi khusus untuk mengimbangi apa apa yang menjadi keunggulan lawan. 

Sepanjang kepemimpinan Jokowi sebagai presiden, tidak ada gangguan yang lebih rumit dan menyita pikiran selain gelombang protes dari kelompok yang mengatasnamakan agama. Bahkan jika mau dirunut lebih ke belakang, baik ketika ia maju sebagai cagub DKI, gangguan bertendensi agama itu sudah mengemuka. Isu bahwa Jokowi muallaf atau orangtuanya bukan muslim sudah ditembakkan sejak awal. Dan itu terus menerus dipelihara hingga saat ini. Entah siapa aktor dibalik itu semua, yang jelas gangguan itu sifatnya cukup kontinyu. Meski sering dibantah, meski fakta membuktikan sebaliknya, isu hoax itu masih saja dipercaya oleh sebagian kalangan akar rumput. Jika kita bersedia sedikit meluangkan waktu untuk melakukan penelitian, maka kita akan menemukan bahwa stigma Jokowi anti Islam memang ada di pikiran sebagian orang. Kasus Ahok beberapa waktu lalu mengindikasikan hal yang demikian. Meski akhirnya Ahok divonis bersalah, akan tetapi sebagian publik masih mencurigai Jokowi. Bahwa itu hanyalah kepura-puraan Jokowi semata.

Upaya persuasif dalam rangka membangun hubungan yang harmonis dengan umat Islam sebenarnya sudah dilakukan Jokowi. Menemui tokoh - tokoh agama, mengunjungi pesantren, memprioritaskan pengembangan ekonomi keumatan dan lain sebagainya. Bahkan Jokowi diklaim sebagai Presiden yang paling banyak mengunjungi pesantren dibanding pemimpin nasional sebelumnya. Akan tetapi rupanya upaya itu belumlah cukup untuk menekan habis sentimen sebagian kelompok. Dan semua orang memahami bahwa sentimen itu tidak mewakili keseluruhan umat Islam. Namun, jika itu terus dimanfaatkan oleh lawan politik, efeknya bisa saja meluas.

Oleh sebab itu, mengambil langkah drastis adalah suatu keniscayaan. Dan memilih tokoh yang mewakili umat Islam sebagai pendamping dianggap merupakan upaya maksimal dalam rangka menghalau serangan lawan politik di sektor itu. Ada banyak pilihan (seperti yang diutarakan ketua umum PPP) yang itu merupakan representasi dari warna hijau (Islam). Mulai dari ketua umum partai Islam (Muhaimin Iskandar dan Romahurmuzy), intelektual Muslim semisal Mahfud MD, hingga pemimpin ormas keagamaan seperti Din Syamsudin (Muhammadiyah) atau Ma'ruf Amin (PBNU).

Lalu, kenapa Jokowi lebih memilih Ma'ruf Amin ?

Mengenai elektabilitas, sosok Ma'ruf Amin bukanlah nama yang paling populer di mata masyarakat. Jika mengacu pada jajak pendapat lembaga survei, nama Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar elektabilitasnya lebih tinggi. Tapi seperti yang penulis ungkapkan di atas, yang dibutuhkan Jokowi bukanlah figur yang memiliki tingkat keterpilihan tinggi. Apalagi, secara umum elektabilitas yang dimiliki calon calon itu berada di angka satu digit. Dan boleh jadi tipe pemilihnya berada dalam irisan yang sama dengan pemilih Jokowi. Jokowi membutuhkan sosok yang secara politik memiliki kemampuan untuk menutupi celah kelemahannya. Dan nama Ma'ruf Amin menjadi satu satunya kandidat yang memenuhi tuntutan itu. 

Ma'ruf Amin merupakan 'bagian dari gelombang massa' yang selama ini terus menerus melakukan tekanan. Satu hal yang tidak dimiliki oleh kandidat lain. Mahfud MD misalnya, meski ia populer di kalangan masyarakat, tapi ia tak memiliki kekuatan untuk mempengaruhi simpul simpul keumatan. Tokoh lain mungkin saja memiliki pengaruh sektoral. Apakah itu di kalangan parpol maupun organisasi keagamaan. Akan tetapi pengaruh mereka tak sekuat Ma'ruf Amin. Ma'ruf Amin adalah ketua MUI yang nyaris tak tergantikan. MUI seperti yang kita tahu adalah wadah berkumpulnya ormas ormas Islam di Indonesia. Dan pemimpin di organisasi ini sudah tentu adalah sosok yang memiliki kemampuan untuk mengakomodir kekuatan umat Islam yang beraneka macam corak. 

Keunggulan Ma'ruf Amin yang lainnya adalah fakta bahwa ia merupakan pemimpin tertinggi ormas Islam terbesar di Indonesia, NU. Dengan keanggotaan yang mencapai puluhan juta, NU adalah ceruk yang luar biasa besar. Walaupun mungkin saja NU akan terbelah, akan tetapi keberadaan Ma'ruf Amin adalah daya tarik yang tak bisa dianggap remeh.

Selain daripada itu, dari segi intelektualitas, kemampuan akademik juga tidak bisa diragukan. Ia adalah profesor dan doktor di bidang ekonomi keumatan. Idenya tentang arus baru ekonomi umat adalah gagasan yang tidak saja penting, namun juga fundamental. Mengingat persoalan terbesar bangsa ini adalah tentang kesenjangan, kemiskinan dan juga keterbelakangan. Dan obyek utamanya sebagian besar adalah umat Islam. Karena kelompok ini merupakan bagian dari mayoritas masyarakat Indonesia, maka memberdayakan mereka sama saja dengan memperkuat bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Bagaimana dampak keberadaan Ma'ruf Amin di sisi Jokowi pada peta pertarungan Pilpres 2019 mendatang ?

Di akui atau tidak, dipilihnya Ma'ruf Amin merupakan pukulan keras bagi oposisi. Tidak saja kubu oposisi bakal kesulitan memainkan isu keagamaan, akan tetapi juga berdampak pada ketidakmampuan oposisi untuk mempertahankan dukungan dari kelompok keagamaan. Bukan saja akan mengalami banyak kendala untuk meraih dukungan dari kalangan muslim tradisonal (NU), tapi  juga dukungan kelompok muslim di luar NU. Tak heran jika rilis salahsatu lembaga survei menyatakan bahwa pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin unggul di semua segmen kelompok keagamaan. Sementara Prabowo - Sandi hanya unggul di kelompok 212. 

Penulis meyakini bahwa penetrasi Ma'ruf Amin di kalangan kelompok Muslim akan lebih intensif lagi ke depan. Terutama di area yang bukan merupakan basis tradisional NU. Yakni, Jawa Barat, DKI, Banten hingga Sumatera. Pada 2014 silam, area itu tidak terlalu ramah pada Jokowi. Isu agama berhembus lumayan kencang di wilayah - wilayah tersebut. Satu hal yang membuat pasangan Jokowi - JK sulit mengungguli Prabowo - Hatta. 


Penulis : Komandan Gubrak