Breaking News

MERDEKA vs TAKBIR

Awalnya penulis berharap sang petahana mengambil wakil dari Golkar (Airlangga). Kemudian di sisi penantang, Prabowo Subianto merekrut putra mahkota Cikeas, Agus Harimurti, sebagai tandemnya. Komposisi pertama melibatkan partai - partai yang selama ini mendukung pemerintah, dan lawannya adalah partai oposisi plus Demokrat dan PAN. 

Penulis meyakini bahwa pertandingan dua pasang calon diatas akan berlangsung seru, sengit, bertele-tele dan mungkin akan berdarah darah. Jokowi sebagai striker tanding ulang melawan Prabowo. Airlangga yang baru saja terpilih sebagai pemimpin Golkar berhadapan dengan anak muda enerjik dan penuh pesona, AHY. Di lini tengah, kita akan menyaksikan parpol-parpol berhaluan nasionalis dan agama unjuk gigi memperebutkan hegemoni politik. PDI Perjuangan berhadapan dengan mesin politik Gerindra. Golkar bentrok dengan mantan juara pileg 2009, Demokrat. Sementara parpol agama, PKB serta PPP, bersaing dengan PAN dan PKS. Kemudian lini belakang mempertemukan dua Datuk yang selama ini dianggap memiliki pengaruh besar dalam perpolitikan nasional, Megawati dan SBY. Palagan pemilu nantinya juga akan diramaikan dengan pertarungan klasik antara kaum muslim pedesaan melawan muslim perkotaan. 

Soal amunisi atau logistik, sepertinya tak menjadi persoalan bagi kedua belah pihak. Jokowi diuntungkan dengan jaringan Golkar yang dikenal kuat dalam logistik, lalu ditopang kinerja media milik Surya Paloh, Bakri dan Harry Tanoe. Sementara kubu lawan mendapat garansi amunisi dari keluarga Cendana, Prabowo dan tak kalah pentingnya, Cikeas. 

Dengan situasi masyarakat yang memang sudah terbelah sejak awal, tentu akan menjanjikan sebuah pertarungan yang luar biasa panas. Seperti duel Barcelona versus Madrid, Milan melawan Inter Milan, Arema bertemu Persebaya, atau antara Persija melawan Persib. Ganas, liar, brutal dan membuat semua orang berdebar. 

Namun apa dikata, harapan penulis ternyata bertepuk sebelah tangan. Formasi diatas papan catur ternyata menggambarkan hal lain. Jangankan membayangkan sebuah pertandingan klasik layaknya Madrid melawan Barcelona, komposisi kedua kubu justru mempertontonkan dagelan yang menggelikan. Nama - nama yang awalnya begitu hingar bingar disebut publik semisal Mahfud MD, Tuan Guru Bajang, Airlangga Hartarto, hingga Cak Imin mendadak tenggelam. Jokowi lebih memilih Ma'ruf Amin. Sosok yang sudah sepuh dan tak mewakili segmen ksatria (politisi). Tanpa harus menunggu siapa penantangnya, formasi ini jelas tak akan menjanjikan sebuah pertarungan yang spartan. Cenderung defensif dan bergaya kaku. Dan hasil akhirnya barangkali tak akan menciptakan banyak gol. 

Dagelan yang tak kalah lucunya adalah keputusan Prabowo dengan tiga partai pengusungnya yang mengajukan Sandiaga Uno sebagai tandem. Tindakan ini jelas diluar prediksi banyak orang. Elektabilitas Uno (meski menang di DKI) di level nasional tak ada gaungnya. Prabowo seperti hendak bercanda dengan nasib. Elektabilitas Prabowo yang menukik seharusnya ditambal dengan pasangan potensial yang memungkinkannya meningkat. Tapi tidak. Prabowo memilih figur yang kurang populer, dan berasal dari Gerindra pula. Selain itu, ia juga mengabaikan rekomendasi kelompok yang pernah menggemparkan perpolitikan nasional melalui demo berjilid - jilidnya. 

Kubu pertama bermain defensif, kubu kedua tak punya niat untuk menang. Menjemukan bukan ? 

Lelucon diatas masih ditambah lagi dengan sambutan para suporter dan penonton. Audien yang awalnya duduk manis berhadapan dan terbelah menjadi dua kubu yang solid, mendadak cair. Massa pro dan kontra demonstrasi 212 misalnya, tiba tiba dibuat linglung ketika pemain di lapangan berakrobat ria. Kubu 212 yang selama ini memainkan politik keagamaan harus menelan pil pahit saat Prabowo sama sekali tak menganggap fatwa mereka. Sementara suporter yang selama ini kontra 212 malah dihadiahi kandidat yang selama ini menjadi ikon 212. Tak heran jika kemudian terjadi perpindahan tempat duduk di kalangan penonton. Kawan jadi lawan, lawan kini menjadi kawan. Yang biasa berteriak soal jargon nasionalis, tiba - tiba harus ikut koor menyanyikan lagu agamis. Yang tadinya lantang bicara politik identitas, mendadak bermetamorfosa sebagai makhluk nasionalis. Calon berbau agamis, pelit sekali memekikkan takbir. Sementara pasangan yang tak menggambarkan sisi Islami malah gegap gempita bertakbir. 

Pertanyaannya kemudian, apakah pertandingan yang mirip drama komedi ini akan menghasilkan sesuatu yang positif untuk negeri ini ?. 

Mungkin saja hasilnya tak terlalu memuaskan. Akan tetapi ada satu hal yang menurut penulis cukup menggembirakan. Yakni, kedewasaan masyarakat dalam memandang dunia politik.

Oleh : Komandan Gubrak
Pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia