Breaking News

TEMAN KOSTKU ( SERIES 3 )

"Huahahahahahahahaha ... Apes tenan nasibmu, Ras. Habis diputusin, malah dihibur dedemit. Wuahahahahaha ...."

Tawa Sam menggelegar di teras kost. Sam adalah pacar Mia, nama panjangnya Samsuri. Sedangkan nama panjang Mia adalah Sumiati. Kami bekerja di tempat yang sama, The Ocean Swalayan.
"Nggak usah ngejek aku, Sam!! Tak doakan nanti dia nyamperin kamu loh!!" balasku sambil meninju bahunya.

"Ih, serem tahu, Pi. Aku aja sampai pingsan loh. Serem banget deh, pokoknya!!" Mia ikut menimpali seraya bergidik ngeri. Mia dan Sam saling memanggil Mami Papi, meskipun baru pacaran. Sebenarnya aku ingin muntah mendengarnya, tapi berhubung mereka sahabatku, jadi aku oleskan minyak kayu putih ke perutku supaya tak jadi muntah.

Ilustrasi Cerita Fiksi


"Oh iya, Ras, mana rekamannya? Kirimin ke aku, nanti biar aku coba tanya sama temanku yang bisa lihat gituan," kata Sam sambil menyodorkan ponselnya.

Dengan cepat, kukirimkan rekaman hororku ke gawai Sam, via untu biru. Karena ponsel Sam disetting bahasa Jawa, jadi tidak ada bluetooth. Ya, bluetooth bahasa jawanya untu biru.
"Nih ..." kusodorkan ponselnya.

Akhirnya kami bertiga membubarkan diri, karena harus bekerja. Kami sama-sama masuk shift siang-malam.

Semoga malam ini, arwah itu tidak ada rencana untuk menghiburku lagi. Tapi kuakui, usaha arwah itu untuk menghiburku membuahkan hasil. Buktinya aku tidak sedih lagi, tapi sekarang malah jadi takut sendiri tiap masuk kamar.

***

Aku bekerja sebagai pramuniaga, tugasnya menata barang. Mia sebagai kasir, tugasnya memarahi tuyul. Sam dan Pay, mereka bagian gudang. Kami semua kenal di tempat kerja, kemudian jadi sahabat dan mantan pacar.

Ketika aku sedang sibuk menata snack di rak, tiba-tiba Afi, teman sesama pramuniaga, menepuk bahuku dari belakang.

"Ras, itu kenapa si Payjan mondar mandir lewat lorong sini sambil senyam senyum? Bukannya kalian baru putus ya?" katanya kemudian.

"Nggak tahu, kesurupan kali," jawabku asal.

"Eh, katanya dia ngehamilin cewek lain ya, Ras??" Afi bertanya lagi.
"Iya," jawabku tanpa menoleh. Bekerja lebih penting bagiku daripada memperhatikan si Kunyuk yang sibuk mondar-mandir seperti mencari perhatian di lorong tempatku menata barang.

"Kok kamu biasa aja? Nggak sedih gitu? Emangnya kamu nggak cinta sama Pay?"
Aku terdiam sejenak, berpikir. "Iya ya, kok aku biasa aja setelah kejadian kemarin. Padahal sebelumnya aku kok kayak cinta banget ya sama dia?" aku bergumam sendiri.

"Nah!!" Afi menepuk punggungku keras, sampai berbunyi "bug".
"Apaan sih, Fi? Sakiiitt!" aku meringis sambil mengelus punggungku.
"Berarti bener, si Pay itu pakai pengasihan. Sekarang kamu pikir deh, Ras. Payjan itu nggak ganteng. Udah item, jelek, pelit pula. Kamu sendiri, cantik, imut, yang ngejar di sini banyak, tapi kok malah milih Pay? Dijadikan selingkuhan pula. Hayo??" Afi berkata panjang lebar, tak peduli rasa sakitku di punggung gara-gara digebuk dia.

Aku mencerna kata-kata Afi. Setelah kupikir-pikir, benar juga. Payjan itu jelek, hitam, dan pelitnya minta ampun. Pernah dia mengajakku jalan, tapi pinjam motornya Mia. Habis bensin lagi di tengah jalan, dan aku disuruh dorong motornya. Sumpah, malu banget!! Dan itu bukan cuma sekali, tapi sering.

Aku ingat lagi, waktu itu seluruh karyawan mengejekku. Katanya aku jago bikin cupang. Aku kebingungan karena menyangka cupang itu nama ikan. Ternyata cupang yang mereka maksud itu, merah-merah di leher si Payjan. Dan ketika ku tanya, dia dengan enteng menjawab, itu semua gara-gara aku sebagai pacarnya tidak mau dicium. Dan bodohnya lagi, aku diam saja dan membenarkan. Padahal jelas-jelas itu dia yang salah. Oh, Tuhan ... ternyata aku bodoh sekali. Apa itu cinta? Tapi kenapa sekarang aku biasa saja?

"Woii!! Malah ngelamun ...."

"Iya ya, Fi. Kok aku bodoh banget ya dulu," kataku sambil menata snack lagi.
"Tuh kan, kamu baru nyadar!! Padahal temen-temen disini udah dari dulu bego-begoin kamu. Dia itu pakai pengasihan, Ras. Coba kamu inget-inget, dia pernah ngelakuin sesuatu yang aneh nggak, pas dia nembak kamu?" Afi bertanya sambil pura-pura ikut menata snack.
Aku mengingat-ingat lagi dua bulan yang lalu. Iya, aku dan Payjan baru pacaran dua bulan, mungkin diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Tapi, aku kok biasa saja ya?? Hmmm ....

Cetek!!

Aku menjentikkan jari, seperti orang menemukan ide.

"Aku ingat, Fi. Dia itu aneh deh, masa tiap ngapel ke kost, dia pasti sambil rokok, terus asapnya ditiupin ke mukaku. Habis itu, aku nggak tahu. Kayak makin sayang aja ..." kataku lesu, merasa jadi wanita terbodoh.

"Nah, itu ... Kamu beneran kena pelet, Ras."
Hmmm ... Apa iya ya?
Dan tiba-tiba si Payjan lewat.
Teng terenteng teng teng!!
"Payjan pergi ke pasar ...
Ii uuu iiikk iii uuu iiikk ..."

Seketika aku dan Afi menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata Mas Edi, karyawan bagian umum, yang memukul panci, dan bertingkah seperti pawang topeng monyet. 

"Huahahahahahahaha ..." aku dan Afi serentak tertawa. Dan si Payjan mukanya memerah menahan emosi, tapi tidak terlihat merah, karena kulitnya hitam. Hanya terlihat semakin gelap saja.
Payjan memandangku, aku juga memandangnya. Lama ... Lama sekali. Sampai aku menyadari, kalau Payjan memang benar-benar jelek.

***

Aku baru sampai di tempat kost. Ketika meletakkan sepatu di rak, kudengar ada suara ribut-ribut di dalam. Dan arahnya seperti dari kamarku.
"Jangan, San, jangaaaan ... Ampun ..."

Suara wanita menangis setengah berteriak. Aku bergegas menuju arah suara tersebut. Ternyata benar, di dalam kamarku ada keributan.

"Awww ... Sakit. Jangan lakukan itu!! Aahh!!"

Terdengar rintih kesakitan dari dalam sana. Dalam hatiku bertanya, siapa yang di dalam? Apa Mia? Tapi, Mia 'kan belum pulang? Sebagai kasir, memang pulangnya lebih lambat. Karena harus menghitung uang pendapatan per shift dan juga mencocokkannya dengan sistem komputer induk di toko.

Kuberanikan diri mengintip lewat lubang kunci kamar. Terlihat ada lelaki menindih tubuh perempuan. Dan ... ah, tidak!! Apa yang kulihat ini? Ternyata ada pemerkosaan di dalam kamarku.
Tubuhku bergetar, jantungku berpacu cepat. Aku harus bagaimana? Ke mana penghuni kost yang lain? Kenapa sepi sekali? Apa mereka tidak tahu ada wanita dilecehkan di dalam sana?
Tempat kostku memang tidak ditunggui ibu kostnya. Lebih mirip rumah kontrakan. Tapi isinya cuma kamar-kamar yang saling berhadapan. Di antara pintu kamar yang berhadapan, ada meja panjang tempat penghuni kost berkumpul untuk makan dan menonton tv yang d pasang di atas pintu menuju dapur.

Aku harus menolong wanita itu. Tapi kalau sepi begini, aku harus minta tolong sama siapa? Aku tak mau bertindak konyol, bisa-bisa aku ikut jadi korban. Aku hanya bisa berdiri kebingungan di depan pintu kamar. Keringat dingin mengucur dari pelipisku. Aku takut.
"Terima kasih, Leni sayang ... Kamu sudah memberiku kepuasan."

Terdengar suara lelaki pemerkosa itu. Aku mengendap, bersembunyi di bawah kolong meja panjang di depan pintu kamar.

Sambil menahan takut, aku berusaha mengintip dari celah taplak meja yang sedikit kusingkap. Nampak lelaki itu pergi meninggalkan kamarku. Huuhh ... Aku bernafas lega.
Aku keluar dari tempat persembunyianku. Kubuka pintu kamar, nampak seorang wanita cantik setengah telanjang duduk di sudut kamar sambil menangis. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya. Siapa dia?

Pelan-pelan kudekati dia. "Kamu siapa?" tanyaku.
Dia mendongak menatapku, "tolong aku, Rasti ..."
"Kamu tahu namaku?" aku tersentak kaget karena merasa tak pernah melihat wanita ini sebelumnya.
"Tolong hentikan dia, sebelum dia mencari korban lainnya," ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku.

Aku yang masih kebingungan hanya berdiri mematung. Tapi setelahnya, yang kulihat di luar dugaan.
Perempuan itu berdiri, dia memaksaku menerima buku itu. Kemudian ... Oh, tidak! Wujud itu lagi. Perempuan itu berubah wujud.
Kakiku bergetar, perlahan aku mundur. Ingin menjauh dari apa yang kulihat sekarang. Dia ... Dia sungguh mengenaskan. Sangat, sangat mengenaskan. Aku terjatuh lemas. Rasanya kakiku tak sanggup menopang tubuhku.

"Tolooooonngg ... Toloooonngg ..." aku berteriak, tapi tak mengeluarkan suara. Tenggorokanku tercekat. Perlahan pandanganku mengabur karena ada air mata tertahan yang siap mengalir.
Dia mendekat. Perlahan tercium bau busuk yang menyengat. Seketika kepalaku pusing dan mual.
"Hoeeekk ..." isi perutku serasa mendesak ingin keluar. Tapi hanya tertahan di tenggorokan.

Aku tersudut di tembok kamar. Makhluk itu semakin mendekat lagi. Dia menyeringai. Tapi kurasa tidak. Memang gigi itu selalu kelihatan, karena tidak ada daging yang membungkusnya.
Kini wajahnya hanya sejengkal dari wajahku. Tidak. Kurasa ini lebih dekat dari sejengkal. Bau busuk itu makin menusuk hidungku. Aku tidak bisa bergerak, tubuhku serasa kaku. Seluruh bulu di tubuhku berdiri.

"Tolong, bantu aku ..." lirihnya kemudian.
Pruusss!
Tercium aroma anyir memenuhi wajahku. Iya, ini darah. Makhluk itu menyemburkan darah di wajahku.

***

Next atau End?
---------------
Buat yang bertanya, ini real story atau bukan? Part awal memang berdasarkan kisah nyata. Tapi part selanjutnya, adalah fiksi. Sebenarnya cerita ini adalah cerpen. Berhubung banyak yang minta dilanjutkan, jadi saya berimajinasi melanjutkannya. Perempuan di tempat kost saya dulu memang ada. Tapi saya tidak tahu, dia arwah atau bukan. Dan wujudnya tidak seseram yang saya tulis di sini.
Dia menghibur saya waktu itu, karena saya sedang sedih. Dan kata teman saya, dia memang tinggal di situ sebelum tempat kost itu dibangun. Jadi, sudah lama sekali dia hidup di situ. Dia tidak mengganggu. Hanya saat itu, dia kasihan melihat saya menangis.

Selamat menikmati cerita saya. Oh ya, cerita ini memang fiksi. Tapi saya membuatnya berdasarkan kisah nyata. Maksudnya bukan kisah nyata saya sendiri, ini adalah kisah nyata teman-teman saya yang punya pengalaman mistis. Jadi, jangan sekali-kali menertawakan mereka. Bisa jadi, sekarang mereka ada dibelakangmu dan ikut membaca cerita bersamamu ....

Baca Juga yah Cerita Series Satu dan Series Dua nya