Theme images by Storman. Powered by Blogger.

PKB TERANCAM KALAH LAGI DI PILGUB JATIM

Meski sering menjadi pemenang di setiap pemilu legislatif Jawa Timur dan hanya gagal sekali di 2009, tapi untuk urusan perebutan kursi Jatim 1, PKB justru lebih akrab dengan kekalahan. Kutukan pertama dimulai pada 2003, saat pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD. Koalisi PKB - Golkar yang mengusung Abdul Kahfi - Ridwan Hisyam hanya mengoleksi 34 suara dan kalah jauh dari pasangan Imam Utomo - Soenaryo yang diusung PDI Perjuangan dan Fraksi Gabungan. Horor selanjutnya adalah Pilkada langsung pertama pada tahun 2008. PKB yang mengusung Achmady - Suhartono secara tragis mengalami kekalahan dan bahkan menghuni juru kunci dengan raihan sekitar 7 - 8 %. Derita PKB semakin bertambah saat harus kembali menelan kekalahan ketika jagonya (Khofifah - Herman) takhluk dari pasangan Soekarwo - Syaifullah Yusuf.
Abdullah Azwar Anas - Djarot Syaiful Hidayat
(sumber pict : netralnews.com)

Belajar dari pengalaman Pilkada sebelumnya, kali ini PKB yang memiliki kursi cukup untuk mengusung calon sendirian mengajukan wakil gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf. Pertimbangan pengalaman, elektabilitas dan juga figur Gus Ipul yang merupakan kader NU tulen menjadi hal utama untuk menatap pilkada serentak 2018. Dan untuk memastikan calon yang diusung mampu mencapai finish dengan kemenangan, PKB melobi PDI Perjuangan sebagai kekuatan kedua Jatim. Koalisi hijau - merah ini dianggap mampu menjawab kebutuhan masyarakat Jawa Timur. Dengan jumlah penguasaan kursi yang hampir mencapai 40% dan didukung faktor teknis lainnya, rasanya sulit untuk mengalahkan kolaborasi dua kekuatan ini. Dan untuk mencapai tujuan itu, PKB memberi keleluasaan sepenuhnya bagi PDI Perjuangan untuk menentukan siapa calon wakil yang akan diajukan.

Sayangnya, gayung belum tentu bersambut. Meski sudah melakukan lobi - lobi, bahkan Megawati sempat mengutus kadernya untuk menyerp aspirasi dari para kyai, tapi kesepahaman belum terjadi. Tenggat PKB untuk mengumumkan calon wakil Gus Ipul pada akhir September bulan inipun terlewati sudah. PDI Perjuangan tampaknya masih melihat perkembangan situasi ke depan. Sebagai pemenang kedua pileg di Jawa Timur dan hanya selisih satu kursi dengan peringkat pertama, PDI Perjuangan tentu bakal mempertimbangkan untuk meraih posisi Jatim 1. Apalagi jika menilik slot calon yang dimiliki partai, dimana elektabilitasnya cukup memadai untuk bersaing, ditambah kepentingan PDI Perjuangan di 2019, sangat mungkin partai ini bakal membangun poros tersendiri. Nama Tri Rismaharini, Abdullah Azwar Anas dan belakangan muncul nama gubernur DKI, Djarot Syaiful Hidayat menjadi kartu truf bagi PDI Perjuangan untuk mewujudkan ambisinya.

Jika akhirnya PDI Perjuangan memilih membangun koalisi sendiri, maka langkah PKB untuk mengamankan kursi Jatim satu bakal tersendat. Modal elektabilitas yang dimiliki Gus Ipul di berbagai lembaga survei belum cukup memberi garansi, mengingat masih minimnya penetrasi calon calon lawan di lapangan. Komposisi siapa calon yang akan maju dan berpasangan dengan siapa, bakal menjadi pertimbangan para pemilih. Tapi, apapun itu, hadirnya calon yang diusung PDI Perjuangan akan membuat peta persaingan jauh lebih berat. Minimal, PKB akan mengalami kendala besar untuk meraih suara di basis basis kaum nasionalis, terutama di wilayah Mataraman.

Tantangan yang tak kalah beratnya datang dari musuh bebuyutan Gus Ipul di dua Pilkada sebelumnya, yakni Khofifah Indar Parawansa.  Sinyalemen Menteri Sosial Kabinet Kerja itu untuk kembali maju di Pilkada Jatim merupakan alarm berbahaya bagi Gus Ipul. Mau tidak mau, dukungan warga Nahdliyin bakal terbelah. Meski pernah dua kali kalah dalam Pilkada sebelumnya, reputasi Khofifah di kalangan warga Nahdliyin Jawa Timur belumlah meredup. Hasil - hasil survei yang ada selama ini cukup menggambarkan seberapa kuat pengaruhnya di mata pemilih.

Menurut pengakuan KIP (Khofifah Indar Parawansa), setidaknya akan ada lima partai yang bersedia mengusungnya untuk maju kembali. Klaim ini sejalan dengan pengakuan petinggi beberapa partai di media. Nasdem lebih dulu memastikan dukungannya untuk sang ketua PP Muslimat tersebut. Disusul Partai Golkar, PPP dan kemungkinan Hanura. Jumlah akumulasi kursi keempat partai tersebut mencapai 22 kursi. Yang artinya cukup untuk mengantarkan Khofifah berlaga kembali. Komposisi ini masih bisa bertambah. Partai Demokrat misalnya, konon juga merekomendasikan nama Khofifah untuk diajukan ke Majelis Tinggi partai. Jika ini disetujui, maka KIP akan mengoleksi 35% kekuatan politik yang ada di Jawa Timur.

Kemungkinan majunya KIP inilah yang tampaknya membuat PDI Perjuangan belum bersedia menerima tawaran PKB untuk berkoalisi. Hadirnya dua kader NU bisa dibaca sebagai peluang bagi PDI Perjuangan untuk mengambil keuntungan. Komposisi calon yang diusung boleh jadi Risma - Azwar Anas atau sebaliknya. Boleh jadi juga, Djarot - Azwar Anas. Penulis memperkirakan, pilihan kedua ini yang bakal diajukan koalisi PDI Perjuangan. Djarot mewakili kaum nasionalis, berasal dari kawasan Mataraman dan juga memiliki popularitas tinggi. Sementara Azwar Anas adalah sosok kader NU tulen yang diharapkan mampu meraih simpati warga Nahdliyin.


Pilgub Jatim Barometer Pilpres 2019

Jawa Timur adalah salahsatu wilayah prestisius yang layak diperebutkan oleh partai partai politik untuk mempersiapkan diri menatap laga pamungkas 2019. PKB misalnya, sejak jauh hari langsung mematok gubernur sebagai target utama. Bagi PKB, memenangkan kursi Jatim satu adalah pertaruhan penting. Bukan hanya soal bagaimana melestarikan hegemoni partai di provinsi paling timur pulau Jawa ini, tapi juga menjadi modal bagi PKB untuk merebut posisi tiga besar di Pileg 2019 nanti. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah soal bargaining politik terkait Pilpres. Kemenangan di Jawa Timur dan apalagi jika berhasil menang juga di Jateng serta Jabar, tentu akan menaikkan daya tawar PKB. Mereka yang hendak berlaga dalam Pilpres 2019 akan sangat memperhitungkan PKB. Ketidaksediaan PKB untuk mendeklarasikan dukungan lebih dini pada Jokowi seperti halnya dilakukan beberapa partai pendukung rezim mengindikasikan partai ini berharap lebih dari sekedar suporter semata.

Bagi PDI Perjuangan, Jawa Timur adalah pertaruhan reputasi. Kemenangan di wilayah ini memiliki dua makna penting. Pertama, mengembalikan kepercayaan diri setelah dua kali tumbang di ajang Pilgub di pulau Jawa. Yang kedua adalah memperkuat posisi dalam menentukan jalannya Pilpres 2019. Jika PDI Perjuangan sukses memenangkan Jawa Timur, Jokowi sudah tentu bakal memperhitungkan calon wakil yang diajukan oleh partai ini. Demikian pula dengan Golkar dan mitra koalisi pemerintah lainnya. Golkar, Nasdem, PPP dan Hanura yang sejak awal mendeklarasikan pencalonan Jokowi kembali tentu memiliki kepentingan untuk ambil bagian lebih besar.

Lantas, bagaimana dengan Gerindra, PKS dan PAN ?. Ada dua opsi yang kemungkinan bakal dipilih oleh mereka. Membentuk koalisi sendiri, atau mendukung calon yang sudah ada. Opsi pertama sangat terbuka. Mengingat akumulasi jumlah kursi yang mereka miliki cukup memadai. Hanya saja, kendala terbesarnya adalah siapa yang bakal diusung. Tak cukup ada nama diluar yang pernah penulis sebut yang memiliki elektabilitas memadai. Maka, pilihan realisitis adalah bergabung dengan partai lain yang memiliki calon yang berpeluang menang. Gerindra boleh jadi akan mendukung calon PKB dengan kompensasi mendapat posisi wakil. Tapi bisa jadi ikut mencalonkan Khofifah atau calon yang diusung PDI Perjuangan. Dua pilihan terakhir bisa saja terjadi. Meskipun sulit. Ini terkait dengan komitmen dukungan di pilpres 2019. Sementara PAN dan PKS kami prediksikan lebih bermain aman. Mereka akan menerima tawaran yang dianggap lebih menguntungkan partai.

Lalu, bagaimana peranan Jokowi dalam Pilgub Jatim nanti ?.

Sebagai salahsatu kandidat yang digadang - gadang maju lagi untuk periode kedua sebagai presiden RI, Jokowi tentu memiliki kepentingan di Pilgub Jatim kali ini. Memang, ada perasaan dilematis, mengingat pemain utama Pilgub Jatim adalah partai partai yang kini  menyokongnya di pemerintahan. Tapi menilik figur yang ada, Jokowi lebih mungkin mendukung Khofifah dibanding dengan calon lain. Loyalitas, dedikasi dan jasa KIP dalam memenangkan pasangan Jokowi - JK adalah ukuran utamanya. Pun demikian, dukungan ini tidak bakal dilakukan secara terbuka. Jokowi harus menjaga perasaan PDI Perjuangan yang juga ik ambil bagian dalam perhelatan Pilgub Jatim.

Demikian pula dengan JK. Meski ia mengatakan bahwa baik Gus Ipul maupun Khofifah sama sama baik, tapi besar kemungkinan JK akan mendukung KIP. Bukan karena Golkar mendukung KIP, tapi memang keduanya sangat dekat. Meski tidak memegang kendali partai secara formal, tapi sosok JK tak bisa diremehkan. Kejadian di pilkada DKI menjadi bukti seberapa besar pengaruh JK. Jaringannya yang kuat di kalangan pengusaha bisa jadi penentu kemenangan.

Penulis : M. Hafidz
Pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia