Theme images by Storman. Powered by Blogger.

MENEROPONG PILGUB JABAR 2018

Hanya berselang beberapa minggu setelah memutuskan pasangan Dedy Mizwar (Demiz) - Ahmad Syaikhu sebagai bacagub - bacawagub Jawa Barat, koalisi antara Gerindra dan PKS mengalami keretakan. Rayuan poros baru yang digagas Partai Demokrat ternyata cukup ampuh menggoyahkan pendirian DPD Gerindra Jawa Barat. Entah apa gerangan yang ditawarkan pada Gerindra, keinginan DPD Jabar tampaknya mulai di dengar oleh sang ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Manuver sepihak Gerindra ini sontak membuat PKS kebakaran jenggot. Ancaman untuk mengoreksi dukungan mereka atas pencapresan Prabowopun dilontarkan. Sayangnya, ancaman itu ditanggapi dingin kubu Gerindra Jawa Barat. Ketua DPD Gerindra Jabar, Mulyadi bersikukuh untuk tetap mencabut dukungan.
Sumber Pict : Netralnews.com

Kondisi serupa juga dialami bakal calon lainnya dari Partai Golkar, Dedi Mulyadi. Meski mendapatkan dukungan penuh dari DPD Golkar Jabar, jalan yang ditempuh bupati Purwakarta itu tak serta merta mulus. Internal Golkar, terutama DPP Golkar terlihat belum bulat memberikan dukungan. Bahkan belakangan muncul bocoran surat rekomendasi dari DPP Golkar tentang dukungan mereka pada calon lain. Meski akhirnya surat itu dibantah sendiri oleh sekjen Golkar, Idrus Marham, tapi tetap saja isu ini memicu spekulasi akan adanya friksi yang terjadi di internal partai. 

Lain halnya dengan nasib bakal calon lain, Ridwan Kamil. Meski baru mengoleksi 12 kursi (PKB 7, Nasdem 5), masa depan pencalonan walikota Bandung ini relatif lebih aman. Elektabilitasnya yang selalu berada di atas membuat Ridwan Kamil tak terlalu banyak mengalami kesulitan untuk memenuhi target minimal 20 kursi sebagai syarat maju. Bagaimanapun, Jawa Barat adalah wilayah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Potensi ini tentu akan sangat dipertimbangkan oleh partai partai politik demi kepentingan mereka di 2019. Mengusung calon yang memiliki elektabilitas tinggi jelas menjadi tolok ukur utama. Itu kenapa PDI Perjuangan yang sebenarnya  mampu mengusung calon sendirian, cenderung berhati hati dalam bermanuver. Kekalahan jago jago mereka di dua provinsi di pulau Jawa (Banten dan DKI) menjadi pelajaran yang sangat berharga. Terbelahnya Golkar dalam menentukan siapa calon yang akan diusung, apakah Ridwan Kamil atau kadernya sendiri, kurang lebih juga karena pertimbangan menang - kalah.

Berangkat dari kondisi politik di atas, penulis menganalisa setidaknya akan ada tiga skenario yang bakal terjadi dalam perhelatan Pilgub Jawa Barat 2018 nanti.

Pertama, skenario 4 pasang calon

1. PKB - Nasdem - Golkar (29 kursi DPRD)
Calon yang diusung, Ridwan Kamil. Wakilnya kemungkinan besar dari Golkar. Antara Dedi Mulyadi atau Daniel Muttaqien. Secara matematis, koalisi ini cukup menjanjikan. Ridwan Kamil memiliki elektabilitas tinggi, sementara pasangannya yang dari Golkar memiliki basis politik kuat di Jawa Barat. 

2. PDI Perjuangan (20 kursi DPRD)
Sebagai pemenang pemilu di Jawa Barat, PDI Perjuangan tentu berkepentingan untuk menempatkan kadernya di kursi Jabar 1. Nama ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, TB Hasanudin layak untuk diajukan. Atau bisa jadi mengajukan kembali Rieke Dyah Pitaloka. Yang dikombinasikan dengan figur luar partai. Akan tetapi, meski bisa mengusung calon sendiri, kans PDI Perjuangan cukup berat. Selain elektabilitas nama nama yang beredar relatif rendah, sulit bagi PDI Perjuangan untuk memperluas basis suara.

3. Demokrat - Gerindra - PAN (27 kursi DPRD)
Skenario ini bisa terjadi manakala poros baru yang dipimpin Demokrat berhasil membujuk Gerindra untuk bergabung. Setidaknya ada dua nama yang digadang gadang. Ketua DPD Partai Demokrat Jabar, Iwan Sulandjana dan mantan wagub Jawa Barat Dede Yusuf. Jika berkaca pada elektabilitas antara keduanya, Dede Yusuf agaknya lebih pas untuk diusung. Wakilnya bisa jadi dari Gerindra. Peluang menang dari koalisi ini cukup terbuka. Kemenangan partai ini di Pilkada Banten bisa menjadi pelecut untuk merebut juga Jawa Barat.

4. PKS - PPP (21 kursi DPRD)
Dengan berlabuhnya Gerindra ke kubu Demokrat, praktis pilihan koalisi PKS untuk mengusung Deddy Mizwar - Syaikhu sangat terbatas. Pilihan logisnya tinggal mengajak PPP. Ini seolah kembali mengulang kerjasama kedua partai di pilkada lalu dimana mereka keluar sebagai pemenang. Meski hanya bermodalkan 21 kursi DPRD, peluang pasangan yang diajukan koalisi ini cukup besar. Kemenangan Ahmad Heryawan dua kali berturut turut menunjukkan kinerja PKS dan mitra koalisinya cukup bisa diandalkan.

Jika skenario ini terjadi, maka pasangan yang diusung Nasdem - PKB dan Golkar paling berpeluang menang. Sementara kandidat dari poros Demokrat dan pasangan yang diusung PKS - PPP sama sama berpeluang menjadi kuda hitam. Partai Hanura mungkin saja bergabung di koalisi pengusung Ridwan Kamil atau bermitra dengan PDI Perjuangan. Namun demikian, pengaruhnya tidak terlalu signifikan.

Kedua, skenario 3 pasang calon

1. PKB - Nasdem - PPP (21 kursi DPRD)
Calon yang bakal diusung sudah pasti, Ridwan Kamil. Pasangannya bisa dari internal koalisi atau mengambil dari luar. Alotnya komunikasi antara RK dan PPP diduga karena partai berlambang Ka'bah itu menginginkan posisi calon wakil gubernur. Sementara RK sendiri masih berpikir untuk mendapatkan dukungan dari partai yang memiliki basis massa lebih besar guna memastikan kemenangan berpihak padanya. Jika RK gagal mendapatkan sokongan partai besar, besar kemungkinan ia akan mengajak PPP bergabung dalam koalisi.

2. Golkar - PDI Perjuangan - Hanura (40 kursi DPRD)
Koalisi ini kemungkinan akan mengusung Dedi Mulyadi yang akan dipasangkan dengan kader PDI Perjuangan. Meski memiliki jumlah kursi yang lumayan besar, belum tentu menjamin kemenangan. Selain harus meningkatkan elektabilitasnya, Dedi Mulyadi butuh pasangan yang elektabilitasnya memadai.

3. Gerindra - PKS (23 kursi DPRD)
Selain sudah terbukti sebagai mitra setia, dan itu dibuktikan pada Pilkada DKI, kedua pihak sangat bergantung satu sama lain. PKS berharap bisa meneruskan hegemoni kekuasaannya di Jabar, sementara Prabowo butuh dukungan PKS untuk menghadapi Pilpres mendatang. Kandidat yang diusung bisa kembali pada kesepakatan semula yakni, Dedy Mizwar - Ahmad Syaikhu. Tapi bisa jadi di format ulang. Peluang menang dari koalisi ini cukup besar. Basis massa Gerindra yang cukup besar di Jawa Barat dan soliditas kader kader PKS menjadi alasan penting. Selain sosok Deddy Mizwar sendiri yang memang sudah sangat dikenal warga Jawa Barat.

Dengan skenario ini, praktis menyisakan Partai Demokrat dan PAN yang meski berkoalisi, tapi tak sanggup memenuhi syarat minimal. Kemana arah dukungan kedua partai ini sangat mempengaruhi jalannya kompetisi. Secara matematis, skenario ini menjanjikan persaingan yang sangat ketat. Semua kandidat berpeluang untuk menang. Dukungan dana dan arah pilihan PAN maupun (apalagi) Demokrat bisa jadi penentu.

Ketiga, skenario 2 pasang calon

Skenario ini bakal mempertemukan dua kutub. Seluruh anggota koalisi pemerintah Jokowi - JK, minus PAN melawan kelompok oposisi. Nama Ridwan Kamil sudah pasti masuk bursa calon gubernur dari kubu pemerintah. Wakilnya mungkin saja bisa dari kader kader partai pendukung terutama kader PDI Perjuangan dan Golkar. 

Sementara di pihak oposisi kemungkinan bakal mengusung calon gubernur diantara dua nama. Dede Yusuf dan Deddy Mizwar. Wakilnya bisa siapa saja. Tapi peluang terbesar adalah kader kader partai pengusung. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan nama nama yang dipasang adalah figur diluar yang penulis sebutkan tadi.

Mengenai peluang, dengan formasi seperti diatas, kemungkinan koalisi pemerintah keluar sebagai pemenang lebih terbuka. Pun demikian, politik bukanlah matematika. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Oleh : M. Hafidz
Pelayan di Komunitas Gubrak Indonesia