Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kuda Hitam Itu Bernama Agus Harimurti

Dalam bahasa Jawa, Agus Harimurti artinya anak laki laki yang bercahaya laksana matahari. Putra sulung Presiden ke 6 RI ini lahir 10 Agustus 1978 di Bandung. Diantara sekian kandidat calon gubernur dan wakil gubernur DKI, dia terhitung yang paling muda. Seperti halnya usia dia yang sangat muda, pengalaman di lini birokrasi pemerintahan juga nyaris tidak ada sama sekali. Karena dari awal karirnya lebih banyak berada di militer. Maka, satu satunya patokan untuk menilai bagaimana sosok ini adalah dengan melihat sepak terjangnya di lingkungan TNI. 
Agus Harimurti Yudhoyono

Catatan prestasi suami Anisa Pohan ini di bidang militer memang cukup spektakuler. Lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara tahun 1997 sekaligus menyabet medali Garuda Trisakti Tarunatama. Tiga tahun kemudian ia bergabung di Kostrad. Menjadi komandan Peleton di di Batalyon Infanteri Lintas Udara 305/Tengkorak dan mendapat tugas menumpas kelompok separatis di Aceh pada 2002. Dalam konflik Hezbullah - Israel 2006, Agus Harimurti ikut ambil bagian dalam kontingan Pasukan Garuda XXIII- A.  Selain itu, pria dengan pangkat terakhir Mayor dengan jabatan sebagai Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning, ini juga mengoleksi banyak sekali medali penghargaan dan tanda jasa. 

Diluar catatan karir militer, nyaris tidak ada yang menonjol dari putra Susilo Bambang Yudoyono ini. Maka, pencalonannya sebagai cagub DKI oleh banyak kalangan dianggap sebagai langkah berani SBY. Dari sisi elektabilitas, Agus Harimurti terhitung memiliki elektabilitas yang paling rendah dibanding dengan kompetitor lain dan apalagi jika berhadapan dengan sang incumben. Namun demikian, masih terlalu prematur untuk menganggap peluangnya untuk menang sama sekali tidak ada.

Dari segi basis partai pendukung, pasangan Agus Harimurti - Sylviana Murni memiliki modal suara sekitar 25% yang berasal dari pemilih Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN. Kehadiran Sylviana Murni yang merupakan satu satunya kontestan perempuan kemungkinan juga akan menjadi daya tarik tersendiri pemilih. Pengalamannya di birokrasi Pemda DKI sebagai pembantu Gubernur setidaknya mampu menutupi kelemahan pasangannya. Pasangan Agus - Sylviana diperkirakan juga akan menggunakan penampilan fisik untuk menarik minat pemilih. Ingat, retorika anak muda yang diusung Jokowi - Ahok pada Pilkada sebelumnya terbukti cukup ampuh mengatrol elektabilitas mereka yang sempat tertinggal jauh dari pasangan Foke - Nara. 

Dan yang terpenting lagi, faktor SBY dan Demokrat tentu tak bisa dianggap sepele. SBY dikenal sosok pemikir yang sangat matang dan penuh kalkulasi. Ia tak mungkin berani mengambil keputusan jika tidak melihat adanya peluang positif di depan mata. Kemampuan Partai Demokrat DKI untuk survive di Pileg 2014 dan sanggup finish di peringkat empat di tengah badai skandal korupsi yang melanda kader kadernya cukup membuktikan bahwa partai ini cukup punya akar.

Terlepas dari menang kalah, perhelatan Pilkada DKI 2017 nanti boleh disebut sebagai ajang pemanasan partai partai politik. SBY sudah pasti sedang mempersiapkan sesuatu untuk memenangkan pemilu 2019 atau setidaknya menaikkan elektabilitas partai. Sosok Agus Harimurti dianggap lebih cocok untuk ditawarkan ke publik dibandingkan dengan Ibas yang sudah terlanjur kotor oleh berbagai masalah. Apalagi Agus memang anak sulung, yang biasanya lebih memiliki daya juang, jiwa kepemimpinan dan keteladanan.

Maka, Pilkada DKI nanti bagi SBY setidaknya memiliki dua makna. Pertama, merebut posisi di wilayah paling prestisius, dan kedua, ajang pengenalan sosok anak sulung yang kemungkinan kelak mewarisi kepemimpinan SBY di tubuh Partai Demokrat.

Penulis : M Hafidz
Pendiri dan pelayan komunitas Gubrak Indonesia