Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Tri Rismaharini vs Ahok

Jika menilik nama - nama bakal calon Gubernur DKI di media, tidak banyak yang dianggap memiliki potensi menjadi pesaing berat incumben. Apakah itu Ahmad Dhani yang belakangan mengurungkan niatnya, Abraham Lunggana, Sandiaga Uno, Hasnaeni dan lain sebagainya. Bahkan Yusril Ihza Mahendra yang dalam survey memperlihatkan progresifitas elektabilitaspun belumlah dianggap cukup sepadan untuk menyaingi Basuki Tjahaja Poernama. Yusril dianggap kurang bisa diterima partai politik, karena tentu saja parpol bakal mengutamakan kadernya sendiri dibanding orang luar. Sedang Yusril merupakan kader Partai Bulan Bintang yang bahkan partainya sendiri tidak memiliki cukup banyak massa. Kecuali jika ia bertekad maju melalui jalur independen. Nama lain yang mungkin saja bisa melaju menjadi penantang Ahok adalah wakil gubernur DKI, Jarot Syaiful Hidayat. Mantan walikota Blitar ini memiliki peluang diusung PDI Perjuangan. Sayangnya, dari segi popularitas, nama Jarot Syaiful Hidayat belumlah terlalu populer. Kalau kita bertanya pada warga DKI, siapa wakil Gubernurnya, sebagian besar kurang mengenal nama itu.
Lalu, siapa yang paling layak menjadi penantang terberat Ahok ? 
Menurut penulis, setidaknya ada dua nama yang memiliki potensi besar untuk menggusur Ahok dari tampuk kepemimpinan DKI 1. Pertama adalah walikota Bandung, Ridwan Kamil. Kemudian yang kedua walikota Surabaya Tri Risma Harini. Nama pertama sempat dimunculkan oleh banyak kalangan. Partai Gerindra yang merupakan pemenang kedua Pileg DKI sempat mewacanakan nama tersebut. Begitu juga dengan PKS. Kedua partai ini malah sempat diisukan berkoalisi guna mengusung Ridwan Kamil. Di internal PDI Perjuangan sendiri namanya sempat mencuat. Sosok pria yang cukup populer di jejaring sosial ini bahkan sempat muncul dalam acara temu kader nasional PDI Perjuangan di Depok dan mendapat kesempatan untuk berorasi. Namun belakangan kans dia maju sebagai calon gubernur DKI meredup setelah menyatakan secara terbuka tidak bersedia. Dengan demikian, kini tinggal nama Tri Rismaharini yang digadang gadang mampu menandingi figur Ahok.
Dari berbagai penyataan walikota Surabaya di media, tampak sekali perempuan kelahiran Kediri ini masih besikukuh untuk tidak meninggalkan Surabaya. Bahkan menurut pengakuannya, ini sudah ia sampaikan pada ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Ketidakbersediaan Risma (panggilan akrabnya) di dasari atas janjinya kepada warga Surabaya untuk menyelesaikan programnya di jantung provinsi Jawa Timur tersebut. Artinya, secara pribadi Risma sudah menyatakan tidak bersedia. Satu hal yang kurang lebih mirip dengan apa yang diutarakan Ridwan Kamil di media. Akan tetapi persoalannya, Risma adalah kader partai. Yang menurut disiplin partai mesti tunduk pada keputusan pemangku partai. Berbeda dengan Ridwan Kamil yang hingga saat ini tidak tercatat sebagai kader partai manapun. Oleh sebab itu, jika nanti partai memerintahkan Risma untuk maju ke DKI 1, mau tidak mau ia harus mematuhinya.
Pict : kabar24.bisnis.com
Kondisi inilah yang barangkali bakal merubah keputusan walikota wanita pertama yang dipilih secara demokratis tersebut. Apalagi jika kita menilik loyalitas Risma pada partai, kemungkinan Risma bersedia hijrah ke Jakarta sangat terbuka. Penulis masih ingat betul bagaimana Risma ngotot sekali menolak Wisnu Saktibuana (Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya) menggantikan Bambang DH sebagai wakil walikota Surabaya. Bahkan Risma sempat mengancam mundur jika itu terjadi. Namun, tidak lama setelah bertemu Megawati, Risma akhirnya bersedia menerima usulan partai. Hal ini yang menjadikan penulis yakin kalau Risma tidak bakal berani menolak jika partai menugaskan.
PDI Perjuangan sendiri merupakan satu satunya partai yang bisa mengusung calonnya secara mandiri di DKI. Dengan posisi ibukota yang secara politik memiliki nilai besar, kemenangan tentu menjadi hal yang mutlak bagi partai. Untuk itu, partai sudah pasti bakal memilih figur yang kans menangnya tinggi. Pertanyaannya, mampukah Risma menandingi Ahok ?. Atau, siapakah yang bakal memenangkan pilkada DKI nanti jika keduanya bertarung ?.
Untuk menjawab itu, mari kita sejenak mengesampingkan hasil survey terakhir yang menempatkan Risma jauh di bawah Ahok. Jajak pendapat bukan satu satunya acuan. Belajar dari pilkada DKI silam, bukankah sebelum dipastikan sebagai calon elektabilitas Jokowi - Ahok jauh di belakang Foke ?. Oleh sebab itu, penulis akan menggunakan parameter lain untuk mengukur atau setidaknya memprediksikan siapa yang lebih unggul.
Pertama, kinerja. Dari segi ini, kedua tokoh memiliki track record kerja yang sama sama bagus. Sebagai warga DKI yang setiap hari merasakan denyut nadi ibukota, rasanya kinerja Ahok cukup memuaskan. Penataan birokrasi, penanganan banjir hingga layanan publik lainnya relatif baik. Sementara Rismaharini juga memiliki kinerja bagus. Bagaimana Surabaya menyabet Piala Adipura berkali kali, hingga prestasi Risma yang pernah dinobatkan sebagai salah satu walikota terbaik se Asia Pasifik, tentu menjadi bukti kinerjanya. Memang, Surabaya dan Jakarta memiliki masalah yang berbeda. Akan tetapi itu bukan tolok ukur. Toh, Ahok awalnya juga berangkat dari daerah.
Kedua, basis dukungan. Masyarakat Jakarta secara umum terdiri dari berbagai macam suku, agama dan juga golongan. Dari sisi etnis, suku Jawa merupakan yang terbanyak di Jakarta. Jumlahnya mencapai 35%. Di susul suku Betawi (27%), Sunda (15%), Tionghoa (5%) dan suku suku lain dalam prosentase yang lebih kecil. Dari segi latar belakang suku, Risma adalah bagian dari suku terbesar di Jakarta (Jawa). Sementara Ahok berasal dari etnis minoritas, Tionghoa. Pemetaan ini memang tidak sepenuhnya berpengaruh, akan tetapi untuk kelompok masyarakat tertentu bisa jadi akan menentukan.
Dari sisi agama, pemeluk Islam adalah yang terbanyak di Jakarta. Angkanya mencapai 84%. Di susul Kristen dan Katolik sebanyak 12%, sisanya memeluk agama lain. Pemetaan ini juga tidak sepenuhnya berpengaruh pada pilihan pemilih, akan tetapi harus diakui tidak sedikit yang menyandarkan pilihannya pada aspek agama. Masyarakat Betawi misalnya, meski dikenal toleran, akan tetapi sangat memperhatikan aspek keagamaan. Tidak semuanya memang. Dari nilai identitas keagamaan, Risma relatif memiliki posisi bagus. Hanya, kendalanya mungkin saja isu gender. Tapi jika ada pertanyaan, pilih Muslim yang kinerjanya bagus tapi bergender perempuan, atau non muslim dan berkinerja baik, penulis meyakini resistensi pemeluk agama akan gender lebih kecil.
Dari sisi basis dukungan politik. Risma memiliki keunggulan. PDI Perjuangan adalah partai pemenang DKI dan nasional. Kepala negarapun berasal dari partai ini. Sementara Ahok melaju melalui jalur independen. Yang artinya dukungan politik secara formal sangat kecil. Meskipun belakangan Nasdem menyatakan mendukung Ahok. Jika PDI Perjuangan solid, sementara rezim juga mendukung majunya Risma, rasanya kemungkinan menang cukup besar. Namun demikian, politik itu dinamis. Keputusan Ahok untuk melaju melalui jalur independen belum tentu harga mati. Popularitas serta elektabilitas Ahok tentu sangat diperhitungkan partai partai politik. Peluang Ahok melaju melalui partai politik masih terbuka. Bisa saja nantinya Gerindra balik kucing mengajukan Ahok sebagai calon. Toh, sinyal itu sempat diutarakan Prabowo Subianto.
Ketiga, isu korupsi. Dari segi ini, kedua tokoh relatif minim terkait isu korupsi. Jikapun ada, sifatnya masih abu abu. Ahok pernah dilaporkan terkait kasus Sumber Waras dan reklamasi pantai, Risma pernah dilaporkan terkait korupsi TPA Benowo dan kasus Pasar Turi. Tapi, secara umum penulis masih mempercayai semangat anti korupsi keduanya. Apalagi Risma pernah mendapatkan penghargaan dari Bung Hatta Award terkait semangat anti korupsi. Bahkan KPK pernah juga mendaulatnya sebagai wanita pelopor antikorupsi. Hal sama dari lembaga yang sama juga pernah diterima Ahok.
Dari parameter diatas, peluang Risma (jika ia benar benar dicalonkan) untuk mengalahkan Ahok sangat terbuka. Apalagi jika nanti ia mendapat pasangan yang mampu menambah elektabilitasnya. Tapi, sekali lagi, politik itu dinamis.

Penulis : Komandan Gubrak