Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Pertarungan Final Aleppo

Membaca satu persatu artikel tentang perang saudara di Suriah dari berbagai sumber, akan terlihat banyak sekali kejanggalan - kejanggalan yang menurut kita tidak masuk akal. Yang antara satu dengan lainnya kontradiktif, membingungkan dan rancu. Suatu ketika kita membaca berita dimana balatentara Suriah bertempur melawan ISIS maupun kelompok pemberontak lainnya. Tapi terkadang kita juga menyaksikan bagaimana ISIS berjibaku menyabung nyawa melawan sesama kelompok anti pemerintah. Di Suriah utara, dimana terdapat banyak sekali koloni bangsa Kurdi, pertarungan segitiga juga sering terjadi. Bulan lalu dilaporkan telah terjadi bentrok bersenjata antara milisi pro pemerintah, NDF, dengan milisi Kurdi, YPG, di kota Qomishly Provinsi Hasakah. Di saat yang lain, kedua kubu bahu membahu menumpas gerombolan ISIS. Bahkan keduanya terlibat kerjasama mengepung pemberontak di kota Aleppo. 
Hal janggal lainnya adalah silang pendapat antara Turki dan Amerika Serikat dalam menyikapi milisi Kurdi. Amerika bersikeras mempersenjatai milisi Kurdi, sementara Turki menolak upaya itu. Tapi kedua negara sepakat Bashar Assad lengser dari tampuk kekuasaannya. Mengenai penanganan terhadap milisi ISISpun terdapat banyak sekali cerita aneh. Di media, hampir semua pihak menjadikan ISIS sebagai alasan untuk melakukan manuver militer. Turki, melalui Perdana Menterinya, Ahmed Davutoglu mengatakan bahwa dalam waktu dekat negara itu akan menggelar pasukan di wilayah Suriah dengan alasan ingin memerangi ISIS yang beroperasi di perbatasan Turki - Suriah. Akhir tahun 2015, Arab Saudi beserta 34 negara sekutu yang rata rata anggota OKI membentuk koalisi militer dengan salahsatu tujuannya adalah memerangi ISIS. Begitupun dengan Amerika Serikat yang sudah sekian lama menggelar kampanye udara menggempur posisi ISIS, baik di Suriah maupun Irak. Demikian pula Rusia, yang dalam beberapa bulan ini memuntahkan begitu banyak rudal guna mengejar militan ISIS. Semua pihak seolah bersatu padu untuk menghabisi ISIS, tapi hasil di lapangan sungguh jauh dari prediksi. Meski kota Raqqa digempur habis habisan melalui serangan udara (baik oleh jet tempur AS maupun Rusia), tapi kenapa belum ada tanda tanda ibukota ISIS itu bakal runtuh. Jika kita berkaca pada kasus kejatuhan Saddam Husein dan Muamar Khadafi, dimana jet jet Amerika berperan besar dalam melumpuhkan pertahanan musuh, tentu hal ini menjadi sesuatu yang sangat janggal. Kenapa begitu susahnya menghancurkan sebuah kelompok yang bahkan sudah di labeli teroris oleh banyak negara.
Jawabannya tentu saja bisa kita saksikan di lapangan. Faktanya, hampir semua pihak tidak benar benar serius memerangi ISIS. Apakah itu pemerintah Suriah, Turki, Saudi, Amerika bahkan Rusia sekalipun. ISIS hanya sekedar alasan semata. Jadi batu loncatan untuk tujuan yang lebih besar lagi. Pasukan Suriah misalnya, meski berkali kali terlibat bentrokan dengan ISIS, tapi tidak benar benar bertujuan mengeliminir kelompok pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi itu. Yang dilakukan Bashar Assad hanyalah mempertahankan wilayah yang sudah dikuasainya sembari membuka jalan untuk merebut kota kota yang dianggap penting. Oleh sebab itu, agenda merebut kota Raqqa bukanlah menjadi agenda utama Bashar Assad. Serangan udara Rusia juga konon tidak benar benar menyasar ISIS. Konon, dua pertiga serangan udara Rusia justru diarahkan pada pemberontak moderat. Serangan ke kota Raqqa bagi Rusia tak lebih dari latihan menembak semata. Begitu juga dengan rencana Turki mengirim lebih banyak pasukan darat ke Suriah. Mungkin saja sekali dua kali akan menyasar ISIS, tapi tujuan utamanya bukan itu. Ada dua hal yang ingin diraih Turki. Pertama melemahkan kemampuan militer pasukan Kurdi, yang kedua mencegah Bashar Assad menguasai kota Aleppo. Sementara Arab Saudi sendiri meski menggunakan ISIS sebagai alasan, tapi tujuan utamanya bukan itu. Tapi menggulingkan Bashar Assad dan melemahkan posisi Iran. Sebagai salahsatu aktor di kawasan, Saudi menganggap Suriah sebagai salahsatu ancaman berbahaya, sebab merupakan sekutu dekat musuh mereka, Iran. Jika Assad terguling, maka pengaruh Iran bisa dieliminir. Kemudian, Amerika Serikat. Keterlibatan negeri paman Sam di konflik Suriah ini sebenarnya lebih pada melindungi dan mempertahankan pengaruhnya di kawasan. Amerika sepertinya ingin bermain manis. Tidak terlalu ngotot menekan Bashar Assad, tapi juga tidak mendukung. Amerika akan berupaya melanggengkan konflik jika merasa kepentingannya terganggu, dan akan berhenti bertindak jika ada konsensi yang menguntungkan. Ini terlihat dari misi ganda Amerika di Suriah. Di satu sisi, mereka getol mempersenjatai gerilyawan Kurdi. Yang artinya tidak ingin membiarkan Turki memiliki pengaruh besar di kawasan itu. Di sisi lain juga mempersenjatai pemberontak moderat Suriah demi mengimbangi aksi rival bebuyutannya, Rusia.
PERANG PUPUTAN DI ALEPPO
Pertarungan final aleeppo
Meski letaknya sangat jauh dari pusat ibukota Suriah, tapi kota Aleppo menjadi lokasi yang sangat vital untuk diperebutkan. Ini adalah kota terbesar kedua setelah Damaskus yang sejak lama berfungsi sebagai kota komersil. Letaknya yang berbatasan dengan Turki menjadikan Aleppo tak ubahnya jalur strategis yang menghubungkan Suriah dengan dunia luar. Bagi pemerintah Suriah, menguasai Aleppo berarti memenangkan peperangan dengan kaum pemberontak. Sementara bagi kubu anti Assad, penguasaan atas Aleppo berarti mempertahankan peluang untuk menggulingkan rezim. 
Sejauh ini belum satupun kelompok yang benar benar bisa dikatakan menguasai kota yang sudah berdiri sejak 2000 SM itu. Sisi timur berada dalam kontrol rezim Bashar Assad. Sementara sisi barat dan selatan dikuasai pemberontak. Sejumlah kecil wilayah berada dalam kontrol milisi Kurdi dan ISIS. Sebelum Rusia menggelar kampanye udara di langit Aleppo, penguasaan atas Aleppo antara pemberontak dan pemerintah Suriah boleh dikatakan seimbang. Tapi semenjak operasi udara yang dilakukan Rusia akhir tahun lalu peta konflik di provinsi Aleppo banyak mengalami perubahan. Pasukan pro pemerintah yang diuntungkan akibat serangan udara Rusia perlahan bergerak maju dan menguasai kota kota penting yang menghubungkan Aleppo dengan kawasan lain. 
Di timur laut, tentara Suriah yang ditopang milisi pro pemerintah berhasil menguasai kota Sheikh Ahmad dan kawasan Albab yang semula di kuasai ISIS. Penguasaan atas dua kota ini praktis mengisolasi basis ISIS di kota Rayyan sekaligus memutus rute mereka dari kota Raqqa menuju Aleppo. Di utara Aleppo, pasukan pro Assad bergerak dari kawasan Industri Sheikh Najar menuju barat laut dan mengontrol wilayah wilayah yang terhubung dengan kantong kantong Syiah di Nabl dan Zahra. Keberhasilan ini selain membebaskan kota itu dari pengepungan, juga sekaligus memutus rantai pasokan logistik pemberontak dari perbatasan Turki ke Aleppo. Sementara di selatan, pasukan rezim memperluas wilayahnya dengan merebut Kan Touman. Jatuhnya Kan Touman (meski berita terakhir menyebut bahwa kota itu kembali di serbu pemberontak) ke tangan pasukan pemerintah ini juga berakibat fatal dengan terputusnya jalur pasokan logistik dari Idlib ke Aleppo.
Praktis, posisi pasukan Assad berada di atas angin. Setidaknya dengan menguasai wilayah di sekeliling Aleppo, pertarungan terakhir merebut kota kuno itu tinggal menunggu waktu. Kondisi inilah yang akhirnya membuat negara negara pendukung pemberontak semisal Arab Saudi, Turki, Amerika dan sekutu sekutunya gusar bukan main. Turki langsung merespon situasi ini dengan mengirim lebih banyak unit tempur ke Suriah. Begitupun Arab Saudi yang berencana mengirim 150 ribu prajuritnya ke medan perang Suriah. Tak ketinggalan Amerika Serikat juga berencana menambah jumlah pasukannya di Suriah. Ini belum termasuk sekutu mereka yang lain.
Jika manuver negara negara anti Assad ini benar benar terwujud di lapangan, pertarungan di palagan Suriah bakalan semakin seru. Kita akan menyaksikan bagaimana pesawat tempur Rusia bertarung dengan jet tempur Amerika. Balatentara Arab Saudi bertemu musuh bebuyutannya, Iran. Milisi Kurdi berhadapan dengan tentara Turki. Sementara tentara Assad berjibaku dengan kawanan pemberontak. Ibarat perjudian, siapa yang bakal tertawa dan menangis, siapa yang bakal menangguk keuntungan dan siapa yang menelan kebangkrutan, ditentukan di sini. Aleppo.