Theme images by Storman. Powered by Blogger.

AHOK (nggak) BISA DIKALAHKAN ?

Oleh : Komandan Gubrak
 
Sejauh ini minimal menurut pengamatan penulis, popularitas maupun elektabilitas Ahok memanglah masih sulit ditandingi. Nama - nama yang mencuat di media selama ini, dilihat dari berbagai segi belumlah cukup untuk mengalahkan gubernur DKI tersebut. Apakah itu Ahmad Dhani, Yusril Ihza Mahendra atau bakal calon yang lain. Apalagi sosok yang semula digadang - gadang dan sanggup mengimbangi Ahok semisal Risma, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil, jauh - jauh hari sudah menyatakan tidak berminat masuk pusaran Jakarta. Makin sulitlah bagi siapapun untuk menghentikan Basuki Tjahaja Purnama memperpanjang kekuasaannya.
 
Pertanyaannya, benarkah demikian ?.
Pict : abdurakhman.com
 
Bagi publik yang awam, apalagi yang kurang begitu memahami dunia politik, tentu akan meyakini bahwa Ahok memang tidak bisa dikalahkan. Tapi menurut penulis, persepsi itu masihlah terlalu prematur. Politik bukan matematika. Segala sesuatunya menjadi mungkin. Bahkan mereka yang dari awal diprediksi menangpun, di detik detik terakhir justru terjungkal. Kita tentu masih ingat bagaimana Fauzi Bowo (Gubernur DKI sebelumnya) yang diawal selalu diatas angin, namun tumbang di menit terakhir. Kita tentu juga tidak lupa, bagaimana Prabowo yang sebelumnya menurut survey tertinggal jauh, namun di hari pemungutan sanggup memperpendek jarak elektabilitas, meski akhirnya kalah. Jadi, kemungkinan gubernur incumbent DKI kalah, masihlah sagat terbuka.
 
Terlalu percaya diri justru menjadi blunder Ahok
 
Selain memiliki tabiat yang sedikit temperamen lagi lugas, Ahok dikenal memiliki kepercayaan diri yang luar biasa besar. Ia adalah tipe manusia yang boleh di bilang bernyali besar. Bagaimana ia memutuskan mundur dari jabatannya sebagai bupati di Belitung Timur untuk maju sebagai calon gubernur Babel. Bagaimana ia mundur dari posisi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar demi menerima pinangan kubu PDI Perjuangan dalam Pilkada DKI silam, bagaimana ia memutuskan keluar dari Gerindra karena merasa kurang sependapat dengan partai, dan terakhir adalah manuver Ahok yang memilih jalur independen untuk meraih lagi kursi DKI 1, adalah bukti bahwa pria berdarah Tionghoa ini memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dan dalam beberapa hal mungkin saja berlebihan.
 
Dalam politik, kebenaran adalah persepsi. Tergantung dari sudut mana seseorang memandangnya. Seseorang bisa saja memiliki visi besar akan sebuah tata kelola pemerintahan, akan tetapi jika ia gagal menjelaskan visinya kepada publik, maka bisa jadi ia akan gagal pula mengaplikasikan niatnya. Dan sifat terlalu percaya diri, merasa menang sebelum perang dan menutup kompromi dengan pihak lain, adalah ciri orang yang memiliki kemungkinan gagal membangun persepsi. 
 
Apakah hal ini disadari oleh Ahok ?. Entahlah. Tapi yang pasti, situasi inilah yang nantinya akan dimanfaatkan betul mereka yang memiliki kepentingan dalam Pilkada DKI nanti, terutama dari pihak partai politik. 
 
Meski persepsi sebagian masyarakat terhadap partai politik cukup negatif, akan tetapi faktanya hingga saat ini demokrasi di indonesia masih bertumpu pada keberadaan partai politik. Parpol sejauh ini masih menjadi satu satunya institusi penting dalam melahirkan calon calon pemimpin bangsa. Kita bisa melihat hasilnya di lapangan. Hampir kebanyakan pemimpin di berbagai tingkatan terlahir dari rahim partai politik. Dalam setiap election, nyaris sulit sekali kita menemukan kandidat independen memenangkan pertarungan. Kalaupun menang, jalannya pemerintahan yang ia kelola tidaklah mudah. Pembaca bisa melihat bagaimana nasib bupati dari jalur independen di Kabupaten Garut.
 
Maka, meski Ahok memiliki elektabilitas maupun popularitas yang sangat cukup untuk menang, jika ia mengabaikan fakta itu, akibatnya bisa sangat fatal. Penulis dalam hal ini justru tertarik dengan manuver mauver parpol, terutama yang memiliki suara cukup signifikan di DKI. Ambil contoh PDI Perjuangan, Partai Gerindra, PKS dan beberapa partai lainnya. Secara umum, sikap partai partai pemilik suara banyak ini cenderung tidak banyak melakukan manuver politik. Minimal jika kita lihat di media. PDI Perjuangan misalnya, hingga saat ini masih menutup rapat sikapnya dalam menghadapi ajang Pilkada DKI kali ini. Partai tidak secara lugas mengajukan calon sendiri atau akan mendukung Ahok. Sikap hati hati juga dipertontonkan Partai Gerindra. Meski boleh dibilang paling getol menolak Ahok, akan tetapi masih belum terang terangan mengajukan jagonya. Sikap hati hati juga dilakukan PKS. Partai yang pernah memenangkan pileg DKI ini cenderung wait and see (menunggu dan melihat). Justru yang terlihat menggebu gebu adalah partai partai kecil. Yang secara politik pengaruhnya tidaklah terlalu besar. Misalnya, Nasdem yang sudah lebih dulu menyatakan dukungannya ke Ahok. Lalu, PKB yang meski belum resmi, tapi getol bermanuver.
 
Menurut hemat penulis, sebelum partai partai gajah itu bersikap, memprediksikan Ahok bakal menang dalam Pilkada DKI adalah sikap yang gegabah. Secara teori saja sangat mungkin partai partai itu menggagalkan Ahok maju di jalur independen. Bayangkan, jika PDI Perjuangan, Gerindra, PKS dan partai lainnya bahu membahu membendung Ahok. Bukan dengan cara bersatu mengajukan satu pasangan calon. Tapi memfasilitasi calon calon independen lain untuk maju. Partai punya jaringan, punya infrastruktur yang memadai dan juga punya uang. Mereka akan dengan mudah mengumpulkan KTP untuk mengajukan satu pasang calon. Jika ada lima partai yang masing masing memfasilitasi calon independen untuk maju dan setiap partai sanggup mengumpulkan satu juta KTP, apakah anda masih yakin Ahok lolos verifikasi ?. Apakah anda yakin, KTP yang dikumpulkan Teman Ahok sudah pasti hanya merekomendasikan Ahok ?. Bagaimana kalau mereka yang mendaftarkan KTPnya untuk Ahok itu di iming - imingi uang untuk mendaftarkan KTPnya juga untuk calon independen lain ?.
 
Dan perlu kita ketahui, jaringan Teman Ahokpun sebagian berasal dari institusi partai politik. Pemilih Ahok juga sebagian besar kader atau simpatisan partai. Jadi, bukankah sangat mudah menghancurkan Ahok ?.