Theme images by Storman. Powered by Blogger.

MENEROPONG MASA DEPAN PKB

Oleh : Komandan Gubrak
 
Manuver PKB DKI yang menggulirkan wacana pencalonan musisi ternama, Ahmad Dhani sebagai bakal calon Gubernur, dilihat dari sisi psikologis warga Jakarta memang tidaklah memiliki implikasi politik apa - apa. Publik tetap saja menganggap itu hanya sekedar dagelan politik semata, atau paling jauh merupakan upaya partai ini menaikkan daya tawar. Karakter warga DKI yang relatif rasional, membuat tokoh tokoh yang hanya mengandalkan popularitas susah sekali bersaing. Fakta politik di lapangan sudah membuktikan. Di DKI, tidak ada satupun parpol yang sanggup mendominasi. Dari pemilu ke pemilu, pemenangnya lebih sering berubah. PPP, Golkar, Demokrat, PKS hingga PDI Perjuangan pernah menang di sini. Lalu, kenapa PKB terkesan getol mempromosikan Ahmad Dhani ?

Inilah yang menurut penulis sangat menarik. Pengalaman partai ini di Pemilu 2014 silam agaknya menjadi acuan dan rancangan strategi ke depan. Ini bagian dari persiapan partai untuk merealisasikan cita citanya melewati perolehan Partai Golkar.

Jika kita menilik dari segi basis politik, tidak bisa dipungkiri, sebaran suara partai ini memanglah terlalu sempit. Hanya mengandalkan kekuatan fanatik kaum Nahdliyin. Dan itupun berkutat di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian utara. Di area lain, suara PKB nyaris tak terdengar. Maka, wajar jika PKB hanya di cap sebagai partainya warga NU. Dimana NU kuat, disitu PKB eksis.

Kondisi seperti ini tentu tidak menguntungkan PKB, jika memang ingin merebut posisi runner up di pemilu. PKB harus melakukan terobosan untuk merebut pangsa pasar di luar kaum sarungan. Dan cara paling instan tapi efektif adalah dengan mengandalkan figur figur populer.

Di Pemilu 2014 yang lalu, cara ini cukup efisien. Bergabungnya Ahmad Dhani dan Rhoma Irama dalam team kampanye PKB benar benar mengubah citra partai. Tidak usahlah bicara soal Jawa Timur atau Jawa Tengah yang memang basis politik PKB. Di Jawa Barat, meski jumlah kursi yang diperoleh masih dalam hitungan jari, tapi dari progressnya bisa dibilang luar biasa. Mengingat di pemilu sebelumnya hanya sanggup merebut satu kursi. Begitupun di DKI. Pada pemilu 2009, PKB hanya sanggup meraih satu kursi DPRD dan tak sanggup membentuk fraksi sendiri. 2014, PKB DKI mengalami peningkatan pesat. Hampir 600% dan mengoleksi 6 kursi. Dan uniknya, temuan lembaga survey tersohor menyatakan bahwa limpahan suara yang masuk ke partai berlogo bintang sembilan ini tidak melulu dari warga Nahdliyin. Mereka berasal dari berbagai macam warna masyarakat. Dan yang paling mengejutkan adalah sebagian pemilih PKB di 2014 merupakan pemilih PKS di Pemilu sebelum sebelumnya. Sesuatu yang menurut logika tidak masuk akal. Tapi itulah faktanya.

Strategi politik PKB yang memanfaatkan nama beken benar benar membuat partai ini tampil luar biasa di Pemilu 2014. Tidak tanggung tanggung, secara nasional, PKB mengalami kenaikan yang nyaris 100%. Dari 4,94% di pemilu sebelumnya, menjadi 9,04% pada 2014.

Memang, angka ini bukanlah angka tertinggi PKB sepanjang keikutsertaannya dalam pemilu (1999/ 12,61%, 2004/ 10,57%), akan tetapi kalau boleh jujur, ini merupakan progres yang cukup menggembirakan. Mengingat, PKB sudah tak memiliki lagi sosok sentral yang benar benar bisa diandalkan untuk menjaga atau mengatrol dukungan, seperti halnya Gus Dur.

Team work PKB saat ini, jika di nilai dari manajemen organisasi boleh dibilang cukup menjanjikan. Diawaki banyak kaum muda, bahkan Ketumnya boleh dibilang paling muda dibanding ketua umum partai lain. Meski begitu, PKB tetap mampu mempertahankan dukungan kaum tua (yakni para kyai). Kita bisa menilai ini dari hasil muktamar NU di Jombang beberapa waktu silam. Dimana kelompok yang condong mendukung PKB begitu mendominasi. Itu artinya, garansi dukungan dari kaum Nahdliyin tetap bisa dipertahankan pada pemilu nanti. PKB tinggal berusaha merebut pangsa pasar lain. Apakah itu kaum muda, maupun pemilih di luar Jawa.

Oleh sebab itu, memunculkan Ahmad Dhani sebagai ikon partai belumlah cukup. Partai harus mencari akal untuk memperkuat dan merebut dukungan di segmen lain. Jika ini bisa dilakukan, bukan tidak mungkin PKB finish peringkat dua atau minimal tiga.