Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Bercanda Kok Menghina !

Dalih kebebasan berekspresi dan berpendapat memang melenakan. Karena dalih itu, banyak orang terpeleset dan harus berurusan dengan aparat.

Meski terkadang pihak kepolisian kerap terasa berlebihan menyikapi keberatan pihak lain terkait kebebasan berekspresi, namun tak bisa dipungkiri bahwa kebebasan berpendapat itu juga diimplementasikan secara berlebihan oleh masyarakat.

Seperti yang dilakukan penyanyi dangdut Zaskia Gotik saat menjadi bintang tamu program Dahsyat di sebuah televisi swasta nasional, Selasa (15/3) lalu. Hari itu, Zaskia mengikuti salah satu segmen “Cerdas Cermat” dalam program Dahsyat.
Zaskia dalam salah satu acara dahsyat

Pembawa acara sekaligus komedian Denny Cagur bertanya tentang lambang sila kelima Pancasila. Dengan maksud melucu, Zaskia menjawab, “bebek nungging.” Pada sesi yang sama sebelumnya, Zaskia menyebut Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia adalah “setelah azan Subuh tanggal 32 Agustus”.

Alih-alih melucu, sejumlah kalangan menilai candaan itu justru lebih tepat dianggap sebagai penghinaan. Usaha Zaskia untuk melawak ternyata ditanggapi dengan kekesalan dan kekecewaan.

Akibatnya, hingga saat ini setidaknya sudah ada dua laporan polisi yang diterima Polda Metro Jaya dan teguran keras Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas ucapan yang dianggap merendahkan lambang negara itu. Pekan depan, Zaskia dan Denny Cagur diminta menghadap penyelidik Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Penerimaan kita terhadap sebuah candaan memang bergantung dari perspektif masing-masing. Tetapi saya termasuk orang yang menyepakati bahwa bercanda dalam jenis dan niat apapun jangan sampai membuat pihak lain merasa terhina.

Kebebasan berekspresi dan berpendapat harus dijalani dengan kesepakatan sebagai kebebasan yang bertanggung jawab. Hak Anda dibatasi oleh hak saya. Demikian juga kebebasan saya dibatasi oleh kebebasan Anda.

Bebas bukan berarti boleh melanggar, dan tentu saja, bukan berarti boleh menghina. Bercanda adalah bercanda, dan menghina adalah menghina, keduanya pun sangat berbeda jika kita cukup peka untuk tidak memaksakan diri membungkusnya sebagai guyonan.

Namun apakah perlu sejauh itu menyeret Zaskia dan Denny ke ranah pidana “hanya” karena lawakan mereka ternyata lebih mirip penghinaan? Ketentuan pidana ketika seseorang menghina lambang negara memang diatur dalam Pasal 57 juncto Pasal 68 UU Nomor 24 tahun 2009 Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Pasal 57 UU Nomor 24/2009 menyebutkan, setiap orang dilarang merusak lambang negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan lambang negara. Ketentuan pidana terhadap orang yang menghina dan merendahkan kehormatan lambang negara diatur dalam Pasal 68 UU Nomor 24/2009 dengan pidana penjara maksimal lima tahun atau denda Rp500 juta.

Bagi saya, upaya pidana ini terlalu jauh. Mumpung masih dipelajari, ada baiknya Polda Metro Jaya tidak memperpanjang dan lebih mengurusi hal-hal yang lebih mendesak ketimbang meladeni kedangkalan “gurauan” satu orang Zaskia.

Karena bisa saja pelanggaran ini terjadi lantaran stasiun televisi swasta yang membuat program tak berpegang pada aturan siaran. Yang harus diperpanjang dan disikapi lebih serius adalah para pelanggar aturan yang menayangkan program dangkal dan tak bermutu.

Caranya jelas, jangan hanya berkali-kali memberi peringatan dan sebatas teguran keras. Para pengatur kebijakan harus lebih berani bertindak tegas hingga mampu memberi sanksi lebih keras atas pelanggaran-pelanggaran isi siaran.

Sudah terlalu lama stasiun-stasiun televisi swasta abai dengan aturan siar dan malah mengeruk keuntungan dari program yang tak layak. Program yang menjual lawakan yang seringnya mengarah kepada hinaan itu malah menarik iklan karena tayang pada jam-jam tertentu.

Angka pendapatan dari iklan itu bisa dilihat dari riset data iklan komersial AdsTensity yang dilakukan PT Sigi Kaca Pariwara. Pada kuartal I tahun 2015 disebut, total belanja iklan televisi swasta di Indonesia mencapai Rp17 triliun.

Angka iklan yang mencengangkan jika hanya diganjar kualitas program televisi seperti yang kita saksikan saat ini.
Sumber : CNN Indonesia