Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Jangan Ambil Pacarku

Tubuh rapuh itu tersandar lunglai di dinding. Rambutnya yang ikal terlihat berantakan tak tertata. Dua telapak tangannya berpangku di atas paha kaki yang berselonjor kaku tak bergerak. Tatapannya kosong lurus ke depan. Berselimut kabut dan bertahtakan embun-embun tipis di telaga kelopaknya. Berpadu padan dengan pancaran raut sayu yang memenuhi wajahnya.
Jangan Ambil Pacarku

Jangan Lupa Baca Juga Cerita tentang Pacar Kontrak
Entah sudah berapa lama ia teronggok di tempat itu. Menahan berton-ton beban kepedihan yang menimpa pikirannya. Hingga membuatnya nyaris tak bergerak sama sekali. Jika bukan karena deru nafasnya yang masih terdengar lirih bersahutan, mungkin orang akan melihatnya seperti patung yang menempel erat di dinding. Jika bukan karena letupan denyut jantung yang bertalu, bisa jadi ia tak ubahnya kayu lapuk yang sudah berlumut.

Ia memang pantas meratapi nasib hidupnya. Sekian pengorbanan telah ia lakukan. Mengunci kedua telinganya dari suara-suara sumbang, menutup kedua matanya dari segenap godaan semu, dan memupuk keteguhan dalam jiwanya dengan harapan ia akan memetik buah manisnya kelak. Tapi nyatanya, yang ia dapat hanya rasa sakit yang teramat sangat. Sesuatu yang telah ia perjuangkan hidup mati, kini melayang musnah tak berbekas.

Aryo. Usianya masih sangat belia. Sekitar dua puluh dua tahun dan baru saja menyelesaikan bangku kuliah setahun silam. Tabiatnya pendiam dan sedikit tertutup. Dalam pergaulan ia cenderung menjadi sosok penyendiri. Tidak banyak teman sebaya yang ia kenal. Hanya beberapa gelintir yang itupun rata-rata berjenis kelamin pria. Sementara teman dari genre wanita, nyaris tak pernah ada. Latar belakangnya yang anak tunggal mungkin menjadi penyebab kenapa ia memiliki kecenderungan lebih tertutup. Ayahnya, yang ia anggap paling mengerti, dalam keseharian nyatanya tak memiliki banyak waktu untuk sekedar bercengkerama. Sementara ibunya, meski lebih sering di rumah, di mata Aryo justru merupakan sosok yang galak, otoriter dan tak bersahabat.

Satu-satunya wanita yang ia kenal dekat hingga kini mungkin hanya Tiara. Perempuan berusia tiga puluh tujuh tahun dan berstatus lajang itu dulunya adalah bekas dosen pembimbing akademik Aryo. Dari bangku kuliah itulah keakraban antar keduanya terjalin baik. Bagi Aryo, Tiara bukan hanya sosok mentor belajar, tapi berperan sebagai kakak tempat berkeluh kesah, kawan berbagi cerita dan tak jarang malah berperan sebagai ibu menggantikan sosok ibu kandungnya sendiri. Meski sudah tidak lagi duduk dibangku kuliah, hubungan mereka tetap terjalin akrab. Kebetulan lokasi tempat Aryo bekerja tak jauh dari bekas kampusnya. Maka, setiap kali ada waktu senggang, mereka menyempatkan diri untuk bersua.

Keintiman yang selalu terjaga inilah yang akhirnya memantik tumbuhnya bulir-bulir cinta di sanubari Aryo. Bagi Aryo, usia bukan penghalang serius untuk meluapkan segala rasa di hatinya. Ia tetap berjalan lurus walau kadang teman-teman sekantor mencibir tindakannya. Bahkan ketika ibunya mengetahui hubungan itu dan menunjukkan rasa tidak senangnya, Aryo tetap tidak mau surut.

“Aku ini laki-laki, ma” Aryo membela diri.

 “Tapi bukan dengan perempuan yang lebih layak jadi ibumu kan ?”.

“Memang kenapa ?”.

“Kamu bisa cari yang lebih muda atau sebaya” sahut ibunya.

“Cinta itu perasaan. Bukankah mama juga... ?”.

“Pokoknya mama nggak setuju. Titik!!!” naik pitam.

Jika sudah begini, yang bisa dilakukannya hanya menggerutu dalam hati. Apa yang salah dengan cinta beda usia. Bukankah banyak pasangan dengan kondisi serupa, namun berjalan baik-baik saja. Tidak perlu jauh-jauh mencari padanan, bukankah dirinya sendiri juga terlahir dari pasangan beda usia. Meski perbedaannya relatif lebih kecil, tetap saja itu merupakan perbedaan nyata. Lantas, kenapa hanya dirinya yang dipersoalkan ?.

“Setiap orangtua pasti berpikir begitu, Aryo” hibur Tiara siang itu disebuah rumah makan dekat kampus.

“Mereka tentu menginginkan anaknya mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang pernah mereka alami. Itu wajar saja”.

“Itu tidak adil” sanggah Aryo.

“Tapi tetap harus kamu pertimbangkan”.

“Nggak perlu” geleng Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya lirih. Secercah senyum simpul meluncur dari sudut bibirnya yang merah merekah.

“Aku serius mencintaimu, Ra” ucap Aryo sembari merengkuh jemari bekas dosennya itu.

“Hem”.

“Beri aku waktu untuk berjuang mendapatkanmu. Aku yakin, bisa” imbuhnya meyakinkan.

Perempuan yang masih terlihat cantik di usia yang sudah menginjak tua itu hanya bisa tertegun menyaksikan keteguhan hati Aryo. Tak bisa dipungkiri, di lubuk hati yang paling dalam, sesungguhnya tersimpan perasaan kagum pada sosok anak muda di depannya. Jika bukan karena ada pertimbangan lain, yang itu bukan melulu soal usia dan persetujuan orangtua,  sudah barang tentu ia merentangkan tangan dan menerima uluran cinta mantan mahasiswa didiknya itu.

“Sudahlah, Aryo. Pertimbangkan saja baik - baik nasehat orangtuamu. Cinta itu bukan sekedar pertautan antara pria dan wanita semata loh. Tapi juga pertautan antar keluarga dan juga...”.

Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Tiara. Ada perasaan tidak tega dalam hatinya jika harus mengatakan yang sebenarnya. Bagaimanapun, selama ini Aryo telah menunjukkan sikap yang sangat baik pada dirinya. Tidak pada tempatnya jika ia secara terbuka menyakiti perasaan pria yang begitu mencintainya itu. Mungkin butuh waktu. Ya.

***

Mentari baru saja naik sepenggalah. Cahayanya menerobos lubang-lubang angin di atas jendela. Menyisakan garis-garis warna terang di atas peraduan. Sesosok laki-laki dengan selimut membekap erat meliukkkan tubuhnya. Perlahan bola matanya terbuka. Melirik jam dinding yang kini berada di angka delapan. Tapi sejenak kemudian ia kembali menghempaskan kepalanya di atas bantal.

Semalaman Aryo nyaris tak bisa tidur nyenyak. Bukan karena sedang menguras otak untuk memikirkan sang pujaan hatinya. Atau sekedar menggantungkan rasa rindu tiada kira di dalam dada. Melainkan karena keributan yang terjadi di kamar seberang sana. Sesuatu yang sebenarnya sudah sekian lama menjadi semacam rutinitas keluarga. Selalu saja ada yang dipersoalkan. Apakah itu hanya mengenai hal-hal kecil, semisal menu makanan yang kurang enak, atau masalah besar yang berkaitan dengan masa depan keluarga. Pun demikian, biasanya pertengkaran itu tidak sampai membuat situasinya serba genting. Papanya masih tetap beraktifitas seperti biasa, sementara mamanya kembali menunaikan kewajiban seorang ibu rumah tangga.

Tapi, pertengkaran semalam entah mengapa menyisakan situasi berbeda. Tengah malam tadi ibunya menyelinap masuk kamar Aryo. Menenteng tas ransel besar dengan mata sembab dan raut muka diliputi kesedihan. Tidak banyak yang dikatakan. Hanya satu dua patah kata. Tapi itu cukup membuat Aryo mengambil kesimpulan bahwa kondisinya sudah sedemikian genting.

“Aryo...” terdengar suara lirih memanggil. Suara yang sudah sangat dikenalnya.

Aryo membuka matanya. Tapi tidak segera beringsut bangun.

“Kamu nggak kerja ?” terdengar lebih dekat.

“Nggak, pa. Aryo lagi nggak enak badan” jawabnya sembari bangkit lalu duduk sejajar dengan sang ayah di bibir ranjang.

Lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun itu hanya mendehem tanpa berusaha bertanya lebih lanjut tentang kondisi Aryo. Raut wajahnya terlihat lelah dan kurang bersemangat. Barangkali peristiwa semalam membuat penampilan papanya pagi ini tak seceria biasanya.

“Mama kenapa, pa ?” Aryo memberanikan diri bertanya.

Lelaki yang penampilannya masih terlihat muda itu menolehkan. Di tatapnya wajah Aryo dalam-dalam.

“Emang mamamu nggak bilang apa-apa sama kamu ?”.

“Ngomong sih...”.

“Trus ?”.

“Cuma bilang ingin tinggal di rumah lama. Trus berpesan, jaga diri Aryo baik-baik. Udah gitu doang” terang Aryo.

“Lainnya ?”.

Aryo menggeleng.

“Emang ada apa sih, pa ?”.

Kali ini sang ayah menarik nafas dalam-dalam. Tangan kanannya merangkul erat pundak Aryo. Sorot matanya lurus ke depan menghadap cermin di seberang ranjang. Seolah ingin mengatakan bahwa ia satu nafas dengan sang anak.

“Kamu tahu sendiri, kan ?. Mamamu itu tabiatnya selalu begitu. Pemarah, suka ngatur ini itu dan tak mau mengalah” ungkap papa.

“Iya sih...” Aryo menanggapi.

“Coba perhatikan” dengan mimik serius, “papa ini kurang apa. Pergi pagi pulang malam. Badan capek, mata ngantuk. Semua demi kalian. Tapi apa yang papa dapat ?. Mamamu itu kerjanya marah-marah mulu. Harusnya papa pulang, pasang tampang ramah, semua disiapin. Tapi, nggak kan ?”.

Aryo mengangguk.

“Bukan sama papa aja, mama begitu”.

“Nah...kan..?”.

Di timpali begitu, wajah papa Aryo terlihat semringah.

“Sekarang, apa yang papa mau lakuin ?” Aryo serius.

“Yaaa...gimana ?. Dia maunya begitu. Ya..sudah. Biarin aja” enteng.

“Kok....?” merasa aneh.

“Ah, sudahlah. Nanti juga reda sendiri” tepis papa Aryo seolah tidak ingin memperpanjang masalah.

Aryo terdiam. Bukan hendak menuruti kata kata papanya untuk tidak terlalu pusing memikirkan masalah itu, tapi justru sebaliknya. Pikirannya kini malah melayang pada kejadian semalam. Dicobanya untuk mengingat kembali apa-apa yang ia dengar dari pertengkaran itu. Meski tak mengerti betul duduk persoalannya, tapi satu hal yang tiba-tiba terngiang ditelinganya. Yakni perkataan tentang poligami.

“Ya Tuhan” keluhnya dalam hati.

Mungkinkah papa hendak berpoligami ?. Dengan siapa ?. Alasannya apa ?. Apakah karena menganggap mamanya sudah tidak menarik lagi ?. Atau karena sikap mamanya yang terlampau otoriter ?. Ataukah malah sebaliknya ?.

Kalau melihat karakter mamanya yang otoriter, tentu masuk akal jika papanya merasa jenuh dan berpaling. Tapi melihat gelagat papanya yang seolah tanpa beban meski semalam ditinggal istri, sepertinya Aryo harus melupakan sejenak ketidaksukaannya pada sang mama. Bisa jadi, tabiat mama yang sering emosional akhir-akhir ini disebabkan karena sudah mencium gelagat buruk papanya. Dugaan demi dugaan menggelayuti pikiran Aryo. Saling menindih, saling sikut dan tak jelas ujung pangkalnya.  Ah, kenapa aku mesti ikut-ikutan pusing memikirkan pertengkaran mereka ?.

“Kamu pernah jatuh cinta, Ar ?”.

Aryo terhenyak dari lamunannya. Otaknya bekerja cepat mereka ulang ucapan yang baru saja mendarat ke telinganya. Walaupun hubungannya dengan sang ayah cukup akrab, tapi sekalipun mereka tak pernah membahas soal cinta. Aryo sendiri selama ini cenderung menutup-nutupi kisah cintanya. Apalagi setelah ia tahu mamanya menentang keras, ia makin segan membicarakan masalah itu. Tapi, kali ini justru papanya yang memulai. Entah itu pertanyaan serius yang ditujukan untuknya, atau malah papanya yang ingin curhat ?.

“Pernah, sih” Aryo berhati-hati.

“Sudah mendapatkannya ?”.

Aryo garuk-garuk kepala.

“Itu dia....”.

“Itu dia kenapa ?” cerca sang papa penasaran.

“Gimana ya ?” berpikir sejenak, “Aryo sih suka sama dia, tapi nggak tahu dia suka apa nggak”.

“Ha...ha...ha...”.

Serentetan tawa renyah meledak dari mulut papanya. Aryo mengangkat bahunya. Merasa aneh, tapi juga lega melihat orangtua laki-lakinya mulai bisa tertawa.

“Lucu ya, pa ?” pancing Aryo.

Papa Aryo mengangguk.

“Kalau nggak kamu ungkapkan, ya mana tahu dia suka atau tidak ?”.

“Sudah”.

“Ohya ?. Trus ?”.

“Dianya belum memberi kepastian” jawabnya singkat.

“Itu artinya kamu mesti berjuang lebih gigih lagi” kata papa Aryo sembari menepuk pundak anaknya.

“Begitu ya” pura-pura bodoh, “apakah dulu papa juga begitu ?”.

“Ya”.

“Dengan mama ?”.

Menggeleng.

“Trus ?”.

Tidak menjawab.

“Ehmm...kalau terlalu parah, berobat aja. Kalau nggak, ya istirahat saja. Papa mau berangkat ke kantor” tanpa mempedulikan raut wajah Aryo yang masih dililit rasa penasaran, pria yang usianya menginjak tahun ke empat puluh lima itu beranjak dari duduknya.

Aneh. Aryo tak habis pikir dengan apa yang baru saja diucapkan papanya. Tapi buru-buru ia menepis perasaan itu. Yang tersisa hanya nasehat sang papa agar ia lebih gigih berjuang mendapatkan cinta.

Ya. Walau hubungannya dengan Tiara boleh dibilang sudah sangat dekat. Liburan berdua, makan siang berdua, bahkan seringkali ia mengantar Tiara sepulang kerja, tapi hingga detik ini pujaan hatinya itu belum juga bersedia membuka hatinya. Entah sudah berapa kali Aryo menanyakan soal itu pada Tiara, tapi jawaban yang ia dapat selalu normatif. Jalani dulu, pikirkan dulu, kalau jodoh pasti ada takdir dan seterusnya.

Kadang Aryo berprasangka buruk, apakah ada pria lain yang sudah menguasai hati Tiara. Makanya ia tak juga membukakan pintu untuknya. Tapi, siapa ?. Dari penyelidikan yang Aryo lakukan secara diam-diam, ia tak pernah melihat adanya pria lain disamping Tiara. Teman dekat Tiara, orang tua Tiara, bahkan ketika diam-diam Aryo membongkar isi handphonenya, tak satupun ada bukti kalau kekasihnya itu punya hubungan dengan pria lain. Ah, barangkali yang dikatakan papanya benar. Laki-laki tentu berbeda dengan perempuan. Bagi lelaki, mengucapkan cinta itu semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bagi wanita, cinta butuh pemikiran yang matang. Anggap saja sikap Tiara selama ini hanya sekedar cara dia untuk menguji. Yang diperlukan Aryo hanya satu, perjuangan yang lebih gigih.

***

Walaupun sudah pindah ke rumah lama yang letaknya cukup jauh, tapi perselisihan antara papa dan mama Aryo tak juga kunjung usai. Sebagai anak, Aryo sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendamaikan keduanya. Hampir setiap hari Aryo terpaksa mondar-mandir dari tempat papa ke tempat mama, dan sebaliknya. Dari hasil obrolan kedua belah pihak, akhirnya Aryo tahu duduk persoalan sebenarnya.

“Papamu ingin menikah lagi” begitu pengakuan mama Aryo.

Pantas saja setelah pertengkaran itu mama memutuskan untuk pergi dari rumah. Rupanya ia tidak tahan dengan rencana papa untuk menikah lagi. Tentu saja, tidak ada satu wanitapun di dunia ini yang rela dimadu. Tak terkecuali mama. Meski secara fisik dan finansial papanya mampu untuk melakukan itu, namun tetap saja itu sesuatu yang menyakitkan. Bukan saja sakit bagi mama Aryo, tapi juga bagi anaknya.

Pun demikian, untuk melarangnya secara total, juga bukan solusi tepat. Meski ditentang berpoligami, bisa saja di luar papa Aryo melakukannya secara diam-diam. Apalagi aktifitasnya selama ini lebih banyak di luar rumah. Sangat mudah bagi papa kalau mau menyeleweng. Satu lagi hal yang membuat Aryo cukup mafhum dengan rencana papanya. Yakni kondisi fisik mama yang sudah mulai menurun. Selain karena usianya yang lebih tua sepuluh tahun dari papa, kesehatan mama juga sering bermasalah. Sedikit banyak ini akan mengganggu hubungan mereka.

Sayangnya, mama tak pernah mau tahu dengan situasi ini. Ia tetap bersikukuh menolak keinginan papa. Di satu sisi, papa kian hari kian mantab dengan rencananya. Yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang benar-benar menyesakkan hati Aryo. Sebulan setelah pisah ranjang, mama melayangkan gugatan cerai pada papa tanpa bisa dicegah lagi. Selang beberapa minggu gugatan itu dikabulkan pengadilan agama. Jadilah Aryo seperti anak yang hilang. Ia harus menentukan pilihan. Ikut papa atau mama. Sesuatu yang tentu sama-sama pahit.

“Kalau menurut hematku, kamu temani mamamu saja. Mamamu lebih butuh teman daripada papamu” saran Tiara.

“Jauh dari tempat kerja” sahut Aryo keberatan.

“Ya gimana lagi ?”.

Aryo mengernyitkan dahinya. Berpikir keras mencari solusi yang tepat untuk keluar dari masalah itu.

“Kita nikah aja, yuk...” entah kekuatan darimana tiba –tiba Aryo memberanikan diri untuk mengatakan itu.

Tiara terkejut. Bola matanya membelalak lebar seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Nikah ?”.

“Ya”.

“Kamu ini gimana sih ?. Orangtua lagi bermasalah, kamu malah...”.

“Justru itu”.

“Maksudmu ?” tak mengerti.

“Justru kalau kita menikah, aku terbebas dari tuntutan untuk memilih salahsatu dari mereka” Aryo beralasan.

Tiara menggelengkan kepala.

“Kalau cuma ingin dianggap adil, nggak harus nikah juga kali” setengah meledek, “tinggal cari kontrakan aja tempat lain. Beres !”.

“Ah, itu buang-buang duit” seloroh Aryo.

“Sama aja” ketus.

“Punya istri ama sendiri emang sama ?” tak mau kalah.

“Ya....ya...sama...” tercekat.

“Udah, deh. Kita nikah. Besok aku bilang ke papa buat melamarmu. Oke ?” desak Aryo sungguh-sungguh.

“Iiiihhh...kamu ini ngotot banget sih” Tiara tak mampu menyembunyikan kejengkelannya.

Gila..
Hari gini ngajak nikah ?
Memangnya selama ini kamu pikir aku cinta sama kamu ?.
Memangnya kalau aku mau kamu ajak jalan, itu artinya aku suka sama kamu ?.
Memangnya kalau selama ini aku diam saja kamu pegang – pegang, belai-belai, tandanya aku menerimamu ?.
Memangnya kalau orangtuaku menyukaimu, trus aku juga suka ?
Memangnya kalau perawan tua, itu gampang ?.

Ah, kamu salah Aryo. Berhentilah bermimpi indah anak muda. Aku melakukan itu semua karena kasihan saja. Aku sengaja menggantung harapanmu karena ingin kamu berpikir lebih matang dan pelan-pelan melupakanku. Aku sudah punya pilihan, Aryoku. Kamu harus tahu itu. Memang, ia tak lagi muda dan ganteng sepertimu. Ia juga tak punya waktu sebanyak waktumu untukku. Ia juga tak seperhatian dirimu. Tapi, aku mencintainya. Aku sayang dia. Aku rela menunggunya, meski usia terus menggerogoti.

Luapan kalimat penuh emosi menggelegar di benak Tiara. Hatinya benar-benar jengkel. Ingin ia meluapkan semua itu didepan mantan anak didiknya itu. Tapi nuraninya berkata lain. Ia sangat mengenal anak muda didepannya itu. Tiga tahun ia menjadi mentor, setahun menjadi kawan, rasanya cukup bagi Tiara untuk tahu seberapa besar nyali Aryo. Meski gaya bicaranya seringkali berlebihan dan cenderung ngelantur, tapi prakteknya seringkali bocor. Apalagi ini mengenai masa depan yang lebih panjang.

“Aku serius, Ra” todong Aryo.

Sekali lagi Tiara menggeleng.

“Selesaikan dulu masalahmu” cegatnya.

“Pasti itu. Tapi aku tetap akan melamarmu”.

Tiara menyeringai. Dengan cara apalagi ia harus menasehati pemuda di depannya itu.

“Aku belum siap !”.

“Lihat saja, nanti” ancam Aryo.

***

Mobil tipe sedan berwarna hitam itu melaju kencang dengan kecepatan 50 km/jam memasuki jalanan aspal selebar empat meter. Pagi itu kebetulan hari libur. Jadi, suasana jalanan terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang, selebihnya anak-anak kecil yang bermain sepeda di sepanjang pinggirannya. Setelah tiga puluh menit melewati lima perempatan, mobil itu berbelok ke kiri, menaikki sebuah tanjakan yang cukup terjal. Lalu menuruni jalan sempit yang sebagian tidak beraspal.

“Kamu nggak salah, Ar ?” terdengar percakapan dari dalam mobil.

“Nggak, pa. Kenapa emang ?” jawab Aryo yang hafal betul jalan itu.

“Nggak papa, sih”.

Aryo melemparkan pandangan matanya ke arah sang papa. Entah mengapa ia merasa ada yang aneh dari papanya. Bukankah sebelum berangkat Aryo sudah bercerita pada papanya kalau ia sudah sangat sering berkunjung ke rumah pacarnya. Kenapa sekarang seolah meragukan Aryo. Ah, mungkin itu hanya basa-basi papanya saja.

“Itu..tuh, pa. Rumah berwarna hijau itu. Itu rumahnya. Kita parkir di halaman sebelah kirinya saja” Aryo memberi aba-aba.

“Yang mana ?”.

“Itu, yang sebelahnya masjid. Maju lagi pa...” perintah Aryo.

“Ohhh... bentar”.

Bukannya mempercepat laju kendaraan, papa Aryo justru malah menginjak rem. Seketika mobil berhenti. Dilihatnya papa menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Kedua tangannya terangkai diatas kepala. Sementara dua matanya terpejam. Cukup lama pria itu terdiam.

“Capek, pa ?” tanya Aryo.

“Ehmmm...nggak. Ehh..iya. Oke, kita kesana” terbata.

Dengan raut wajah yang menampilkan kegugupan, papa Aryo menjalankan mobilnya kembali. Hanya selang tiga menit mobil itu sudah memasuki pelataran rumah bercat hijau dan berhenti di sisi kiri rumah. Seorang ibu berusia sekitar lima puluh lima tahun keluar menghampiri.

“Eh....Aryo” sapanya tampak sudah sangat akrab.

“Ini papaku, bu” Aryo mengenalkan.

Keduanya lantas bersalaman.

“Tiara ada, bu ?”.

“Ada. Tadi lagi mengerjakan tugas di kamar. Masuk aja dulu” kata si ibu.

Ketiganya lantas berjalan ruang tamu. Tanpa rasa canggung, Aryo segera mengajak papanya duduk di kursi sofa berwarna coklat tua dengan meja kecil terbuat dari kaca di depannya. Sementara ibu Tiara berjalan masuk ruangan dalam sembari memanggil nama anaknya.

“Kamu yakin diterima, Ar ?” tanya papanya lirih.

“Yakinlah. Kita udah lama berhubungan, kok” Aryo percaya diri.

“Kalau ditolak ?”.

“Yaaa.... gimana lagi. Tapi kayaknya sih nggak bakal, pa” jawab Aryo.

Sebentar kemudian terdengar suara langkah kaki pelan dari dalam. Aryo bangkit dari duduknya, seperti ingin menyambut datangnya seseorang yang sudah ia nantikan. Tapi sebuah tangan kuat menahan pahanya.

“Papa beli rokok dulu aja ya, Ar” sergah papa Aryo seperti hendak menghindar.

Tapi terlambat. Sesosok perempuan dengan mengenakan kerudung warna putih berhiaskan bunga mawar muncul.

“Aryo...?. Mas Adhikara ??”.

Perempuan itu menghentikan langkahnya, matanya terbelalak kaget. Wajahnya terlihat pucat pasi. Dua tangannya yang sedang memanggul nampan berisi gelas minuman bergetar hebat. Tak lama kemudian terdengar bunyi,

Pyarr !!!!

Aryo terkejut. Secepat kilat ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan berjalan terburu ke arah Tiara.

“Kamu nggak papa ?” tanya Aryo sembari bergerak membersihkan sisa-sisa tumpahan.

“Ehmm....kalian bicara berdua aja. Aku...aku...mau keluar. Ehm...cari rokok dulu. Sebentar saja kok”.

Tiara mengarahkan pandangannya pada sosok pria yang kini sudah berdiri di dekat pintu. Keduanya beradu pandang untuk beberapa saat lamanya. Aryo yang menyaksikan situasi itu makin dibuat kebingungan.

“Ini ada apa sih ?” tanya Aryo tak mengerti.

Seolah tak peduli dengan keberadaan Aryo, Tiara terus memandangi papa Aryo. Bibirnya bergetar seakan hendak mengatakan sesuatu. Tapi belum juga suaranya keluar, bayang-bayang papa Aryo sudah lenyap dari pandangan.

“Kamu kenal sama papaku ?” makin kebingungan.

Tiara menarik nafas panjang. Mencoba menekan gejolak liar yang membara di dadanya. Bola matanya mendadak redup. Butiran bening menggeliat keluar dari kelopaknya.

“Dia...” membuka suara.

“Dia adalah alasan kenapa aku lebih memilih menunggu selama bertahun-tahun”.

Blarr