Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Valentina Palma, Sang Pejuang Pendidikan

Deru kendaraan yang melaju di flyover Rawamangun, Jakarta Timur, terdengar nyaring. Namun itu tidak mengganggu konsentrasi belasan orang anak yang duduk melingkari seorang wanita muda yang sedang mendongeng dengan berbagai alat peraga.

Wanita itu adalah Valen Sastrodihardjo dan anak-anak itu adalah murid-muridnya di Sekolah Kolong Pelangi. Kolong? Ya, kolong. Itu karena lokasi 'sekolah' yang berada di kolong jembatan layang.

Walau ada kata sekolah dan kegiatan utamanya adalah belajar membaca-menulis, tapi Sekolah Kolong Pelangi bukan seperti sekolah pada umumnya. Para muridnya tidak perlu mengenakan baju seragam, boleh belajar kapan saja, tidak ada jenjang kelas dan yang paling penting sama sekali tidak ada uang SPP.

"Dulu kalau ke kampus sering banget lihat anak-anak jalanan di sini. Ada yang ngamen, ngemis dan sebagainya. Lalu saya berfikir gimana caranya berbuat sesuatu untuk mereka," tutur Valen tentang motivasinya mendirikan Sekolah Kolong Pelangi lima tahun lalu.



"Maka dibuatlah komunitas Care For Education yang menjadi cikal bakal Sekolah Kolong Pelangi ini," sambung wanita lulusan Ilmu Pendidikan Usia Dini IKIP, Jakarta.

Perbuatan mulia seperti mengajar anak jalanan bukanlah tanpa hambatan. Sebelum memilih kolong jembatan layang, sekolah yang Valen dan teman-temannya dirikan pertama kalinya di sebuah pos siskamling perkampungan pemulung itu berkali-kali terkena gusur.

"Alat peraga sumbangan dari donatur juga ikut dibakar ketika ada penggusuran. Setelah itu berpindah-pindah ke halte busway, kontrakan relawan hingga sekarang di kolong jembatan," ujar Valen sambil tersenyum lebar.

Tapi hambatan paling besar justru bukan penggusuran, melainkan dari orang tua murid. Para orang tua yang menggantungkan nafkah sebagai pemulung itu lebih menginginkan anak-anaknya membantu mencari tambahan uang, bila tidak memulung memulung maka mengamen atau mengemis di perempatan jalan.

"Tapi, setelah melalui pendekatan yang intens akhirnya mereka mengijinkan anaknya belajar di sini. Itu pendekatannya bisa satu tahun lho," sambung Valen sambil tertawa.



Sekolah Kolong Pelangi kini menjadi tempat belajar anak-anak jalanan di Rawamangun belajar membaca dan menghitung. Meski hanya beralaskan terpal dan alat seadanya sekolah ini telah berbuat banyak agar anak-anak jalanan lebih berpeluang memiliki masa depan yang baik.

Bahkan, Valen dan rekan komunitas Care For Education berusaha mencari donatur yang mau membiayai mereka untuk sekolah formal layaknya anak-anak lainya. "Anak jalanan juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka mempunyai cita-cita yang besar, kita harus semangati karena mereka penerus bangsa ini," tutup Valen.