Theme images by Storman. Powered by Blogger.

DI UJUNG HARAPAN



“Aaa ...!” (Braakkk) kecelakaan itu terjadi begitu saja, sesaat Tania berniat menyalip sebuah truk di depanya sewaktu berada di tikungan berlaju naik, sebelumnya dia berpikir kalo seandainya truk yang didepanya gagal melaju alias mundur pasti dia adalah orang pertama yang mengalami kecelakaan. Karena  truk bermuatan berat, dan kecil kemungkinan dia selamat. Tindakanya tidak membuahkan hasil, motor yang dinaikinya malah rusak parah, ban sepeda depan telah menyerupai angka delapan, lampunya pecah, dan lecet dimana-mana, untungnya Tania selamat dan tiada luka sedikitpun di badanya. Menurut saksi mata bahwa sepeda tania terpilas truk yang disalipnya sewaktu berada di tikungan. Untungnya kaki Tania selamat dari tindasan truk.


 “(Hiks hiks) ma’af pak sopir....(hiks hiks), saya yang salah tadi...” Sesal Tania sebari menangis karna syok. “ mulane toh nduk... nduk,, ojo nyalip, wes ngerti tikungan nyalip sek kliru mlaku nengen, ngeneki sopo seng loro?” si sopir kemudian berlalu begitu saja usai ngomel Tania yang banyak dikerumuni warga yang penasaran.


Tania lalu diberi minum oleh ketiga kenalanya yang kebetulan juga lewat di daerah itu, ada 1 orang yang tidak diketahui namanya, tapi sudah sering bertemu di organisasi PAC IPNU/IPPNU.mereka Lilis dan Rio, dan yang satu entah namanya. “Ni Tan minum dulu, biar gak tegang” sodor Lilis penuh perhatian. Hari itu Tania puasa, karena malamnya adalah malam nisfu sya’ban, tapi apa boleh buat, keadaan yang memaksa dia untuk minum, padahal adzan maghrib tinggal sesaat lagi.


Dengan segera Tania memberi kabar pamanya dan juga bosnya di tempat kerja, dia teringat pesan si bos untuk memberi kabar jika terjadi sesuatu di jalan, tak ketinggalan Tania juga SMS Kiki, seseorang yang telah diberi izin singgah di hatinya untuk menjadi pendampiangnya kelak. Sesaat, Kiki telah sampai dan begitu pula paman Tania. Ternyata orang yang menolongnya bersama Lilis serta Rio adalah teman kuliahnya Kiki, namanya adalah Usman.


 “ Haduh.. itu orang temanya mas Kiki juga?? Ya Allah,, malunya aku, itu orang yang aku salip juga tadi sebelum kecelakaan.”

Ucap  Tania dalam hati.


Tania pulang dengan pamanya, sepeda Kiki harus menginap di rumah salah satu seorang warga, besok baru akan diangkut oleh truk kecil menuju bengkel. Sementara itu, Kiki harus menunggu dan mengantar bos Tania kerumah karena dia belum juga datang.



***

Sejak kejadian itu ayah Tania membuka matanya lebar-lebar, betapa besar keinginan anaknya  untuk bisa menginjakan kakinya di bangku perkuliahan, sehingga dengan semangat Tania bekerja mencari uang pergi pagi pulang sore setiap hari tiada jeda hingga terjadilah kecelakaan itu, hanya untuk meyakinkan hati ayahnya kalo dia berniat sungguh-sungguh ingin kuliah. “yowes nduk,, gak usah nyoro-nyoro, ati-ati, neng kudu budal kuliah saiki tak izini, tapi bapak ora iso mbandani, golek o dewe, bapak ngrewangi paling gawe tuku bensin” ujar ayah Tania. “injeh pak” Senyum Tania mengembang mengungkapkan bahwa dia sangat bahagia. “ tapi jo budal adoh-adoh, bapak gak ngridhani, kuliah cedik omah ae” .

Mendengar hal itu hati Tania sedikit bingung, karena dia sendiri telah di terima di perguruan tinggi negri agama islam Kediri, tepatnya di IAIN Kediri jurusan psikologi Islam lewat pendaftaran online.

 “ ya allah.... hamba harus bagaimana? Ini peluang untuk hamba... semua teman-teman hamba tak ada yang lolos, hanya ada 1, yaitu hamba, ya Allah berilah petunjukmu,, hamba sangat menginginkan hal itu. dengan ilmu yang akan hamba peroleh nanti Hamba ingin mengangkat derajat orang tua hamba, hamba ingin membahagiakan mereka, hamba ingin mengubah kehidupan keluarga hamba seperti keluarga-keluarga yang lain, hamba ingin..... ” suara Tania terhenti disela-sela tangis dalam do’anya, dia tak kuat menahan rasa yang membuncah dalam hatinya, dalam kebingungan dan kebimbanganya kini.

Detik berganti detik, jam berganti jam dan haripun berlalu. Tania masih sibuk dengan pekerjaanya sehari-hari sebagai pelayan bakso di warung pak Harianto, untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah ia rela pergi pagi pulang sore setiap harinya, dari kecamatanya menuju kecamatan yang lain di tempat ia bekerja, tanpa ada kata libur, bahkan di hari Jum’at atau minggu sekalipun. Dia sangat bersemangat mengumpulkan uang untuk bekalnya esok di perguruan tinggi, walaupun gaji yang didapatnya kurang sepadan dengan pekerjaan yang menyita waktu itu.

“ pak saya pamit pulang” pinta Tania pada bosnya saat jam menunjukkan pukul 17.00.

“ iyo nduk, ati-ati, kalo udah nyampe kabarin bapak ya?”

“injeh pak” timpal Tania sopan.

Tania segera bergegas menyetir motornya yang beberapa hari lalu baru keluar dari bengkel akibat kecelakaan waktu itu. Sepulang bekerja dia hanya mempunyai waktu istirahat 1 jam karena dia harus mendampingi para santri belajar agama tiap habis sholat isya’. Dia tidak mengharapkan apapun dari pekerjaan satu ini, ini adalah ajang dimana dia dapat menabung untuk kehidupanya di akhirat. Dari pekerjaan inilah dia menyadari bahwa orang tuanya tidak salah untuk melarangnya kuliah di kota Kediri. Setelah melalui pertimbangan yang sangat berat akhirnya Tania memutuskan untuk menuruti kemauan orang tuanya dengan kuliah di kotanya sendiri.

 “ walaupun aku kuliah di sini, dengan jurusan yang seadanya, alhamdulillah aku masih dapat kesempatan untuk menginjakkan kakiku di perguruan tinggi, toh disini juga banyak beasiswa yang dapat diajukan.” lirih Tania untuk menguatkan hatinya.

***

Acara ospek telah terlaksana. Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah. Diantara 4 jurusan yang ada, Tania memilih PGTK sebagai pilihan hatinya.

“kenapa pilih PGTK tan? Itukan melelahkan” tanya salah satu teman baru Tania

“ ggak, aku malah seneng jadi guru, walaupun cita-citaku penulis tapi aku tau bahwa cita-cita bapakku dulu adalah jadi guru, sayangnya bapak hanya lulusan SMP, karena tidak  mempunyai biaya untuk melanjutkan, jadi aku ingin mewujudkan itu, aku ingin membuat mereka tersenyum.” Ucap Tania.

“ sabar ya Tan?” ujar Fina simpati.

“oke bos, yuk masuk”

“bentar-bentar, ada pengumuman apa tuh rame-rame?”

“ hei kalian berdua, gak ikutan daftar beasiswa PEMKAB to? Lumayan loh buat bayar daftar ulang, Itu pengumumanya” Sekonyong-konyong Khamim menghampiri mereka.

Dengan segera mereka membaca pengumuman itu. Esoknya, Tania langsung melengkapi persyaratan yang dibutuhkan, dia harus meminta TTD ketua RT, pak kades, dan pak camat. Semua itu ternyata tidak gampang. Ada kalanya yang dituju ggak ditempat, kehujanan dan banyak.

“ mas ternyata gak semudah yang aku bayangkan,” ucap Tania sewaktu di telpon Kiki.

“ gak papa, semangat dik ya? Kalo ada perlu hubungi mas, kalo mas bisa pasti mas bantu”

“alhamdulillah,makasih njeh?”

“besok nyetorin tak anter ke kota”

“oke makasih”

Keesokan harinya mereka menuju pusat kota Gresik untuk mengajukan beasiswa PEMDA tersebut, selama perjalanan tak henti-hentinya mereka bersholawat agar selamat sampai tujuan. Setibanya di sana Tania langsung masuk ruangan untuk menyetorkan persyaratan yang dibawanya, setelah diperiksa petugas satu persatu ternyata persyaratan Tania kurang lengkap, yaitu bukti tanda telah diterimanya Tania di perguruan tinggi, FC SKHUN dilegalisir, dan keterangan berprestasi di SMA sebelumnya dilegalisir.

“yah... belum lengkap non,” ujar petugas.

“haduh pak.... lalu bagaimana? Saya ditolak?”

“saya kembalikan berkasnya, dilengkapi dulu ya non.... besok kembali lagi, memang rumahnya dimana?” tanya petugas.

“Gresik paling ujung pak”jawab Tania.

“ hehe semangat ya non... besok kembali lagi”

“ iya pak makasih.. permisi..”

“gimana dik?” tanya Kiki penasaran.

“ berkasnya kurang mas,,” jawab Tania melas.

“yaudah, besok kita kesini lagi”

“aku jadi gak enak sama kamu mas, ngrepotin”

“ggak sayang, aku kan calon suamimu, selama mas bisa, mas kan membantumu, sabar njeh?”

“ njeh mas, matur nuwun, sepuntene seng katah pun ngrepotin.”

“gapapa, yuk pulang”

“injeh, ayuk”

Sepanjang perjalanan Tania hanya bisa diam, dia merasa dirinya lah yang salah, kurang teliti dan tidak hati-hati, sehingga dia beranggapan sia-sialah dia datang jauh-jauh ke pusat kota. Esoknya Tania dengan segera bergegas melengkapi semua persyaratan yang kurang, siangnya langsung kembali ke pusat kota tepatnya di gedung mentri pendidikan kabupaten Gresik.

“ kwitansi, udah?” tranya Kiki.

“ udah mas”

“SKHUN legalisir”

“udah”

“surat keterangan?”

“siap, udah pak sopir,hehe”

“awas kamu dik”

“ma’af dehh, oke tancap gasss........”

Mereka melaju kencang, karna waktu yang terbatas, untung gak ada jam kuliah hari itu.


 Lazada Philippines

####

Beberapa selang hari berlalu, Tania mulai khawatir karena tidak ada berita mengenai beasiswa PEMKAB itu. Dia mulai sering searching di internet, mencari kabar apapun yang berhubungan dengan beasiswa. Hingga pada suatu hari ada sms masuk di hp Tania



From:0857468767xx



TIM GAKIN,BAGI CALON PENERIMA BEASISWA GAKIN 2006(segera kirim no rekening BANK JATIM lewat SMS ke 0852426699xx Batas akhir 27-01-2006)



            “alhamdulillah................... ya Allah... benarkah ini??”

            Tania segera meng forward SMS itu kepada Kiki dan menanyakanya

            “ dapet gak dapet yang penting sekarang kita buat saja rekening itu, yang penting usaha, dan usaha” ujar Kiki diseberang telpon.

“ya mas, kapan kita bisa ke kantor Bank JATIM? Sekarang udah tanggal 26 mas” tanya Tania semangat.

“besok pagi,kalo sore begini Banknya tutup”

“oke, siap” jawab Tania mantab.

Esoknya Tania dan Kiki segera pergi ke Bank JATIM, dan ternyata Banknya tutup, padahal jauh-jauh mereka kesana.

“ ya Allah mas... tutup.”

“ma’af dik, mas lupa kalo ini natal, tanggal merah, itu ada pamflet kalo buka kembali tanggal 29”

“lha trus gimana mas?, terakhir kan hari ini?” ucap Tania cemas.

“disitu kan ada nomor yang bisa di hubungi, bilang saja tutup sayang, baru buka kembali tanggal 29”

“oke mas,..... eh ada SMS, kata temen aku udah ada yang bilang kalo tutup, ditunggu tanggal 29”

Kini tibalah tanggal 29, dengan antrean panjang Tania mendapatkan no antri 50. Denghan sabar tania mengantri, begitupun Kiki yang selalu sabar mengantar Tania hingga selesai membuat rekening.

“ ya Allah, dia begitu sabar membantuku, aku sudah menyuruhnya balik, tapi dia tsk mau, ya Allah restui kami, jagalah diri kami,amin” lirih Tania sesaat setelah dia melirik Kiki begitu sabar menunggunya di depan pintu Bank.

Setelah begitu lama Tania mengantri akhirnya selesai juga. Tania dan Kiki segera menuju kampus karena ada kegiatan yang mengharuskan mereka ke kampus. Menjelang waktu ashar Tania dapat SMS dari temanya, bahwa calon penerima beasiswa harap hadir ke gedung pendidikan di pusat kota, seketika Tania yang sedang berada di kantor BEM terperanjat kaget dan Kiki segera menyarankan untuk menelpon langsung kontak petugas dinas, ternyata benar.

“mas gimana ini?” tutupnya jam 16.00 sedangkan ini udah jam 15.15 aku hanya mempunyai waktu sedikit,,”kecemasan  Tania begitu membuncah.

“berdiri dik ayo, tak carikan motor, motor mas gak bisa buiat jalan jauh.”

“maaf mas merepotkan”

“cepet dik ga ada waktu, mas bisa gebut satu jam nyampe. Kalo kurang dari itu mas gak bisa” ajak Kiki panik.

Setelah mereka mendapatkan pinjaman, dengan cepat Kiki melajukan sepedahnya. Satu jam pas perjalanan mereka sampai, dengan cepat Tania masuk ruangan dengan membawa persyaratanya dan seperti biasa Kiki menunggu di depan, seraya berdoa moga-moga beasiswa itu cair. Tania meneliti tiap nama yang ada dalam daftar satu persatu, dia mulai khawatir, sebanyak 3 lembar kertas  tinggal 1 kertas yang belum ia baca, dia takut namanya tidak masuk daftar. Tinggal 1, 2 nama lagi.nama Tania belum ketemu juga, air matanya menetes tanpoa disadarinya, jemarinya bergetar mengulangi daftar nama penerima beasiswa 1 per 1 dengan lebih teliti lagi.

“loih kenapa dik? Namanya gak ada ya?” tanya petugas dinas.

“be be lom pak.. hiks hiks” Tania berusaha menahan tangisnya. Dia hanya ingat ibunya, yang selalu bilang gak punya uang untuk makan, tiap hari hutang, buka lubang tutup lubang, makan saja susah, apalagi untuk biaya di perguruan tinggi, semua itu membutuhkan banyak uang.

Tangis Tania semakin terasa sakit luar biasa, tumpahlah seluruh air matanya kini, dia tak sanggup membendungnya lagi.

“dicari dulu yang teliti,, coba bapak bantu cari, namanya siapa?”

“Tania Nur Fitri”

            Hingga nama terakhir lagi.... “ga gak ad da pak...” tangis Tania yang ditahan membuat Tania susah untuk berbicara.

            “coba sekarang kamu naik ke ruangan PEP mungkin ada, soalnya tadi juga seperti itu, di bawah gak tercantum tapi diatas ada, biar di anter sama pak Hasyim,” ucap petugas penjaga.

            “mari” ajak pak Hasyim,

            Ternyata di atas nama Tania juga tak tercantum, dia keluar dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan, kini hanya air mata yang dapat melambangkan suasana hatinya. Dia berjalan menuruni tangga seakan melayang tak tau harus apa, dia hanya ingat keluh kesah ibunya, yang selalu melarangnya buat pergi kuliah, karena kondisi ekonomi.

            “gimana dik?” tanya Kiki penasaran.

            “ Ga gak ad da jug jug ga mas.... hiks hiks hiks,,,, masssss hiks hiks hiks” tangis Tania tak tertahan lagi, akhirnya tumpah semua disitu, di depan Kiki, secara tak sadar Tania meletakan kepalanya di pundak Kiki, setelah ia menyadarinya dia langsung banghkit.

            “gimana hasilnya? Gak ada?” tanya si petugas.

            “gak ada pak, mungkin belum rizqinya” ucap tania.

“ Tapi dapat SMS kan?”

“iya”

“tapi kok gak ada?, coba di cek nomornya. Kalo yang SMS gak nomor ini (sambil menyodorkan hpnya) berati bukan, karena yang SMS  harus nomer ini.” Ujar petugas.

“sa saya lupa pak,no no mornya u uda ke ha hapus” isak Tania.

“yah kalo gitu berarti mbak dapet SMS forward tan dari temen mbak sendiri, sabar ya??”

“(hiks hiks hiks), ga gak tau pak, mu mungkin saja (hiks hiks)”

‘wah.... iya, pasti temen mbak sendiri........... yauda bapak kembali bekerja lagi ya non?”

petugas-petugas itu kemudian berlalu meninggalkan Tania dan Kiki,

 “kasihan ya anak itu” tercermin raut kasihan di wajah bapak-bapak petugas setelah melihat Tania yang menangis.Dengan cepat Tania mengajak Kiki keluar gedung, dilihatnya dari jauh ada beberapa temenya yang baru saja keluar dari ruang tanda tangan dengan sangat bahagia, lompat-lompat kegirangan.betapa bahagianya mereka, nasib Tania tak seberuntung  kawan-kawanya, padahal dilihat dari segi kemampuan, mereka berada Sedikit di atas Tania, yah mungkin saja kali ini keberuntungan belum berpihak pada Tania. Sepanjang perjalanan pulang Tania tak henti-hentinya menangis, berjuta pertanyaan melingkupi hatinya, putus asa seakan datang mengajaknya bernostalgia meramaikan kekecutan hatinya kini.

“masih sekolahkah aku nanti?. Ibu... aku telah berusaha sekuat semampuku.. ma’afkan aku bu... aku memang selalu menyusahkan kalian,,, (hiks hiks hiks hiks), haruskah aku berhenti kuliah? Jika aku lanjutkan bagaimana nanti? Apa yang akan aku berikan untuk membayar semua itu? Nasib kedua adikku yang masih sekolah bagaimana? Egokah aku? (hiks hiks hiks)” dengan terus mengalirkan air matanya, Tania terus bertanya- tanya pada dirinya sendiri. Apakah dia akan berhenti kuliah dan menikah saja, dengan begitu dia tidak akan menyusahkan orang tuanya lagi.

-sekian-


Tins Marchela