Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Republik Makelar

"Program itupun akhirnya hanya menjadi cerita dan tawa untuk semua rakyat indonesia. Rakyat Indonesia yang mendengar cerita ini akan mengejeknya bahwa negeri itu memang negeri para makelar, tidak seperti negara Indonesia yang antusias, melindungi, dan menfasilatasi kreatifitas rakyatnya demi kejayaannya" 

***

Negara Kesatuan Republik Makelar

Kiranya bukan sebuah subversi lagi jika lontaran demi lontaran kekecewaan itu sebenarnya telah menjadi kesadaran penuh dan percakapan gayeng di warung warung kopi.

Tetapi setiap kali ada acara pemilihan pemimpin, entah bagaimana kesadaran itu tiba tiba redup dan punah dengan iming iming perubahan, kesejahteraan, keadilan dan uang.


Dan ketika acara berlalu, berlalu pula sumpah setia mereka kepada Rakyat yang katanya ingin diperjuangkannya, seperti ini berulang dan berulang, berulang pula kekecewaan Rakyat yang telah begitu besar berharap.

Namun itu semua bukan Indonesia kita yang sedang ingin saya bicarakan, tetapi adalah sebuah Negri yang memiliki lautan luas, hutan luas, pulau pulau yang luas, sumber daya alam yang melimpah, rakyat yang luas, rakyat yang konon sebagai generasi kaum yang cerdas, berpengetahuan luas melebihi kaum kaum lain di dunia luas.

Adapun Indonesia kita adalah yang patut kita syukuri keberadaannya, yang wajib kita terimakasihi para pemimpinnya, yang sangat kita kasihi rakyatnya dan memanjatkan doa untuknya.

Di Negri itu, ketika HP belum lagi menjadi barang murah yang cukup ditebus dengan ratusan ribu rupiah, adalah seorang sarjana teknik, katakanlah beliau adalah seorang insinyur yang lagi nganggur, dengan berbekal ilmu tekniknya, beliau menciptkan sebuah alat dimana dengan alat itu seseorang itu bisa mengakses nama nama universitas plus segala macam program kuliahnya, alamatnya, petanya, bahkan dengan kendaraan apa sesorang bisa sampai ke sana.

Beliau menginginkan ketika alat itu dipasang di terminal, stasiun dan atau pusat pusat keramaian, para pengunjung bisa dengan mudah mengenal dan tahu ada berapa universitas di kota itu, dengan demikian, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang apa saja yang ada sangkut pautnya dengan dunia pendidikan dengan mudah.

Singkat cerita, maka diajukanlah proyek informasi pendidikan itu kepada Wali Kota, sang wali kotapun menyambutnya dengan antusias, pun ketika diajukan kepada Bapak Gubernur, keduanya sangat gembira dan menyambut karya anak muda yang nantinya dengan karyanya itu diyakini akan menjadi kota pertama yang mempelopori iklan murah dunia pendidikan dan sekaligus penemu atau pencipta alat informasi itu.

Harga per 1 Unit telah ditetapkan 25 juta, bagi mereka harga itu cukup murah untuk sebuah alat yang dapat menyajikan semua informasi yang komplit bagi dunia pendidikan.

Sekarang tinggal menunggu titah para DPR untuk membuat tanda setuju, karena seperti yang biasanya tersistem dalam Negri itu, apapun kebijakan pemerintah harus atas ijin para pembuat mandat, tanda tangan sakti mereka adalah semacam pelindung agar apapun itu sesuai prosedur dan berkrjelasan hukum.

Ini kisah nyata dari sekian kisah kreatifitas yang tersandung monumen bernama "legalitas" yang berharga sangat mahal di negri itu, dan mungkin masih banyak kisah kisah sama atau persis yang mereka enggan bercerita.

Dari harga 25 juta itu, ditangan mereka diminta untuk membengkak lima kali lipat dari harga yang pertama, yaitu jika proyek itu ingin terealisasi, maka anggaran yang harus diajukan ke pemerintah dan harus dikeluarkan harus 125 juta/1 unit.

Subhanallah..... melihat kenyataan itu, sang insinyur sadar, bahwa programnya ternyata memberi peluang kepada wakil rakyat itu untuk menjadi makelar proyek, makelar yang bisa untung berkali lipat dari rakyat, makelar penemuan anak bangsa, makelar yang begitu angkuh untuk bisa menggagalkan kemajuan bangsanya, makelar yang pada hakikatnya adalah menjajah kemerdekaan bangasa dan negara.
Program itupun akhirnya hanya menjadi cerita dan tawa untuk semua rakyat indonesia. Rakyat Indonesia yang mendengar cerita ini akan mengejeknya bahwa negri itu memang negri para makelar, tidak seperti negara Indonesia yang antusias, melindungi, dan menfasilatasi kreatifitas rakyatnya demi kejayaannya.

Tak heran, jika kemudian para penemu dari rakyat negri makelar itu pada pindah kewarga negaraannya menjadi warga Indinesia, karena di Indinesia para pengutak atik itu ditempatkan sejajar dengan para pahlawan yang sangat dicintai dan dihormati. 

Penulis : ToniBoster