Theme images by Storman. Powered by Blogger.

MARI BELAJAR DARI NEGERI TETANGGA

Walaupun kita adalah Bangsa yang mempunyai latar belakang Ahlak yang mulia, berperadaban tinggi, kita jug lahir dari Rahim para Ibu yang sangat menjunjung tinggi kesopanan. Terlebih kita juga lahir atas dorongan doa dan harapan para bapak yang senatiasa mengharapkan anak anaknya kelak berguna bagi Agama dan Nusa Bangsanya.


Tetapi juga tidak ada salahnya, disamping kita belajar di Kampus kampus mahal dalam Negri sendiri dengan cara yang wajar dan penuh kompetisi, kita belajar juga dari keberhasilan Negri tetangga yang sebenarnya tidaklah cukup memiliki potensi alam dan SDM melimpah seperti negri kita sendiri, mari kita kuak teori keberhasilan negri tetangga, yang sebenarnya sangat sederhana lagi mudah dilakukan, bahkan tanpa sekolah mahalpun.

Seperti yang sudah maklum bahwa dalam setiap pemerintahan Negri tetangga yang maju  itu ada yang namanya APBN yang telah ditentukan besar kecilnya oleh para tukang usul dan omong, di meja meja sidangnya mereka memutar otak bagaimana agar disetiap bidang yang ditangninya ada dana lebih dari biasanya, yang nantinya peluang peluang untuk mendapatkan apa yang diistilahkan dalam bahasa modern dengan istilah “TURAHAN” atau dibuat seperti Tidak Turah tapi sebenarnya ada TURAHAN. Hal ini penting agar etos kerja dalam memperjuangkan kepentingan rakyat nanti akan berjalan mulus, atau boleh dikatakan agar mempunyai energi lebih untuk berjuang demi perjuangan yang memang tidak akan pernah usai.

Kemudian jadilah ada proyek baik proyek jangka panjang atau jangka pendek, proyek proyek besar ini haruslah ditentukan dan di setujui oleh pusat, sebab proyek sekecil apapun diharapkan aka nada TURAHANnya, dan turahn ini nanti akan dimasukkan dalam Celengan. Maka tak ada proyek yang melewati ketuk palu pusat, karena pusat ini akan selalu mengawasi dan mengawasi sampai benar benar turun sampai daerah yang paling bawah.

Nah, setelah Proyek disetujui  oleh pusat, kemudian digelontorkanlah anggarannya, yang tentu saja anggaran ini besar kecilnya juga pasti ditentukan oleh pusat melalui tukang omong tadi plus biaya omong, rokok, minum, makan, beol dan kencingnya sekalian, sebab para tukang omong tadi tidak akan kuat omong jika tanpa biaya biaya komplitnya tadi, bagaimana bisa omong jika dengan disertai laparnya perut, keringnya tenggorokn, ngempet kencing dan beol? Maka hal ini haruslah maklum menjadi pertimbangan dasar disepakati atau tidaknya sebuah proyek tadi,  maklum tukang omong bukanlah malaikat. Inilah yang disebut dengan teori celengan itu, jangan dirubah menjadi babian atau asuan, karena akan terkesan tidak hormat kepada pimpinan.

Demikianlah proses itu turun dari atas sampai ketingkat yang paling bawah, setelah mengalami celengan celengan tersebut yang mana dana utuh misalnya 50 milyar akan mengalami yang diistilahkerenkan dengan istilah PERAMPINGAN atau kalau dalam bahasa jawa PEMINGKRETAN menjadi 5 milyar, wow inilah sumber kemakmuran rakyat yang diwakili oleh para wakil rakyat.

Setelah turun pada tempat terakhir menurut kriteria proyek tadi, maka terciptalah yang dinamakan BERKAT DAERAH, dinamakan berkat karena sekali lagi dana ini akan menjadi bancaan tukang omong tukang omong yang lebih pandai omong daripada tukang omong pusat yang kemaren, dan berkah bancaan ini akan memberkati alam sekitar daerah tersebut nantinya.

Proses Bancaan ini sangat sederhana, dan tidaklah menjadi rahasia, karena rahasia hanya ada pada orang orang pemalu saja, baiklah sekarang kita lihat teori kemajuan Negara tetangga tersebut:

Proyek itu kemudian akan ditenderkan atau dibuat semacam tindak feminitas kebijakan yang mendalam, maka jadilah dana 5 milyar tadi menjadi 2,5 milyar saja, dan akan dilelang, karena tidak mungkin para yang mulia itu sanggup mengerjakan sendiri, dan daftar lelang ini segera akan diumumkan, tapi tunggu dulu, tidak semua orang atau intansi boleh ikut lelang, harus yang benar benar ahli yang boleh ikut memperebutkan tender tersebut.

Pendaftaran dibuka, dan tentu saja ada yang namanya bukti kesungguhan atau profesionalisme yang diistilahkan dengan uang pendaftaran, dan pendaftaran ini tergntung besar kecilnya dana proyek terakhir yang disebut dengan tender tadi, jika misalkan proyek itu 3 milyar, pantaslah jika tariff pendaftaran tersebut 20 atau 30 juta, kemana mendaftarnya? Ya kepada satu tukang omong yang dibuat menjadi pandai omong oleh para tuakang omong yang mengelilinginya.

Jika misalnya yang daftar itu 10 orang, maka akan terkumpul uang sebanyak 200 juta atau 300 juta, untuk apa? ya untuk celengan yang nantinya dibagi bagi kepada para tukang omong tadi. Dan tentunya yang lebih banyak adalah untuk yang paling pandai omong tadi.

Yaaa, namanya juga rebutan tender, tidak mungkin to jika satu tender ditangani oleh 10 orang pendaftar tadi? Naaah disinilah letak dan inti rahasia pembangunan yang meraja lela di Negara tetangga tadi.

Siapa yang paling sungguh sungguh mau melaksanakan tender atau proyek tadi, sekali lagi harus berani berkompetisi untuk membuktikan dedikasi membangunnya dengan cara membuktikan sanggup mengerjakan tugas pembangunan dengan harga yang paling rendah, dan juga melalui yang diistilahkan dengan FI, fi adalah nota kesepakatan yang ditanda tangani diluar jam dinas atau kerja, bisa di café, acara pengajian, sarasehan atau yang lainnya.

Maka FI yang terbesar dan yang paling rendah tawarannya inilah kelak yang bertanggung jawab dan diserahi mengerjkan proyek tersebut, dan FI ini juga harus disesuaikan dengan jumlah dana terakhir yang telah dibuat segitiga oleh tukang omong daerah tadi.

Tinggallah 2,5 milyar tadi menjadi 500 juta saja, woow keren amat, sungguh patriot bangsa yang layak dikubur diwilayah pekuburan pahlawak kelak, sebab ia telah tetap sanggup melaksanakan pembangunan dengan anggaran yang sangat murah.

Demikianah sekilas teori kemajuan dan keberhasilan negri tetangga yang patut kita amalkan demi Nusa dan bangsa Indonesia yang tercinta ini, semoga bermanfaat……