Theme images by Storman. Powered by Blogger.

CINTA BANOWATI

Sungguh, tak terlukiskan betapa senangnya hati Banowati mengetahui jabang bayi yang baru saja ia lahirkan berjenis kelamin perempuan. Walaupun sejatinya itu justru membuat posisinya serba tidak aman karena Duryudana pasti akan marah dan mengusirnya dari istana Hastinapura. Tapi bagi Banowati, hal tersebut bukan sesuatu yang paling menakutkan. Bahkan andaikata suami sahnya itu memerintahkan para jagal istana menghukum mati dirinya. Lebih baik di usir dari istana daripada hidup bergelimang kemewahan namun menderita tekanan batin berkepanjangan. Lebih baik mati di tiang gantungan daripada setiap saat harus melayani nafsu bejat Duryudana.

Arjuna dan Banowati
 Sejak ayahnya memutuskan untuk menikahkan dirinya dengan Raja Hastinapura, Banowati merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi. Apa yang telah ia rajut bersama kekasihnya Arjuna selama bertahun tahun seolah musnah begitu saja. Jalinan cinta yang tak mudah dan penuh onak berduri seakan tinggal cerita kosong. Arjuna telah memberinya banyak hal. Cinta, harapan dan pengorbanan.

Banowati masih ingat betul bagaimana pria Madukara itu jauh jauh datang ke Mandaraka demi menemui dirinya. Ia ikut berjibaku mempertaruhkan nyawa ketika Mandaraka di guncang kasus penculikan atas kakaknya Herawati. Bersama Kakrasana dari Mandura, Arjuna turut andil menewaskan penguasa Tirtakandasan beserta putranya Kartawiyaga yang di anggap sebagai dalang penculikan atas Herawati.

Ayah Banowati, Prabu Salya sendiri awalnya sudah berencana memberikan hadiah istimewa atas jerih payah Kakrasana dan Arjuna dalam menyirnakan musuh politiknya dari Tirtakandasan. Kakrasana di janjikan akan di nikahkan dengan Herawati, sementara Arjuna di berikan dua pilihan antara Banowati atau Surtikanti. Janji Salya pada Kakrasana akhirnya memang terealisir. Tapi janji yang sama untuk Arjuna sungguh membuat Banowati benar benar merasa kecewa berat.

Bukan karena ksatria panengah Pandawa itu lebih memilih Surtikanti, akan tetapi lebih buruk lagi. Ia tidak mendapatkan apa apa atas usaha kerasnya menakhlukkan musuh Mandaraka. Surtikanti malah terlebih dulu di serahkan pada Basukarna, panglima perang Hastinapura. Sementara Banowati sendiri akhirnya jatuh ke tangan Duryudana. Raja Hastinapura itu mengklaim bahwa kesuksesan Kakrasana dan Arjuna menerobos Tirtakandasan tidak lebih karena kehadiran ribuan armada laut Hastinapura yang sejak sepekan sebelumnya mengepung Pulau Tirtakandasan. Ini yang membuat pasukan Tirtakandasan ciut nyali dan akhirnya mudah di tipu Kakrasana dan Arjuna.

Dengan alasan itulah akhirnya Duryudana berhasil meyakinkan Prabu Salya untuk menyerahkan putrinya, Banowati. Selain itu, janji putra sulung keluarga Kurawa untuk memberikan posisi prestisius di lingkaran Kerajaan Hastinapura kepada Salya, membuat ayah Banowati luluh. Akhirnya, Banowati yang tidak secuilpun memiliki rasa cinta pada Duryudana, terpaksa harus mau di boyong ke Hastinapura.

Rasa kecewa, menyesal dan sakit hati Banowati sendiri sejatinya bukan semata di sebabkan oleh perlakuan tidak adil dari ayah dan pihak Hastina. Melainkan kenyataan dimana ia dan Arjuna jauh hari sudah terlibat hubungan yang spesial. Sejak Dewi Madrim, ibu tiri Arjuna sekaligus bibi dari Banowati bertandang ke Mandaraka dan mengenalkan Arjuna pada Banowati, putri ketiga Prabu Salya ini telah menaruh hati pada pemanah tersohor Madukara itu.

Cinta yang kemudian tidak bertepuk sebelah tangan. Karena Arjuna juga rupanya memendam rasa kagum pada Banowati. Jadilah kedua insan ini menyatukan ikrar setia. Arjuna bertekad akan berjuang sekuat tenaga demi mendapatkan wanita idamannya, sementara Banowati berjanji untuk tidak akan memberikan cintanya pada siapapun kecuali pada kekasihnya, Arjuna.

Dan ini di buktikan betul oleh keduanya manakala pesta pernikahan antara Banowati dan Duryudana di gelar. Arjuna yang sudah di mabuk cinta berusaha menggagalkan pernikahan itu dengan cara menculik Banowati. Ia sukses menyusup dan menyamar sebagai salah satu pengiring rombongan pengantin wanita. Bahkan keduanya sempat bercumbu memadu cinta di sela sela perjalanan menuju Hastinapura. Tapi sayang, upaya penyamaran Arjuna keburu di ketahui oleh Aswatama.

Putra Begawan Durna itulah yang akhirnya membuka aib antara Arjuna dan Banowati di hadapan Duryudana. Murkalah sang raja Hastinapura atas kejadian memalukan yang di lakukan Arjuna pada calon istrinya. Setelah menyelesaikan ritual pernikahannya, Duryudana bersumpah di hadapan Banowati. Jika kelak lahir seorang anak laki laki, maka anak itu adalah anak dari hasil hubungannya dengan Duryudana dan akan menjadi pewaris utama tahta Hastinapura kelak. Tapi jika ternyata yang lahir adalah anak perempuan, maka Banowati harus menerima hukuman berat karena itu di anggap sebagai hasil hubungan gelap Banowati dengan Arjuna.

"Ini anak kita, Jun" kata Banowati sambil menunjukkan bayi mungil yang ada di tangannya pada Arjuna.

"Lihat hidungnya, mirip sekali denganmu. Lihat dagunya, lancip seperti dagumu. Matanya coba lihat, Jun. Tajam seperti matamu".

Tanpa bisa berkata apapun jua, Arjuna segera meraih bayi itu dari tangan Banowati. Di dekapnya dengan penuh hangat bayi perempuan yang merupakan darah dagingnya. Rasa bahagia, haru bercampur sesal memenuhi sanubari Arjuna. Ia bahagia menyaksikan keteguhan dan kesetiaan Banowati. Tapi juga sedih karena tak mampu berbuat banyak demi membalas ketulusan cinta Banowati.

"Maafkan aku, Bano" kata Arjuna sembari meraih pundak Banowati dan mencium kening Ratu Hastinapura itu.

"Aku seperti laki laki yang tidak berguna. Jangankan mengambilmu dari tangan Duryudana, bahkan di saat saat kamu lelah membawa janinmu, di saat saat kamu kesakitan di hari persalinanmu, aku tak pernah ada di sampingmu".

Bergetar hati Banowati demi mendengar kalimat kalimat syahdu yang meluncur dari bibir Arjuna. Pria yang ia kenal sejak remaja itu sama sekali tak banyak berubah. Ia tetap saja pria romantis yang tak pernah henti mengaduk aduk perasaan perempuan. Perlakuannya terhadap Banowati tetap utuh walau faktanya kini Arjunapun telah hidup bersama beberapa wanita lain.

"Aku tak akan meminta terlalu banyak padamu, Jun" Banowati menatap mata Arjuna. Sebentar kemudian ia mengalihkan pandangannya pada bayi mungil di tangan Arjuna.

"Duryudana telah bersumpah akan menghukumku jika tahu anak yang aku lahirkan adalah perempuan" menghela nafas berat.

"Tapi yakinlah, Jun. Aku tak pernah takut menghadapi itu semua".

"Aku akan menyelamatkanmu, Bano" potong Arjuna dengan nada tinggi lagi yakin.

"Takkan kubiarkan sehelai rambutmu jatuh karena ulahnya".

Banowati menggeleng.

"Aku mampu, Banoku sayang...." kilah Arjuna.

"Tidak, Jun. Bukan itu yang aku inginkan. Aku tak pernah meragukan keseriusanmu. Aku percaya, seluruh keluarga Amarta akan berdiri di belakangmu dan memberikan pembelaan yang gigih. Tapi...".

"Apa ?" cerca Arjuna.

"Itu terlalu berlebihan kakakku tercinta. Akan banyak jatuh korban jika itu terjadi. Dan aku tak menginginkan itu. Biar saja Banowati yang menanggung semuanya. Bagiku, bisa mencintaimu dengan tulus adalah anugerah yang tiada kira" tutur Banowati tanpa ragu.

"Aku hanya ingin kamu rawat anak ini baik baik. Kelak jika ia sudah tumbuh dewasa, katakan padanya bahwa aku sangat mencintainya".

Bergemuruh dada Arjuna. Rasa bersalah lagi lagi menumpuk di hati dan fikirannya. Kenekatan Banowati menghadapi bahaya seorang diri sungguh tak bisa di biarkan begitu saja. Di mana harga diri Arjuna sebagai seorang laki laki. Di mana kegagahan Arjuna yang selama ini di kagumi oleh manusia di muka bumi dan para dewa di kahyangan, kalau ia menutup mata terhadap kenyataan ini.

"Tinggalah di Madukara dan jangan pernah kembali ke Hastinapura" Arjuna menawarkan.

"Kalau Duryudana mencarimu, biarlah aku yang hadapi dia !!!".

"Tidak. Jangan, Jun" Banowati bersikukuh.

"Bano...?" tak habis pikir.

Banowati menggelengkan kepalanya berkali kali. Bibirnya bergetar, sepasang giginya mengeluarkan suara gemerutuk menahan emosi. Bola matanya yang tajam laksana cahaya rembulan perlahan mulai di hinggapi kristal kristal bening.

"Aku akan bunuh diri kalau kamu nekat melawan Duryudana" ancam Banowati tak main main.

Arjuna terdiam tanpa kata. Dia tahu betul bagaimana karakter Banowati. Kalau memutuskan suatu hal, sudah tentu ia akan konsekuen dengan keputusan itu. Begitu pula dengan apa yang baru saja di katakan oleh kekasihnya itu. Benar benar situasi yang serba dilematis. Membiarkan Banowati menanggung derita sendirian bukanlah sifat Arjuna. Tapi bertindak ceroboh dengan melanggar larangan Banowati juga berakibat fatal.

"Baiklah" akhirnya Arjuna menyerah.

"Aku akan merawat anak ini dengan baik sesuai dengan pesanmu" menghela nafas perlahan.

"Tapi ijinkan aku melakukan sesuatu untukmu".

"Apa ?".

"Aku akan meminta bantuan Krisna mencarikan seorang bayi lain berjenis kelamin laki laki dan seumuran dengan anak kita untuk kamu bawa kembali ke Hastinapura. Duryudana tidak akan menghukummu jika tahu anak yang ada di tanganmu ternyata laki laki".

Seolah menemukan secercah cahaya terang di tengah gelapnya malam, Banowati melonjak kegirangan. Ide yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya itu sungguh tak terfikirkan olehnya. Semenjak lahir, Duryudana sekalipun belum pernah melihat jabang bayinya. Beberapa minggu ini Duryudana di ketahui pergi ke negara negara sekutunya demi kepentingan tertentu. Jadi tak mungkin ia tahu kalau anak yang di lahirkan oleh Banowati sebenarnya adalah perempuan. Maka jika Krisna berhasil mencarikan bayi pengganti putrinya, masa depan Banowati masih cukup panjang. Itu berarti ia masih memiliki kesempatan melihat buah hati hasil hubungannya dengan Arjuna tumbuh dewasa. Dan yang tak kalah pentingnya, kisah percintaannya dengan Arjuna masih akan terus bergulir.

Dengan bantuan Krisna, akhirnya Banowati mendapatkan bayi pengganti berjenis kelamin laki laki. Bayi yang kemudian di anggap Duryudana sebagai anak kandungnya itu di beri nama Lesmana Mandrakumara. Sementara putri Banowati yang di rawat oleh salah satu istri selir Arjuna, Dewi Mahuhara, di beri nama Pergiwati.

Kisah percintaan antara Arjuna dan Banowatipun berlanjut. Ketika Duryudana sedang tidak ada di Hastinapura, Banowati dengan di bantu adiknya, Burisrawa, menyelinap keluar dari Keputren demi menemui Arjuna dan putrinya Pergiwati. Sebaliknya, di saat saat tertentu Arjunalah yang menyusup ke Hastinapura demi menemui Banowati. Selain untuk meluapkan rasa rindu yang membara di antara mereka, ada hal lain yang di inginkan Arjuna dari Banowati. Sesuatu yang menyangkut cita cita besar keluarga Pandawa. Yakni, upaya merebut kembali tahta Hastinapura yang sebenarnya merupakan hak dari para Pandawa dari tangan keluarga Kurawa.

Banowati di duga telah banyak sekali memasok informasi tentang peta kekuatan Kurawa. Dari mulut Banowati, kelemahan kelemahan pihak Kurawa di telanjangi. Alhasil, dalam perang Baratayudha yang melibatkan anak anak Pandu dan Destrarata, pihak Pandawa meraih lebih banyak keuntungan. Dalam pertempuran kolosal selama berminggu minggu di Padang Kurusetra, Pandawa berhasil menyirnakan seluruh anggota Kurawa termasuk juga Duryudana.

Kematian Duryudana ini tidak saja memiliki arti penting bagi Pandawa yang merasa lebih berhak atas tahta, akan tetapi juga membuka peluang Arjuna dan Banowati memenuhi ikrar janji setia mereka. Setelah balatentara Amarta berhasil menduduki istana Hastinapura, Arjuna segera menemui Banowati demi merencanakan sebuah penyatuan jiwa raga dalam bingkai pernikahan.

Segala keperluan demi menyambut hari baikpun dengan segera di persiapkan. Arjuna di bebastugaskan untuk sementara dari tugas kenegaraan agar fokus menghadapi pernikahannya. Sementara Banowati di pingit dalam sebuah tempat khusus mempelai wanita dan di jaga ketat oleh lusinan prajurit wanita di bawah komando pendekar pilih tanding sekaligus tokoh di balik kematian Resi Bisma, yakni Dewi Wara Srikandi.

Tapi nahas, tiga hari menjelang pesta pernikahan Arjuna dan Banowati di gelar, malapetaka terjadi. Adalah Aswatama, putra Begawan Durna yang berhasil lolos dari maut perang Baratayuda diam diam menyusup istana Hastinapura yang sudah di kuasai Pandawa dan membuyarkan impian Arjuna dan Banowati.

Aswatama sendiri tak memiliki kepentingan apapun atas tahta Hastina yang sudah berada dalam genggaman Pandawa. Tujuannya memasuki istana hanya satu, yakni menculik Banowati. Sejak lama komandan Pasukan Telik Sandi Duryudana ini memendam rasa kagum pada putri ketiga Prabu Salya itu. Demi rasa cintanya pada Banowati, sang Aswatama rela membujang hingga usia tua. Baginya, tidak ada yang layak menjadi istrinya selain Banowati. Itu sebabnya kenapa selama ini Aswatama menjadi biang keladi terbongkarnya kasus perselingkuhan Banowati dan Arjuna. Bukan karena ia ingin membela Duryudana, sebab ketika Raja Hastinapura itu gugur di medan laga justru Aswatama menjadi salah satu orang yang sangat bahagia.

Dengan sirnanya Duryudana, setidaknya satu rintangan telah di lewati. Tinggal menunggu waktu yang baik untuk menyingkirkan Arjuna. Untuk misi yang satu ini Aswatama cukup tahu diri. Ia tak mungkin mampu mengalahkan putra Pandu itu. Jalan terakhir yang bisa melapangkan niatnya adalah menculik Banowati dari tempatnya. Sebagai bekas komandan Telik Sandi sekaligus pejabat di lingkungan Hastinapura, tidak sulit bagi Aswatama untuk menemukan keberadaan Banowati.

Dalam serangan tiba tiba di suatu malam, Aswatama berhasil memperdaya sekaligus membunuh beberapa pengawal keluarga Pandawa. Ia sukses mengeksekusi Drestadyumna si pembunuh bapaknya, Begawan Durna, dalam satu tikaman. Ia juga berhasil membunuh putra Yudistira, Raden Pancawala yang kala itu tertidur pulas. Setelah itu ia menerobos tempat persembunyian Banowati. Di sana ia berhadapan dengan Srikandi. Karena kurang waspada, Srikandipun akhirnya terbunuh oleh tangan Aswatama.

Dan akhirnya saat saat yang ia tunggu tiba. Di hadapan Banowati, Aswatama mengungkapkan perasaan cintanya dan berharap wanita cantik calon istri Arjuna itu bersedia menikah dengannya. Kontan permintaan itu di tolak mentah mentah oleh Banowati hingga akhirnya Aswatama kalap dan menikamkan kerisnya ke tubuh Banowati.

Wanita yang telah menunggu sekian lama masa masa di wisuda sebagai istri Arjuna ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pergi meninggalkan mimpi indah bersama cinta sejatinya. Bersama harapan yang telah ia bangun dan perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga.

Jangan katakan aku tidak menginginkan
Hadirnya dewa asmara swargaloka
Yang sorot matanya menusuk jantung hatiku
Yang sentuhannya menggetarkan jiwaku
Jangan katakan aku mati rasa
Sehingga desah nafas para pecinta tak bisa ku raba
Dan rentangannya hanya menyapu hampa

Ingin menabur asa
Tapi aku takut berbalut derita
Ingin mengayuh sampan
Dan berlayar menuju lautan lepas
Tapi aku takut gelombang
Ingin aku  berlari
Mengitari sudut sudut bumi
Tapi aku takut akan jatuh dan terkilir

Aku ingin menjadi mutiara berkilau
Yang pesonanya bisa engkau ukir dalam jiwamu
Aku ingin menjadi bintang gemintang
Yang cahayanya mengarungi ragamu
Aku ingin menjadi telaga nan bening
Yang sejuknya sembuhkan rindumu

Oleh : Dhan Gubrack