Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kala Sang Ustadz Merusak Bahasa Indonesia

 
Pagi ini saya menerima sms dari seorang kawan baik, yang isinya kurang lebih begini,

"Amin, Aamin, Amiin, Aamiin, Ataukah Amien ?

BANYAK orang yang salah dalam penulisan kata ini. Ada yang menulis amin, aamin, amiin, atau mungkin amien.

Kebetulan saya pernah mendengar tausiyahnya Ustadz Arifin Ilham yang membahas tentang ini. Berikut saya bagikan kepada anda.

Dalam bahasa Arab, ada 4 perbedaan kata ini, yaitu :
1. Amin (alif dan mim pendek) artinya : aman, tentram
2. Aamin (alif panjang dan mim pendek) artinya meminta perlindungan keamanan.
3. Amiin (alif pendek dan mim panjang) artinya : jujur terpercaya
4. Aamiin (alif dan mim panjang) artinya : ya Allah kabulkanlah do'aku.

Bagaimana dengan amien ?
Sebisa mungkin hindari atau jangan pernah menulis kata amien. Karena kata amien di ucapkan oleh penyembah berhala.

Jadi, penulisan yang benar adalah aamiin (ya Allah kabulkanlah do'aku)"

Spontan sayapun membalas sms itu dengan mengatakan 'berarti Arifin Ilham tidak paham bahasa Indonesia'.

Beberapa waktu lalu Tampoll Gubrak menurunkan sebuah artikel yang di antaranya adalah membahas soal makin mundurnya kualitas bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi bangsa ini. Penurunan kualitas itu di buktikan dengan laporan Dinas Pendidikan yang mengatakan bahwa setiap tahun nilai UN pelajar kita (baik level SMP dan SMA) terus mengalami penurunan.

Tidak hanya kualitasnya turun, akan tetapi minat belajar di kalangan pelajar kita juga mengalami kemunduran. Situasi berbeda terjadi pada bahasa lain, terutama Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Minat mempelajari kedua bahasa ini mengalami lonjakan luar biasa.

Sms yang di kirim ke saya tersebut, tak pelak menambah keprihatinan kami akan nasib Bahasa Indonesia di masa mendatang. Apalagi jika benar bahwa itu di ungkapkan oleh seorang dai terkenal dan memiliki banyak pengikut di Indonesia. Dalam hati, saya bertanya-tanya 'jika orang sekelas ustadz Arifin Ilham saja tidak mengerti Bahasa Indonesia, bagaimana dengan mereka yang pendidikannya lebih rendah ?'.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (silahkan cek di 'mbah' google) kata yang merujuk makna 'ya Allah kabulkanlah doaku' adalah kata 'AMIN'. Bukan kata 'AAMIIN' atau kata lainnya. Amin, mengamini, aminkanlah dan seterusnya.

Kata 'amin' merupakan satu dari sekian istilah asing yang meresap ke dalam bahasa Indonesia. Dan setiap kata yang meresap tentu penulisannya tidak bisa tidak harus mengacu pada sistem pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Kecuali jika kata itu belum di gunakan secara baku atau masih di anggap istilah asing dalam tata bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia tidak mengenal huruf vokal dobel, kecuali jika cara membacanya terpisah, misalnya kata 'manfaat', 'syafaat' dan seterusnya. Oleh sebab itu setiap kata asing yang meresap tidak pernah menggunakan huruf vokal dobel. Misalnya kata 'Allah' yang tidak di tulis dengan 'Allaah' atau 'Alloh'. Demikian juga dengan kata 'amin', kata resapannya bukan aamiin, aamin atau amiin.

Untuk mengklarifikasi kebenaran statemen di atas, saya menyempatkan mengunjungi halaman ustadz Arifin Ilham. Saya memang menemukan sang ustadz sering menulis kata amin dengan aamiin. Entah ini kesengajaan ataukah hanya salah ketik, saya tidak tahu. Semoga saja itu hanya salah ketik. Sebab, jika itu kesengajaan, berarti preseden buruk bagi Bahasa Indonesia. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah peminatnya berkurang, nilai Bahasa Indonesianya menurun, bangsa ini masih menghadapi ancaman perusakan yang justru di lakukan oleh orang orang yang seharusnya menjadi panutan.

Semoga Allah menyelamatkan Bahasa Indonesia dari ancaman para perusak.
Amin...

Penulis : Dhan Gubrack