Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Kalau bisa Gubernur, Kenapa harus Wagub ???

Sebuah survey yang di selenggarakan ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) pada Maret 2013 menyebutkan bahwa populasi warga Nahdliyin di Jawa Timur mencapai 60% dari total jumlah penduduk. Sebuah angka yang luar biasa besar sekaligus mempertegas Jawa Timur sebagai basis utama NU. Namun ironisnya, kekuatan massa yang demikian besar tidak menjadikan NU atau kader NU memimpin di tanahnya sendiri. Terbukti tidak satupun gubernur Jawa Timur yang berasal dari NU. Bahkan ketika PKB memenangkan pemilu legislatif di Jawa Timur 1999 dan 2004, kader NU tetap gagal merebut posisi Jatim 1.

Pict : suryaonline

Prestasi terbesar NU baru pada posisi wakil gubernur. Adalah Syaifullah Yusuf yang mendampingi Soekarwo sukses merebut posisi itu pada ajang pilgub Jatim 2008. Pasangan ini secara dramatis mengalahkan calon lain yang juga berasal dari NU, Khofifah Indar Parawansa. Yang membedakan, di kubu Karsa, kader NU nya berposisi sebagai cawagub, sementara di kubu Kaji kader NUnya berposisi sebagai Cagub.

Kasus yang sama kini terulang. Dengan aktor yang kurang lebih sama. Karsa vs Berkah. Cagub NU vs Wagub NU. Soekarwo - Syaifullah Yusuf (NU) berhadapan dengan Khofifah (NU) - Sumawiredja. Kejadian ini seolah pengulangan 2008 di mana kedua kubu terlibat pertarungan sengit. Kemenangan Karsa tidak bisa di tempuh dengan cara mudah. Mesti melalui pilkada ulangan bahkan harus pula maju ke meja MK. Selisih suara keduanyapun terpaut sangat tipis, yakni sekitar 60 ribuan.


Lantas, apakah ajang kali ini Karsa akan kembali menang ???

Survey yang di lakukan Tampoll Gubrak beberapa waktu lalu menunjukkan betapa pasangan Karsa sangat mendominasi bila pilgub tanpa menyertakan Khofifah. Angka yang di bukukan mencapai 46%. Jauh meninggalkan Bambang - Said 8% dan Eggy - Sihat di bawah 1%. Sekali lagi itu dengan catatan Khofifah tidak ikut serta dalam kompetisi. Ketika DKPP memutuskan pasangan Khofifah - Sumawiredja berhak mengikuti pilgub, maka petanya sudah pasti akan berubah.

Apalagi angka 46% yang di peroleh Karsa sebagian besar bukanlah berasal dari pendukung fanatik Karsa. Yaitu pendukung yang akan tetap memilih Karsa dalam keadaan apapun. Faktanya sebagian pemilih Karsa adalah pendukung Khofifah. Para pendukung Khofifah ini lebih memilih Karsa dengan pertimbangan yang cukup sederhana. Yaitu faktor kedekatan kultural di mana pasangan Karsa lebih mewakili NU daripada pasangan lain. Memang tidak secara jelas berapa persen pendukung Khofifah yang menyeberang ke kubu Karwo, akan tetapi angkanya cukup signifikan.

Masuknya Khofifah - Sumawiredja (Berkah) sudah pasti akan menggerogoti dukungan terhadap Karsa. Keikutsertaan pasangan yang di usung PKB dan beberapa partai gurem ini di prediksikan juga akan mengurangi jumlah pemilih golput yang dalam polling kemarin sekitar 46%. Belajar dari ajang pilkada lain, jumlah suara golput yang wajar biasanya sekitar 30-35% dari total pemilih. Artinya 10-16% responden abstain kemungkinan akan menggunakan hak pilihnya. Lalu kemana arah suara mereka ?

Dari wawancara pendalaman kami terhadap responden, sebagian responden yang memilih untuk golput di antaranya di sebabkan karena tidak masuknya Khofifah dalam kompetisi. Sebagian lagi mengatakan ingin melihat visi misinya dulu, dan sebagian lain adalah responden apatis yang tidak akan memilih siapapun.

Faktor NU memang menjadi daya magnet tersendiri. Bayangkan saja, ketika KPUD menggagalkan Khofifah dan sebagian orang menduga bahwa biang keladinya adalah incumben, akar rumput ternyata merespons berbeda. Sebagian besar pemilih Khofifah justru mengalihkan dukungan ke Karsa. Bukan calon lain yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi penjegalan Khofifah. Yang penting NU. Begitulah yang ada di benak warga Nahdliyin. Walaupun hanya wakil gubernur.

Bagaimana jika ada kader NU yang tidak sekedar mencalonkan diri sebagai wakil gubernur, tapi maju sebagai gubernur ?

Survey yang di adakan ISNU pada bulan Maret 2013 menyebut bahwa sebagian besar warga NU lebih menginginkan gubernur berasal dari kalangan NU. Pembaca bisa membuka link ini : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,43062-lang,id-c,nasional-t,Nahdliyin+Jatim+Inginkan+Gubernur+NU-.phpx

Jika hasil survey ISNU ini merepresentasikan sikap warga NU, maka kemungkinan Karsa kalah terbuka lebar. Ini belum kita bicara soal fakta politik di banyak pilgub dimana calon calon yang di usung oleh Partai Demokrat bertumbangan satu persatu. Di pulau Jawa saja, tak satupun pilgub yang sudah di gelar bisa di menangkan calon dari Demokrat. Padahal secara umum partai ini adalah pemenang di pulau Jawa bahkan Indonesia. Partai Demokrat seolah menjadi publik enemy. Siapapun yang di usung Demokrat dan berhadapan dengan figur manapun, calon Demokrat tetap tidak di pilih rakyat.

Ada pepatah, pilkada itu lebih di tentukan oleh figur. Bukan partai. Tapi bagi Demokrat sepertinya tidak berlaku. Kemenangan calon lebih di tentukan oleh Partai. Maka sekuat apapun figur, kalau ia di usung Demokrat, ia akan kalah. Figur Foke kurang populer bagaimana ?. Dia Ketua PWNU DKI, putra Betawi, birokrat yang sudah lama berkecimpung di Jakarta. Dede Yusuf siapa yang meragukan kepopulerannya. Dia figur yang bersih dan jauh dari isu miring. Bibit Waluyo juga begitu. Tokoh yang satu ini relatif bersih dan mengakar di Jawa Tengah. Tapi semua tumbang. Bahkan beberapa di antaranya kalah dengan calon yang berdomisili di luar daerah.

Saran kami, Timses Karsa yang terdiri dari 30 parpol lebih seyogyanya lebih berhati hati dalam menjalankan strategi. Kandidat ini menghadapi dua persoalan pelik. Fanatisme warga NU dan kutukan Partai Demokrat.

Penulis : Gubraker Semprul