Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Dilema Pemilih Mengambang

Oleh : Putri Banowati

Sejauh pengamatan saya, ada semacam rasa was was atau tepatnya keraguan bagi responden yg sebenarnya memilih Berk4h. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengatakan "Belum Menentukan". Sebagian besar mereka adalah kaum perempuan, pemilih pemula dan pemilih dengan pendidikan minim.Situasi ini mirip sekali dengan kejadian di DKI. Yang akhirnya membuat prediksi hampir semua lembaga survey meleset.Ada beberapa hal yang membuat situasi seolah olah mengintimidasi.

1. Banyaknya partai pendukung pesaing.

Pada musim kampanye DKI lalu, situasi serupa terjadi. Dimana nyaris semua partai kecuali PDI Perjuangan dan Gerindra bersatu di belakang Foke - Nara. Setidaknya koalisi ini memiliki 80% lebih kursi DPRD. Sebuah kekuatan yang tentu saja cukup menggetarkan siapa saja yang menjadi lawan mereka. Apalagi jika mereka keluar rumah dan menyaksikan situasi di jalan jalan. Bendera, spanduk, baliho dari berbagai macam partai politik terpampang jelas dengan tema dukungan kepada incumben. Mereka yang kurang melek politik, walaupun mendukung Jokowi sekalipun kalau di tanya siapa yang akan memenangkan pilgub ?. Maka kemungkinan besar mereka menjawab incumben yg menang. Dan kalau di tanya, mana calon yang akan anda pilih ?. Mereka akan melihat dulu siapa yang bertanya. Mereka mesti memastikan dulu penanya adalah orang yang satu kubu, baru mereka jawab. Kalau tidak, mereka biasanya tidak bersedia menjawab.

2. Iklan yang jor joran.

Musim kampanye DKI, pasangan Foke - Nara merupakan kandidat yang paling banyak beriklan. Baik itu di televisi, melalui spanduk maupun media lainnya. Di setiap sudut kota Jakarta, tanda gambar pasangan ini begitu kentara mendominasi. Ini tidak sebanding dengan iklan Jokowi. Perbandingannya bagai langit dan bumi. Satu spanduk Jokowi - Ahok berbanding seratus spanduk Foke - Nara. Penulis yang kebetulan merupakan penduduk DKI saja di buat terheran heran. Jangankan alat peraga yang besar besar, bahkan untuk mencari stiker bergambar Jokowi - Ahok di teras teras rumah pendudukpun susahnya minta ampun. Bagi pemilih pemula, kaum perempuan dan kaum dengan pendidikan rendah, situasi ini tak ubahnya dunia mau kiamat. Mereka bersimpati dan berencana untuk memilih Jokowi - Ahok, akan tetapi mereka tidak punya keberanian untuk mengatakan itu kepada orang lain.

3. Isu SARA

Penulis ingat betul waktu itu bulan puasa. Timses Foke - Nara mengerahkan para dai, ulama dan habaib demi memberi pencerahan pada pemilih. Mereka di terjunkan ke masjid, mushola dan majlis majlis taklim. Dan mulailah di gencarkan isu SARA. Wakil Jokowi yang merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Kristen jadi bulan bulanan. Kasus Rhoma Irama hanya percikan kecil. Di akar rumput, provokasi ini jauh lebih dahsyat lagi. Bukan hanya melalui ceramah ceramah, akan tetapi juga memasang spanduk berukuran 2x3 meter di berbagai sudut kota. Yang isinya bertuliskan himbauan agar umat Islam memilih kandidat yang seiman dan seagama.

4. Hasil polling lembaga survey

Pembaca bisa bayangkan, hampir semua lembaga survey kala itu dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa Foke - Nara akan menang. Di antara mereka adalah lembaga lembaga survey kawakan yang sudah malang melintang di dunia survey. Misalnya LSI, Puskaptis, Indobarometer dan lain sebagainya. Bukan sekedar menang, akan sebagian malah memprediksi bahwa Foke - Nara akan tetapi menang satu putaran. Tragisnya lagi hasil survey yang menyatakan Foke - Nara ini akan menang dalam satu putaran di umumkan melalui spanduk spanduk dan di berbagai media. Di televisi misalnya, pemilik LSI Denny JA dengan sangat percaya diri mengatakan pilkada DKI berlangsung satu putaran.

Tentu Jakarta berbeda dengan Jawa Timur. Akan tetapi jika situasinya benar benar memenuhi unsur seperti yang penulis kemukakan, kemungkinan adanya kejutan di ajang lima tahunan kali ini terbuka lebar. Kemenangan Jokowi - Ahok adalah satu bukti bahwa rakyat sudah sangat cerdas. Serangan boleh gencar dan bertubi tubi, tapi mereka tetap kukuh. Kalau ada orang datang dan menawarkan sesuatu, mereka mengiyakan saja. Mereka juga mengangguk ketika para pemuka agama menasehatinya untuk memilih pemimpin yang seiman. Bahkan ketika lembaga survey menanyai siapa kandidat yang akan di pilih, mereka lebih suka menjawab tidak tahu, belum menentukan atau kalau perlu bilang golput.

So, apakah ini juga terjadi di Jawa Timur ?

Anda yang paling tahu...