Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Ketika Nabi Menangis

Oleh : Gus Nuril Arifin

Rahasia di balik Rahasia Ilmu Semesta

Sahabat Bilal bin Rabbah adalah bekas seorang budak hitam yang dibebaskan oleh sayyidina Abubakar dari bekas tuannya Muawiyah Abu Shofyan. Ketulusan hati dan keimanannya ternyata membuat dirinya di muliakan Allah dan nabinya. Dan suara emasnya justru menjadi keajaiban dunia. Sehingga konon Neil Amstrong ketika di bulan sempat merekam sebuah suara adzan yang demikian mendayu dayu. Yang akhirnya  menggerakan hati sang astronot AS itu masuk 'Islam'. 

Pagi itu hati Bilal gelisah. Biasanya sebelum adzan di kumandangkannya, Bilal sudah menemukan rasul di masjid nabawi dan sudah i'tikaf serta sholat beberapa kali. Namun kali ini adzan sudah hampir habis dia tidak menemukan sosok junjungannya. Bahkan setelah selesai adzan subuhpun rasul belum muncul untuk mengimami sholat. Setelah ditunggu bersama sahabat yang lain seperti Sayidina Abu bakar, Umar, Ali juga Abu Hurairoh beliau juga tidak muncul, beberapa sahabat  kemudian mengutus Bilal menjenguk rasul.

Sang pemilik suara emas itu beberapa kali mengetuk pintu rumah nabi yang tidak begitu jauh dari masjid Nabawi. Selang beberapa saat rasul membukakan pintu dan terlihatlah wajah nabi yang sembab berlinang air mata. Bilal yang khawatir dengan keadaan nabi kemudian bertanya :

" Ada apa ya rasulullah ?".

Dia tidak tidak pernah melihat rasul berperilaku demikian. Ketika anak kesayangan wafat, ketika sahabat sahabat yang dicintainya gugur sebagai syuhadapun beliau tidak menangis berlebihan. Paling hanya menitikan air mata di pipi dan lalu di hapusnya.

Sejurus kemudian rasulullah berkata : "aku menerima wahyu yang berkaitan dengan ilmu dan alam ini wahai sahabat. Dan betapa kandungan wahyu itu demikian dahsyatnya"




      

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (190)

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (191)

Bilal yang baru mendengar wahyu itu bertanya tanya tak mengerti, apa gerangan yang membuat nabi menangis. Toh makna dari wahyu itu biasa biasa saja ?

Asror (Rahasia Ilmu)

Saudaraku...
Dari sini saya mulai menyadari kenapa sayidina Abbas Ra, paman rasulullah memohon kepada rasul untuk didoakan agar mengenal sir dan asror nya ayat Al Qur'an. 

Maka dengan doa "allahumma faqqih hu fi addiini wa 'allamahu ta'wila", tidak seorangpun mushonif berani menulis buku tanpa bertanya kepada sayyidina Abbas. Juga tak seorang mufasir berani menafsirkan al Qur'an tanpa bertanya kepada beliau. Karena ternyata kandungan ayat ayat al qur'an itu tidak bisa di jamah dengan artikulasi keilmuan biasa. Seseorang tidak mungkin mampu menafsirkan ayat al Qur'an secara sempurna kendatipun menggunakan tujuh benua sebagai kertasnya dan tujuh lautan samudera sebagai tintannya. Oleh sebab itu tafsir akan ayat ayat Allah ini akan berkembang,dan Allah sendiri membuka pintunya untuk melakukan ijtihad.

Membatasi tafsir dan terlalu membelenggu maknanya hanya akan merendahkan kandungan Al Qur'an. Karena memang rahasia ayatnya hanya Nabi yang tercintalah yang mampu menafsirkannya. Nabi adalah pembawa berita. Menjadi logos dan perantara Allah dalam menyapaikan kalam kalam sucinya. Sementara itu kita dan para ulama setelahnya hanya mampu meraba dari tafsir yang ada dan menambah atau menyesuaikan dengan kondisi kekiniannya.

Selama banyak diperdebatkan oleh kalangan ulama yang memegang teguh atas tafsir nash nash alqur'an berdasarkan tafsir kitab kitab kuning (kuno) tentang boleh tidaknya membuka pintu ijtihad. Dan harus diakui semenjak munculnya dominasi Sunni atas Mu'tazilah, perkemabangan ilmu tafsir di dunia Islam nyaris mengalami kemandegan. Kota kota besar yang merupakan ladang keilmuan seperti Basrah, Iran serta Mesir juga kota lain di jazirah arab dulu sempat melahirkan imam imam besar seperti Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ibnu Hambal dan Imam Ibnu Abu Hanifah nyaris beku. Apalagi pasca dinasti Abbasiyah dan Kesulthanan Usmani di hancur leburkan oleh Inggris dan Perancis atas bantuan anak kandung Khawarij, yang belakangana dikenal denagan sebutan Wahabiyah.

Pengembaraan ilmu sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Syafi'i sudah jarang terjadi. Khasanah khasanah madrasah keilmuan sebagaimana yang dibuka oleh Imam Abu Hanifah juga jarang muncul. Tulisan ini tidak atau belum membahas soal ini, melainkan untuk menuju kepada proses keilmuan wahyu yang di turunkan Allah kepada Rasul, sehingga sahabat bilal heran melihat bekas air mata nabi yang demikian menyiratkan ketakutan dan kenyerian. Apalagi sahabat Bilal paham dengan ketahanan fisik dan batin rasul. Ketika mengalami luka parah dalam perang Uhud, ketika harus di asingkan oleh kaum musyrik Makah dan bahkan ketika ditinggal oleh sang istri tercinta Siti Khadijah serta pamannya, Abu Tholib,  rasul tidak menampakan wajah menderita seperti itu.

Bagi Nabi, ayat di atas memiliki arti yang dahsyat. Penciptaan bumi yang di kemukakan Allah ini kelak akan melahirkan ilmu bumi dan astronomi dan ilmu ilmu yang lain. Mulai pertambangan, pertanian hingga ilmu ilmu yang belum terkuak waktu itu. Allah sudah menunjukannya dalam bentuk kalam, tersirat dan tersurat beserta  rahasia rahasiaNya. Betapa Allah mengemas bubur panas perut bumi yang memiliki tingkat panas luar biasa dengan bumi yang berlapis lapis. Di dinginkan dengan lautan yang berjumlah tujuh samudera diatasnya. Kemudian ketika mendapatkan panas dari matahari yang menjadi poros bumi, lahirlah uap yang menggumpal di angkasa, kemudian jatuh ke bumi berupa hujan yang menyuburkan tanah. Allah juga mempusakai bumi dengan gunung gunung agar tidak goncang akibat perputaran bumi itu sendiri dan juga ketika berputar mengelilingi matahari. 


Rahmat Di Balik Ayat Pergatian Siang dan Malam

Surat Ali Imron ayat 190-191 tersebut memang bagi Bilal biasa saja. Apalagi bagi ulama ulama biasa dan orang awam. Karena hanya menyebutkan sebuah siklus yang setiap hari terjadi. Sejak zaman Nabi Adam bahkan barangkali sebelum ada penciptaan manusia, pergantian siang dan malam itu adalah hal yang wajar. Bahwa siang ada sinar matahari bersinar, yang tingkat panasnya bergantung musim. Jika musim panas maka bisa saja panasnya mencapai 58 derajad celsius, semisal daerah Mekah. Kemudian kalau musim dingin bisa sampai minus 5 derajad. Bahkan di Beijing pada bulan Desember bisa mencapai minus 11 derajad celcius. Hingga saking dinginnya melahirkan salju. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kering.

Namun bagi nabi tafsirannya sangat berbeda. Nabi yang pernah diperjalankan oleh Allah melintasi galaksi, menembus atmosfir bumi hingga ke langit lapis tujuh ini menakwilkan ayat di atas dengan frame of reference yang demikian dalam. Perjalannan menembus alam semesta yang dikehendaki Allah sebagaimana ayatnya :
 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ   ( - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ - See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/03/tafsir-al-isra-ayat-1-11.html#sthash.8vMQKyRD.dpuf
Rasul yang di perjalankan atas kehendak Allah untuk melihat secara syar'i, haqiqi dan ma'rifati kejadian pembuatan alam lewat perlintasan perjalanan dalam kecepatan cahaya.

Tentu saja perjalanan serupa ini sudah menjadi jamak di zaman sekarang. Terlebih setelah diketemukannya pesawat ulang alik, sistem komunikasi yang demikian canggih sampai pada batas batas yang samar. Tetapi pada zaman itu ayat yang menjelaskan isro' wal mi'roj ini sangat di luar akal sehat. Hanya seorang sahabat nabi sekelas Abu Bakar yang di tempeli pohon iman yang tangguh dan besar sajalah yang mempercayainya.
 
Penciptaan Bumi
  
Berbeda dengan Nabi yang memiliki tingkat pemahaman seorang rasul bahkan menjadi imamnya para Nabi, semua kejadian alam dan proses penciptaan alam ini terserap dalam perjalanan suci ke sidrotul Munthaha itu ilmu pengetahuan kemudian semakin memperkaya penafsiran dan membenarkan semua itu. Sehingga kita menjadi faham kenapa sahabat Bilal khawatir, kenapa Nabi menangis. Dia mengira nabi agung itu mendapatkan teguran dari Allah. Padahal sebenarnya Nabi di bawa oleh Allah dari awal penciptaan hingga akhirnya kelak. Dan pada pemahaman kejadian bumi yang demikian hebat itu, nabi menyampaikan dengan cara sederhana. Hanya disertai pesan. Jika engkau mewarisi dua hal, kitabullah dan sunnahm maka keselamatan akan menyertaimu.

Pesan ini banyak melahirkan tafsir pula, tetapi demi melihat ayat Alqur'an : "yarfa'illahul ladzina amanu minkum waladzina uthul ilma darojad" maka titik berat dari pesan nabi itu justru kepada kalimat yang membukakan pintu ijtihat dan ilmu untuk menafsirkan secara mendetail. Kenapa tidak dijelaskan pada saat sepulang Nabi dari isro' wal mi'roj ?

Tentu semua itu menjadi pertimbangan Nabi yang bijaksana. Masyarakat saat itu mendengar isro' wal mikroj saja menganggap sebagai berita bohong dan penuh isapan jempol. Apalagi menjelaskan ilmu pengetahuan yang bertele tele. Kalau dengan cara cara yang mudah dan masuk akal saja nabi dianggap sebagai gila,tukang sihir dan julukan yang buruk bagaimana kalau menjelaskan dengan kaidah pengetahuan modern yang banyak membutuhkan penelitian ?

Maka kaum Muslimin dan bangsa dunia ini patut bersyukur atas ilmu pengetahuan yang senantiasa ditambahkan Allah kepada manusia sehingga menemukan pemahaman yang sangat memajukan kehidupan mereka di dunia ini. Sebagaimana di fahami lebih dari 6 milyar manusia yang hidup di alam semesta (bumi) ini yang menemukan bahwa bumi tidak datar, melainkan cenderung lonjong atau bulat yang tidak sempurna. Kemudian manusia membagi dan menamai bagian atasnya dengan sebutan Kutub Utara dan bagian bawahnya di sebut Kutub Selatan. Namun ada yang berpendapat pembagian kutub ini sudah berubah tempat dan kedudukan,.beberapa ayat dari Surat Alqur'an menyebutkan adanya pergeseran. (insya Allah di bahas mendatang)

Bumi yang berputar kencang dan berporos pada dirinya sendiri itu memiliki kecepatan kurang lebih 1.669 km/jam nya. Namun selain berpusing pada dirinya juga mengitari matahari sebagai pusat galaksi dengan kecepatan 107.000 km/jam dengan jarak 150 000 000 km.  Nabi melihat itu dengan angka angka yang jlimet dan jarak yang demikian teratur. Bagaimana kalau seandainya jarak putar bumi dengan matahari lebih pendek sebagai mana Mars atau Venus. Pasti kita bakal melihat bumi akan membara sebagaimana hasil penelitian  ilmuan bahwa Mars tidak mungkin di huni manusia,karena demikian panasnya.

Dan Bumi melakukan gerakan ajaib ini sesungguhnya karena bertasbih kepada Allah. Para ilmuwan memahami ini sebagai bentuk ikatan tali ajaib yang tak tampak atau di kenal sebagai gravitasi. Dengan ikatan tak tampak itulah matahari menjadi sentra pengembaraan alam semesta galaksi Bimasakti. Lengkap dengan planet  planetnya yang bernama Merkurius, Mars, Venus, Bumi, Saturnus, Uranus, Yupiter dan Neptunus serta Pluto.

Dalam ilmu fisika ini kita banyak menerima informasi bahwa planet terdekat matahari adalah Mars atau Mercurius. Demikian panasnya sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan dan tidak ada air. Kalaupun ada, maka air itu akan menguap sedemikian cepatnya. Sedangkan sebaliknya di planet Pluto kita juga tidak atau belum menemukan kehidupan karena beku. Jika manusia di kirim ke Pluto tanpa alat bantu, tentu akan membeku. Apalagi manusia itu terdiri dari darah dan daging yang kandungan zat cairnya mencapai 60-80%. Bisa anda bayangkan bangaimana darah kita membeku dan membekukan jantung kita ?

Dan ternyata galaksi kita tidak sendirian di alam semesta. Jalur penerbangan yang di lewati nabi memiliki milyaran bahkan trilyunan atau malah trilyun trilyun galaksi. Ilmuwan mengelompokan galaksi galaksi itu dalam sebuah cluster yang berisi satu milyar galaksi. Satu milyar cluster kemudian disebut super cluster, selanjutnya bisa saja dinamai mega cluster dana seterusnya.

Pelacakan Ibrahim

Maka Alqur'an menganjurkan kita untuk mempelajari ciptaan Allah. Sering memandang ke langit mengikuti jejak sang pencari Tuhan, Ibrahim As. Ibrahim juga tidak langsung faham. Karena begitu melihat Matahari yang demikian hebat sinarnya sehingga mampu membagi cahayannya dengan rata, menumbuhkan tanaman dan memberikan energi tiada terkira, menganggapnya sebagai Tuhan. 

Namun 'Tuhan' itu ternyata kalah ketika rembulan muncul. Maka Tuhan Ibrahim menjadikan rembulan yang demikian eloknya, memberikan sinar dengan indah tanpa sengatan yang menghitamkan kulit sebagai perwujudan Tuhan. Namun ketika pagi menjelang dan cahaya yang elok itu sirna oleh pancaran matahari, Ibrahimpun berpikir bahwa itu bukan Tuhan. 

Dan benar Ibrahim mengambil kesimpulan bahwa pembuat matahari dan bulanlah Tuhan yang besar dan benar. Pengalaman ini menunjukan bahwa manusia sekelas Ibrahimpun mengalami proses pencarian dengan angka kesalahan juga. Bagi kita sekarang dan ilmu pengetahuan menampilkan fakta bahwa melalui pandangan mata telanjang, terlihat bintang sebagai pelengkap matahari dan rembulan itu kecil. Hingga cahanaya hanya sebatas kerlap kerlip. Tapi hakekat sebenarnya tidaklah kecil. Bintang bintang itu sebenarnya adalah titik titik sentral galaksi yang bernama matahari. Yang ukurannya mungkin jauh lebih besar dari matahari kita. Bahkan ada matahari dari galaksi tetangga yang ukuran mataharinya mencapai 1.500 kali matahari kita. Dan jumlahnya dalam satu galaksi tidak hanya satu. Tetapi kenapa kelihatan kecil ?. Bukankah besarnya mencapai ratusan ribu kali lipat bumi kita ?. Ilmu pengetahuan menjawab bahwa jarak terdekat galaksi kita dengan galaksi lainya sekitar 8 tahun cahaya.

Bayangkan kecepatan cahaya adalah 300.000 km /detik, kalau di kalikan 8 tahun berapa jaraknya ?. Kira kira sekitar 75 trilyun kilometer. Maka sesungguhnya ketika matahari atau bintang yang kita lihat hari ini sesungguhnya bukan matahari hari ini, karena mereka sudah berjalan sekian trilyun kilo meter. Hebat bukan ?

Oleh sebab itu Allah memuji dirinya sendiri dengan menyebut Subhanalladzi asro bi abdihi. Karena kesucianNyalah yang mampu menggerakan hambaNya dalam sehari semalam menempuh waktu tempuh yang sangat spektakuler. 

Semua yang saya jelaskan diatas itu adalah langit langit bumi. Belum menjangkau langit ketujuh. Kalau menempuh perjalanan ke galaksi atau bintang terdekat saja 8 tahun cahaya, lalu berapa tahun kalau dilakukan perjjalanan sampai menembus langit ketujuh.

Baiklah sebagai ilustrasi kita bikin hitung hitungan kalau 8 tahun cahaya saja membutuhkan jarak 75 trilyun km (8 th x365 harix24 jamx60 menit x 60 detik x300 km) berarti kalau kita menempuhnya dengan kecepatan pesawat terbang supersonik atau chalenger sekalipun yang kecepatan maksimalnya adalah 20.000 km/jam, maka membutuhkan waktu 75 trilyun km di bagi 20.000. 428 tahun lebih. Sampai di tujuan sana kah anda ?

Di sini Allah tidak sombong, bahkan kalau sombongpun boleh (karena memang namanya sendiri adalah Mutakabir). Allah layak sombong karena waktu yang demikian jauh menjadi tidak berarti ketika rasul di perjalankan bukan hanya menembus jarak antar galaksi, tetapi melewati semesta bumi yang terdiri dari bermilyar milyar galaksi, menuju semesta langit kedua lapis ketiga hingga lapis terakhir, dan di hadapkan oleh Allah sendiri pada singgasana suci, Sidrathul Muntaha. Subhanallah...

Betapa Rosul tidak menangis diingatkan kembali menjelang akhir hayatnya dengan ringkasan perjalanan luar biasanya ini ?.
Bagaimana denganmu ?
Sudahkan anda melakukan perjalanan serupa ?
Sudahkan anda menjadikan sholatmu sebagai mikrojul lil mukminin ?
Bagaimana rasul tidak menangis ketika Allah menyediakan sarana menuju ke Sidrotul Muntaha itu tanpa bersusah payah bagi umat Muhammad yakni dengan sholat saja ?.

"Ash sholatu mi'rojul lil mukminin"

Bagaimana rasul tidak menangis, ketika di hadapan segala berkah dan nikmat. Mendapat dekapan hangat dengan ucapan mesra sang Kholiq: "Assalamu alaika ayyuhan nabiyu warohmatullahi wabarakatu" ?

Sang Musa yang memiliki 14 mu'zizat, bahkan ikan asin saja bisa hidup kembali. Tapi tidak tahan melihat cahaya dan hijab Allah. Musa bahkan pingsan ketika menerima the ten commandemen (10 perintah Allah). Tetapi Nabi Muhammad tidak. Bahkan beliau berdialog. Sehingga memperoleh sebuah jalan kehormatan bagi hambannya untuk bermi'roj kepadaNya, yaitu lewat sholat. Subhanallah...

KH Nuril Arifin