» » Fundamentalisme di Indonesia Bagian Dari Operasi Bendera Palsu (False Flag Operation) ?

Fundamentalisme di Indonesia Bagian Dari Operasi Bendera Palsu (False Flag Operation) ?

Penulis By on 6 Juni 2013 | No comments

False Flag. Arti harfiahnya bendera palsu. Sebuah operasi rahasia yang di lakukan oleh organisasi organisasi tertentu, baik pemerintah maupun swasta yang di rancang seolah olah pihak lain yang melakukan. Operasi semacam ini membutuhkan agen agen terlatih, penyusup yang licin dan bisa memerankan watak yang nyaris tak bisa terdeteksi.  Misalnya, ketika negara mengendus adanya gerakan yang berpotensi membahayakan keamanan namun alat negara mengalami kesulitan untuk memberangus, di situlah terkadang operasi semacam ini perlu di lakukan. Intelejen kemudian mulai menyusupkan anggotanya ke dalam kelompok yang di target, lalu merencanakan sebuah serangan masif. Dalam posisi ini negara kemudian memiliki alasan untuk menumpas habis kelompok tersebut.
Parodi Teroris (Pict : ketawa.com)


Salah satu operasi yang di tuding sebagai False Flag Operation adalah teror 11 september di WTC. Sebagian orang percaya bahwa bom di dua menara kembar Amerika itu sejatinya di lakukan oleh intelejen Amerika sendiri. Tujuannya untuk mendapatkan legitimasi publik. Maka tak heran, pasca 11/9 Amerika kemudian mengirim balatentaranya ke wilayah wilayah dimana para teroris bersarang. Tidak itu saja, Amerika kemudian menyerukan kepada seluruh dunia untuk melakukan peperangan terhadap kelompok kelompok militan. Bahkan Presiden Bush kala itu setengah mengancam pihak pihak lain dengan mengatakan, siapapun yang tidak memerangi teroris berarti musuh Amerika. Lantas, apakah peristiwa WTC itu masuk kategori False Flag atau tidak, penulis tidak memiliki cukup informasi untuk mengkategorikannya.

Ibarat perang, operasi bendera palsu ini masuk kategori perang terselubung. Berbeda dengan perang lainnya yang menempatkan kubu satu dengan yang lain saling berhadapan. Oleh sebab itu, operasi ini menjadi jauh lebih sulit dan membutuhkan ketelitian dalam perencanaan. Butuh agen terlatih, finansial kuat dan juga peranan media. Faktor terakhir ini biasanya memberi peran yang cukup besar. Invasi Amerika ke Irak misalnya, membutuhkan jasa media yang mengarahkan opini seolah olah Saddam Husein memang menyimpan senjata pemusnah massal. Walaupun kenyataannya tidak pernah di temukan adanya senjata berbahaya itu di sana.Tapi apapun itu, Amerika sukses mengkooptasi media dan sukses mendapatkan legitimasi untuk melakukan invasi ke Irak.


Lalu apa kaitannya fundamentalisme di Indonesia dengan operasi bendera palsu ?

Penulis tidak sedang menjustifikasi, akan tetapi berusaha mengajak pembaca untuk berfikir rasional dalam menghadapi peristiwa peristiwa di sekitar kita. Ambil contoh soal terorisme. Kenapa hingga kini kegiatan itu masih terus ada ?. Padahal sudah tak terhitung lagi pelakunya yang di bunuh, di tangkap dan di jebloskan ke penjara. Upaya persuasif juga seringkali di lakukan. Baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang konsen terhadap masalah itu. Tapi hingga kini masih belum juga terselesaikan.

Apakah ini tandanya negara telah gagal ?. Boleh jadi iya, tapi bisa juga tidak. Tergantung bagaimana cara kita memandang. Di banding dengan Malaysia atau Singapura misalnya, perang melawan terorisme di sini terkesan lebih lambat dan berbelit belit. Banyak faktor penyebab. Medan yang luas, masyarakat yang majemuk, aspek undang undang dan lain sebagainya. Di Indonesia, orang yang baru bicara tidak bisa di tangkap. Mereka baru bisa di tangkap setelah berbuat. Ini rupanya yang membuat Indonesia lebih susah terlepas dari ancaman terorisme.

Kenapa tidak membuat UU Securty semacam ISAnya Malaysia saja ?

Bisa saja pemerintah dan parlemen mengadopsi cara Malaysia dalam menanggulangi terorisme. Akan tetapi efektif atau tidak, tergantung situasinya. Pemberlakuan UU semacam itu mau tidak mau akan mengancam kebebasan berbicara dan berpendapat. UU itu bisa di salahgunakan oleh penguasa untuk menekan lawan lawan politiknya. Hal yang sama juga terjadi di Malaysia dan menjadi penyebab kenapa akhirnya negeri jiran itu kemudian mencabut UU ISA.

Ketiadaan UU security memang di satu sisi sangat merepotkan negara, tetapi membuat UU semacam itu juga berpotensi mengganggu proses demokrasi. Perlu formula khusus yang bisa mengakomodir keduanya. Demokrasi dan kebebasan berpendapat tetap di hargai, akan tetapi di satu sisi ancaman yang berpotensi membahayakan negara juga perlu di tangani.

Ada persoalan besar mengenai keamanan negara yang ada di sekeliling kita. Misalnya isu OPM, terorisme, organisasi organisasi radikal dan lain sebagainya. Yang jika itu di biarkan akan menjadi ancaman serius bagi negara.Tapi untuk menumpas habis juga bukan perkara mudah. Terutama untuk ormas ormas yang sering menaburkan kebencian pada negara akan tetapi tidak pernah bisa di buktikan bahwa mereka benar benar melakukan tindakan makar.

Pada titik inilah penulis berpendapat bahwa mungkin saja salah satu upaya yang di lakukan intelejen kita adalah dengan melakukan False Flag Operation. Mengirim agen agen terlatih untuk menyusup di organ organ yang di anggap berbahaya. Mengkooptasi, membuat tumpul mata panah radikalis dan kalau memang perlu menggunakan cara lebih keras. Melakukan operasi terbuka seperti yang di lakukan densus 88.

Operasi bendera palsu juga bisa di lakukan dengan cara menciptakan organisasi organisasi semu. Misalnya membentuk OPM tandingan, ormas tandingan dan sebagainya. Dalam kasus NII misalnya, intelejen cukup sukses memecah belah serta melemahkan kemampuan dan kekuatan ideologis organisasi ini. Kita bisa merasakan hasilnya sekarang. Misalnya soal serangan teroris. Semenjak bom Bali, serangan serangan teroris secara kualitas terus menurun. Entah karena pasokan dana yang sulit atau kemampuan tempur yang rendah, akan tetapi sejauh ini teroris hanya mampu melakukan serangan dalam skala kecil. Bahkan seringkali yang menjadi korban adalah pelakunya sendiri. Dari segi ideologis, pelaku pelaku teror juga berkapasitas rendah. Nyaris susah kita temukan teroris yang benar benar terdidik secara militan di luar negeri.

Namun demikian bukan berarti para teroris bakalan punah. Karena akarnya masih ada. Yaitu ideologi, keyakinan dan habitat. Selama masih ada yang berpikir bahwa ideologi negara adalah musuh, selama itu benih benih terorisme akan terus terpupuk. Selama masih ada warga negara yang berfikir bahwa negara ini bukan untuk kepentingan bersama, selama itu pula tunas tunas pemberontak akan terus bersemi.

Operasi bendera palsu untuk beberapa hal penting. Tapi jika tidak bisa di kendalikan, bisa malah menimbulkan konflik horisontal. Bisa kita lihat, bagaimana sepak terjang organisasi organisasi fundamental yang seenaknya saja menafikan golongan lain. Memprovokasi dan melakukan kegiatan kegiatan yang berpotensi memecah belah masyarakat.

Intelejen bekerja untuk kepentingan negara, tapi mesti memperhatikan kepentingan masyarakat lain juga. Jangan sampai keintiman dengan organisasi organisasi radikal itu berakibat fatal. Memakan anaknya sendiri. Ambil contoh Al Qaeda, siapapun tahu mereka didikan CIA. Tapi ketika kuat, mereka berbalik menyerang kepentingan Amerika.

Masyarakat juga perlu di didik untuk lebih dewasa menyikapi fenomena yang ada. Kata Allah 'kuluu wa asyrobu wa laa tusrifu'. Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan. Perangi musuh negara, tapi jangan berlebihan. Perangi sifat sifat sesamamu yang menganggap dirinya paling benar, tapi jangan berlebihan dengan menganggap dirimulah yang paling benar.

Manusia butuh proses untuk menjadi baik. Ada kalanya di warnai dengan pergulatan yang keras, kejam dan sulit. Begitu juga dengan negara. Untuk membangunnya butuh proses. Ada kalanya di lingkupi perdebatan, sengketa, saling tuding dan saling mengalahkan. Kata filosof Jawa, Jer Basuki Mowo Beo. Kebahagiaan itu butuh pengorbanan.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya