Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Bunga Revolusi (1)



Saudaraku... 
Lelaki manis, kecil, lincah, cerdas, banyak akal dan sedikit kejam. Sengaja aku tulis surat ini untukmu,. Sekedar penyambung rindu dan silaturahmi. Karena sejak engkau menjadi wakil ketua DPR RI apalagi setelah menjadi menteri,nyaris terputus sambung rasa itu.

Terus terang aku kangen, dengan gaya berjalanmu yang mendongak keatas dengan senyum manis tanpa dosa itu. Tetapi sungguh saya kaget dengan perubahan perangaimu,yang dulu manis tiba tiba jadi garang, mengejutkan.

Ho..ho..ho..ho
Kenapa engkau ini...
Sekarang kok demen sekali bicara panjang lebar di setiap simposium,
Di setiap rapat rapat pergerakan,
Di setiap pengajian,
Bahkan di Gereja, Kuil, Vihara dan even lainnya ?

Ah, engkau ini setiap hari menulis status memprovokasi orang untuk bergerak. Dengan dalih dan atas nama perlawanan. Dengan segenggam alasan yang memang nampak sangat rasional untuk segera melakukan revolusi. Engkau memaparkan betapa para pendahulu kita berjuang dengan jiwa dan raga, tidak peduli tubuhnya semakin renta.
  
Engkau sampaikan betapa simbah KH Abbas dari Pesantren Buntet Cirebon, atas permintaan Hadratusy syeikh KH wahid Hasim, simbah Bisri Sansuri, Simbah KH wahab Hasbullah, KH Hasyim Asy'arie dan Syaikhona Kholil Bangkalan merestui untuk di lakukan perlawanan. Maka lahirlah Resolusi Jihad . Betapa perang berbau mawar mewangi yang diperingati denagan sebutan hari Pahlawan 10 November itu diatandai dengan di kalahkannya tentara sekutu dengan kematian Jendral Malaby.

Engkauy tambahkan betapa heroiknya anak anak santri waktu itu. Dengan bakyak dan sandal bandol ,berbekal semangat untuk mengenyahkan penjajah dan sebilah bambu runcing yang di asma'i, mampu mengalahkan tentara sekutu yang bermoral tinggi. Tentara kampiun juara dunia yang pernah memenangkan perang dunia ke II. Lalu Bung Tomo di perintah oleh Kyai Wahid Hasyim dan Bisri Mustofa untuk menggelorakan semangat arek arek Surabaya di corong radio, dengan teriakan gegap gempita kalimat takbir,

Allahu Akbar Allahu Akbar.....

Lihat betapa lihainya engkau, 
Mengumpulkan para jendral yang kecewa dengan anak buah, adik , kakak, dan saudara seangkatan nya di AKABRI waktu itu. Engkau juga rekrut pemuda pemuda yang memang militan sejak lahir untuk melakukan perlawanan sejak dini hari. Bahkan mungkin mereka diciptakan Allah sebagai patriot penyeimbang kedholiman. Tidak ketinggalan, para kyai muda dan tuapun engkau berikan lagi nutrisi semangat juang demi perlunya Revolusi. Kirab Resolusi jihad pun engkau lakukan sepanjang pantai utara pulau Jawa. Engkau semangati mereka dengan mengerahhkan lembaga NU Ma'arif untuk mengerahkan siswa. Padahal di sisi lain, banser dan Ansornya belum juga tandang. Engkau mobilisasikan dengan gegap gempita. Sementara kyai yang lain hanya melihat,dengan wajah tidak mengerti.

Kalau saja semua ini engkau lakukan dengan tulus, wahai keponakanku yang kecil, lincah lagi cerdas membaca politik. Sehingga mampu memenangkan setiap pertarungan di lembaga pengadilan yang penuh dengan mafia dan rampok keadilan itu, saya sangat salut. Politik memang begitu. Makanya di namakan Siasah Syar'iyyah. Mengadu kelicikan dan strategi. Sampai sampai saking kentalnya engkau menjadi pejuang partai dan machiavelis, semua rumah politik yang di dirikan ulama ikhlas engkau kuasai dengan mudah.

Engkau kalahkan Naga Hijau. Padahal dulu Naga Hijau itu tidak bisa di bunuh atau ditaklukan oleh pemimpin berdarah Mataram Islam dari Yogyakarta. Meskipun sang Raja berkuasa 33 tahun, tapi susah mengalahkannya. Dia hanya berhasil mencederainya dalam tiga kali percobaan pembunuhannya. Tetapi engkau beda. Meskipun bukan tandingan, meski ibarat engkau ini timun wungkuk me lawan durian, tetapi sejarah menunjukan dengan hebatnya diplomasimu. Sampai SBY dan menkumham, engkau " ketiaki" dan engkau giring dalam para pusaranmu sendiri. 

Ah kalau saja parade resolusi jihad kemarin bukan karena siasat belaka...


 Prasyarat Revolusi

Sesungguhnya saat ini prasyarat untuk terjadinya revolusi sudah sangat komplit.  Maka tanpa engkau gulirkan kembali ingatan untuk menuntut hak merdeka, lewat review Pawai resolusi Jihad. Rakyat sudah mulai gerah, muak dan ingin segera mencabut senjata. Ibarat reaksi kimia, engkau hanya menjadi katalisator. Yang mempercepat reaksi dua bahan kimia, tapi sementara engkau sendiri tidak terlibat didalamnya. Atau bahkan engkau akan terkejut dan tak menduga ketika gelegar resolusi jihad itu berbalik arah bukan menghadapi Belanda, Nica serta tentara sekutu, melainkan menghadapi regim yang berkuasa sekarang termasuk dirimu yang selama ini ikut malang melintang di sana. 

Lihat, 
betapa teriakan "Ganti rezim ganti sistem" sudah menjadi hal biasa. 
Lihat anak anak Bendera, juga sudah berani jibaku,
meski dihadapkan ancaman untuk dihukum dia tidak peduli,
lihat ada pemuda pejuang Ham bahkan rela menjadi martir dengan membakar diri di depan istana.
Lihat kelakuan tentara dan polisimu yang di gaji rakyat, di belikan peluru oleh rakyat,
malah peluru itu di gunakan untuk menembaki rakyatnya sendiri,
atas nama hak dan bendera sebuah perusahaan yang menjadi milik asing.

Jika dulu Soekarno mengirimkan empat marinir yang salah satunya adalah kakakku sendiri Oesman Janatin. Yang dengan gagah berani menyusup ke Malaysia, kemudian tertangkap dan di gantung di sana untuk membela sebuah martabat dan nama baik ataupun kemerdekaan dan kedaulatan bangsa besar . Bangsa yang berjaya sejak 3000 tahun sebelum masehi atau sebelum Isa lahir. Dengan jargon terkenalnya 'Ganyang Malaysia', gantung Tengku Abdurahman, dan jadikan Malaysia sebagai propinsi Nusanatara kembali, sebagaimana zaman Gajah Mada dan 350 tahun kejayaan Majapahit. Tapi sekarang malah tentara dan Polisi di bawah rezim yang engkau dukung, membunuhi rakyatnya sendiri atas nama malingSia. Sungguh ironis dan tidak tahu malu.

Para pejuang angkatan 45 atau angkatan pesantren menawarkan darah dan kehormatan untuk meraih kehormatan yang lebih besar. Hubbul wathon minal iman. Mempertaruhkan nyawa untuk berjihad dengan penjajah karena negaranya di kuasai bangsa lain, tapi engkau malah menjadi antek petani asing ,antek penjajah negeri sendiri. Engkau bukakan pintu bagi penjajah dan engkau nglesot di depan pintunya dengan senjata terhunus, dengan senapan terkokang siap di tembakan untuk rakyat yang seharusnya engkau bela.

Apa sih yang engkau harapkan dalam hidup ini sehingga puluhan rakyat MESUJI enagkau korbankan sekaligus engkau meterei sebagai negara atau daerah jajahan Malaysia ?

Lapindo memang kasus biasa. tetapi ini menjadi syarat kedua perlunya revolusi.

Coba bayangkan kalau ada seorang memakai sepatu masuk masjid. Kalau ada orang yang tidak faham agama pakai sandal masuk masjid tanpa di lepas sandalnya engkau akan marah dan umat islam akan marah. Karena tidak dihargai Rumah Allah. Kalau ada pabrik di bakar orang atau dilempari tahi, pasti pemiliknya dan tenaga kerja yang bekerja didalamnya akan marah. Karena menghina dan menganggu ketenangan tempat karyawan mencari nafkah. Tawasul rejeki dari Allah dalam menghidupi anak istri. Kalau ada sekolah yang mendidik anak anakmu tiba tiba disiram air kencing, engkaupun menjadi uring uringan dan engkau tuding yang menyiram itu biadab atau sekurang kurangnya sudah gendeng alias gila.

Kalau ada rumah rumah penduduk yang di cicil dari serupiah dua rupiah karena memang sebagian besar rakyat ini tidak mampu membeli rumah sendiri secara cash ,meskipun sudah bekerja siang malam, meski sudah merdeka katanya 60 tahun. Tiba tiba rumah itu di lempari batu pasti makan marah. Lebih marah lagi kalau engkau yang dipilih olehnya, sebagai representatsi rakyat di legislatif yang terhormat tidak berbuat apa apa. Malah diam membisu seribu basa. Dan itu belum seberapa. Yang terjadi di Sidoharjo, tempat kerajaan Ken Arok bermahkota. Bukan hanya dilempari kotoran, air kencing atau sepatu yang berdebu, tetapi di semua di tenggelamkan. Rumah tempat bercengkerama dengan keluarga, sekolah tempat menimba ilmu pengetahuan dan juga masjid tempat Allah menyapa makhlukNya.

Masalah Century, ini syarat ketiga revolusi bisa di gulirkan.

Masih teringat dengan jelas, malam kemarin ketika mendengar kabar PKBN tidak di setujui (tanggal 17 Desember), setelah mendampingi Ning Yennie jumpa pers sekaligus menguak kebobrokan Menkumham dan dobel gardannya dalam meloloskan hak berserikat, saya langsung terbang di Jombang. Tahlil dan melaporkan ke Guru Bangsa Gus Dur. Tetapi justru disini terkuak memori. Betapa bangsa ini memperlakukan rakyat dan putranya sendiri denagan sangat tidak adil. Gus Dur yang mendapatkan zakat dari pemerintah Brunai Darussalam dituduh dengan tudingan menyakitkan, Bruneigate. Meniru skandal presiden Amerika Woltergate. Dan di lengserkan dengan semena mena. Padahal tuduhan itu tidak terbukti, tetapi kursinya sudah dirampas.

 Saya waktu itu sudah mengepung istana dan DPR dengan 350.000  pasukan berani mati yang berasal dari seluruh pelosok negeri. Dari pesantren sampai tukang kayu, tukang becak, buruh dan soopir angkot sampai pedagang asongan. Ada kyai, Banser, Pagar Nusa serta anak anak BMNU dan Forwanu. Nyaris memporak porandakan pranatan. Mayor Jendral TNI Tubagus Hasan Nudin (sekarang wakil ketua Komisi 1 DPR RI) dan Kapoldanya Sofyan Yacob (Kapolda Metrojaya) serta Kolonel Habib Agil dari Brimob pengaman DPR dan Mayjen Marinir Soeharto, sudah berhadapan di ring satu. Saling memperjuangan tugas di benak masing masing. 

Dan saya malah di telepon Gus Dur, "Gus pun di terusaken. Kulo memang di fitnah lan kulo engkang leres dalam hal skandal bulog atau Brunay, niki mung rekayasa mawon. Tetapi nek sampaian  ngamuk negarane bubar. Kulo mboten ngijini indonesia runtuh. Saya suaka kebenaran tetapi lebih suka kemerdekaan dan ketentraman. Pun kersane kursi kulo di angge rayahan Megawati, Amin Rais, Arifin Panigoro, Akbar Tanjung, Mathori Abdul Jalil  lan nak anak PKB engkang khianat. Sejarah nanti membuktikan kulo engkang leres" kata sang Maestro sahabat langit dan bumi itu.
Dan akhirnya kita pulang tapa kerusuhan.

Untungnya itu Gus Dur. Tetapi yang jadi masalah fitnah yang dilontarkan ke Gus Dur hanyalah angka  Rp 19 milyar. Dan itupun tidak benar. Coba badingkan dengan Century yang 6,7 trilyun ?. Dan mengalirnya kemana jelas, dibayarkan untuk siapa jelas, mengalir ke partai apa juga jelas. Dan itu rakyat tahu. DPR sendiri memutuskan bahwa ini kasus besar yang melibatkan Istana dan partai yang berkuasa. Tetapi tidak ditangani secara benar. Padahal janji temannmu itu ketika datang ke Magelang di rumah Simbah KH Abdurahman Khudhori dan didampingi banyak calon menteri adalah akan menjadi panglima pemberantasan korupsi. Dan sayapun berjanji siap menghunus pedang dalam memberantas korupsi. Tapi buktinya mana ?

Belum lagi kasus sang besan, kasus Miranda Gulthom. Semua mengarah kesana. Maka jangan sembarangan menggulirkan gerakan kalau engkau hanya setengah setengah. Rakyat sudah jengkel. Jendral Ryamizard Ryacudu ketika aku sambangi di rumahnya juga mengeluhkan. Indonesia ini jatuh seperti piring yang jatuh dari lantai tiga. Tanpa rem akan hancur. Begitulah kalau terjadi revolusi tanpa pemimpin. Saya masih ingat benar kata kata ini. Di ucapkan jendral yang tegas dan baik ini namun nasibnya justru disingkirkan. Di rumahnya yang di pampang patung Mahapatih Gajah Mada itu, sang jendral dengan santun mengantarkan aku pulang sampai di pinggir mulut gang. Meskipun sudah saya tolak dan saya larang dia tetap nmengantarkan sampai ke mobil pinjamanku yang diparkir cukup jauh. Gerimis kecil tidak menghalanginya.

Waktu itu saya memintanya untuk turun gunung. Kalau engkau tahu, jendral yang menjadi menantu Wapres Try Soetrisno, kalau revolusi tanpa pemimpin membuat negeri ini terjun seperti piring jatuh dari lantai tiga kenapa engkau tidak turun gunung ?. Saya siap mengerahkan massa saya lagi, kataku. Tetapi sang jendral masih ragu. Saya juga sampaikan hal ini kepada jendral Harsudiono Hartas di perpustakaan negara jalan Salemba.

Waktu itu Gerakan Revolusi Nurani yang dikomandoi oleh Jendral Tyasno Soedarto, Om Tomi (adik Pahlawan peta Supriyadi), Ki Sunardi serta almarhum ketua keluarga besar Marhein, DR Hadori Yunus mengumpulkan jendral jendral tua yang gigih. Mulai dari Jendral Soeprapto, Jendral Saiful Sulun, Jendral Ian Santoso, sampai sekretaris Bung Karno Pak Pramoe Alm. Saya katakan, "anda semua adalah anak anak bangsa, putra terbaik bangsa. Dan sudah menularkan virus patriotisme, virus kebangsaan di pesantren pesantren yang dulu menjadi ladang pembibitan tentara dan Polisi pembela tanah air. Kalau sekarang anda melihat negera dalam keadaan rusak kok diam saja. Padahal andalah yang memulai mengajarkan semangat bela bangsa dan bela tanah air, maka saya akan usulkan kepada Allah agar sampean di hukum di neraka.

Jendral dan tentara tidak ada kata pensiun. Pembela tanah air dan patriot tidak kenal waktu dan usia. Setiap tarikan nafasnya adalah perjuangan dan kemenangan untuk rakyat. Kalau melihat keadaan sudah sedemikian rusak anda menegakkannya, maka saya dan semua santri di tanah air juga akan menegakkan  dan mendoakan anda tidak masuk neraka.

Masih teringat benar,Pak Harsudiono,mendekatiku. Dia tetap tegas dan gagah di usia tuannya. saya memang dekat dengan beliau sejak menjadia Pandam IV Diponegoro yang kasdamnya adalah TB Silalahi. Saya sering diajak diskusi di Puriwedari (kediaman setiap pejabat panglima Kodam). Atau kadang beliau mampir ke pesantren. Maka saya agak kecut ketika dia melangkah siagap menuju kepadaku begitu aku turun panggung .Wah, Jendral yang saya hormati ini marah batinku. Ternyata tidak. Dia memeluku seraya membisiki telingaku. "Aku bangga denganmu Gus. Engkau benar. Jendral atau tentara tidak kenal pensiun dalam membela bangsa dan negaranya. Membela rakyat dan bapak ibunya sendiri. Teruskan perjuanganmu . Engkau laksana singa podium. Semoga pidatomu menggugah macan macan tidur, gus ".

Mendengar bisikan ini kontan air mataku jatuh. Menangis sesengukan, karena merasa menemukan bapak. Menemukan jendral yang berhati patriot. Karena selama ini kami semua merasa sendirian. 

Duh." Rawe rawe rantas malang malang putung, gus. 
Ada darah yang mengalir deras.
Darah perlawanan karena melihat kedzoliman.