Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Bersiap Ke Kurusetra

Khrisna dan Arjuna di Padang Kurusetra (Pict : wikipedia.com)

Ibarat cerita pewayangan, pihak Pandawa sudah mulai kehilangan kesabaran setelah segala upaya untuk menegakkan keadilan selalu menemui jalan buntu. Guru Durna, sang guru bijak yang bisa di harapkan mengatasi kemelut Hastina nyatanya tidak lagi bisa di harapkan. Mentor bangsa Kuru ini seolah menelan ludah sendiri ketika dulu ia mengatakan sangat menyayangi Pandawa, namun faktanya hanya sekedar manis di mulut belaka. Ketika di hadapkan pada kenyataan politik yang ada, sang Durna tak beda jauh dengan para elite politik Hastina yang lebih mengedepankan oportunity. Begitu juga dengan Resi Bisma. Orang paling berpengaruh di Hastinapura dan di anggap sebagai teladan bagi wangsa Kuru. Ketika ia di tanya, akan membela siapa dalam sengketa politik antara Pandawa dan Kurawa ?. Jawabannya sungguh membuat anak anak Pandu Dewanata merasa sakit hati. Bisma dengan tegas bersumpah untuk berdiri di belakang penguasa Hastina.

Kabar lain yang tak kalah tragisnya adalah keputusan Prabu Salya. Paman kandung dari Nakula dan Sadewa (anggota Pandawa) yang di harapkan bisa bersikap adil dalam mengatasi sengketa politik, nyatanya juga cenderung berpihak pada Kurawa. Penderitaan Pandawa makin lengkap, ketika ibu Pandawa Dewi Kunti yang berusaha membujuk Karna agar tidak memusuhi Pandawa juga menemui kegagalan. Adipati Awangga, Basukarna yang sejatinya adalah saudara kandung Pandawa itu sedikitpun tidak mau berpaling pada mereka.

Pandawa kini merasa seperti sendirian di hutan belantara nan gelap. Mereka yang sejatinya paling berhak atas tahta Hastina, justru kini menjadi pihak yang seolah paling di salahkan dan paling ingin di singkirkan oleh penguasa Hastina. Pada situasi inilah kemudian muncul Prabu Kresna. Sahabat Pandawa sekaligus raja Dwarawati ini menawarkan bantuan pada keluarga Pandawa.

"Kalau memang tidak ada cara lain untuk menegakkan kebenaran, kenapa tidak kalian coba menyusun kekuatan dan merebut hak kalian dengan cara yang lebih tegas lagi ?".

Begitu kira kira sang Batara Kresna memprovokasi Pandawa. Sebenarnya Pandawa tidak menginginkan adanya konfrontasi, akan tetapi mereka juga tidak punya pilihan lain yang logis untuk di lakukan. Jalur diplomasi sudah mentok. Bahkan bandul politik kian hari kian tidak berpihak pada mereka. Jika demikian, haruskah Pandawa tetap diam menunggu waktu dan membiarkan segalanya hancur lebur di tangan Kurawa ???.

Cerita di atas hanya sekedar ilustrasi semata dari penulis. Sebagai penggambaran yang mungkin saja mirip dengan situasi Indonesia saat ini. Di mana kita tidak saja di hadapkan pada degradasi moral para elite politik, akan tetapi juga di hadapkan pada bencana hilangnya kemampuan bangsa Indonesia untuk survive. Ini pula yang rupanya menjadi keprihatinan beberapa elemen nasionalis yang berkumpul dalam diskusi kebangsaan yang di gelar di Sokotunggal Rawamangun Jakarta Timur.

Seperti yang di kemukakan oleh salah satu panelis, Aditya Hanafi. Aktifis yang pernah turut serta menumbangkan rezim Orba itu mengatakan bahwa sistem yang ada sekarang ini sudah sangat melenceng dari garis perjuangan para founding father. UUD 45 yang di buat melalui pemikiran yang matang dan sudah teruji membuat sistem bernegara kita lebih stabil, kini telah di obrak abrik sedemikian rupa sehingga tidak lagi menampakkan wajah aslinya. UUD yang ada di tangan kita adalah produk 4 kali amandemen 2002 yang sudah banyak di susupi oleh kepentingan asing. Tidak itu saja, turunan turunannya semisal UU Migas, UU Minerba dan lain sebagainya jelas sekali mengindikasikan adanya kekuatan luar yang sengaja ingin melumpuhkan kekuatan Indonesia. Ini yang kemudian mengubah watak konstitusi kita menjadi lebih kapitalistik dan hanya menguntungkan segelintir pihak.

Panelis lain, Alamsyah mengemukakan bahwa sistem pengelolaan keuangan kita masih jauh dari kata baik. Dia menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan almarhum Gus Dur soal bagaimana mengelola keuangan negara. Gus Dur mengatakan bahwa sebenarnya pengelolaan anggaran yang lebih mendekati konsep negara kesejahteraan adalah konsep zakat. Sebuah konsep yang sebenarnya sudah di usung oleh Islam. Konsep ini kurang lebih intinya menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan yang sangat mendasar bagi masyarakat semisal kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. Namun demikian, distribusi zakat juga bisa di peruntukkan untuk pembangunan, pertahanan dan lain sebagainya. Mantan pegawai Bank Dunia ini mengatakan, andai saja pengelola keuangan negeri ini mau mengambil spirit dari konsep itu, rasanya kemiskinan bisa di tekan seminimal mungkin.

Sementara itu Adhie M Massardi (mantan juru bicara Presiden Gus Dur) menggambarkan bagaimana pengelolaan anggaran di negeri ini. Ketika anggaran di ajukan ke parlemen saja indikasi korupsinya sangat kentara. Angkanya cukup fantastis. Bisa sampai 30% dari jumlah anggaran. Begitu juga pada tahap implementasi. Hampir di semua tingkatan kekuasaan berusaha untuk merampoknya. Makanya banyak proyek negara yang amburadul. Ketua Gerakan Indonesia Bangkit ini menegaskan bahwa kesalahan utama ada di tingkat pemimpin nasional. Kalau pemimpin nasionalnya berani bertindak tegas, maka korupsi bisa di tekan. Adhie Massardi mencontohkan bagaimana Gus Dur dulu memimpin Indonesia. Gus Dur orang yang tidak segan segan untuk mencopot pejabat pejabat bawahannya yang bahkan baru di isukan korupsi sekalipun. Anggota Fraksi PKB yang ada di parlemenpun tidak bisa berbuat seenaknya menyelewengkan anggaran. Karena pemimpinnya tegas. Di segmen terakhir Adhie Massardi menghimbau, sebaiknya rakyat bersatu padu untuk melakukan blocking terhadap partai partai politik yang jelas jelas terindikasi sebagai sarang koruptor. Rakyat harus berani bersatu untuk menghukum partai politik korup. Memang, tidak ada parpol yang bersih bersih amat. Tetapi setidaknya rakyat bisa mengambil pilihan yang tingkat kerusakannya tidak terlalu berat. Pilih partai yang mencalonkan figur figur baik, atau setidaknya mereka yang mengusung calon presiden dengan track record baik.

Di segmen lain, Gus Nuril yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sokotunggal mengingatkan pada kita semua untuk tidak terlena dengan wacana wacana. Carut marut yang sudah tidak karuan juntrungnya ini mesti di sikapi dengan tindakan kongrit. Semua elemen, baik yang ada di luar sistem maupun orang orang baik yang ada di partai politik harus bersatu padu untuk menyelamatkan bangsa. Tidak harus revolusi. Apapun itu, intinya adalah bagaimana perubahan ini bisa berjalan cepat dan terukur. Umat Islam juga di himbau untuk tidak terlalu banyak mengurusi hal hal yang kurang penting. Utamakan bagaimana ikut ambil bagian dalam memperbaiki bangsa.


Jakarta, 9 Mei 2013
Di ramu dari diskusi Kebangsaan di Sokotunggal, Rawamangun