Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Tehnologi Hancurkan Bakat Menulis Generasi Muda ?

Membaca surat cinta, yang tuan tuliskan
Ingat kisah cinta Siti Nurbaya
Merangkaikan pujian berperibahasa
Ku tahu maksudnya menyanjung diriku
Pandainya tuan pula membuat bahagia
Pada yang pertama mengenal cinta
Tak pernah sekalipun aku melupakan
Membaca suratmu, surat tanda cinta
Wajah cantik dan ayu siapa yang punya
Mata lentik dan sayu siapa yang punya
Ku yang bangga bahagia siapa yang punya
Kalau bukan tuan kekasih hati


Ada yang ingat lagu ini ?
Bagi yang hidup di era 80 - 90an, lagu ini tentu sangat akrab di telinga. Lagu yang di bawakan Nur Afni Oktavia ini dahulu di masa jayanya merupakan lagu favorit muda mudi kala itu. Bukan hanya suara biduannya yang enak di dengar, akan tetapi syairnya juga sangat indah.

Seperti yang tertulis dalam lirik di atas, dahulu kala sebelum ada tehnologi handphone, para remaja menggunakan media tulisan manual alias di atas kertas untuk sekedar berkirim kabar, menyatakan cinta, menulis puisi dan merayu pujaan hatinya. Mungkin bagi remaja sekarang, menulis surat untuk kekasihnya dengan metode itu sudah di anggap ketinggalan jaman. Selain proses untuk sampai tujuannya terlalu lama, tentu saja juga biayanya lebih mahal daripada kalau kita menulis pesan melalui handphone, jejaring sosial, BBM dan lain sebagainya.

Lalu, apa hubungannya narasi di atas dengan penurunan bakat menulis para remaja ?. Bukankah bakat menulis juga bisa di asah dengan menggunakan fasilitas tehnologi yang ada ?. Bukankah bertukar puisi, merayu pasangan dan merangkai kata kata indah juga bisa di lakukan di era modern ini ?. Bahkan dengan varian yang lebih luas. Melalui ponsel, melalui jejaring sosial, blog dan sebagainya.

Betul !!!. Tidak dapat di pungkiri, bahwa tehnologi yang sekarang ada masih sangat memungkinkan seseorang untuk mengasah kemampuannya dalam menulis. Bahkan segalanya menjadi lebih praktis dan simple.

Namun demikian menurut hemat penulis, tehnologi yang sekarang ada secara tidak sadar sebenarnya berpotensi mengikis bakat menulis generasi masa kini. Tehnologi mendorong manusia untuk melakukan segala aktifitasnya serba cepat dan terkadang tanpa melalui pemikiran yang matang dan terukur. Yang simple saja, remaja jaman dahulu untuk sekedar melakukan pedekate saja membutuhkan waktu yang relatif lama. Terutama bagi mereka yang pujaan hatinya berada nun jauh dari tempat tinggalnya. Berbeda dengan sekarang, karena tehnologi serba canggih, komunikasi serba cepat, untuk melakukan itupun tidak memerlukan waktu yang lama. Cukup pencet nomer, ngomong langsung dan rayu dia. Kalaupun tidak tersedia biaya, bisa di lakukan dengan cara mengirim pesan pendek. Praktis bukan ?.

Dari segi kepraktisan tentu saja iya. Akan tetapi dari segi kualitas belum tentu bisa di setarakan. Kenapa ?.

Bagi remaja jaman dulu, menulis surat bukan hanya wahana untuk sekedar mengungkapkan isi hati. Akan tetapi juga cara mengolah citarasa seni dalam dirinya. Tak heran, seseorang bisa berlama lama di depan secarik kertas, berfikir tentang apa yang layak dan tidak layak untuk di tulis, berupaya untuk meng indahkan guratan penanya serta berusaha sebisa mungkin apa yang ada di atas kertas itu bisa mewakili dirinya. Unsur seninya lebih variatif. Keindahan bahasa, keindahan tulisan, keindahan kertasnya dan lain sebagainya. Sesuatu yang nantinya akan di nilai oleh si penerima.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, tak jarang seseorang berulang ulang membuang tulisannya ke tong sampah, mengambil kertas baru, menulis lagi dan lagi.....!. Hingga di rasa sempurna. Tentu saja terlalu bertele tele. Akan tetapi jika kita kaji lebih mendalam, sebenarnya kegiatan kegiatan itu secara tidak langsung telah mengolah bakat kita sebagai seorang penulis.

Berbeda dengan era sekarang. Kita tak perlu berlama lama untuk berpikir. Cukup memulainya dengan menanyakan 'apa kabar, sudah makan belum, ada waktu luang atau tidak ?' dan lalu semuanya mengalir begitu saja dengan tempo cepat dan tanpa berfikir soal seni keindahan dalam menulis. Pedekatenya cepat, nembaknya cepat dan kalaupun putus juga berlangsung dengan cepat pula.

Maka, jangan heran jika manusia modern jaman sekarang lebih jarang yang memiliki kemampuan menulis. Bukan saja menulis panjang sudah tergantikan dengan pesan pendek, tapi juga pada akhirnya pesan pendekpun semakin terkikis dengan metode komunikasi langsung melalui suara. Yang terjadi kemudian adalah gejala makin banyaknya orang yang pandai berbicara tapi tidak bisa menulis. Karena memang dari awal sudah terbiasa dengan metode yang serba cepat seperti itu.

Menulis memang belum tentu lebih baik daripada berbicara. Karena yang terpenting adalah idenya tersampaikan dengan baik. Dengan menulis ataupun berbicara. Akan tetapi kita sering lupa, bahwa menulis memiliki keunggulan tersendiri di banding bicara. Yaitu mengenai keabadian dan kelangsungan sebuah ide. Tulisan lebih mudah di simpan dan di kenang dalam jangka waktu yang lama. Karena ada material yang bisa di simpan. Berbeda dengan berbicara. Hari ini kita bicara, mengemukakan pendapat maupun ide, namun ketika si pendengarnya berlalu dari hadapan kita, belum tentu ia akan terus bisa mengingat ucapan kita secara tepat dan sesuai dengan aslinya. Kalaupun ia adalah penghafal yang sangat cerdas, toh pesan itu hanya mampu bertahan di memori otaknya dalam waktu terbatas. Ketika ia meninggal atau memasuki masa pikun, pesan akan terkikis perlahan kemudian hilang.

Tapi tulisan masih terus bisa bertahan. Bisa di wariskan, di daur ulang sesuai dengan aslinya atau mungkin di modifikasi.

So, kalau anda ingin di kenang sepanjang masa, menulislah....!!!.