Theme images by Storman. Powered by Blogger.

PACAR KONTRAK


“Gue minta, loe jauhi dia”.

Suaranya terdengar pelan. Tapi cukup jelas di telinga Dhea.

“Loe tahu khan siapa dia ?” Ianjut lelaki berkepala botak bernama Irwan itu setengah mengancam. Matanya yang sipit dengan guratan warna merah saga tak jua mau beranjak dari mangsanya. Sementara empat orang  remaja yang terdiri dari dua laki laki dan dua perempuan di sebelah kiri dan kanannya yang sejak tadi hanya diam, kini bergerak mengerubungi Dhea.

“Harusnya loe mikir Dhe” timpal Hans dengan nada sedikit emosi.

“Bukankah loe tahu, bangsat itu yang bikin pacar loe harus mendekam di penjara ?. Trus kenapa sekarang malah loe pacarin dia ?. Pake otak, pake otak !!!” tekannya.

“Udah gitu ketemunya di wilayah kita, apa bukan penghinaan ini namanya ?” seloroh Sophia nyinyir.

Dhea tak segera menjawab. Sorot matanya kini menyapu satu persatu orang orang yang sebenarnya masih satu sekolah dengannya.
Pojok Cerita Gubraker
Baca Juga Cerpen menarik Sarjemku Malang, Sarjem ku Sayang
“Kenapa sih, loe semua repot repot mencampuri urusan gue ?” Dhea membela diri.

“Mencampuri kata loe ?” sahut Hans.

“Kalau bangsat itu dan begundal begundalnya nggak menyerbu wilayah kita, mana mungkin polisi datang lalu mengacak acak barang barang kita, dan menemukan barang itu dari tas Aang pacar loe ?”.

“Oooh, jadi karena itu kalian nyalahin gue ?” Dhea sengit, “kenapa kalian nggak coba instropeksi dan mencari tahu siapa yang menaruh barang terlarang itu di tas Aang ?”

“Gue kenal Aang. Dia nggak mungkin menyimpan barang barang itu. Gue pacarnya, pacarnya…”.

“Pacar ?” sahut Sophia seraya melempar senyum masam.

“Masak iya sih, pacarnya di penjara, trus loe malah jalan berdua dengan musuhnya. Nggak salah loe ?”.

“Tutup mulut loe, Shop!!!”.

“Elo yang harusnya diem!” bentak Sophia sembari mengangkat tangan kanannya.

“Apa ?. Mau nampar ?. Ayo…!!!” Dhea bangkit dari kursinya.

“Loe pikir gue takut ngehajar loe ?” sambut Shopia kalap. Tangan kirinya bergerak cepat mencengkeram kerah baju Dhea, sementara tangan kanannya bersiap melayang menghajar muka Dhea.

“Ayo, tampar !!!” tantang Dhea.

“Eehhh..sudah sudah” si kurus Luthfi yang awalnya hanya menjadi penonton merangsek memisahkan keduanya.

“Kenapa kita malah berantem sendiri sih ?” lanjutnya menengahi.

“Loe mau membela dia ?” sembur Shopia.

“Yaelah, bukan gitu kali Shop. Gue hanya pengen kita fokus ke masalah. Dhea bukan musuh kita. Catet itu. Musuh kita adalah anak anak 69. Dan si Gathar brengsek itu salah satu pimpinan di sana. Jangan karena dia yang mempecundangi Dhea, lantas kita malah menyalahkan Dhea. Dan bukan mencari cara agar brengsek itu nggak lagi memasuki wilayah kita!” ucap Luthfi berusaha mendudukkan masalah.

“Lagak loe kayak ustadz aja, krink?” Hans.

“Bukan begitu, Hans. Gue cuman nggak ingin ada perpecahan di antara kita. Itu aja…”.

“Ah, bilang aja loe naksir ama Dhea. Muna loe!”.

“Busyet dah, emang tampang gue tipe perebut property temen apa ya?. Sory bro, itu bukan tipe gue” bantah Luthfi setengah berkelakar.

“Kalian semua, basi !!!” Dhea meraih tas punggungnya dari atas meja lalu bergegas melangkahkan kakinya.

“Eit, mau kemana ?” Irwan menahan pundah Dhea.

“Bukan urusan loe” Dhea mendorong tubuh besar Irwan dan secepat mungkin kabur dari tempat itu.

“Dengerin Dhea” teriak Irwan dengan suara keras, “kalau esok lusa gue lihat bangsat itu menemui loe lagi di wilayah kita, jangan salahkan kalau kita habisi dia!!!”.

Dhea menghentikan langkah, menoleh sebentar pada kelima kawan satu gengnya di sekolah lalu kembali mengayunkan kakinya. Hatinya benar benar dongkol dengan sikap kawan kawannya yang tanpa mengerti duduk persoalan, tiba tiba memaksa Dhea untuk menjauhi Gathar. Teman baiknya waktu dulu masih duduk di bangku SMP.
                                                             
                                                                ****************
“Gue nggak bisa, Gath” tulis Dhea dalam pesan chatnya menanggapi saran Gathar untuk mengikuti saja kemauan teman teman di sekolahnya.

“Bukannya gue takut sama mereka, Dhe. Tapi gue hanya khawatir mereka akan terus terusan mengintimidasi loe” balas Gathar.

“Iya, gue tahu. Mereka teman gue. Teman satu geng. Musuh bebuyutan sekolah loe. Tapi mereka nggak pernah mengerti keadaan gue. Mereka nggak pernah mau tahu, gimana pedihnya hati gue menerima kenyataan cowok yang gue sayangi di penjara. Nggak mau tahu, Ghat. Mereka masa bodoh” keluh Dhea.

“Loe khan bisa jelasin baik baik ?”.

“Sudah”.

“Trus ?”.

“Ya mereka emang pengecut!”.

“Maksud loe ?”.

“Boro boro mereka solider ke gue. Sama cowok gue aja sekarang seperti nggak kenal. Mana pernah mereka ada kemauan buat sekedar membesuk Aang. Bayangin, Ghat…!. Cowok gue yang kalau tawuran sama anak anak sekolah loe paling depan, segitunya di campakkan. Apalagi gue ?” cerocos Dhea melampiaskan segala uneg unegnya.

“Maafin gue, Dhe…”.

Dhea menarik nafas panjang. Menyeka beberapa helai rambut jatuh di keningnya.

“Loe nggak salah, Gath”.

“Gue yang bikin cowok loe tertangkap” Gathar.

“Bukan itu yang gue sesali, Gath”.

“Lalu ?”.

“Yang gue sedihin, kenapa bisa ada narkoba di tas Aang. Padahal setahu gue dia nggak make. Ngerokok aja nggak. Gimana mau make ?”.

“Tapi waktu kemarin gue antar loe besuk dia…?” Gathar mengingatkan.

“Loe khan hanya di luar dan nggak ikut ketemu dia. Emang sih, Aang ngakuin itu punya dia. Tapi dari gelagat yang gue baca dari wajahnya, kayaknya dia terpaksa melakukan itu. Gue yakin dia cuman di korbanin”.

“Loe nuduh Irwan dan kawan kawan loe sendiri, Dhe ?” tanya Gathar.     

“Siapa lagi…”.

“Mmmm….apa perlu gue bantu loe buat menculik Irwan. Trus kita paksa dia mengaku ?” Gathar menyodorkan tawaran.

Dhea menggelengkan kepala. Menghempaskan tubuhnya di ke dinding kursi putar yang ia duduki. Pikirannya melayang jauh mengenang kembali kisah unik persahabatannya dengan Gathar. Jauh hari sebelum ia mengenal Aang, Gathar adalah salah satu pria yang pernah dekat dengan Dhea. Walaupun belum sampai pada tahap pacaran, karena waktu itu pikiran mereka masih terbilang hijau untuk mengenal istilah itu, namun sejujurnya ada ketertarikan tersendiri bagi Dhea pada sahabatnya itu.

Gathar tak sekedar sahabat biasa. Tapi juga kakak yang selalu menyediakan diri untuk mendengar segenap keluh kesah Dhea. Dan itu di jalani Gathar dengan tulus tanpa meminta balasan apapun. Dia bukan tipe cowok yang suka mengambil kesempatan layaknya cowok cowok lain. Pura pura baik, tapi ujungnya ada niat lain. Dan itu di buktikan Gathar bukan hanya pada Dhea, tapi juga pada yang lain.

“Pacar ?. What ?. Ha ha ha….” kelakar Gathar menertawakan.

“Bukan gue nggak nafsu ama cewek, Dhe. Gue cuman mikir aja, apa sih istimewanya pacaran ?. Jalan bareng ?, saling tuker puisi ?, nonton bareng ?”.

“Belajar berkomitmen, Ga…”.

“Komitmen ?” seloroh Gathar dengan gaya santai, “emangnya komitmen nggak bisa di bangun atas dasar persahabatan ?”.

Bukan hanya ketika masih sama sama duduk di bangku SMP, hingga sekarangpun Gathar tak pernah ketahuan punya pacar. Padahal dengan penampilan Gathar yang lumayan ganteng dan juga perilakunya yang sangat dewasa, tidak sulit baginya untuk mendapatkan kekasih hati tambatan jiwa. Justru Dhealah yang sejatinya geregetan dengan kelakuan Gathar.

“Semua cowok berlomba ingin menjadi pacar gue, kecuali Gathar”.

Ya. Bahkan semua sinyal yang di butuhkan sudah Dhea lancarkan demi membuat Gathar menyerah. Tapi hingga masa SMP berlalu, Gathar tetap menjadi seorang Gathar. Baik hati, solider, tak punya pamrih dan berkomitmen penuh dalam persahabatan. Sikap itu tak jua berubah manakala Dhea berterus terang pada Gathar bahwa dirinya sudah punya pacar.

“Selamat ya, Dhe. Gue ikut seneng kalau loe udah nemuin cowok yang bisa bikin hidup loe lebih bahagia”.

“Makasih ya, Gath. Loe orang pertama yang ngucapin selamat ama gue. Tapi kita tetap bersahabat khan ?” tanya Dhea ingin memastikan.

“Pastinya. Bahkan, demi loe, gue pribadi berjanji nggak akan menyentuh dia kalau suatu saat terjadi bentrokan antara geng sekolah gue dan geng sekolah kalian”.

Apa yang di ucapkan Gathar memang di buktikan benar. Berkali kali terjadi tawuran antar sekolah, Aang selalu menjadi musuh yang paling di hindari Gathar. Itu juga yang terjadi ketika terakhir kali mereka tawuran. Irwan dan kawan kawannya yang kalah jumlah berhasil di pukul mundur oleh anak anak SMA 69. Sementara Aang yang ketika itu bertugas membawa tas ransel berisi berbagai macam property tawuran semacam, batu, obeng, pisau dan sebagainya tercecer paling belakang. Dan jika Gathar tidak segera mengenali Aang, mungkin cowok Dhea ini sudah menjadi bulan bulanan anak anak 69. Tapi sayangnya, lepas dari keroyokan musuh musuhnya, Aang malah tertangkap polisi yang menggerebek lokasi. Bersama Aang, sembilan pelajar dari kedua kubu juga di tangkap. Setelah melalui proses interogasi, sembilan pelajar di kenakan wajib lapor. Kecuali Aang. Polisi menemukan narkoba di tas Aang.

Hancur hati Dhea menerima kenyataan pahit itu. Bukan saja karena ia tak bisa lagi bebas bertemu kekasihnya, tapi juga harus menghadapi murka dari kedua orangtuanya yang tahu anaknya berpacaran dengan tersangka narkoba. Ayah Dhea malahan mengancam akan menyekolahkan Dhea ke kota lain jika mengetahui Dhea masih berhubungan dengan Aang. Tidak sampai di situ, teman teman sekolah Dhea juga mulai bersikap merendahkan. Dan yang paling membuat Dhea sakit hati tentu saja adalah sikap Irwan dan kawan kawan yang sama sekali tak peduli dengan nasib Aang.

“Gue hancur, Gath. Gue nggak tahu mesti berbuat apa. Orangtua gue melarang gue berpacaran lagi sama Aang. Gue bisa terima itu. Tapi gue kasihan sama Aang. Nggak ada yang peduli sama dia” keluh Dhea sesenggukan.

“Loe khan bisa tengokin dia kalau ada waktu besuk ?” saran Gathar.

“Nggak bisa, Gath. Kalau teman teman gue tahu, trus mereka lapor ke bokap gue ?. Gue bakalan di tuduh masih berhubungan sama dia. Dan gue mesti siap siap pindah sekolah di kota lain”.

“Loe bisa jelasin khan, Dhe. Kalau kapasitas loe hanya sekedar berteman ?”.

“Bokap gue nggak bakalan percaya!” tegas Dhea menundukkan wajah.

“Gue punya akal, Dhe” ucap Gathar tiba tiba.

“Maksud loe ?” Dhea mendongak.

“Kita pacaran…”.

“What ???” tak percaya.

“Mmmm…maksud gue…” Gathar sedikit grogi bagaimana harus menjelaskan.

“Maksud gue, kita pura pura pacaran”.

“Pura pura ?”.

“I..iii..yaa…!. Biar ortu loe percaya kalau loe udah nggak pacaran lagi sama Aang. Dengan begitu gue bisa anterin loe ke tahanan buat nengokin Aang. Gue yakin kalau ortu loe tahu kita pacaran, mereka nggak akan curiga”.

“Tapi teman teman gue ?. Mereka khan nggak bakalan percaya kita pacaran. Mereka bisa saja mengadu ke ortu kalau gue masih berhubungan sama Aang” Dhea masih sangsi.

“Ah, itu gampang. Sering sering aja kita nge date di wilayah mereka. Biar mereka yakin kalau kita pacaran. Gimana ?”.

Dhea mengerutkan keningnya. Pura pura pacaran. Sebuah tawaran yang aneh.

“Kok pura pura ?. Nggak lucu kali, Gath ?”.

“Kita nggak punya cara lain, Dhe” sahut Gathar.

“Trus gimana caranya ?”.

“Ya seperti orang pacaran. Gimana sih ?”.

“Jalan bareng ?”.

“Ya!”.

“Gandengan ?”.

“Mmmm…kalau perlu”.

“Ciuman juga ?”.

Gathar menggaruk garuk kepalanya. Seperti kebingungan menjawab.

“Mmmm….kalau loe nya nggak keberatan” jawab Gathar sedapatnya.

“Tapi tanpa cinta ?”.

Gathar terdiam.

“Itu gila, Gath. Mana bisa gue ngerelain diri di cium oleh cowok yang nggak gue cintai dan dia nggak mencintai gue ?”.

“Mmmm..oke..oke!. Gini aja. Kita buat aturan main yang sama sama kita sepakati. Yang penting loe bisa bebas besuk Aang”.

“Apa ?” penasaran.

“Pertama, status kita hanya pacar sementara. Istilahnya kontrak”.

“Kontrak ?” geli juga Dhea mendengar ide tak biasa itu.

“Iya, sampai loe menemukan kekash hati yang loe idam idamkan”.

Gila!!!.

“Lanjut!!” diam diam Dhea tertarik juga dengan gagasan Gathar.

“Selama pacaran, boleh jalan bareng tapi nggak boleh minta lebih. Misalnya, ciuman dan lain lain” terang Gathar.

Dhea mengangguk.

“Boleh merayu, tapi nggak boleh di anggap serius”.

“Mana bisa ?” protes Dhea.

“Harus bisa. Khan pura pura…?”.

Manyun juga Dhea.

“Lanjut deh…!”.

“Boleh cemburu, tapi nggak boleh sampai dendam”.

“Capek dehh…” komentar Dhea seraya menepuk jidatnya.

“Terusin nggak nih ?” Gathar menunggu reaksi Dhea.

“Hem…”.

“Terakhir. Selama masa kontrak, nggak boleh menghalangi pasangannya untuk berpacaran dengan pacar yang resmi”.

Kali ini Dhea mengangkat matanya, ada yang menyentak di pikirannya mendengar kalimat itu.

“Itu namanya selingkuh kali, Gath ?”.

“Kebalikannya kali, Dhe”.

“Maksud loe ?”.

“Justru yang di bilang selingkuh itu yang nggak resmi. Loe ama gue khan pura pura, Dhe ?”.

Dhea berpikir sejenak.

“Iya..ya..!” akhirnya.

“Ada pertanyaan lain, nggak ?. Atau punya syarat lain ?” tanya Gathar menunggu.

“Mmmm…apa ya. Kayaknya udah cukup deh…”.

“Eiitt…tunggu tunggu…”sela Dhea.

“Apa ?”.

“Biar pacar kontrak, kalau valentine atau pas ultah gitu, dapet kado nggak ?” Dhea menggerakkan alis kirinya seakan memberi isyarat agar permintaannya di penuhi.

“Mmmmm…” garuk garuk kepala.

“Kalau keberatan, nggak ada juga nggak papa…” seloroh Dhea menyunggingkan senyum tipis.

“Boleh….!. Tapi kalau ada aja. Kalau nggak ada jangan di paksa” jawab Gathar agak berat.

“Oke!. Gue setuju” sahut Dhea.

“Deal ?” Gathar.

“He’em…”.


                                                                   ****************




"Heh, ngapain loe kemari ?" hardik Aang begitu tahu kedatangan Dhea di sertai oleh seorang pria yang sangat di kenalnya.

"Puas loe ya ?. Puas ??" telunjuknya menuding tepat di depan hidung Gathar.

"Setelah loe bikin gue masuk penjara, sekarang loe coba pura pura baik di depan pacar gue. Maksud loe apa ?. Hehh...?. Biar gue ampunin loe ?. Cuihh...!. Najis..." Aang penuh kebencian.

"Jaga bicaramu, bro" sambut Gathar berusaha menahan diri.

"Apa apaan sih kalian ?" Dhea menengahi.

"Gue yang ajak dia, Aang. Sabar dikit napa sih".

"Tapi khan nggak harus ngajak bangsat ini ?".

"Salah ?".

"Jelas dong!".

"Trus gue mesti ngajak siapa ?" tohok Dhea.

"Teman teman loe ?. Yang sekarang sama sekali tak peduli nasib loe itu ?"

Aang terdiam.

"Dhe..." Gathar menyela.

"Kayaknya lebih baik gue keluar deh..".

Dhea mengalihkan pandangannya pada Gathar.

"Nggak perlu, Ghat" cegah Dhea.

"Tapi...".

"Udahlah, ntar gue yang jelasin".

Sebenarnya Dhea tidak tega juga mengajak Gathar menemui Aang di penjara. Selain akan memancing kecemburuan Aang, keduanya juga terlibat permusuhan antar kelompok yang sulit sekali di damaikan. Namun kali ini Dhea terpaksa membawa Gathar. Setidaknya, pacar kontrak Dhea ini memiliki beberapa informasi mengenai kasus yang kini menimpa Aang.

"Gue terpaksa melakukan ini, Dhe" ujar Gathar empat hari yang lalu.

"Gue sangat yakin kalau Aang hanya menjadi korban. Makanya gue mengambil inisiatif untuk menculik si cungkring untuk kepentingan penyelidikan. Dan loe dengar sendiri khan dari dia, kalau pemilik barang haram itu Shopia".

"Trus, gimana selanjutnya ?" Dhea.

"Kita sewa pengacara".

"Emang kita punya duit ?" Dhea mengerutkan dahinya.

"Ah, itu gampang" jawab Gathar tenang.

"Gampang gimana ?".

"Gue kerahin anak anak 69" Gathar menerangkan, "gue punya anggota yang cukup banyak untuk di ajak menghimpun dana buat bayar pengacara".

"Apa mereka mau ?" Dhea menggaruk garuk kepalanya. Ada sedikit keraguan menggelayut di benaknya. Apa mungkin anak anak 69 yang bertahun tahun bermusuhan dengan siswa sekolahnya bersedia melakukan itu ?.

"Gue jaminannya" tegas Gathar menjawab keraguan Dhea.

Dan untuk kesekian kalinya Gathar membuktikan diri sebagai sosok yang layak untuk di kagumi. Bukan saja berhasil meyakinkan teman temannya untuk membantu persoalan yang menimpa musuh mereka, akan tetapi juga memberikan pelajaran yang luar biasa tentang bagaimana bersikap adil dan obyektif terhadap musuh.

"Jangan loe pikir kita ini sekumpulan pelajar yang brutal dan nggak ngerti soal moralitas" kata Gathar berapi api.

"Geng ini punya aturan main yang belum tentu ada di tempat lain".

"Aturan gimana, Ghat ?".

"Kalau pacar kontrak aja ada komitmen yang harus di sepakati, komunitas harusnya juga ada".

"Misalnya...?".

"Anggota geng nggak boleh pakai obat obatan terlarang. Kalau melanggar, kita sendiri yang akan menyeretnya ke polisi".

"Wah..." melongo.

"Kita juga menerapkan aturan, nggak boleh menenggak minuman keras. Kalau nekat, kita hukum".

"Trus soal tawuran ?".

Gathar menarik nafas dalam dalam, berpikir sejenak untuk merangkai kata.

"Bagi kami solidaritas itu penting. Nggak bisa di tawar tawar lagi. Kalau ada yang mengganggu salah satu di antara kita, maka itu artinya ia sudah mencari masalah dengan semuanya".

"Tapi khan bisa di selesaikan dengan baik baik dan nggak perlu tawuran, Gath ?" sanggah Dhea.

"Itu hanya satu cara saja. Dan nggak semua masalah kita selesaikan dengan tawuran. Ya tergantung, apakah pihak lawan bisa di ajak bicara atau nggak. Kalau nggak mau kompromi, ya mau apalagi ?".

"Oooh".

Dhea mengangguk paham. Pikirannya kini melayang ke suasana di sekolahnya. Sungguh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di SMA 69. Tidak ada aturan main, tidak ada komitmen untuk saling mengerti satu sama lain. Sesuatu yang selalu dan selalu di jejalkan pada anggota baru adalah senioritas. Hanya mereka yang duduk di kelas terataslah yang menjadi tuannya. Sementara adik adik kelasnya tak lebih hanya budak pesuruh yang mesti taat dan patuh terhadap apapun yang di perintahkan seniornya.


                                                                      ***************


"Gue sama dia" menoleh ke arah Gathar, "kemari untuk menawarkan sesuatu ke loe, Aang".

"Apalagi ?. Mau membujuk gue agar gue mau buka suara kalau benda itu bukan milik gue ?" cegat Aang seperti tahu apa yang akan di utarakan Dhea.

"Nggak bisa, Dhe. Nggak bisa...".

"Kita udah sewa pengacara, Aang..." Dhea meyakinkan.

"Gimana ?".

Aang menggeleng.

"Apa susahnya ?. Apa susahnya loe buka aja masalah yang sebenarnya ?" bujuk Dhea.

"Nggak bisa, Dhe..." tetap menggelengkan kepala.

"Loe nggak mau hidup bebas di luar sana ?. Hehh ?. Loe....?" Dhea tak melanjutkan kalimatnya.

Suasana tiba tiba hening. Ketiga tampak sibuk dengan pikiran masing masing. Ini sudah kedua kalinya Dhea berusaha membujuk Aang untuk mau bekerja sama. Tapi lagi lagi, Aang seperti tak mau di ajak kompromi.

"Boleh gue ngomong ?" tiba tiba Gathar berdiri memecah kebuntuan.

Dhea memandang ke arah Gathar, sementara Aang hanya melirik sebentar kemudian memalingkan wajah.

"Gue tahu, loe benci banget sama gue" kata Gathar pada Aang.

"Gue tahu, apapun yang gue katakan, salah. Nggak apa apa. Loe boleh nggak ngehargain gue, tapi gue minta loe menghargai perasaan Dhea" ucap Gathar dengan nada serius.

"Maksud loe apa ?" sahut Aang dengan tatapan berkilat.

"Maksud gue ?" setengah bertanya, "gue mau loe buka semuanya. Bukan demi gue, bukan demi kelompok gue, bukan demi apa apa. Tapi demi Dhea...".

"Loe tahu apa sih ?" Aang ngotot.

"Gue tahu semuanya" sambar Gathar mulai menunjukkan ketidaksabarannya.

"Gue tahu, kalau loe melakukan ini semua karena loe takut sama Irwan. Loe takut dia akan ngebunuh loe kalau loe coba coba menyeret pacarnya, si Shopia itu ke dalam kasus ini. Gitu khan ?".

Aang terdiam.

"Gini aja deh" kata Gathar, "gue kasih dua pilihan. Loe bekerjasama dan mengakui bahwa barang itu milik Shopia dan gue lindungin loe. Atau...".

"Apa ?".

"Atau loe tutup mulut dan gue kirim pasukan untuk paksa mereka mengaku".

"Ngancem loe ?".

"Apa boleh buat" sahut Gathar tanpa kompromi.

Sejenak Aang berpikir.

"Baik" akhirnya Aang lumer juga.

"Gue terima saran loe, tapi gue minta loe jangan ingkar janji".

Gathar mengulurkan tangannya, mengajak Aang berjabat tangan.

"Dhea saksinya..." kata Gathar.

                                                                  *****************

Setelah melalui beberapa proses yang cukup menguras tenaga dan pikiran, polisi akhirnya membebaskan Aang dari tuduhan kepemilikan narkoba. Dan sebagai tindak lanjut dari pengakuan Aang, pihak berwenang kemudian menangkap Shopia, pemilik sebenarnya barang haram itu. Selain itu, pihak berwenang juga menangkap Irwan, pacar Shopia sekaligus ketua geng SMA 03. Remaja bertubuh gempal dan berkelapa plontos itu di tuduh melindungi Shopia.

"Gue nggak tahu mesti ngomong apa ke loe, Gath" kata Dhea seraya menyodorkan segelas minuman soda pada Gathar.

"Eits...! nggak usah basa basi gitu lah, Dhe. Gimanapun loe khan pacar gue..." goda Gathar.

"Sayangnya pacar kontrak" sahut Dhea lirih tak bertenaga.

"Emang kenapa ?. Toh loe juga merasa nyaman" lalu asyik menikmati susu soda kesukaannya.

"Nyaman ?".

Entah mengapa Dhea merasa ada sesuatu di balik kata itu. Satu kata yang seiring berjalannya waktu makin sulit untuk di definisikan.

"Benarkah selama ini aku merasa nyaman ?" tanya Dhea dalam hati.

Sekilas mungkin iya. Akan tetapi jika di renungkan dalam dalam, kehadiran Gathar yang seolah tak pernah henti menjadi pahlawan baginya justru menghadirkan siksaan tersendiri.

Aku tak mengerti
Apakah ini yang di sebut bahagia
Atau malah duka nestapa

Aku tak paham
Kenapa ragaku ini tak jua bersedia menerima kenyataan
Bahwa engkau hanyalah penghibur semata
Dan bukan hamparan taman bunga
Di mana sang kupu terbang riang di kelopaknya

Aku tak tahu
Apakah hadirmu telah memberi warna
Yang harus ku kenang hingga ujung usia
Ataukah hanya menyisakan tanda tanya
Yang mengantarku pada kesepian tiada hingga

Kring...kring...kring...

"Sebentar" kata Gathar meraih sebuah ponsel dari balik sakunya.

"Hallo Run, ada apa ?" panggil Gathar pada seseorang di ujung sana.

Entah apa yang sedang Gathar bicarakan, yang jelas mimiknya terlihat sangat tegang.

"Serius loe Run ?"

Mengalihkan pandangan pada Dhea.

"Berapa orang ?....... Hah...cuma segitu ?....Ya sudah, loe cepat cepat kemari!......apa ???. Nggak perlu".

Setelah itu Gathar menutup ponselnya.

"Ada apa Gath ?" tanya Dhea curiga.

"Nggak ada apa apa" jawab Gathar seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

"Tapi kayak ada masalah deh..." tak percaya.

"Mmm...bukan. Eh, ada kawan bisnis yang mau kemari...mmm...???. Penting sih...tapi...".

"Gue ngeganggu ?" menaikkan alisnya.

"Mmmm..gimana ya ?" menekan ujung telunjuknya ke jidat.

"Ya, nggak papa kalau itu penting..." Dhea tahu diri.

"Bukan gitu, loe bisa ngobrol dulu ama Harun di mobil, ntar gue nyusul. Tuh dia datang...".

Seorang remaja seumuran Gathar bertubuh sedang, berkulit putih dengan rambut pendek berlari tergesa gesa menuju ke tempat di mana keduanya berada.

"Sorry Dhe, nggak lama kok...".

"Run, temenin dia ya. Awas kalau loe macem macem ama pacar gue...." kata Gathar setengah bercanda.

"Siap...!" sahut Harun.

"Kalau ada perlu, call me aja. Ntar gue siapin semuanya..." lanjutnya segera mengajak Dhea menjauh dari tempat itu.

Setelah kedua orang itu tak terlihat lagi bayangannya, Gathar kembali ke tempat duduknya. Meraih gelas soda di hadapannya lalu meminumnya perlahan.

"Maafin gue, Dhe...." ucapnya berat.

"Gue yang salah udah mengambil keuntungan dengan memacari loe di saat Aang sedang ada masalah".

"Iya, emang itu hanya pura pura. Tapi asal loe tahu, gue sebenarnya cinta banget sama loe. Itu kenapa gue bersedia ngelakuin apa aja agar loe bahagia. Gue tahu loe nggak bakalan menghianati Aang. Makanya loe sedih banget liat Aang di fitnah temen temennya. Dan sebagai orang yang mencintai loe lahir batin, gue siap untuk tidak memiliki loe, asal loe bisa bahagia...".

Dari arah pintu depan tiba tiba muncul lima laki laki tanggung dengan wajah garang dan langkah terburu berhamburan menuju ke meja Gathar. Seorang pelayan wanita yang bermaksud menanyakan apa keperluan mereka malah di dorong hingga hampir terjengkang.

"Anjing loe, bangsat!!!" seru salah satu dari kelimanya.

Aang...

"Begini cara loe ?. Pura pura baik sama gue, tapi di belakang itu, loe berniat merebut pacar gue...!!!" cecar pria yang ternyata adalah Aang itu tanpa basa basi.

"Emang kalau gue suka ama pacar loe, kenapa ?" Gathar menyingsingkan kedua lengan bajunya.

"Brengsek!!!" maki Aang kalap.

"Hajar dia !".

Begitu aba aba Aang berbunyi, ke empat temannya langsung mengepung Gathar dari berbagai penjuru. Suasana mendadak gaduh. Beberapa pengunjung dan pelayan yang melihat kejadian itu sama sekali tak bisa berbuat banyak. Bahkan beberapanya malah memilih kabur keluar.

Perkelahian yang tidak seimbang, tapi itu sama sekali tak membuat Gathar ciut nyali. Pemimpin geng SMA 69 itu tetap tenang menghadapi keroyokan ke lima lawannya. Beberapa kali ia terlihat keteteran menghadapi serangan bertubi tubi dari Aang dan kawan kawannya. Bahkan di sebuah kesempatan, secara membabi buta Aang meraih botol minuman dan mengayunkan benda itu tepat mengenai kepala Gathar.

Pyarrr!!!

Botol itu pecah berkeping keping begitu membentur tengkorak kepala Gathar. Pacar kontrak Dhea yang sebenarnya ahli beladiri ini sontak limbung dan terhuyung ke belakang. Belum puas hingga di situ, salah satu penyerang kemudian merengkuh sebuah kursi terbuat dari besi lalu menghantamkannya ke dada Gathar.

Brakkk!!!

Kali ini Gathar terpental ke belakang dan ambruk mencium tanah.

Belum puas melihat musuhnya terkapar, Aang mencabut sebuah pisau dari balik bajunya. Dan dengan raut muka penuh kebencian ia melompat mendekati Gathar lalu menyarangkan pisau itu ke perut Gathar.

Jusss!!!

"Ahhhh..." lenguh Gathar memegangi perutnya.

"Ini pelajaran buat perebut cewek orang macem loe. Dan gue peringatin ke loe, jangan deketin Dhea lagi, atau gue dan loe sama sama masuk penjara!!".

"Kawan kawan!. Kita cabut!!!".

Kelimanya kemudian bergegas keluar dari kafe. Meninggalkan Gathar yang terluka parah dengan kepala dan perut banyak mengucurkan darah. Pemuda yang begitu di takuti oleh banyak orang itu kini terlihat lunglai dan tak berdaya.

"Run, tolong anterin Dhea pulang. Bilang sama dia, gue terpaksa nggak bisa temui dia lagi. Soalnya ada urusan di tempat yang jauh. Trus, sampein juga ke anak anak. Jaga baik baik Dhea. Dan juga jangan balas dendam sama Aang. Ini bukan soal permusuhan antara kita dan mereka, tapi karena gue nggak ingin Dhea kehilangan kekasihnya untuk yang kedua kalinya"

Harun terkesiap melihat sms yang baru saja masuk di handphone nya.

"Sesuatu telah terjadi".


Jakarta, Maret 2013
Dhan Gubrack