Theme images by Storman. Powered by Blogger.

BIARKAN CINTA YANG BICARA

“Bangun Rik…bangun….”.

Teriak Emy sembari terus menggoyang goyangkan tubuh lemah tak berdaya di hadapannya.

“Kamu nggak apa apa khan, Rik ?” panggilnya .

Tak ada reaksi.

“Ayo Rik, bangun. Jangan becanda gitu napa ?”.

Entah berapa kali Emy berusaha untuk membuat pria sebayanya itu tersadar. Tapi hingga beberapa saat lamanya, tubuh yang di penuhi luka lebam itu tetap terkapar tak berdaya.

“Kita bawa ke rumah sakit aja, Em”.

Emy menoleh ke samping. Sesosok perempuan berambut ikal dengan bambu berukuran sepanjang satu meter tergenggam di tangan terlihat serius memeriksa tubuh Arik.

Emy menggelengkan kepala. Dia masih yakin kalau kondisi Arik baik baik saja dan belum perlu pertolongan medis. Memang, lukanya terhitung cukup parah. Sekujur wajah terlihat membiru, hidung mengeluarkan darah segar, sementara di beberapa bagian kepalanya terdapat benjolan benjolan akibat terbentur benda tumpul.

“Tubuhnya sangat kuat, Winda. Nggak mungkinlah dia semudah itu” kelit Emy.

Tiga bulan lalu, tepatnya ketika pertama kali Arik bergabung dalam kelompok White Lotus, Emylah orang pertama yang mendapat tugas menguji nyalinya. Tidak seperti anggota baru lain yang kalau di pukul sedikit saja sudah mengeluh, Arik justru terlihat bandel. Tak sekalipun pemuda berkulit sawo matang itu mengeluh kesakitan. Bahkan seolah mengolok olok Emy, Arik malah senyum senyum saja manakala pukulan dan tendangan bertubi tubi menghajar tubuhnya. Gara gara merasa di ejek itulah, Emy sampai mengambil sebilah bambu dan menghantamkannya ke punggung Arik. Tapi dasar bandel, Arik hanya menyeringai kecil lalu kembali mengejek Emy.

“Ada yang lebih keras lagi, nggak ?” bisik Arik ke telinga Emy.

Karuan hati Emy di buat dongkol bukan main. Dan jika tidak keburu di cegah oleh seniornya di kelompok White Lotus, sudah pasti Emy akan menggunakan segala cara untuk membuat anggota baru itu bertekuk lutut dan minta ampun.

“Tunggu di sesi lain, boy!” ancam Emy dengan tatapan nanar.

“Boleh…” sahut Arik enteng.

“Lihat aja nanti” Emy.

Entah apa yang ada di otak anggota baru bernama Arik itu. Kemampuannya menyerap ilmu beladiri khas White Lotus sebenarnya tidak hebat hebat amat. Bahkan selalu tertinggal dengan anggota seangkatannya. Tapi itu semua tak membuatnya merasa seperti orang yang kalah. Dia tetap percaya diri, bandel dan tentu saja tak pernah henti dengan kebiasaanya. Meledek Emy.

“Heran tuh anak” celoteh Emy pada kawannya, Winda, selepas latihan.

“Aku bilang tehnik push upnya salah, eh malah ngeyel. Biarin aja, yang penting khan hasilnya. Gitu dia bilang”.

“Kenapa nggak di uji aja kepalan tangannya?” Winda.

“Udah, Win”.

“Trus ?”.

“Yaaaa… aku kasih unjuk pukulan yang sebenarnya”.

“Kamu tonjok dia ?” Winda menaikkan alisnya.

“Ya”.

“Kesakitan ?”.

Emy menggeleng.

“Boro boro, badan udah kayak badak gitu” kata Emy manyun.

“Trus dia juga kamu suruh ngetes pukulannya ke kamu ?”.

“Mmmmm….” Emy mengguman, “ng… nggak juga sih”.

“Idihhh…curang kamu” goda Winda sembari mendorong pundak Emy.

“Bukan gitu Win” bantah Emy, “aku nggak suka aja di sentuh sama dia”.

“Kamu tahu, nggak ?. Dia itu kalau latihan kayak main main gitu. Mana matanya tuh ya, jelalatan ngeliatin aku terus. Kurang ajar nggak tuh ?”.

“Dia naksir kamu kali, Em”.

“Naksir ?” Emy sewot, “najis tahu, Win”.

“Ha ha ha ha….” tawa Winda sontak meledak menyaksikan kelucuan tingkah kawannya itu. Sementara Emy hanya bisa memonyongkan bibirnya.

Naksir ?. Benarkah ?.

“Ah nggak mungkin” sergah Emy dalam hati.

Ya. Kalau memang Arik suka pada dirinya, tidak mungkin sikapnya seperti itu. Apa yang di lakukan Arik hanyalah ejekan semata. Dia mungkin ingin menunjukkan bahwa walaupun ia orang baru, toh secara umur ia tidak lebih muda dari Emy. Dengan situasi begitu, dia merasa tak layak memberi hormat yang berlebihan pada Emy. Walaupun secara hierarki, Emy posisinya lebih senior di White Lotus.


(Pict : Maya Sisti)

Tit…tittt…tit…

“Siapa sih ?” Emy meletakkan mouse komputernya, memasukkan tangan ke saku bajunya.

Aku punya sesuatu buatmu, guru. Lihat aja postingan FBku…

“Arik ?” semprot Emy begitu tahu sms yang masuk ke hapenya berasal dari Arik.

Udah, nggak usah ngacau deh!!!

Balas Emy seketika.

“Berani benar tuh anak sms aku. Mana mau nunjukkin sesuatu lagi. Paling juga mau meledek lagi” seloroh Emy tak terlalu peduli.

Bener nih, nggak mau lihat ?. Ntar nyesel loh..

Sekali lagi handphone Emy berbunyi. Tapi kali ini ia hanya membaca isi sms itu dan tak berniat membalasnya. Mata Emy kembali terfokus pada layar monitor. Mengomentari beberapa status teman teman fbnya, mengirim jempol untuk beberapa status yang di anggapnya tidak terlalu menarik dan selebihnya ia lebih suka berbincang via chatting.

Banyak hal yang lebih penting daripada mikirin cowok brengsek itu. Begitu pikiran Emy.

Tak lama kemudian di menu pemberitahuan muncul tulisan ‘Arik added foto anda’. Di ujung bagian kanan dari tulisan itu terpampang foto yang walaupun samar samar, Emy segera mengenali siapa yang ada di foto itu.

“Darimana ia dapetin fotoku ini ?” selidik Emy.

Walaupun sudah jelas itu foto dirinya, akan tetapi Emy tak pernah merasa berfoto dengan gaya seperti itu. Berjalan dengan muka di tekuk sembari menenteng sebilah bambu.

“Ini foto waktu aku mau menghajar dia. Kurang ajar, bisa bisanya dia mencuri curi kesempatan. Awas kamu ya…!” damprat Emy emosi. Dan yang membuat ia makin marah lagi, tulisan di bawah foto itu.



Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku
Warna - warna indahmu

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Belai lembut jarimu
Sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugrah terindah yang pernah ku miliki


Lirik yang di ambil dari lagu milik Sheila on Seven itu oleh pengunggahnya seolah di jadikan alat untuk menjelaskan sosok yang ada di foto itu, yaitu Emy. Indah sih, puisinya. Tapi karena pengirimnya adalah cowok yang selama ini begitu Emy benci, pujian dalam lirik lagu itu sama sekali tak menyentuh hatinya.

“Woee….!. Hapus nggak foto itu ?!!!” Emy mengirim komentar.

Lama sekali Emy menunggu balasan atau tindakan Arik, tapi sepertinya tidak ada tanggapan sedikitpun dari pengunggahnya. Tak sabar di olok olok Arik di jejaring sosial, Emy mengambil handphone, mengirim sms untuk meminta Arik menghapus postingan itu. Tapi lagi lagi tak ada jawaban. Bahkan hingga berkali kali Emy menelpon Arik, tak juga orang baru di White Lotus itu mau mengangkatnya.

“Anjriiiittttt!!!!”.

********************************

“Maksud kamu apa sih mengunggah fotoku ?” semprot Emy sepulang latihan di markas.

“Mengungkapkan isi hati…” jawab Arik seolah sama sekali tak merasa bersalah.

“Itu menghinaku tahu!!!” bentak Emy.

“Perasaanmu aja, tapi aku nggak berniat begitu” ngeles.

“Aku minta kamu hapus. Titik!!!”.

“Terserah aku dong…”.

“Heeuuuuuhhh!” Emy menghentakkan kakinya ke tanah. Matanya melotot tajam seperti hendak memangsa lawan bicaranya.

Bukannya menyerah pada tekanan psikis yang di lakukan Emy, cowok berambut cepak dan bertubuh kurus itu malah tersenyum meledek.

“Sepertinya kamu mesti belajar mengendalikan emosimu deh, Em…” katanya menasehati.

Dongkol hati Emy. Ini bukan sekalinya Arik membuatnya benar benar naik pitam. Tiga hari lalu ketika White Lotus mengadakan uji nyali dengan berenang melewati sungai besar di pinggiran desa, Arik lagi lagi bikin ulah. Ketika itu Emy mendapat giliran menyeberangi sungai. Dari pengalaman yang sudah sudah, tantangan itu dengan mudahnya ia lewati. Tapi entah mengapa hari itu Emy benar benar sial. Di tengah perjalanan tiba tiba kakinya kram. Gara gara itu ia sempat terseret arus sepanjang belasan meter dan nyaris tenggelam sebelum akhirnya seseorang melompat ke sungai dan menolong nyawanya. Dan siapa lagi dewa penolong itu kalau bukan Arik. Tak ayal, lagi lagi tindakan Arik itu memicu kemarahan Emy.

“Ngapain kamu ?” bentak Emy seraya mendorong tubuh Arik hingga terjengkang.

“Aku Cuma mau menolong” Arik bangkit sambil mengelus elus kepalanya yang terbentur bebatuan.

“Tapi nggak harus pegang pegang gitu kali….!”.

“Jiaaah, kalau nggak megang, gimana mau nyelametin kamu ?. Ada ada aja…!” ucapnya sembari berlalu dengan masih memegang kepalanya.

Emy menarik nafas panjang. Menyandarkan tubuhnya ke dinding kusam di kamarnya. Matanya melirik sejenak pada layar computer yang ia biarkan tetap menyala. Ada hal lain yang membuatnya berpikir keras. Bukan karena ia gagal memaksa Arik menghapus postingan bergambar dirinya, tapi diam diam ia mulai merasa ada yang aneh menyelinap di relung hatinya. Tentang Arik. Ya, anggota baru White Lotus itu.

Sekilas memang terasa menyebalkan. Tapi kalau di pikir masak masak, ada hal menarik dari diri Arik. Dia tidak pernah dendam walaupun setiap kali latihan, selalu saja menjadi sasaran empuk Emy dan beberapa senior lain. Cowok itu juga tak pernah sekalipun merasa tersinggung kendati sudah tak terhitung lagi berapa kali Emy mencaci makinya. Arik tetap cool. Hari ini di omeli, besok dia bersikap biasa lagi.

“Jangan jangan apa yang di katakan Winda benar adanya. Kamu menyukaiku, Rik ?” tanya Emy tak percaya.

Kalau cinta, kenapa Arik tak berani mengungkapkannya langsung ?. Toh kesempatan itu selalu terbuka lebar. Setiap seminggu dua kali White Lotus mengadakan latihan. Belum lagi kalau hari libur yang biasanya di isi acara kongkow kongkow aja.

“Apa dia segan karena yang di taksirnya salah satu senior ?”.

“Ah, mana mungkin cowok secuek dia takut mengungkapkan perasaan hatinya ?. Trus lirik lagu Sheila on Seven itu untuk siapa kalau bukan untukku ?”

Pertanyaan demi pertanyaan menggelayut di otak Emy, mengikis sedikit demi sedikit prasangka yang pernah ia bangun tentang lelaki kurus berkulit sawo matang itu. Dan seperti percikan air yang jatuh menimpa bongkahan karang, perlahan lumer pula kekerasan hati Emy.



Rik…
Beritahu aku
Bagaimana caranya menyingkap awan kelabu di ujung sana
Agar aku bisa melihat rona indah bulan

Bagaimana caranya menyapu kabut putih di pagi hari
Agar aku bisa menikmati guratan senyum sang mentari

Rik…
Bantu aku untuk menjawab,
Bagaimana caranya menyelam di dasar samudra
Agar aku bisa temukan mutiara berkilau yang terpendam

Bantu aku…
Beritahu aku…
Tuk menelusup di jantung hatimu


Uhhuuukkzz….uhhuuukkzz….!!

“Arik….!!!”.

Sontak Emy dan Winda melonjak kegirangan begitu mendapati tubuh yang tadi tergolek lemah tak berdaya dengan luka lebam di sekujur badan kini menggeliat.

“Kamu nggak papa khan, Rik ?” Emy bergegas mengulurkan tangan, memapah punggung Arik agar bisa duduk tegak.

“Berandalan  itu kemana ?. Heh….?. Beraninya cuma keroyokan…!. Mana….mana ???” teriak Arik sembari berusaha untuk berdiri.

“Kamu tenang dulu, Rik…tenang” kata Emy menenangkan. Di cabutnya selembar sapu tangan dari balik saku. Dengan hati hati Emy mengusap wajah Arik.

“Mereka nggak akan berani kemari lagi. Teman teman sudah mengusir mereka hingga keluar desa”.

“Kalian nggak apa apa khan ?” tanya Arik lirih.

“Nggak apa apa. Tapi besok besok jangan sok jagoan lagi ya ?” Emy membetulkan kancing baju Arik yang compang camping.

“Kalau memang jumlah kita sedikit, ya mending kabur aja. Kasihan khan kalau kamu di gebukin geng pengecut itu…”.

“Tenang aja, khan udah biasa di gebukin…” kata Arik dengan senyum khas yang merekah.

“Iiiiihhhhh….” cubit Emy cemberut.

“Pokoknya aku nggak mau liat kamu babak belur lagi” lanjutnya dengan nada sedikit manja.

“Termasuk….?”.

“Nggak!”.

“Nggak seru dong latihannya ?”.

“Biarin!” manyun.

“Gimana kalau aku tetep bandel ?” tantang Arik setengah meledek.

“Pokoknya enggak !!!!” teriak Emy sekencang kencangnya.

Jakarta, Maret 2013
Penulis : Dhan Gubrack