Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Surat Untuk Kanda...

Teruntuk Kanda



Assalamualaikum kandaku sayang, semoga keselamatan mengiringi jiwamu. Kanda.. malam ini aku sendirian, hanya ditemani sebatang lilin yang hampir habis dan selembar kertas yang mulai basah oleh air mata. Siang tadi kembali kudengar kabar kematian seorang kawanmu yang tertembus peluru penindas. Dan kabar itu membuatku selalu mengingatmu. Bagaimana keselamatanmu..? Apakah engkau baik-baik saja..? dan ini membuat aku takut. Aku takut tak kuat jika harus menerima kabar tentang kematianmu. Bukankan Kanda pernah mengatakan bukan mustahil giliran itu mengampiri diri kanda.

Aku tak kuat jika harus melihat darah yang membasahi pakaianmu. Bahkan sekedar menerima kabar tentang kondisi penyakit yang kau deritapun aku tak kuat.

Aku tahu Kanda sedang berjuang.. aku tahu. Walau sebenarnya aku tidaklah terlalu mengerti mengapa kau Kanda berani menentang maut hanya untuk apa yang kalian sebut sebagai kebebasan.

Apakah Kanda juga akan melakukan hal yang sama untukku..? Bahkan apakah Kanda pernah berpikir tentang perasaanku..? Aku tidak lebih dari seorang gadis yang dibalut rindu dan bayangan. Aku rindu saat dimana Kanda datang dengan senyum terkembang, aku rindu saat Kanda datang dengan segudang cerita yang selalu dapat memukau aku. Aku rindu engkau Kanda... Aku disiksa bayangan akan indahnya penyatuan yang pernah kita bicarakan dulu.

Terpikir di kepalaku untuk meminta kau pulang, untuk kembali bersamaku merajut apa yang pernah kita impikan. Apalah arti kebebasan jika hanya meninggalkan luka pada aku yang Kanda bilang sebagai orang yang paling disayang. Apalah artinya kebebasan jika Kanda tak dapat merasakannya..?

Namun terbayang wajahmu yang keras dan tegas. Berada di barisan terdepan dengan panji-panji kebenaran di tanganmu. Sementara di belakangmu ribuan orang meneriakkan hal yang sama seperti yang kau teriakkan. Aku sadar kau bukan hanya milikku seorang. Kau juga milik sahabat-sahabatmu, kau juga milik cita-citamu, kau juga milik masa depanmu dan kau milik perjuanganmu.

Sementara aku hanya gadis yang dibutakan rindu dan bayangan.

Sudahlah Kanda, lilin di kamarku tinggal beberapa tetes terakhir dan air mataku telah kering.

Berjuanglah Kanda bersama barisanmu untuk apa yang kau sebut sebagai pembebasan. Aku gadismu akan selalu berdiri di sini menantimu dengan sabar karena aku percaya kau akan pulang membawa kemenangan. Peluk Sayang Dari Aku..

*catatan 98, terinspirasi dari surat seorang kekasih




Penulis : Irwansyah Nuzar