Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Sumpah, Aku Rela ML dengan Dia

Usia hubungan kami sudah menginjak di tahun ketiga. Rasanya semua normal – normal saja. Ia menyayangiku, begitupun diriku yang amat mengagumi dirinya. Ia lelaki yang santun, baik dihadapan kedua orang tuaku, teman – teman, maupun saat kami tengah berdua. Ia tak banyak menuntut. Ia selalu mengiyakan permintaanku. Aku minta ia begini ataupun begitu selalu diturutinya. Entah, hati pria ku itu terbuat dari apa, begitu manis, dan jarang ditemukan dimana – mana.

Malam itu aku mulai memikirkan keseriusan hubungan ini. Selama ini aku terlalu menikmati status pacaran kami sampai tak pernah membahas tentang pernikahan.

“Nia, kok belum tidur?” Kak Eva ternyata sudah duduk di sampingku beberapa menit yang lalu.
“Nggak ngantuk kak.” Jawabku sambil memperhatikan wajahnya yang sepertinya menyimpan banyak tanya.
“Eh, kalian itu sudah berapa lama sih pacaran?”
“3 tahun. Kenapa?”
“Apa kalian sudah ML?” tanya Kak Eva menyelidik.
“Ih kakak nanya apaan sih? Aku sama dia nggak pernah berpikir tentang itu.” jawabku bersungut – sungut.
“Usiamu sudah 25 tahun, dan Yugo udah 28 tahun. Apa tak ada hasrat untuk melakukan itu?” tanya Eva lagi.
“Nggak, kami mau menjaga itu kak sampai tiba saatnya menikah nanti.” Aku mulai jijik dengan pertanyaan kak Eva malam itu.
“Kau sayang sama Yugo?”
“Tentulah, dimana lagi aku temukan pria sopan dan penurut seperti dia. Nggak kayak pacarmu yang banyak menuntut.”

Kak Eva bangkit dari duduknya, kupikir ia malas bicara denganku yang mungkin menurutnya munafik. Tapi jujur aku lega, karena pembahasan tentang ML bisa membuatku bergidik, untunglah aku memiliki Yugo yang tak pernah menuntut hal itu padaku. Ia memang pria yang baik.
Tak lama kemudian kak Eva kembali lagi mendatangiku.
“Baca nih kalau kamu sayang sama pacarmu. Baca baik – baik ya adikku yang cupu!!” Saran kak Eva sembari tertawa – tawa meledekku puas.

Sebuah majalah dewasa sudah ada di tanganku. Entah artikel mana yang harus kubaca seperti saran kakakku. Kubuka satu per satu halaman yang ada. Dari halaman pertama sampai kesepuluh yang kutemukan hanya penawaran – penawaran produk perempuan dengan model yang seksi.

Namun jari – jariku berhenti pada satu halaman di tengah majalah. Sebuah artikel yang berjudul “Tips menjaga hubungan agar tidak basi” menggoda mataku.
Aku membacanya dengan cermat. Diiringi anggukan kepala dan senyum tipis. Ilustrasi dalam artikel tersebut memang mirip dengan kondisi hubunganku dengan Yugo. Tapi wajahku berubah seketika, saat si penulis mulai menuliskan tips – tips yang justru membuatku merasa tak nyaman. Disana tertulis, ”Making Love bisa menjadi pilihan agar hubungan anda tidak hambar, Making Love bisa mencegah rasa jenuh dan membuat pasangan semakin mencintai anda.”

Ku tutup majalah itu seketika. Aku mulai berpikir keras. Ketakutan tiba – tiba mendekatiku. Otakku mulai dipenuhi pikiran – pikiran gila.
“Tiga tahun bukan waktu yang sebentar Nia. Apa kau yakin Yugo tak melakukannya dengan wanita lain untuk menghilangkan kejenuhannya sama kamu?” pertanyaan kak Eva seperti sambaran petir bagiku. Hatiku mendadak sakit.

Aku meninggalkan kak Eva sendiri di ruang tamu. Aku masuk ke dalam kamar. Aku mulai menangis. Sangat wajar jika selama ini Yugo tak pernah mengajakku ML karena ia sudah mendapatkannya dari gadis lain. Aku tak mau kehilangan Yugo. Aku harus tetap bersamanya. Namun aku takut, bagaimana jika aku hamil nanti? Apakah Yugo akan bertanggung jawab?

Malam itu aku benar – benar tak bisa tidur. Untung esok hari Minggu dan aku tak punya kewajiban apapun di pagi hari. Aku ingin segera bertemu Yugo, aku akan melakukannya. Ya, aku mau ML sama dia.
————|||————

Sore itu aku sudah ada di depan kamar kos Yugo. Mataku sembab karena menangis semalaman. Ku ketuk pintu kamar yang ditempeli banyak sticker band – band favorit Yugo. Beberapa kali namun tak juga ada balasan. Degub jantungku semakin tak karuan. Mungkinkah ada gadis di dalam sana? Mungkinkah ia sedang ML dengan gadis itu sehingga tak mendengar suara ketukkan pintu? Arghhhh gila!! Aku tak bisa tinggal diam, kubuka pintu itu perlahan, dengan harapan tak ingin mengejutkan. Aku ingin mendapati mereka dengan sempurna.

Tak kudapati Yugo disana. Kasurnya kosong. Hanya volume CD yang cukup keras yang yang jadi alasan mengapa ia tak mendengar ketukkan pintu.

Aku berjalan pelan menuju kamar mandinya. Tak ditutup rapat. Sumpah, di detik itu kakiku lemas. Aku takut mendapati mereka tanpa busana di dalam sana.

Tapi hati kecilku memaksaku. Aku dekatkan telingaku ke pintu. Mataku tak serta merta mengintip ke dalam. Kubiarkan telingaku dulu yang bekerja.

Aku terkejut, suara kucuran kran yang kecil membuatku bisa mendengarkan suara desahan Yugo. Yugo mendesah, mendesah terus, ada rasa jijik dan benci berbaur menjadi satu. Lima menit sudah aku disana. Hanya suara desahan Yugo yang kudengar lalu ia mengerang. Aku terkejut luar biasa. Tanganku tak bisa menahan penasaran. Ku dorong pintu kencang – kencang.
“Nia??!!” Yugo terkejut mendapatiku yang tengah melotot penuh kebencian padanya.

Tapi aku jauh lebih terkejut karena tak mendapati gadis lain di dalam sana. Yugo mendorong tubuhku. Aku terjatuh di depan pintu yang kini sudah tertutup rapat.
Aku lemas, ada rasa bersalah karena sudah begitucuriga padanya. Aku bangkit dengan sisa kekuatanku. Duduk di depan televisi, menunduk, menunggu Yugo keluar dari kamar mandi.
Setengah jam aku menunggu, Yugo keluar dengan handuk yang melilit seadanya. Aku membuang muka. Membiarkan Yugo berpakaian semestinya.

“Aku..aku..” Aku mulai membuka suara.
“Aku minta maaf Nia. Harusnya kau tak menyaksikan apa yang kulakukan tadi.” Yugo memutus kalimatku.
“Aku yang salah, harusnya aku menunggumu membuka pintu kamar. maafkan aku. Tapi mengapa kau harus melakukan itu?”
“Nia, aku menyayangimu, tapi walau bagaimanapun aku lelaki normal. Aku butuh orgasme. Aku pilih onani daripada aku harus merusakmu. Aku ingin kita menikmati malam pertama kita nanti. Aku selalu menahan rasa penasaran dan nafsuku terhadap tubuh indahmu. Karena aku memikirkan masa depanmu.“
“Tapi onani itu dosa dalam agama kita Yugo.” Ucapku polos.
“Aku tahu, tapi biarlah dosa itu menjadi urusanku dengan Tuhan, asalkan aku tak berdosa karena merusak ciptaan Tuhan seindah dirimu. Dan aku berjanji takkan melakukannya lagi.” Yugo memandangku memintaku percaya.

Dua puluh menit kami duduk berdua dengan pikiran masing – masing. Aku tetap merasa bersalah dan malu. Tak seharusnya aku menaruh curiga. Yugo terlalu istimewa.
Yugo bangkit dari duduknya, “nonton yuk. Udah lama kita nggak nonton.”
Aku tersenyum, berharap semoga Yugo tak hilang rasa padaku.
“Yuk..” jawabku.

Kami pun keluar kamar lalu Yugo mengunci pintu.
“Eh tunggu, ada yang mau aku buang.” Ucapku. Aku mengeluarkan kondom dari dalam tas ku yang kupersiapkan dari rumah tanpa rasa malu.
“Nakal kau ya..” Ucap Yugo sembari menggandeng tanganku.
Aku tertawa terkekeh mengingat kebodohanku. Sore itu lebih indah dari biasanya. Hatiku lega, keperawananku tetap terjaga.